The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 130. Akulah PelindungMu


__ADS_3

Bab 130. Akulah PelindungMu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Hati yang tenang dapat menyegarkan tubuh, tapi hati yang iri membusukkan tulang!"


.


.


Jelang sore Abimanyu dan Dhira berkemas. Rencana akan check out pagi itu tertunda karena Abimanyu yang tak kenyangnya memakan Dhira berulang kali. Definisi dari aji mumpung, dan mumpung aji.


Padahal mau melakukannya hingga barang mereka kebas sekalipun, sudah di pastikan takkan ada aral lagi. Tapi begitulah manusia, mana ada yang sanggup untuk sekedar menolah nikmat dunia yang melenakan itu.


" Mas aku kangen sama Raka. Kita jemput ya?" ucap Dhira seraya meraih tasnya.


" Si Bagus udah aku telpon barusan buat jemput Raka. Malam ini kita kerumah Oma dulu ya" ucap Abimanyu seraya mengenakan jaket kulitnya.


"Nanti malam Raka biar ikut nginap juga. Biar kamu gak khawatir lagi." Abimanyu mencium bibir istrinya.


Dhira tersenyum, suaminya itu rupanya selalu selangkah lebih maju darinya. Abimanyu jelas sudah tahu akan keberadaan Raka yang sama pentingnya dengan Dhira.


" Ayo!"


Mereka turun ke lantai dasar. Tak perlu susah payah untuk menggotong semua barang mereka, karena ada Devan yang akan mengurus semuanya.


Ya, pria itu nampaknya memang terlahir untuk dirusuhi oleh keluarga Aryasatya.


Abimanyu dan Dhira mendapat pelayanan terbaik dari semua karyawan hotel milik Danan. Termasuk perihal akomodasi dan transportasi.


Sepanjang perjalanan tangan Dhira tak hentinya di genggam oleh Abimanyu. Mereka bak pasangan anak muda yang merasa dunia ini hanya milik berdua, sementara makhluk hidup lainnya hanya nebeng saja.


Tepat pukul empat sore, mobil tiba dirumah besar. Terlihat Oma Regina, Jodhi dan tentu saja Raka sudah ada disana. Rania tak ada diantara mereka, mungkin masih berada di kantor.


Bagus dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu untuk majikannya. Dhira lebih dulu turun karena berada di lajur sebelah kiri.


" Selamat datang nak!" Nyonya Regina memeluk erat Dhira penuh kasih saat wanita itu selesai menyalaminya dengan takzim. Wanita tua itu kini bernafas lega atas semua yang terjadi.


"Terimakasih banyak Oma!" Dhira tersenyum haru.


Nyonya Regina lalu memeluk Abimanyu erat. cucunya itu bahkan harus mencondongkan tubuhnya, agar neneknya bisa menggapai tubuhnya.


" Sudah jadi suami sekaligus papa sekarang. Jangan suka keluyuran gak jelas!" ucap Nyonya Regina yang mengingatkan cucunya.


Abimanyu terkekeh," Tugasku sekarang harus segera menambah populasi keturunan Oma. Dikejar deadline nih!" bisik Abimanyu, membuat wanita tua itu spontan memukul lengan Abimanyu yang mulai membicarakan hal absurd di depan anak-anak.


Dhira menoleh, tapi ia hanya mendapati dua manusia di sebelahnya itu terlibat selorohan tawa. Sejurus kemudian ia memeluk Jodhi.


" Tante!!!" Jodhi lebih dulu merentangkan tangannya kepada Dhira. Bocah itu sangat manja jika sudah dihadapkan kepada wanita dengan masakan lezat itu.


"Jodhi, terimakasih banyak ya. Sudah mau terima Tante!" Dhira mengusap punggung bocah, yang kini turut menjadi keponakannya itu.


"Aku manggilnya apa nih. Masa Tante. Ayah Abi kan ayahku?" Jodhi memanyunkan bibirnya. Membuat semua yang disana tergelak.


"Kalau mama udah ada mama Rania. Aku panggil bunda aja ya. Ayah Abi sama bunda Dhira!" ucap Jodhi semangat, seolah mendapat pencerahan dari lampu Alber Einstein di kepala.


