The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 101. Finally I Get it


__ADS_3

Bab 101. Finally I Get it


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Hanya waktu yang dapat menyembuhkan luka, sisanya adalah ketegaran hati untuk lapang menerima takdir"


.


.


Wisang, Shinta dan Sekar sudah tiba di ruko. Sepanjang perjalanan Shinta mengamati interaksi keduanya yang membisu.


Pria bermata sipit itu berkali-kali mencuri kesempatan untuk melirik Sekar yang masih manyun saja. Ia teringat dengan bibir wanita itu, bibir yang tersasar kepada bibirnya.


Wisang terkekeh sendirian, membuat Shinta dan Sekar mengernyit. Apa pria itu gila pikirnya.


" Kalian sudah lama kenal?" tanya Shinta memecah keheningan.


"Enggak!" jawab Sekar.


"Iya!" jawab Wisang.


Dan mereka berucap dalam waktu dan detik yang sama. Kompak dalam hal hal berbeda.


Shinta melongo dibuat, mereka kompak namun tak selaras. " Maksudku, belum terlalu!" sahut Wisang.


Benar-benar pria misterius. Wisang mempunyai mimik wajah lebih dingin daripada Abimanyu. Namun, saat sekarang ia tak lebih dari seorang pria konyol yang mengantar dua wanita yang tak terlalu di akrabi.


Shinta menggulir Ponselnya lalu tersenyum.


Aku jemput kamu di ruko ya, pesawat cancel. Jadi aku pulang aja, kamu ijin bisa gak. Aku pingin ngajak kamu jalan.


Rangga mengirimkan pesan untuk Shinta, ia senang jika suaminya pulang lebih cepat.


"Kenapa mbak senyam senyum?" Wisang curiga.


"Oh, ini suamiku mau jemput. Turunin aku di persimpangan aja ya. Oh iya, Sekar rukonya gak usah di buka ya. Kamu beresin aja sisa yang tempo hari. Dhira kayaknya juga masih lama di rumah ibunya."


Sekar mendelik, itu artinya dia akan seorang diri dan hanya bersama pria menyebalkan di sampingnya itu.


Duh mbak Shinta, jangan tinggalin aku dong. Sekar tak menjawab Shinta. Ia hanya mengangguk saja, lagipula mana berani dia menginterupsi acara suami istri itu.


"Beneran Mbak?" tanya Sekar.


"Iya, jarang-jarang mas Rangga pulang cepet begini. Sekalian kan Dhira juga belum balik!"


Sekar akhirnya kalah.


"Beneran nih mbak ga apa-apa aku turunin sini?" tanya Wisang.

__ADS_1


"Gapapa, mas Rangga udah mau datang kok. Aku udah WA dia. Bentar lagi nyampek, kasihan kalau dia ke ruko lagi, muter."


"Kalian duluan aja!"


Wisang manggut-manggut saja. Dia juga belum kenal siapa Shinta dan suaminya. " Ya sudah mbak, kami duluan ya!" pamit Wisang.


Sekar menoleh ke arah Shinta dengan menjulurkan kepalanya di jendela mobil itu, ia menatap Shinta yang berteriak tanpa suara, seraya menempelkan kedua tangannya ke bibir membentuk huruf V, sembari berkata " Good luck!" sambil terkikik geli menatapnya.


Sekar tahu apa yang di ucapkan Shinta, rupanya teman kerjanya itu sengaja mengerjai dirinya. Ia memasukkan kembali kepalanya dengan wajah muram, lalu melirik Wisang.


"Kau jangan cemberut begitu, bisa di sangka pedofil aku nanti. Karena satu mobil dengan anak yang mau menangis!" tukas Wisang terkekeh.


Mendengar ucapan pria di sampingnya itu, Sekar reflek menutup dada dan mulutnya dengan gerakan melindungi. Wisang makin tergelak.


" Aku sudah tahu rasanya, untuk apa kau tutupi, hm?" wajah Sekar sudah merah merona. Ia malu, benar-benar malu.


"Loh kenapa kita kesini?" Sekar bingung, karena bukannya belok, Wisang malah melajukan mobilnya terus.


"Aku lapar, di rukomu pasti belum ada makanan!" Sekar memang juga lapar, astaga dia selalu berpikir buruk dengan pria di sampingnya itu.


Rumah masakan Padang, Wisang memilih tempat itu untuk makan. " Disini saja, kalau agak jauh nanti kamu gak buru-buru kerja!" Wisang berucap seraya melepas seatbelt.


"Ini gimana?" Sekar memencet tombol seatbelt itu agak susah. " Sepertinya tersangkut" ucapnya lagi.


Wisang yang sudah hendak membuka pintu mobilnya, kini kembali menghadap ke arah Sekar " Biar ku bantu!"


Wisang hari itu mengenakan kaos berkerah warna putih dan terlihat sangat mahal, tangan besarnya terlihat berotot saat menekan tombol seatbelt yang macet itu.


Jantung Sekar berdegup kencang, ia bisa melihat wajah Wisang dari dekat. Mata sipit, bibir lembab yang tempo hari sempat mendarat di bibirnya, wajah ganteng. Gilaaa man!!!


