
Bab 152. Thank you for helping
.
.
.
...ššš...
Dananjaya
Pria malang yang sebenarnya tak terlalu malang itu, siang ini berada di titik kebosanan. Dua sahabatnya jelas sudah tengah menikmati waktu bersama para istri mereka.
Hanya dia saja pria nestapa yang kini menolak hingar bingar dunia, dan memilih jalan yang bertentangan dari gaya hidupnya. Pasca sakit, Danan benar-benar menjaga dirinya sendiri.
Pria itu tiba-tiba ingin berada di keramaian karena rasa sepi yang menghantam hidupnya, dan mall sepertinya menjadi pilihan yang agak relevan. Meski ia sendiri tak tahu, akan dan mau membeli apa disana.
Usai mobilnya terparkir secra strategis, ia berjalan menuju mall itu. Siang itu ia mengenakan jeans panjang, kaos hitam dan jaket. Membuat tampilannya kinclong.
Dan as usually banyak sekali pasang mata, yang kagum akan pria itu.
Dari kejauhan kedua netranya menangkap wajah seseorang yang tak asing. Seseorang yang belakangan ini mati- matian ia hindari. Hati kecilnya berbisik untuk tak meneruskan bisikan setan dalam hatinya. Danan ingin menjauhi Shinta.
Namun, seperti semesta lagi-lagi menghadapkan dirinya kepada hal yang ingin ia hindari. Dan bodohnya, ia malah mengikuti langkah Shinta.
Dari kejauhan ia juga melihat Shinta yang sepertinya menyusut air mata usai memegang sebuah benda di stand pakaian bayi. Hati Danan seketika nyeri melihat wanita itu menitikkan air matanya. Ada debaran aneh menelusup relung jiwanya.
Sejenak ia teringat akan ucapan Rangga, saat mereka bertemu dalam acara resepsi Abimanyu tempo hari.
Ia memperhatikan tampilan Shinta yang cantik siang itu, namun matanya menangkap keganjilan dalam visual utuh wanita itu. Sesuatu yang aneh terlihat di antara celah bokong Shinta.
Periode bulanan Shinta rupanya datang, namun bisa di pastikan bila wanita itu tidak tahu, atau mungkin tak menyadari bila sedang bocor.
Begitu pikir Danan.
Ia merasa kasihan lantaran banyak sekali pengunjung yang menatapnya tanpa mau memberitahu.
Dengan tanpa berfikir panjang, Danan melepas jaketnya, lalu berjalan menuju tempat Shinta berdiri.
Kini ia hanya mengenakan kaos hitam ketat, yang membungkus tubuh tegapnya. Tak menyiratkan jika pria itu sudah berumur hampir setengah abad kurang satu dekade lagi.
Diam dan segera berjalanlah ke toilet, sesuatu yang tidak kamu sadari tengah menyita perhatian orang!" ucapnya seraya menutup bagian bokong Shinta dengan jaket miliknya.
" Kamu?" Shinta terkejut saat melihat dirinya yang berbicara persis di samping telinganya. Danan nyaris saja mencium Shinta.
" Kau bisa memarahiku nanti, sekarang yang terpenting aku akan mengantarmu ke toilet!" ucapnya seraya memaksa Shinta untuk berjalan.
.
.
Shinta
Ia yang di landa kebingungan masih menurut seraya terus berjalan menuju toilet yang berada di lantai dasar. Ia agak kesal sebenarnya, mengapa bangunan estetik seperti itu, tak memiliki toilet di semua lantainya.
" Kamu masuklah dulu, tunggu aku, aku akan segera kembali!" pria itu langsung melenggang pergi. Shinta menatap jaket yang kini tersimpul melingkari pinggangnya. Menutupi bagian bokongnya.
Shinta cepat - cepat melepas jaket itu, lalu mematut dirinya dengan posisi miring di cermin besar yang berada di toilet itu. Ia membulatkan matanya, pria itu rupanya tak bohong.
Pantas saja ia merasa area bawahnya lembab dan gerah, terlalu percaya diri itu memang tidak baik. Meski tidak banyak namun menggunakan celana putih siang itu justru memperburuk keadaan. Tak heran, banyak sekali pasang mata yang menatap dirinya sengit.
