The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 177. Duka Shinta


__ADS_3

Bab 177. Duka Shinta


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Aku harus bagaimana, berjalan tanpa kamu. Apa dayaku?


Beri aku kesempatan untuk memelukmu lagi, pelukmu lagi...


Entah harus bagaimana, ku tanpamu!"


( Diambil dari lirik lagu Geisha ~ Tak Seimbang)


.


.


Bu Nisa langsung limbung bersamaan dengan jeritnya yang kian melemah, usai mendengar kenyataan paling menyakitkan sepanjang hidupnya itu. Pak Ali nampak syok dan nyaris tak bisa menahan tubuh istrinya yang beringsut ke lantai rumah sakit secara mendadak itu.


Richard merasa gagal. Tak bisa membatu teman dari sahabatnya Abimanyu. Danan juga terlihat kebingungan karena Shinta melorot ke lantai secara tiba-tiba.


Dokter disana terlihat memanggil beberapa perawat pria dan meminta mereka untuk membantu dua wanita yang pingsan itu, untuk dibawa ke ruangan tindakan untuk mendapatkan penanganan.


" Danan cepat bawa Shinta bersama Ibu ini dulu. Aldi ,Reyhan ayo bantu Pak Danan dulu!" titah Richard dengan kepanikan yang melanda.


Situasi mendadak menjadi runyam, dan diluar kendali. Pak Ali bahkan kini bingung harus bertindak apa dulu. Anaknya yang baru saja di vonis meninggalkan, terlihat memejamkan matanya dengan beberapa peralatan yang mulai di lepaskan oleh petugas medis itu.


Pak Ali membiarkan istrinya di bawa oleh anak buah Richard. Dengan mata tergenang cairan kristal, pria dengan uban lebat itu mendatangi putranya yang kini sudah tak bernyawa.


" Rangga...!" Pak Ali nyaris tak mampu berucap. Kenyataan pahit ini benar-benar ia rasakan. Kegetiran yang harus ia kecap dengan raga yang sadar. Membuat dua petugas disana seketika memberi ruang untuk bapak tua itu, berinteraksi dengan putranya.


Pria itu terlihat meraba rambut hitam anaknya, mengusap wajahnya yang terpejam bak orang tidur dengan bekas luka yang sudah mengering.


" Maafin papa nak!" dengan suara bergetar Pak Ali memeluk anaknya. Kini bukan hanya suaranya saja bergetar, namun seluruh tubuhnya bergetar hebat akibat tangisnya yang pecah detik itu juga.


Pak Ali telah kehilangan putra bungsunya itu untuk selama-lamanya.


.


.


" Richard apa kau yakin jika Rangga...." Danan kini tengah berada di ruangan Richard. Meninggalkan Shinta yang masih tak sadarkan diri bersama beberapa perawat wanita.


" Aku sudah berusaha semampuku Dan. Tapi ...!" Entah mengapa ia juga turut merasa kehilangan.


" Aku bisa memberikan hasil observasi akhir dan rekam medis setelah ini, agar keluarga bisa menerima kenyataan ini!"


Danan membenturkan kepalanya ke dinding ruangan Richard. Ia memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Kini bayangan wajah Shinta yang terlihat kacau melintas di pikirannya.


Apa yang harus aku lakukan?


Sejurus kemudian ia teringat dengan dua sahabatnya. Abimanyu dan Wisang.


.

__ADS_1


.


Wisang sore itu terlihat memijat kaki istrinya yang merengek karena bagian bawahnya masih terasa bengkak , ngilu dan nyeri.


" Pokoknya aku gak mau mas ajak begituan dulu kalau belum sembuh. Sakit tau mas!" Sekar berengut kesal. Rasanya benar-benar sakit. Ia merasa ukuran benda penting milik suaminya itu melebihi kapasitas miliknya yang sempit dan kecil.


Wisang keranjingan, belum juga istrinya itu diajarkan gaya yang lain tapi sudah ngeremon sedemikian rewelnya.


" Namanya juga buka segel.. wajar. Ya ga papa, kamu biar sembuh dulu, hm...nanti baru aku ajarin gaya lain!" Wisang dengan senyum licik menaikturunkan alisnya dengan tersenyum mesum kepada istrinya.


" Cabul!" Sekar melempar bantal ke wajah suaminya dengan mendengus.


Wisang tergelak hingga terjungkal ke lantai. Pria itu puas rasanya bisa mengerjai istrinya yang masih orisinil.


Sejurus kemudian ponsel Wisang menggelepar dengan kerasnya. Usai di cecar Omelan oleh Abimanyu, pria itu kini berhenti membuat ponselnya dalam status silent.


" Danan!" Wisang memandang ke arah istrinya.


" Burung angkat mas!"


" Halo Dan ....kenapa?"


Dengan posisi ponsel masih menempel di telinganya, Wisang menatap istrinya dengan wajah tegang dan menggeleng tak percaya.


Sekar yang melihatnya gelagat aneh dari suaminya itu, turut ingin segera mengetahui berita apa yang membuat suaminya menjadi pias seperti itu.


.


.


Jam menunjukkan pukul 17. 01, Abimanyu baru selesai melakukan fitnes di ruang olahraga pribadi miliknya. Badan dengan keringat mengkilat di tubuh berototnya itu, kini penuh dengan Bakaran kalori yang kentara.