Abimanyu manggut-manggut, " Oke ayah setuju!"


Semua yang disana amat bahagia. Dan terakhir, Dhira memandang putranya. Bocah dengan pembawaan tenang itu terlihat tersenyum.


"Raka!" ucap Dhira mengharu biru. Ia tahu putranya pasti merindukan dirinya yang sibuk sepekan jelang pernikahannya.


Dhira memeluk tubuh anaknya posesif. Seolah tak ingin melepaskan. " Terimakasih nak, sudah menjadi anak yang baik. Mau menerima keadaan mama sebagaimana adanya!"


Jodhi terlihat mengusap air mata menggunakan punggung tangannya. Nyonya Regina juga melakukan hal yang sama. Ia menyusut sudut matanya, hatinya diliputi rasa haru.


Abimanyu mendekati ibu dan anak yang saling berpelukan itu, ia turut melingkupi tubuh Dhira dan Raka. Seolah menyiratkan bila ia adalah pelindung mereka saat ini.


"Kamu dan mama sama pentingnya dalam hidup papa saat ini. Papa janji, akan penuhi semua yang seharusnya kamu dapat sedari dulu!" ucap Abimanyu seraya memeluk dua orang yang nampaknya sudah berlinang air mata itu.


Abimanyu begitu menyayangi mereka setulus hati. Tidak ada kemunafikan disana.

__ADS_1


"Aku gimana?" wajah Jodhi yang basah itu, kini makin memelas. Membuat tiga orang yang tengah larut dalam keharuan, malah mejadi tergelak karena melihat wajah Jodhi.


"Jodhi juga, sini sama Bunda!" ajak Dhira melonggarkan pelukan mereka. Membuat Jodhi segera merapat. Alhasil mereka semua berpelukan dengan kasih mesra. Membuat Nyonya Regina menangis haru karena bahagia.


Terimakasih Tuhan, hari ini kau penuhi janjiMu.


Bahwa segala sesuatu memang indah pada waktunya.


...šŸšŸšŸ...


Sekar sore itu belum pulang ke ruko. Pasca rusaknya kaca Ruko Dhira, baik Wisang maupun Sekar belum memberitahu pengantin baru itu. Ia tak ingin merusak moment indah mereka dengan berita yang kurang menyenangkan.


Dan dalam hal ini, lagi-lagi Devan yang dibuat sibuk. Entah apa yang akan Devan lakukan. Yang jelas, Wisang sudah mendokumentasikan segala sesuatunya, kemudian ia juga membawa serta barang bukti untuk di simpan.


Dan menurut laporan Devan, mereka sudah membereskan kekacauan tersebut, dengan memanggil tukang yang berkompeten untuk membenahi kerusakan itu.


Sekar kini tengah duduk di tempat makan yang lebih ramah kepadanya. Dalam artian, makanan yang cukup familiar di pikiran dan lambungnya.


" Mas, kita gak usah makan disini ya?" Sekar mendadak kehilangan selera makan, lantaran melihat harga menu yang ia rasa tak wajar. Ia bisa menggunakan uang dengan harga seporsi nasi ayam itu, untuk membeli sekarung beras.


Wisang tergelak, bagaimana bisa wanita di hadapannya itu mencemaskan hal yang tidak perlu. " Sekar!" Wisang sebenarnya tak tersinggung, tapi ia lebih ke bagaimana bisa ada wanita se-polos dan se- apa adanya seperti Sekar.


"Dengar, semua harga makanan disini tidak akan membuatku jatuh miskin. Aku hanya ingin memberikan yang tebaik untuk seseorang yang berarti untukku!" Wisang mengucap hal itu, sembari menatap wajah Sekar serius. Ia memang tergila-gila dengan gadis lugu di depannya itu.


Selang lima belasan menit, makanan mereka terhidang. Sekar memperhatikan satu persatu makanan yang dibawakan oleh waiters itu.


" Mas, banyak banget. Nanti kalau gak habis gimana?" Sekar bukanlah tipikal orang yang suka buang-buang makanan.


