The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 45. Terimakasih Anggi


__ADS_3

Bab 45. Terimakasih Anggi


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


....


Malam itu agaknya akan menjadi malam yang panjang buat Indra. Lebih gilanya, ia bahkan masih menggandeng tangan seorang wanita dengan pakaian minim dan ber-make up tebal.


Wanita itu terlihat memperhatikan tangannya yang masih di genggam oleh Indra, namun lebih memilih untuk diam lantaran situasi yang masih genting.


"Sial!!" ucap Indra yang melihat banyak sekali personel polisi didepan.


Sepertinya mereka agak sulit untuk kabur. Namun saat jalan buntu seakan mereka temui, wanita itu kini justru berubah menjadi navigator.


"Sebelah sini Tuan!" ucapnya beralih menarik tangan Indra, untuk berputar arah. Nampaknya melalui jalan tikus.


"Siapa wanita ini sebenarnya, mengapa bisa tahu jalan pintas disini?" ucap Indra dalam hati seraya memperhatikan punggung wanita yang tertutup rambut berwarna coklat terang itu.


"Astaga" wanita itu berhenti tiba-tiba dan menempelkan dirinya ke dinding kusam di gang sempit itu.


Membuat Indra turut melakukan hal yang sama. Nafas mereka kembang kempis, benar-benar meneganggkan.


"Itu ada satu orang yang berjaga, gimana ini?" tanya wanita itu panik.


"Tunggu sebentar!" ucap Indra mencoba melihat, namun tak disangka tubuhnya justru tersangkut tubuh wanita itu. Saking sempitnya gang itu. Membuat dua manusia itu saling menatap.


"Maaf, ucap Indra tak enak hati. Lalu kembali ke posisi awal, karena rupanya tempat itu sungguh tak bisa membuat mereka bergerak. Bahkan hanya untuk bertukar posisi sekalipun.


Mereka terpaksa diam dan menunggu sebentar, tanpa suara mereka saling memandang. Namun rupanya terlihat ada tikus tak berdosa yang lewat di gang lembab itu.


Wanita itu sudah akan membuka mulutnya untuk berteriak, namun dengan sigap Indra membungkam mulut wanita itu menggunakan tangan kirinya.


"Ssssstttt!!!!" ucap Indra lirih, seraya menempelkan jari telunjuk tangan kanannya ke mulutnya sendiri, memberikan tanda untuk diam.


Wanita itu benar-benar takut degan tikus, ia kemudian malah memeluk tubuh Indra. Menenggelamkan kepalanya agar tak lagi melihat tikus itu. Ia benar-benar ketakutan.


"Aku takut!" tubuh wanita itu bergetar. Jelas membuktikan bila itu bukan hanya sekedar akting.


Indra yang mendapat perlakuan itu hanya diam mematung, tangannya sempat menggantung ke udara. Ia berfikir sejenak.


Lalu tanpa ragu, ia mengusap punggung wanita itu. " Tikusnya sudah pergi!" bisik Indra pada wanita itu.


"Benarkah?" rupanya wanita itu menangis saat memeluk Indra. Entah mengapa, seekor tikus bisa membuatnya menangis ketakutan seperti itu.


Wanita itu terlihat menyapukan pandangannya dengan sisa air mata yang masih membasahi pipinya, memindai tempat dengan bau tak sedap itu kesana kemari. Dan benar, nampaknya hewan pengerat itu sudah pergi.


"Maafkan saya tuan!" ucap wanita itu sungkan, karena dengan tanpa permisi langsung memeluk tubuh tegap Indra.

__ADS_1


"Sudahlah, sekarang coba kau lihat lagi!" ucap Indra meminta wanita itu untuk melihat keadaan di depan.


"Aman Tuan, sebaiknya kita pergi sekarang!"


.


.


Mereka berlari sangat jauh, berkilo-kilo meter jauhnya. Dengan jalan yang minim penerangan. Namun beruntung, mereka kini sudah berada di tepi jalan raya. Namun tak ada satupun kendaraan yang melintas.


"Tuan, saya sudah tidak kuat!!" wanita itu dengan nafas tersengal berbicara kepada Indra. Ia bahkan sudah melempar sandal high heelsnya entah kemana.


Indra dengan berkacak pinggang juga masih berusaha mengatur nafasnya yang terlihat memburu, ini benar-benar gila. Kabur dari polisi, dengan seorang wanita yang tak ia kenal. Bahkan namanya pun belum ia ketahui.


Indra menjadi iba dengan wanita yang masih belum ia kenali itu, namun sudah menjadi temannya untuk kabur dari aksi penggerebekan.


Dari tampilannya, di taksir wanita itu masih berusia 25 an tahun. Terlihat sangat muda dan cantik.


"Sekarang kita kemana?, aku tidak tahu daerah sini. Dan mobilku, masih disana!" Ya, Indra bahkan sudah tak memperdulikan lagi kendaraannya itu. Yang terpenting adalah selamat dulu dari polisi.


"Jika berkenan Tuan bisa ikut saya!"


.


.


