The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 43. Kepanikan Bastian


__ADS_3

Bab 43. Kepanikan Bastian


.


.


.


...🍁🍁🍁...


...


Dengan dada bergemuruh, Emosi yang membara, Indra melangkahkan kakinya menuju mobil, yang terparkir di lantai dasar apartemen itu.


"Breng sek!!!!" ia membanting pintu mobilnya.


"Arrrrggghhh!!!" kali ini dia memukul setirnya, hatinya sakit, jiwanya tak terima. Bak sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Ungkapan ini agaknya cocok untuk Indra.


Ya, mungkin di lupa jika di dunia ini akan selalu ada hubungan sebab akibat. Bahwa apa yang di tanam, itu yang akan kita petik. Hanya saja waktunya berbeda-beda, ada yang instan, ada pula yang memerlukan kurun waktu yang tak singkat.


Kehilangan pekerjaan dengan cara hina, dan sekarang si gundik sexinya kedapatan bermain api dengan pria lain. Mungkin dia lupa, tidak ada jaminan bagi orang yang berselingkuh, untuk tidak melakukannya dengan orang lain di kemudian hari. Renata contohnya.


Jadi apa karma itu nyata?, jawabannya ialah nyata dan pasti. Kamu memberi seribu untuk hari ini, bisa saja kamu akan mendapat dua ribu di lain hari atau bahkan kamu mengambil seratus ribu hari ini, kamu akan kehilangan satu juta di waktu mendatang.


Tak ada yang bisa lari, tak ada yang bisa bersembunyi. Semesta ini sudah mengatur. Mau kamu baik, mau tidak baik semua akan ada bayarannya. Kita tinggal memilih.


.


.


Bastian


Kamis ini dia terlihat sibuk di depan komputernya, ia berkutat dengan pekerjaan yang tiada habisnya usai mereka pindah ke lantai baru. Ya mereka kini tengah berada di lantai 10.


Setiap perusahaan membutuhkan laporan keuangan untuk kemajuan perusahaan. Tak terkecuali perusahaan dimana Bastian bekerja.


Dengan adanya laporan keuangan, pihak manajemen dapat melihat kondisi keuangannya dalam satu periode serta mengevaluasinya untuk kebutuhan ke depan. Termasuk penghitungan laba- rugi.


Laporan keuangan mampu menunjukkan secara real posisi keuangan yang nantinya memudahkan manajemen dalam pengambilan keputusan.


"Bas, tumben Bu Rania belum datang!" ucap Satrio yang terlihat menjepret beberapa jurnal.


"Kenapa tanya ke gue!" jawab Bastian, tanpa mengalihkan pandangannya ke layar.


"Iya juga sih, ngapain gue tanya ke elu!"


"Tapi, kan biasanya elu sama dia terus. Dah jadi gosip!!" bisik Satrio di akhir kalimat.


"CK, makanya jangan jadi tukang gosip!, bener kagak dosa iya!" tukas Bastian.


"Tapi nih ya Bas, kalau gue lihat-lihat Bu Rania itu gak kelihatan jadi janda lo Bas. CK CK, bodynya lu lihat. Wihhhh!!!" ucap Satrio makin ngaco.


"Lu mau kerja apa mau gosip sih!!" Bastian mulai kesal.


"Ah elah, begitu doang udah ngambek!!"


Namun di sela-sela obrolan unfaedah mereka muncul Bang Togar yang lari tunggang langgang.

__ADS_1


"Woy Bas!! Bu Rania kejebak di lift!!!!"


"Apa?" ucap Satrio dan Bastian bersamaan, dengan keterkejutan yang kompak pula.


.


.


Rania


Saat hendak hendak memasuki lift untuk menuju ruangannya yang berada di lantai 11, ia biasa saja. Dia memang agak kesiangan, lantaran lelah karena semalaman menemani kalanya ngobrol dan makan hingga dini hari.


Namun matanya membulat saat angka di tombol indikator sudah menunjukkan nomer 11, namun pintu besi itu tak kunjung terbuka. Sejurus kemudian lampu di lift mati.


"Astaga, kenapa ini!!" Rania mulai panik.


Nahasnya , dia hanya seorang diri. Ia mencoba menggedor bila ada yang lewat. Jam sibuk kantor tentu saja tak menguntungkan buat Rania. Ia segera mencari ponsel yang tersimpan di tasnya, mengaduk aduk tas tersebut guna menemukan benda pipih itu.


Sial, ponselnya tak ada signal. Ia mencoba menekan tombol interphone namun sia sia. Napasnya mulai ngap, keringat mulai membasahi dirinya.


"Ya Allah, bagaimana ini!!"


Tak ada pilihan, ia menggedor lift dari dalam. Berharap ada seseorang yang lewat.


"Tolong!!!! Tolong!!!" ia berteriak hingga suaranya serak.


.


.


Ia baru saja dari meja kerja Bu Rania. Menyerahkan beberapa resume karyawan baru, untuk bahan pertimbangan penujukan kepala cabang baru yang sedikitpun berkompeten.


