The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 123. Your Hurt Me


__ADS_3

Bab 123. Your Hurt Me


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Tiada yang salah. Hanya aku manusia bodoh. Yang biarkan semua ini permainkanku, berulang- ulang kali.."


( Diambil dari lirik lagu Ada Band ~ Manusia Bodoh)


.


.


Sekar


Sekar kembali ke meja hadirin dengan perasaan tak bisa di jelaskan. Apa maksud Wisang barusan. Laki-laki itu hanya diam saja saat wanita dengan baju yang menunjukkan dada yang hampir tumpah, karena tak mampu menampung dua buah benda kenyal yang lebih besar dari pada tempatnya itu.


Di waktu yang bersamaan, Shinta juga kembali ke meja yang sama dengan wajah kesal dan mulut yang tak henti menggerutu, seraya mengibaskan tangan ke area baju di dadanya.


Mereka berdua duduk dengan kedua alis yang sama-sama bertaut. Wajah mereka juga tegang, isi hatinya dongkol tak karuan.


"Mbak Shinta kenapa?" Sekar bertanya lebih dulu, karena sedari tadi wanita di depannya itu bolak- balik mengambil tissue lalu menempelkannya ke bajunya.


"Gila banget tau nggak, masak di pesta besar begini aku ketemu pria brengsek. Udah sengaja numpahin minumnya ke bajuku, eee malah seenaknya dia megang ini..( Menunjuk pada dadanya)" Shinta berucap sambil memasang wajah sebal.


Sekar akhirnya tergelak, siapa yang di maksud seniornya itu dengan kata ' sengaja' menumpahkan minum ke bajunya. Siap juga yang se berani itu terhadap wanita garang macam Shinta.


" Gak sengaja kali mbak, dimana emangnya. Untung baju mbak item, jadi gak kelihatan!" tukas Sekar.


"Iya sih, cuman lengket aja ini yang dalem!" ucap Shinta melempar tissue kotor bekas pakainya ke bawah.


"Gila orang itu emang, untung mas Rangga belum datang!" imbuh Shinta.


"Kamu kenapa monyong begitu?" Shinta kemudian menatap Sekar, saat dia hendak meraih gelas minumannya.


"Ga ada mbak, saya pusing lihat orang pakai baju kelap kelip. Ini pertama kalinya saya ikut pesta orang gedongan begini!" Sekar terkikik, ia berbohong. Tak mungkin mengatakan kepada Shinta jika ia tengah dilanda cemburu.


"Ngambil makanan yuk!" ajak Shinta.


"Boleh!" Sekar setuju dengan ajakan Shinta. Ia lebih memilih menepikan perasaan galaunya. Sejumput perasaan negatif bersemayam di hatinya. Mungkinkan bila Wisang tak serius dengan dirinya. Ingatannya akan Nyonya Lisa yang datang melabraknya kini memprovokasi dirinya.

__ADS_1


Namun, saat ia tengah berada di meja dengan jajaran cake lezat langkahnya di hadang oleh seseorang. Dan kebetulan Shinta berada agak jauh dari tempatnya berdiri, membuat mereka terpisah.


"Ngapain kamu disini?"


.


.


Wisnu


Pesta dengan nuansa gegap gempita itu memang dihadiri oleh sebagian besar kaum darah biru. Tentu saja itu bukan hal asing, mengingat siapa keluarga Aryasatya.


Namun, dengan terselenggaranya acara itu, praktis membuat pihak hotel juga harus mempekerjakan tenaga kerja yang tak sedikit.


Wisnu yang bekerja sebagai outsourcing dan kadang mengambil pekerjaan freelance itu, kini tengah berada di hotel itu sebagai pelayan disana. Ia kerap bekerja secara pindah- pindah, dan sepertinya terlingkup dengan sesuatu yang terselubung. Pekerjaannya ini bisa dibilang hanya sebagai kedok.


Ia menajamkan pandangannya saat melihat seorang wanita yang dia kenal. Ia mendekat ke arah wanita dengan gaun warna biru yang membalut tubuh rampingnya.


"Ngapain kamu disini?" Wisnu bertanya kepada Sekar. Dan wanita itu terlonjak kaget.


"Kamu kok disini?" Sekar tentu saja terkejut. Mantan kekasihnya itu memakai seragam lengkap ala pelayan. Sejenak ia nyaris tak mengenali tampilan Wisnu yang dinilai cukup tampan. Meski ia tahu, pria di depannya itu tak lebih dari seorang bajingan.


Wisnu menggeret lengan Sekar, mencengkeramnya kuat agar mau berjalan mengikutinya. Sekar panik, ia tapi tak bisa berteriak karena banyak orang disana. Ia mengikuti langkah Wisnu yang membawanya pergi ke tempat yang agak jauh.