Wanita itu mengajak Indra memasuki sebuah rumah lusuh yang berada di jarak 1 kilometer dari tempat mereka beristirahat tadi. Rumah dengan cat yang sudah mengelupas sana-sini.


Indra hanya mengangguk, kenapa bisa wanita cantik itu tinggal di sebuah rumah yang kontras dengan penampilannya yang terlihat Hedon.


Ceklek


Bunyi pintu terbuka, wanita itu terlihat menyalakan saklar lampu. Membuat ruangan yang gelap itu menjadi terang benderang.


Rumah itu tak memiliki tetangga, berada di tempat yang agak masuk kedalam, sepi dari hilir mudik kendaraan. Indra bahkan terlihat menuruni anak tangga dari tanah sewaktu akan menuju rumah ini tadi. Bisa dikatakan rumah itu berada di bawah jembatan.


"Silahkan duduk, aku akan ganti baju dulu!" wanita itu melenggang masuk. Mungkin mau mandi.


Indra tak mau ambil pusing, ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Satu set sofa dengan ukuran mini, tak ada foto atau barang-barang mahal lainya yang menghiasi rumah itu.


Indra melempar tubuhnya ke sofa itu, ia melihat lengan kanannya yang masih nyeri. Darahnya sudah terlihat mengering, ia memilih membiarkan luka itu. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa itu. Memejamkan matanya sejenak.


"Tuan, minumlah dulu?" wanita itu rupanya tidak mandi, ia hanya mengganti bajunya yang sexy dengan daster rumahan tanpa lengan, dengan panjang selutut. Rambut coklatnya juga di kuncir asal, menampilkan leher jenjangnya yang putih.


"Terimakasih!" ucap Indra meraih segelas air itu, meneguknya hingga tandas.


Wanita itu menatap ke arahnya, memperhatikan Indra yang kini menaruh gelas kosong ke meja kayu itu.


"Astaga tuan, tangan anda terluka?" wanita itu tak menyadari bila Indra terkena tembakan sewaktu di club' tadi.


"Hemm, terkena peluru tadi waktu di club', udah kering kok!" ucap Indra.


"CK, kering gimana. Tunggu sebentar!" wanita itu nampak cemas, sejurus kemudian pergi masuk kedalam lagi.

__ADS_1


Indra mengernyitkan dahi, " Mau kemana dia!" ucapnya dalam hati.


" Sini aku obatin!" wanita itu rupanya mengambil kotak P3K yang tersimpan di kamarnya.


Indra hanya diam, begitu tangan lembut wanita itu mulai meraih tangan kanannya yang kekar. Mula-mula ia menuangkan revanol untuk membersihkan darah yang mengering, dengan cekatan ia membersihkan tanpa rasa jijik.


Indra memandang wajah cantik wanita itu lekat. Terlihat aura ketulusan yang terpancar. Masih diam tanpa obrolan, Indra yang sudah lama tak mendapat perhatian dari wanita, seketika menyunggingkan senyumnya meski tak dilihat oleh wanita itu.


"Astaga, ini pasti sakit!" ucap wanita itu masih terlihat sibuk dengan peralatan di depannya. Menjelma bak seorang Dokter dadakan.


"Selesai!!" wanita itu tersenyum puas, saat plaster sudah menempel bersama kain kasa.


Indra memutar lengannya, berusaha melihat hasil balutan wanita itu, not bad!.


" Terimakasih banyak!" ucap Indra tersenyum.


"Sama-sama!" jawabannya.


"Emmm, aku malam-malam disini gak di grebek lagi kan?" tanya Indra, karena saat ini jelas sudah hampir dini hari.


Wanita itu terkikik, demi menanggapi ucapan Indra " aku tinggal sendiri. Dan disini semua warganya kerja di dunia malam" ucapnya seraya membereskan beberapa perkakas P3K.


"Jadi don't worry!!" tukasnya.


Indra mengangguk, sepertinya dugaannya benar. Wanita di depannya itu adalah seorang wanita malam yang biasa melayani BO.


"Terus, kok bisa kamu tinggal disini?" Indra malah tertarik untuk mengintrogasi wanita itu.


"Tidak ada yang mudah untuk orang miskin seperti kami, tinggal dimanapun gak masalah. Yang penting ada tempat kami untuk pulang saat badan lelah sehabis bekerja!" ucap wanita itu tersenyum getir.


Indra menangkap senyum yang penuh ironi, nampaknya wanita di depannya itu penuh misteri.


"Anggi!" ucapnya mengulurkan tangannya kepada Indra.


Indra melongo, ini gila!. Sedari tadi ngobrol bahkan berlarian bersama namun belum mengetahui nama.


"Indra!" jawab Indra menjabat tangan lembut wanita itu. Sungguh perkenalan yang aneh.


Wanita itu terlihat akan masuk kembali ke kamarnya, setelah acara perkenalan yang terlambat itu. Sepertinya berniat mengembalikan kotak P3K itu.


"Anggi!" panggil Indra, membuat langkah wanita itu terhenti.


"Ya!"


"Terimakasih!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2