"Makanya ayo habiskan!" bagi Wisang, Sekar bisa membuat hatinya terhibur. Ia yang selama ini terbiasa dengan para wanita sexy dan berkelas dan cenderung merendahkan diri mereka demi isi dari kantong tebal Wisang, kini bisa merasakan hal lain dalam diri Sekar. Dan ini natural menurutnya.


Sekar makan dengan lahap. " Ini enak mas, mas coba deh!" ia menyuapkan ayam betutu ke mulut Wisang.


"Gimana?" Sekar menanti komentar dari pria di hadapannya itu.


Wisang terlihat menikmati, seraya mengoreksi rasa dari menu itu. " Enak, tapi ini pedas Lo. Kamu jangan banyak-banyak. Nanti sakit perut!"


Sekar tergelak " Aku malah suka makanan pedas mas!"


Wisang merasa hal sederhana seperti ini, bisa membuat moodnya bagus. Apalagi Sekar juga terlihat senang sekali. Wanita di hadapannya itu, terlihat menjilati sisa nasi di tangannya. Membuat Wisang mengernyit heran.


Sekar memandang wajah Wisang yang terlihat heran," Kamu malu ya mas?" Sekar nyengir.


"Enggak, bukan gitu!" sergah Wisang.


"Dulu mbahku pernah bilang. Berkah dalam piring kita itu tidak akan pernah kita ketahui ada di bulir nasi yang mana. Makanya aku jilati, biar semua berkahnya masuk ke perutku!" ucap Sekar mantap.


Wanita yang luar biasa pikirnya. Wisang terperangah mendengar jawaban Sekar. Lalu bagaimana dengannya yang selama ini sering membuang makanan?


"Makasih ya mas. Makanannya enak. Baru kali ini aku makan makanan mahal-mahal. Tapi lain kali, mas coba makanan embongan( jalanan/ street food) ya?"


"Nasi goreng Jawa nya enak lo, dulu aku sering makan sama Wis....!" ia tersedak perkataannya sendiri. Sejurus kemudian, ia tertunduk layu.


Ia merasa tak enak hati kepada Wisang.


"Kita pasti coba. Aku mau kok!" Wisang tersenyum. Ia tak mau menanggapi bagian akhir kalimat Sekar. Ia hanya ingin menyanggupi keinginan sederhana dari Sekar.


"Sekarang aku mau ke toilet dulu!" pamit Wisang. Ia tak ingin Sekar merasa bersalah karena hendak membicarakan Wisnu.


"Kamu sendiri sebentar tidak apa-apa kan?" Ucap Wisang kembali. Wisang memang tak lagi bisa menahan desakan isi kandung kemihnya.


"Iya mas!"


.


.


Namun rupanya, di tempat yang sama seorang wanita memperhatikan mereka sedari tadi. Ya, Mira rupanya tengah ada di resto itu bersama teman- temannya. Nampaknya, ia baru saja melakukan pemotretan.


Dengan hati geram, Mira mendatangi meja Sekar. Gelas berisikan minuman dingin, kini telah tandas karena berpindah dan mengguyur tubuh Sekar. Membuat tubuh wanita itu kini kuyup.


"Wanita sialan!!!" ucap Mira.


"Astaga, ada apa ini?" Sekar tentu saja bingung. Sejurus kemudian ia menatap wajah wanita yang mengguyur tubuhnya.


Kini ia tahu, wanita di depannya itu adalah wanita yang tempo hari bergelayut manja di lengan Wisang.


"Wanita murahan, kamu gak tahu malu ya?" Mira langsung menjambak rambut Sekar. Membuat kepala Sekar sampai meneleng ke samping.

__ADS_1


"Arrhhhh mbak, mbak ini gimana sih!" Sekar berusaha membela dirinya. Ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Mira namun sulit. Ia sampai tertunduk mengikuti arah Mira, agar tarikan rambutnya tak terlalu sakit.


Semua pengunjung yang disana kini menatap ke arah sumber keributan disana. Keributan yang berasal dari Mira dan Sekar.


"Ngapain kamu deket-deket sama Wisang. Dasar gak tahu malu!!" rambut Sekar rontok. Kulit kepalanya serasa tercabut saat itu. Perih dan nyeri.


"Mbak sakit!!, lepasin!!" keadaan Sekar sudah kacau balau. Ia kesakitan saat itu.