Baru saja tadi pagi ia merasa optimis karena keterlambatannya, namun semua hal itu pupus dalam sekejap.
Shinta menangis seorang diri. Mengapa Tuhan belum mau berbaik hati kepadanya. Shinta merasa sedih untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
Maafkan aku mas Rangga.
Kini ia bingung, bahkan baju yang sudah di serahkan Shinta kepada pelayan diatas tadi belum ia bayar di kasir. Dan dia tak membawa pembalut tentu saja. Oh no!!!
.
.
" Berikan aku pembalut!" masih di lantai dasar, Danan langsung menuju ke market yang berada di ujung. Pria itu langsung menuju meja kasir.
" Pembalut apa Pak?, yang sayap atau yang biasa, ukuran berapa sentimeter?" tanya pramuniaga itu.
Danan mengernyit, apa pembalut itu bisa terbang karena memiliki sayap, dan tunggu dulu, 'berapa senti? '
Ia tak mengira membeli benda khusus wanita akan seribet ini.
" Terserahlah yang paling bagus, yang paling mahal, yang paling nyaman. Cepat, kalau kau lama aku bisa melaporkan ke bosmu!! " Danan sedikit mengintimidasi pegawai perempuan itu.
Tampilan Danan yang kinclong, sudah pasti tak diragukan lagi kekuasaannya. Ia pria berduit. Agak sedikit norak sih sebenarnya, menggunakan keadaannya untuk menindas yang lemah. Tapi bagi Danan, ini bukan menindas, ini lebih untuk mempercepat pertolongan pertama pada kebocoran.
Usai menyerahkan selembar uang bergambar Proklamator, Danan meminta pelayan itu untuk mengambil kembaliannya. Akan sangat lama pikirnya jika menggunakan kartu tanpa batas ya.
Kembalian yang tersisa membuat pegawai itu kegirangan, karena siang yang selalu berada di jam rawan ngantuk itu, ia mendapat mood booster. Membuat pegawai wanita itu menghilangkan cap arogansi pada pria yang menyuruhnya tadi
Secepat kilat Danan kembali menuju lantai atas, " Carikan model celana wanita yang paling bagus. Kalau bisa warna gelap!"
Dua pelayan di lantai dua itu saling menatap satu sama lain.
" Hey, apa kau tuli cepat carikan!" dua gadis di depannya itu terkesiap dari lamunannya. Mereka sebenarnya terhipnotis oleh wajah ganteng Danan, tapi saat mendengar mulut Danan yang pedas, jelas saat ini pasti mereka tengah mengumpat dalam hatinya.
" Ukuran berapa Tuan, yang model bagaimana, dari jeans atau bahan lainnya, lalu mau yang panjang atau yang pendek?"
Danan terdiam, apakah tiap membeli barang wanita akan melewati semua birokrasi rumit ini.
" Panjang saja. Pokoknya carikan yang terbaik. terserah aku tidak peduli dengan harganya!" Danan merasa semua ini terlalu lama, ia takut jika Shinta akan pergi dari sana.
Underwear ( celana da*lam).
Pria itu tanpa malu langsung ngeloyor ke pojok , dengan tangannya sendiri ia memilih benda nyentrik di deretan pakaian dalam wanita yang berjejer rapih. Danan mengambil sebuah CD berwarna merah. Otak kotornya langsung bekerja. Membayangkan isi yang akan terbungkus benda yang ia pegang itu.
Tanpa malu ia langsung menyerahkan barang itu, kepada pelayanan wanita yang bertugas disana.
" Ada lagi Tuan?" tanya pegawai itu.
" Sudah itu saja, satu juga gak habis-habis!" jawabnya asal.
Pramuniaga itu sejenak mendelik, apa pria ganteng di depannya itu yang akan memakai CD itu.
" Kenapa kau menatapku begitu. Aku normal, cepat bungkus atau aku laporan bosmu karena terlalu lelet dalam bekerja!"
.
.
Dengan setengah berlari, Danan menuju toilet. Harap-harap cemas ia rasakan menjalari hatinya. Ia takut jika Shinta akan pergi.
Tok Tok Tok
Ketukan sebanyak tiga kali ia layangkan. Hatinya gusar tatkala tak mendapat jawaban dari dalam.
"Shinta!!!"