Sekar tersenyum, orang kaya mah bebas.


Tangan Sekar reflek menyentuh benda itu, berniat ingin membantu. Jari lentiknya tak sengaja mengenai tangan Wisang yang masih aktif menekan tombol warna merah itu.


Wisang berhenti saat tangan Sekar menyentuhnya, ia menatap gadis di depannya itu. Ia belum pernah bermain perasaan dengan wanita yang biasa ia gauli. Tapi mengapa wajah manis yang tak membosankan di depannya itu, sukses membuat dia selalu ingin tampil maksimal saat akan bertemu dengannya.


Wisang menelan salivanya, pandangan mereka terhenti beberapa detik. Wisang hendak memajukan wajahnya, Sekar yang jantungnya makin cepat berdetak itu merasa grogi. Apa dia akan menciumku lagi, dia tampan sekali lagi kalau pas gini .


Aroma parfum Wisang menari-nari di hidung Sekar. Pasti bukan parfum semprot biasa. Wanginya begini banget.


Namun saat Wisang hendak mencium Sekar secara sadar.


Kleek


Tangan Sekar tak sengaja menekan tombol itu, dan anehnya sabuk pengaman yang awalnya macet kini bisa terbuka.


Mereka berdua mendelik. " Maaf!" Wisang membuang mukanya merasa tak enak. Ia takut gadis di depannya itu berfikiran buruk.


Sekar kepalang malu, ia sudah gila. Terhipnotis ketampanan pria dewasa di sampingnya itu benar-benar membuat urat malunya hampir putus. Lebih gilanya, ia sudah munafik. Ia berharap di cium Wisang.


šŸšŸšŸ


Moment mengharukan di ruang tamu itu sukses di banjiri air mata oleh setiap pesertanya. Ada kelegaan di hati Abimanyu. Ia sudah mengutarakan apa yang ingin ia ucapkan.


Perasaan, rasa cinta, tanggung jawab, semuanya. Nyonya regina pamit dari sana di temani Rania. Bu Kartika berusaha legowo dengan semua yang terjadi meski tak instan.

__ADS_1


Usai pamit dengan baik-baik , Nyonya Regina melangkahkan kakinya menuju luar untuk pulang. Abimanyu mengantar Oma-nya menuju mobil.


"Kita sudah maksimal, semoga Kartika bisa mencerna setiap ucapan kita!" ucap Oma Regina.


"Terimakasih Oma, Oma pulang dulu. Ran, jangan lupa obat Oma. Pastikan Oma istirahat setelah ini!" tukas Abimanyu.


"Aman, ya udah kita pulang dulu. Good luck ya!" Rania menepuk pundak kakaknya.


Guna menghindari kecanggungan, Dhira tak menginap disana. Ia ingin memberikan ruang bagi ibunya untuk berfikir, sekaligus menenangkan diri.


Sejurus kemudian ponsel Abimanyu berbunyi.


Gue belum balik ke Ruko. Assisten janda kesayangan elu masih ada sama gue.


Wisang mengirimi Abimanyu pesan.


Abimanyu tersenyum, apakah sahabatnya itu sudah di satroni oleh Dewi amor saat ini?.


Lu jangan samain anak itu kayak perempuan yang laen, urusan elu ama gue kalau sampai tu anak nangis. Assiten kesayangan calon istri gue itu.


Abimanyu tersenyum, sejurus kemudian ponselnya berbunyi.


Aman


Hanya satu kata yang dikirim Wisang untuk balasan. Tiba- tiba ia teringat akan Danan yang masih di luar negri. Apa kabarnya sahabatnya itu, terlalu sibuk dengan urusan rumit pribadinya membuat Abimanyu melupakan sahabatnya itu.


Usai mobil Oma menghilang dari pandangannya, ia berbalik untuk masuk kerumah ibu Dhira.


"Mas antar aku ke ruko!" ucap Dhira yang berdiri di ambang pintu.


"Raka mana?" tanya Abimanyu sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku jeansnya.


"Dia mau pergi sama Bastian, ga tau mau kemana. Nanti malam diantar katanya!"


Abimanyu sejenak berpikir, kunci ruko ada pada Sekar, dan Sekar tengah bersama Wisang. Ide bagus melintas di pikirannya.


Dhira menghampiri ibunya yang baru saja melaksanakan shalat ashar. " Buk aku mau pulang dulu, Dhira sayang sama ibuk" Dhira memeluk tubuh ibunya.


Suasana agak canggung. Terutama Bu Kartika merasa tak tega melihat Dhira yang baru saja keguguran. Namun ia tak mau membahas gak itu, takut membuat Dhira bersedih kembali.


"Hati-hati!" jawab Bu Kartika dengan suara lirih. Khas orang kehabisan suara pasca menangis.


Hanya itu, kata yang digunakan Bu Kartika untuk mengiring langkah putrinya untuk kembali ke Ruko.


Dengan canggung, Dhira membalikkan tubuhnya.Dan saat akan melangkahkan kakinya..


"Dhir!" panggil Bu Kartika.


Dhira menoleh, menatap wajah ibunya yang sendu. Dengan mata bengkak yang menjadi headline wajahnya.


"Menikahlah dengan Abimanyu!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2