Kesemua pengunjung disana kini saling berbisik. Bahkan ada yang merekam kejadian itu, menggunakan ponsel mereka.


.


.


Wisang yang merasa lega kini buru-buru kembali ke mejanya tadi. Berharap bisa pegang- pegangan tangan dengan Sekar. Namun, khayalannya rupanya hanya bersifat fana. Seketika ilusinya itu menguap ke udara, dan berganti dengan kecemasan lebih tepatnya kemarahan.


Ia melihat Sekar yang di Jambak oleh Mira. " Astaga, kenapa wanita itu bisa ada disini?"


Wisang berlari membelah kerumunan pengunjung yang menjadi penonton mendadak disana. Hati Wisang serasa dihujam oleh batu. Darahnya mendidih saat itu juga.


"Mira lepas!!" dengan sekali tarikan, tangan kekar Wisang mampu melepaskan cengkraman Mira kepada rambut Sekar.


Sekar memegangi kepalanya yang terasa perih. Ia menangis karena kesakitan. Ia lega karena penderitaan kini berakhir. Meski terlambat, namun Wisang telah menolongnya dari serangan wanita gila itu pikirnya.


"Tolong semua dengar dan rekam ini, dia adalah wanita perebut!" ucap Mira kepada semua yang menjadi penonton disana seraya menunjuk Sekar.


Sekar membulatkan matanya, hatinya sesak karena di katai seperti itu. Kesemua orang disana bahkan menatap ta ramah kepadanya. memandangnya dengan tatapan bengis.


"Mira!!" Wisang membentak wanita itu.


"Saya dan dia!" tunjuk Mira kepada Wisang.


"Sudah di jodohkan, dan akan segera menikah. Tapi wanita sundal itu merayu calon saya karena dia tahu suami saya kaya!" Mira berucap dengan suara menggebu-gebu.


"Mira diam kamu!!" Wisang menggeret lengan Mira dan membawanya pergi menjauh dari sana. Ia tak mau sampai mulut Mira melontarkan kata-kata yang lebih parah lagi. Sekar lebih penting disini.


Sekar yang di tatap bengis oleh sekumpulan orang yang menjadi penonton sekaligus merekam kejadian itu, sontak saja menangis. Ia terluka karena di katai wanita perebut.


"Pergi sana mbak. Cantik-cantik kelakuannya gak bener!" ucap salah satu ibu-ibu yang mendadak menjadi orang yang sok tahu.


"Whuuuuu!!!!" semua orang disana menyalahkan Sekar, karena Wisang lebih memilih membawa Mira pergi.


Sekar malu karena di hujani teriakan sinis dari para pengunjung disana.


Sekar yang tampilannya kacau serta bercucuran air mata, langsung melesat dari tempat itu. Ia tak tahan dengan umpatan para makhluk sok suci disana. Ia sedih ,karena mengapa Wisang malah membawa enaita itu ketimbang dirinya.


Dengan tak terhibur, dengan seorang diri. Sekar pergi dari sana.


.


.


"Kamu itu apa-apaan Mir?"


"Udah gila kamu?"


Wisang benar-benar berang. Ia membawa Mira pergi dari sana, karena ia tak ingin wanita itu menyerang Sekar lagi. Baik secara fisik maupun ucapan verbal.


"Kamu siapa?, kamu ngaca dong. Siapa juga yang mau sama kamu!" Mata Wisang seolah hendak keluar dari tempatnya. Ia benar-benar berada di batas kesabarannya saat itu.


" Tapi Wis, mama kamu mau...!"


"Mama..mama..mama!!" Wisang berbicara dengan nada kasar dan menggebu-gebu.


"Aku gak peduli. Aku gak tertarik sama kamu Mir. Pergi dan jangan ganggu hidup aku. Aku bisa melakukan hal yang gak pernah kamu bayangkan. Ingat itu!!" Wisang berbicara dengan emosi meluap. Sejurus kemudian ia meninggalkan Mira dengan kehinaan.


"Wis!!"


"Wisang!!!"


"Arggghhhh!!!" Mira berteriak frustasi karena tak dihiraukan oleh Wisang.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2