Tapi untuk hal satu ini, Bang Togar agaknya tak mendaftar dirinya. Kepala cabang baru, sarat dengan perpindahan. Bisa jadi ke luar daerah.


Tentu saja dia tidak mau berpisah dengan Liliana, istri gembulnya yang tercinta.


Ia berniat akan turun ke lantai 10, semenjak ruangan mereka di pindah mau tidak mau mereka harus sering naik turun lift bila di panggil oleh atasan mereka, Bu Rania.


Namun dari koridor tempat dia berjalan, sayup sayup terdengar suara orang.


"Siapa pula itu!" Bang Togar sempat mengedarkan pandangannya, sapuan matanya tak melihat ada seorangpun disana.


"Masa iya ada hantu siang bolong begini!!_ ucapnya seraya meraba tengkuknya.


"Tolong!!! Tolong!!!" suara itu terdengar kian jelas, membuat Bang Togar melangkahkan kakinya lebih cepat.


Brak brak!!!


"Alamak!!, siapa di dalam itu?" bang Togar terperanjat. Rupanya ada seseorang yang terjebak di dalam lift.


"Hey, siapa di dalam?" tanya bang Togar.


"Tolong, saya Rania!!" terdengar suara dari dalam yang lirih.


Mata Bang Togar membulat seketika, ia panik dan bingung hanya bisa mengacak rambutnya yang ikal. Tak tahu harus berbuat apa. Terlalu awam untuk masalah beginian.


"Woy!!!, sini dulu" ucap bang Togar yang melihat cleaning service tengah lewat disana, sepertinya akan membersihkan bagian kaca disana.

__ADS_1


"Ya Pak!" ucap CS itu, seraya lari tergopoh-gopoh.


"Bu Rania terjebak di dalam, tolong kamu disini dulu. Aku akan panggil bantuan!" Bang Togar meminta CS itu untuk tinggal disana sementara, setidaknya ada yang menunggui Bu Rania.


Cs itu mengangguk, pertanda mengerti tugas yang diberikan oleh Bang Togar.


"Ibu tolong disana dulu, saya akan panggil bantuan!!" ucap Bang Togar kepada Rania, ia langsung berlari bak atlet. Ia berniat menggunakan tangga darurat, untung saja hanya berjarak satu lantai dari tempat dia berada. jika tidak, bisa Hamsyooong dia.


.


.


Begitu sampai di lantai 11, Bastian , Satrio dan Bang Togar melihat lift itu sudah di kerubungi oleh banyak orang. Mulai dari karyawan, cleaning servis, bahkan petugas keamanan.


"Minggir!!" ucap Bastian degan Nafa memburu, menandakan bila dirinya baru saja berlari.


"Bu, apa ibu bisa mendengar suara saya? Ibu baik baik saat ini?" tanya Bastian memastikan kondisi korban di dalam. Menempelkan telinganya ke pintu besi itu


"Tolong!!!" terdengar suara Bu Rania yang lemah, sepertinya sambil menangis.


"Sudah kalian hubungi bagian Engineering?" tanya Bastian kepada Satrio dengan wajah panik.


"Sudah, mereka sedang menuju kemari!" jawab Satrio tegang.


"Bu, bertahanlah!! pintu akan segera dibuka?" ucap Bastian mencoba berkomunikasi degan korban.


"Bu apa anda mendengar saya?" tanya Bastian lagi, kali ini agak panik karena tak mendapat jawaban dari dalam.


"Bu, Bu Rania!!" Bastian menggedor-gedor pintu dari luar.


"Sial, sepertinya dia mulai kehabisan oksigen!" ucap Bastian makin panik.


Di sela- kepanikannya, terlihat para petugas engineering yang datang ke arah mereka.Bastian menyingkirkan tubuhnya, memberi ruang bagi petugas untuk melakukan tugasnya.


Terlihat mereka yang mulai mengutak-atik lift itu.


"Pergilah menuju ruang mesin di lantai paling atas. Matikan power listrik lift!" ucap salah seroang dari petugas itu.


"Ini terlalu lama, Bu Rania sudah hampir kehabisan nafas!!!" Bastian memprotes langkah yang akan dilakukan oleh petugas engineering itu.


Mendengar ucapan Bastian, petugas itu terlihat takut, kemudian terlihat berfikir. Lantaran yang berada di dalam rupanya adalah salah satu Direksi mereka.


"Kita buka paksa pintu ini!!" ucap petugas itu.


Tapi Mas, nanti kita!!" ucap rekan petugas itu ragu, bingung antara SOP apa keselamatan tanpa menggunakan SOP ( Standar Operasional Prosedur).


"Aku yang akan bertanggungjawab!" ucap Kepala engineering itu, akan menjadi masalah bila terjadi sesuatu dengan Bu Rania pikirnya.


15 menit berlalu, mereka akhirnya bisa membuka pintu tersebut. Harusnya ada prosedur yang masih bisa dilakukan. Namun sepertinya nyawa dari petinggi perusahaan itu jauh lebih penting dari birokrasi penyelamatan.


"Bu Rania!!!" Bastian membelalakkan matanya, demi melihat kondisi Rania.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2