"Lepas Wisnu, kamu mau ngapain?" Sekar berusaha menarik tangannya kasar. Mereka berdua terpaksa berdiri diantara orang banyak yang tak mereka kenal disana. Meninggalkan Shinta yang tadi sibuk dengan aneka kue lezat.


"Dengar Wisnu, jangan ganggu aku lagi. Kita sudah enggak ada apa- apa lagi. Kamu ini budek apa gimana?" Sekar cemas disana, ia takut jika Wisnu berbuat nekat. Ia sudah lelah selama ini di peras oleh Wisnu. Pria malas dengan gaya selangit.


"Dengar, aku memang tidak bisa berbuat apa-apa disini. Tapi kau masih punya tanggungan kepadaku. Seumur hidupmu kau harus bekerja untukku. Kau mengerti? jika tidak, aku akan membuat hidupmu tidak tenang!!" Wisnu berbicara sembari memindai keadaan. Ia disana berseragam pelayanan, tentu tidak bisa berbuat seenaknya saja.


Ia juga terpaksa bekerja karena Sekar selama ini sulit ia temukan. Apalagi pria itu tengah terlilit banyak hutang. Gaya hidup yang tak sesuai pemasukan, jelas menjadi faktor penyebab terjadinya hal itu.


"Apa maksudmu Wisnu. Selama ini aku bahkan tidak bisa menikmati hasil jerih lelahku. Semuanya habis kau ambil. Manusia macam apa kau ini Wisnu!!" Sekar berucap dengan ngos-ngosan. Ia geram bukan main. Apa pria di depannya itu hendak mengekploitasi dirinya?


"Aku akan lapor polisi!" Sekar mengancam.


Wisnu tertawa ironis.


"Diam kau perempuan sundal!!, lakukan saja. Aku akan menyebar fotomu yang sedang telanjang jika kau berani lapor. Lagipula kau tidak ada bukti aku memerasmu. Hahahahaha!!!!" Wisnu tertawa keras.


"Foto?" Sekar menampilkan wajah bingung.


Wisnu terlihat menggulir ponselnya, ia menunjukkan sebuah foto Sekar. Foto dirinya dalam keadaan nyaris telanjang bulat, foto itu adalah foto kejadian beberapa tahun silam.


"Jadi semua itu kau yang melakukan?" Sekar tak menyangka, pria yang dulu ia sangka menolongnya, rupanya adalah dalang di balik kejadian itu. Kejadian dimana ia pernah ditemukan dalam keadaan pingsan dan nyaris bertubuh polos, dan di hakimi oleh para warga di kampungnya.

__ADS_1


Air mata Sekar menganak sungai, jika ada kata lain yang lebih parah dari kata bajingan, Wisnu sangat tepat menyandangnya.


Ia ingat saat Wisnu dulu menolongnya, memberikannya penutup pakaian saat banyak orang menemukannya dalam keadaan seperti itu. Membuatnya jatuh hati kepada pria itu. Namun tak di nyana, Wisnu memang ingin memperbudak dirinya sedari lama. Ia hanya mesin pencari uang bagi Wisnu.


"Dengar, aku butuh uang sepuluh juta. Hutangku banyak, dan aku sibuk mencari mu selama ini. Kalau kau tidak mau memberiku dalam waktu dekat, aku ku bakar tempat kerja bosmu itu!!"


"Sekar?" terdengar suara Shinta yang memanggil namanya.


Sekar menatap wajah pria brengsek di depannya itu dengan tatapan tak percaya.


"Manusia iblis!!!" ucap Sekar getir.


"Memang, siapa suruh keluargamu dulu berurusan dengan keluargaku, hem?"


"Jangan lupa sepuluh juta, aku bisa mencarimu hingga ke lubang semut!!" Wisnu pergi dengan tawa menggelegar, ia meninggalkan Sekar yang masih berdiri mematung dengan wajah berlinang.


Tanpa mereka ketahui, Nyonya Lisa sedari tadi memperhatikan interaksi mereka. Hanya saja, ibu dari Wisang itu tak mendengar apa yang mereka bicarakan. Membuat wanita tua itu berfikir, bila Sekar memang terlibat dengan banyak pria. Dan mengira jika Sekar adalah bukan wanita baik- baik.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hallo gengs, kenken kabare. Mugi sedanten ( Semoga semuanya) sehat nggeh.


Mommy tiga hari ini sibuk di acara pernikahan keluarga, pagi tadi sibuk di posyandu RT nya Mommy. Insyaallah setelah ini up normal lagi.


Aku bahagia dengan komentar positif dari kalian. Terimakasih yang sudah bilang karya Mommy bagus jalan ceritanya, semua juga karena saran dari pembaca 😁.


Terimakasih juga yang selalu setia nunggu cerita dunia duda dan janda ini ya.


Big hug from me

__ADS_1


Mommy Eng šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2