
Bab 97. Bairkan Waktu Menjalankan Tugasnya
.
.
.
...ššš...
"Semua orang akan berada di titik gundah pada waktunya!"
.
.
"Dhira!" kali ini Bu Hana yang angkat suara.
"Saya disini tidak mau menyalahkan siapapun. Ibu kamu, kamu, ataupun yang lainnya." Bu Hana tak tahu, jika ada jiwa yang tertekan dan batin yang sebenarnya sedih, atas apa yang menjadi rencananya bersama Bu Kartika.
Ia juga tidaklah salah, secara langsung Dhira memang tak pernah mengungkapkan ketidaksetujuannya dalam urusan perjodohan ini. Membuat Bu Hana berfikir, jika kesemuanya saling menerima.
Tapi seringkali Tuhan memberikan caranya yang unik, untuk menggagalkan apa yang memang tak menjadi takdir kita.Sebab Allah maha mengetahui, sedang kita tidak.
Dhira masih nanar menatap kaca jendela yang terbuka, menampilkan senja yang berwarna Jingga.
"Saya minta maaf apabila kehadiran Arya dan saya membuat kamu melakukan keterpaksaan."
Bu Hana tercekat, suaranya mulai bergetar. " Kami para orang tua hanya ingin memberikan jalan kepada anak Dhir. Tapi kadang kami lupa, bahwa setiap orang berhak bahagia dengan caranya masing-masing.
Arya masih terdiam, menunggu mamanya menyelesaikan ungkapan hatinya.
"Dhir!" Bu Kartika menggenggam tangan Andhira, Dhira menoleh dengan wajah seolah telah kehilangan semangat hidup.
Pucat pasi.
"Lakukan apa yang membuat kamu bahagia, sekeras apapun kita berusaha, jika hal itu bukan takdir kita, maka Tuhan tak akan kurang cara untuk membuatnya tak menjadi milik kita. Pun sebaliknya, jika sesuatu memang ditakdirkan untuk menjadi milik kita, sekeras apapun kita menolak, maka hal itu pasti akan menjadi milik kita."
Suasana senyap sejenak. Dhira nampak meresapi ucapan mahal Bu Hana, yang ia rasa penuh kebijaksanaan.
"Saya dan Arya pamit dari hidup kamu!"
Tubuh Dhira bergetar, wanita itu rupanya mencerna setiap kata Bu Hana dengan serius. Entahlah, ia merasa semacam malu, juga merasa bersalah. Ia sebenarnya tak kuat untuk sekedar menghadapi sikap Bu Hana yang selalu bijak menurutnya.
Bu Hana memeluk Dhira untuk yang terakhir kalinya sebelum ia pulang.
"Kami nantikan kabar bahagia itu!"
.
.
Arya meminta waktu berdua untuk berbicara kepada Dhira sebentar. Ia juga ingin pergi dengan sebuah kelegaan. Ini berat, sangat berat. Entah dosa apa yang ia lakukan di masa silam, sehingga membuat ia harus mengalami kekandasan untuk yang kedua kalinya.
Mata Dhira masih bengkak, meski tanpa suara wanita itu terlihat menuruti permintaan Bu Hana untuk mendengarkan Arya bicara.
"Saya minta maaf Dhir telah membuat kamu celaka...Tapi sungguh, tidak ada kesengajaan disana. Saya hanya...."
Arya berhenti karena tubuh wanita di depannya itu kembali bergetar, Arya menatap lekat wajah Dhira yang terlihat di tutupi oleh kedua tangannya.
"Saya kira kita bisa memulai meski lewat keterasingan, saya kira kita bisa menjadi salah satu dari kisah perjodohan, yang bisa saling menemukan kebahagiaan di perjalanan kita nanti!" Arya diam, menatap Dhira yang kini mulai menyusut air matanya.
__ADS_1
"Tapi memang benar kata mama, mungkin ini adalah petunjuk dari Tuhan jika kamu tidak akan bahagia denganku nanti. Sehingga aku harus di sadarkan dengan cara seperti ini!" ucap Arya. Ia sebenarnya masih tak terima. Dan saat berbicara detik itu juga, Arya masih menyimpan perasaannya kepada Dhira.