"Shin?"
Dan saat akan melakukan gedoran untuk ketiga kalinya..
__ADS_1
Ceklek
Wajah kusut Shinta muncul di balik pintu putih itu. " Kamu tidur?" tanya Danan.
Shinta nyaris saja hanyut dalam mimpi, jam siang yang rawan ngantuk membuat aksi menunggunya kina terasa membosankan.
Ini gila, pria itu bahkan rela berlarian kesana kemari demi menolong istri orang dari insiden kecil yang bisa membuat wanita itu malu bukan kepalang.
" Dari mana sih, disuruh nunggu tapi lama banget!!" Shinta sudah hampir menangis. Ia kesal karena menunggu terlalu lama. Dan bodohnya, ia mempercayai Danan seolah pria itu memang akan membantunya.
Danan menelan ludahnya," Maaf tadi aku beli ini dulu buat kamu!" dengan nada bicara rendah, Danan menyerahkan paper bag kepada Shinta.
" Apa ini?"
" Kamu ganti saja dulu, tak mungkin kamu pulang dengan begitu!"
" Aku tunggu diluar!"
.
.
Shinta menatap nanar tiga benda di depannya. Pembalut, celana panjang dengan harga fantastis lantaran bandrol harganya masih terpajang disana. Dan yang terakhir CD warna merah menyala.
Ia tak mengira Danan akan sejauh ini dalam upaya membantunya mengatasi hal tak terduga ini. Sebenarnya Shinta malu betul akan hal tabu ini, tapi mau bagaimana lagi.
Shinta sejenak sungkan, juga merasa marah. Tapi, semua itu terkalahkan oleh rasa kagum. Pria itu menolongnya tak tanggung-tanggung.
Menepiskan segala prasangka tak tentu dalam hatinya, Shinta mengganti semua hal yang menjadi sebab kekacauan siang itu.
Ia mematut dirinya di cermin besar itu usai berhasil mengganti pakaiannya. Sekarang bagaimana caranya ia mengahadapi Danan. Ia malu sekaligus merasa berhutang budi. Pria menyebalkan itu, bahkan menjadi penolongnya siang itu.
Membuat dirinya sedikit menurunkan tingkat keantiannya kepada Danan.
Shinta menjejalkan pakaian kotornya ke dalam plastik, kemudian memasukkannya kedalam paper bag yang menjadi tempat celananya tadi.
Dengan menarik nafas, ia mencoba menetralisir rasa gugup dan malunya. Bagaimanapun juga, ia harus berterimakasih kepada pria yang beberapa waktu lalu sering mengganggunya itu.
Dari ujung lorong, ia melihat Danan yang sibuk dengan ponselnya. Pria itu terlihat menenggelamkan dirinya ke benda pipih itu.
Danan ganteng dalam balutan kaos polos hitam itu, dan jeans yang ia kenakan siang itu. Ia buru-buru menepikan pikiran itu. Rangga adalah suaminya, suami yang mau menerima dia apa adanya. Belum tentu orang lain akan seperti itu.
Karena mendengar derap langkah, Danan mendongak. Pria itu menatap Shinta yang kini sudah berganti pakaian. Celana warna hitam itu nampak pas di kenakan Shinta. Dan secara tak langsung, Danan telah membelikan sebuah pakaian buat istri orang itu.
Hati Danan selalu berdebar saat bertemu Shinta. Ia merasa ada getaran aneh yang susah di jelaskan. Shinta sebenarnya tak enak hati, lebih tepatnya malu dengan semua hal ini.
" Sudah selesai?" ucap Danan seraya memasukan ponsel kedalam sakunya.
Suasana hening sejenak. Mereka berdua saling menatap.
" Terimakasih mas Danan!" hanya itu kata yang mampu Shinta ucap. Ia malu.
Danan tersenyum, siang itu untuk pertama kalinya ia bisa mendengar kata-kata normal dan tidak pedas dari mulut Shinta. Di tambah lagi, ' Mas'?
Apakah perseteruan mereka kini berakhir, dan mereka bisa menjadi teman?
Seolah sudah menjadi hukum alam. Makin kita tidak suka/ senang akan sesuatu, makin sering kita di pertemukan akan hal itu.
.
.
.
.
__ADS_1
.