Pria itu tak ingin terlihat lemah di hadapan istrinya, sebisa mungkin kudu wajib menjaga staminanya. Dan salah satunya dengan rutin berolahraga.


" Mas!!!"


" Mas!!!"


Saat ia tengah meneguk sebotol air mineral di ruangan fitnessnya, sayup-sayup ia mendengar derap langkah dan suara istrinya yang kian mendekat.


" Mas!!"


" Mas Abi....!"


Dhira terperanjat saat Abimanyu menyembul mendadak dari balik pintu ruang fitnessnya. Suaminya itu tak menyahuti panggilnya, namun langsung membuka pintu ruang fitnes itu.


" Kok kamu udah bangun?" tanya Abimanyu, karena pada saat ia akan berolah raga tadi, ia meninggalkan istrinya yang masih lelap diatas ranjang mereka.


Dhira menangis dan seolah tak sanggup berkata. Lidahnya kelu.


" Sayang ...kamu menangis, ada apa? kini Abimanyu malah panik karena melihat Dhira yang datang sambil menangis.


" Mas Rangga..."


" Mas Rangga meninggal mas!" Dhira terisak saat menyampaikan berita itu kepada suaminya.


Seketika Abimanyu termenung, ingatannya kembali saat ia beberapa kali bertemu dengan suami dari sahabat istrinya itu. Ia mendadak teringat akan skandal Danan yang menyukai istri pria itu.


...šŸšŸšŸ...

__ADS_1


Pukul 18.00 Rumah Sakit Bhakti Husada


Pak Ali terlihat mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan jenazah putranya. Hari telah berubah menjadi gelap, se gelap hati semua keluarga Rangga. Mendung gelap kini menyelimuti keluarga Ali Ruchi.


Ia tak pernah mengira bila putranya akan mendahului dirinya untuk menghadap sang khalik. Apalagi di usia yang masih muda.


Shinta yang telah sadar namun masih diam dengan tatapan kosong itu, terlihat meringkuk diatas kursi panjang yang berada persis menghadap ke lorong instalasi pemulasaraan jenazah suaminya. Seorang diri.


Bu Nisa yang saat sadar kian syok dan tak bisa di kendalikan, terpaksa harus menerima suntikan penenang atas seijin suaminya.


Di jam itu pula, rombongan Abimanyu terlihat datang ke rumah sakit. Sekar yang masih kesulitan berjalan terus memaksakan dirinya untuk datang. Sakitnya tidaklah penting saat itu, ia hanya ingin memberi dukungan kepada mantan rekan sepekerjaannya dulu.


Para wanita langsung menubruk tubuh Shinta yang diam mematung dengan tatapan kosong. Sementara Abimanyu dan Wisang, ia bergegas mencari Richard dan Danan.


" Shin...!" Dhira mencoba mengajak Shinta berkomunikasi.


" Mbak Shinta..." Sekar yang sudah menangis sedari tiba di rumah sakit itu, mengusap lembut lengan Shinta yang masih menatap lorong koridor itu dengan tatapan nyalang.


Jiwa Shinta hampa dan kosong, tak memiliki kendali atas dirinya sendiri.


" Mas Rangga tega ninggalin aku sendirian Dhir..!" ucapnya dengan pandangan kosong dan suara yang nyaris tak terdengar.


Dhira mengusap air matanya sendiri, sembari mengigit bibirnya. Ia mencoba menahan kesedihan yang turut ia rasakan saat itu.


" Aku sendirian Dhir... bener- bener sendiri!" kalimat keputusasaan yang terlontar dari bibir Shinta, malah membuat Dhira dan Sekar terisak-isak.


.


.


" Danan!!" ucap Abimanyu saat melihat Danan yang menemani Pak Ali mengurus jenazah suami Shinta itu, tengah berdiri di depan instalasi pemulasaraan jenazah.


" Om, kami turut berdukacita!" ucap Abimanyu saat mereka telah berhasil mendekat kepada Danan dan pak Ali.


Pak Ali mengangguk dengan senyuman penuh kepasrahan. Pria itu nampak tegar meski mereka semua tahu, hati pria itu kini tengah tidak baik-baik saja.


" Terimakasih.. Terimakasih kalian sudah baik selama ini kepada anak saya, terlebih kepada menantu saya!"


" Tolong di maafkan semua kesalahan Rangga!"


Hanya itu kata yang sanggup pak Ali lontarkan. Sejurus kemudian pria itu menepuk pundak Abimanyu dan Wisang secara bersamaan.


" Om minta tolong. Minta istri kalian untuk temani Shinta dulu. Om tahu ini pasti berat untuknya. Om masih belum tega buat ketemu Shinta!" Pak Ali nampak menitikan air matanya saat mengucapkan hal itu kepada Abimanyu dan Wisang.


Sejurus kemudian pria itu pergi dari sana. Berniat ingin melihat kondisi istrinya terkini.


Abimanyu dan Wisang menatap Danan yang berwajah murung.


" Apa semua baik baik saja?" tanya Abimanyu.


" No...!" Danan menggeleng lemah.


Ia tahu, ibu mertua Shinta jelas akan menyalahkan dirinya dan Shinta akibat kesalahpahaman yang belum sempat terurai tadi. Kini ia hanya bisa menghela napas.


Apapun yang terjadi nanti , ia akan tetap pasang badan untuk Shinta.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2