Kini petuah klasik itu, nampaknya harus Arya patenkan dalam hatinya. Bahwa cinta, tak harus memiliki.
"Mas Arya memang pantas bahagia dengan wanita baik-baik, dan itu bukan saya!" ucap Dhira akhirnya bersuara, tentu saja dengan air mata yang sudah menganak sungai.
Sejurus kemudian, ia yang sedari tadi tak menatap Arya sedikit terperangkap. Wajah pria itu banyak luka lebam, apa yang terjadi pikir Dhira.
Apa mereka bertengkar lagi gara-gara aku?
"Mas?" ia menatap luka lebam di wajah Arya.
"It's okay!" ucap Arya seolah menegaskan bila itu bukanlah suatu ancaman besar untuknya.
"Saya minta maaf mas!" hanya itu kata yang mampu di ucapkan Dhira serta tertunduk layu. Ia memang harus minta maaf kepada pria itu. Tentu saja karena rasa bersalah yang mendominasi.
Arya menelan ludahnya dua kali, lagi-lagi kenyataan tak mengenakkan membuat dia harus memiliki stok sabar yang unlimited.
"Dhir, saya pamit. Semoga jika dilain hari kita bertemu, keadaan kita sudah sama-sama bahagia. Tidak seperti ini!" ucap Arya. Membuat Dhira tertegun.
"Berbahagialah dengan caramu!" Arya melepaskan cincin pertunangan mereka dengan hati lara. Tapi tentu saja, ia tahu waktu yang akan mengobati setiap kesedihan dan kekecewaan yang bersarang di hatinya.
.
.
Pintu itu sudah tertutup, menandakan jika ikatan Arya dan Dhira telah usai. Dhira menatap wajah putranya yang masih lelap dengan sejumput perasaan bersalah. " Maafkan mama nak!"
Usai Magrib Dhira di periksa oleh dokter, " Besok ibu sudah bisa pulang. Jangan mengerjakan kegiatan berat dulu ya Bu" ucap dokter itu.
Dhira mengangguk, " Terimakasih banyak dokter!"
Usai dokter itu menyelesaikan pekerjaannya, Raka terbangun dari tidurnya. " Maaf ma, aku ketiduran. Ngantuk banget!" tukas Raka dengan suara parau, sembari mendekat ke arah mamanya.
Raka menggeleng," Tadi..." Raka tengah menimbang. Harusnya ia memberitahu kejadian yang melibatkan perkelahian antara dua pria yang datang di hidup mamanya itu.
"Tadi apa?"
Sejenak hening.
"Tadi Uti sebenarnya juga pingsan. Terus Om Bastian nengok!" jawab Raka.
Dhira hanya membatin, dirinya membuat banyak orang di dekatnya terluka. Bahkan ia sendiri. Namun mendengar bila ibunya juga pingsan, terang saja membuat dirinya makin merasa bersalah. Apa wanita yang melahirkannya itu, akan mau memaafkan dirinya.
Hatinya juga diliputi pertanyaan, kenapa ibunya malah belum menengok dirinya. Apakah yang di takutkan Dhira perihal kesehatan ibunya itu tengah terjadi, atau ibunya kini kembali tak menganggap dirinya. Mendadak hati dan pikirannya diliputi perasaan tak tenang.
Raka dengan telaten menyuapi Dhira. Bocah itu benar-benar melakukan tugasnya dengan bai
"Kamu makan sekalian ini Ka, nanti nunggu om Bas aja kalau masih belum kenyang!" tukas Dhira.
"Enggak ma, Raka nanti aja. Mama makan dulu, biar cepet sehat?" ucap Raka menyuapi mamanya.
Setelah memastikan mamanya meminum obat, ia menyimpan box makan dari rumah sakit itu diatas nakas.
Namun saat Raka tengah membantu mamanya untuk minum, pintu kamarnya terbuka. Abimanyu rupanya datang dengan membawa banyak sekali makanan.
"Om Abi!" ucap Raka riang.
"Halo boy, maaf om baru bisa kesini lagi. Kamu udah makan?, ini om bawakan makan!"
Beberapa paket makanan cepat saji Abimanyu serahkan kepada Raka, bocah itu memang tengah lapar sebenarnya. Ia berbohong kepada Dhira, saat di minta untuk makan makanan dari rumah sakit itu bersama-sama.
__ADS_1
Abimanyu menatap Dhira sejenak sambil tersenyum, namun wanita itu terlihat canggung.
" Raka makan dulu, ini sudah malam!" Abimanyu mengusap puncak kepala anak itu dengan lembut.
"Makasih Om!" Raka tersenyum bahagia, sejurus kemudian ia menuju sofa yang berada di sisi kanan ruangan itu. Ia hendak melahap sekotak nasi dengan minuman dingin yang di bawa Abimanyu.
Hati Dhira merasa sedih, kenapa Bastian dan ibunya hingga sekarang tak mendatangi dirinya. Apakah ibunya benar- benar marah kepadanya. Hatinya juga terharu, melihat Abimanyu yang yang begitu perhatian kepada Raka.
"Emmmm, kamu mau?" tawar Abimanyu yang melihat Dhira memperhatikan Raka makan.
Dhira menggeleng," Kamu gak kangen sama aku ?" tanya Abimanyu. Dhira mendelik seketika.
Abimanyu tergelak karena melihat ekspresi wajah Dhira yang terperanjat. Ia takut jika Raka mendengar.
" Aku barusan di suapi Raka!" jawab Dhira dengan suara lirih.
"Aku tahu, dia memang jagoanmu!"
Abimanyu menggenggam tangan Dhira, mengecupnya sekilas. " Bastian masih pulang mengantar ibu kamu. Kamu jangan berfikir macam-macam, semua akan baik-baik saja!"
Abimanyu tak sungkan mencium Dhira, karena keberadaan Raka sedikit tertutup oleh tubuhnya.
Dhira menatap Abimanyu yang sudut bibirnya juga terluka, Dhira meraba sudut bibir pria itu. " Habis ngapain?" tanya Dhira.
Abimanyu seolah mengerti apa yang di pikirkan oleh Andhira. " Biasa!"
"Sama mas Arya?" tanya Dhira lagi.
"Hmmmmm!" Abimanyu masih sibuk menciumi tangan Dhira sembari duduk di kursi, dan menghadap ke ranjang Dhira dengan posisi membelakangi Raka . Lagipula bocah itu tak menggubris mereka, ia sibuk dengan nasi box nya.
Abimanyu menatap jemari Dhira, cincin yang tersemat itu sudah tidak ada." Dimana?"
"Apanya?" tanya Dhira.
"itu!" tunjuk Abimanyu ke arah jari manis Dhira.
"Mas Arya dan Bu Hana sudah kemari. Mereka berpamitan!" jawab Dhira sendu.
Abimanyu ingin melompat saat itu juga, tak semua musibah itu mendatangkan kesedihan. Meski ia kehilangan calon anaknya, namun ia kini bisa mendapatkan kembali Dhira.
"Ibu pasti membenciku. Ia bahkan belum kemari sedari tadi mas. Aku memang anak yang gak berguna!" Dhira menitikan air matanya.
"Hey, jangan bicara begitu. Setiap orang perlu waktu untuk menenangkan diri!"
"Biarkan waktu melakukan tugasnya!" Abimanyu tiba-tiba berdiri lalu mencium dan melu*mat bibir Dhira dalam tempo singkat. Dhira yang terperanjat akan aksi beresiko Abimanyu itu, seketika memukul lengan kekar Abimanyu.
Plak
"Mas!" ucap Dhira nyaris tanpa membuka bibirnya.
Abimanyu terkekeh, sejurus kemudian ia menatap ke arah dimana Raka berada. Bocah itu masih sibuk menggerogoti tulang ayam yang biasa menjadi santapan favorit serial kartun dengan tokoh bocah kepala plontos, yang berasal dari negeri Jiran.
Sama sekali tak menjadi ancaman buatku Dhir. Ahaay!!!
.
.
.
.
__ADS_1
.