
Bab 209. Kelegaan Hati
.
.
.
...ššš...
" Hanya cinta yang bisa mendamaikan benci"
.
.
Dalam situasi yang sama, Danan mencoba mengungkap sebuah kenyataan versi dirinya.
" Rangga pasti punya alasan lain kenapa dia tak menunjukkan hal itu!"
Shinta terpekur menatap ujung flatshoes nya, saat ia mendengar Danan yang berbicara serius. Entahlah ia masih berusaha menerima segala kebingungan yang mendadak melandanya.
" Aku bingung mas, semuanya begitu..." Shinta menghela napasnya tak sanggup melanjutkan kesesakan di hatinya.
Danan menatap wajah sendu Shinta. Menelan ludahnya karena menahan diri untuk tidak tergesa-gesa dalam menunjukkan sikap.
" Rangga takut kehilangan kamu Shin!"Membuat Shinta menoleh kepada Danan.
" Itulah sebabnya hal itu terjadi!"
" Itu juga yang dikatakan oleh Papa mertuamu tempo hari!" terpaksa Danan mengutarakan hal itu.
" Sebagai pria aku bisa memahami sisi Rangga. Ketidakpercayaan diri, rasa takut, kegelisahan!" Danan mengendikkan bahunya seraya sesekali menggeleng dengan senyum kecut.
Danan menerawang, mengingat kembali saat Pak Ali menumpahkan segala kesesakan di hatinya beberapa waktu yang lalu.
"Bagi kami para pria, jantan itu bukan persoalan tubuh kekar dan wajah rupawan atau durasi lamanya bermain saat di ranjang!. Tapi kemampuan untuk memberikan keturunan!"
Danan menelan ludahnya kembali usai mengatakan hal itu. Entah mengapa ia seperti merasa kasihan dengan Rangga.
" Rasa yang sama sewaktu kamu belum mengetahui hal itu Shin!"
" Rasa yang kamu kira kamu bakal tidak bisa memiliki keturunan. Ada beban, tuntutan, belum lagi penghakiman orang lain!"
" Dan kesemua hal itu sangat berat!" Pria yang kesehariannya itu seolah tak pernah serius pada hal apapun, kini terlihat begitu lugas.
" Lalu kenapa kamu yang tahu tidak memberitahukan semua ini mas?" dengan kening masih mengkerut ia kekeuh ( ngotot) merasa ditinggalkan atau di biarkan tidak tahu.
" Kenapa kamu..."
" Karena aku belum menjadi siapa- siapa buatmu Shin, aku tidak ada hak untuk membicarakan hal itu!" Jakun Danan bahkan terlihat naik turut usai mengatakan kata penuh emosi yang tertahan itu.
Air mata bening dari dua manik mata Shinta itu meluncur tanpa seijinnya.
" Apa jadinya jika waktu itu aku yang memberitahumu?"
" Kau pasti akan berfikir kalau aku hanya iri kepada mantan suamimu, kau pasti berpikir bahwa aku adalah orang yang picik!"
Shinta menggeleng tak percaya seraya menangis. Karena semua yang di katakan Danan itu benar.
__ADS_1
" Aku menyukaimu bahkan ketika suamimu masih ada, aku tahu segala persoalan yang selalu kamu tanggung, aku bahkan merasa marah sewaktu aku tahu Rangga menyimpan rahasia besar itu seorang diri !!"
Kini suasananya mendadak senyap. Danan mengatur napasnya. Sesekali mengedarkan pandangannya karena takut menjadi perhatian orang lain.
Rasa canggung mendadak menyelinap di hati Shinta. Meski ia sudah pernah dicium oleh pria dengan tindik di telinganya itu, namun ia masih merasa canggung. Kemana perginya keberanian sewaktu mereka belum saling kenal seperti itu?
" Kenapa?" Danan seolah bisa membaca kegelisahan yang nampak di wajah Shinta.
" Tidak apa-apa, aku ingin pulang!"
.
.
Semua yang di ucapkan Danan empat hari yang lalu seoalah membungkam keterkejutannya, mengusik dirinya untuk mencari jawaban dari pihak lain, mertuanya.
Dan pertanyaannya, mengapa pak Ali menyembunyikan semua ini hanya bisa di tuntaskan oleh jawaban dari mulut beliau.
Kegelisahan yang terus menghantui membuat Shinta menuju ke rumah orang tua Rangga seorang diri. Ia ingin menuntaskan kepingan puzzle yang berserak agar hatinya mendapatkan kelegaan.
" Akhirnya hari ini datang juga!" ucap pak Ali.
Shinta masih diam memandangi wajah teduh Papa mertuanya itu. Menahan buncahan emosi dengan menekan tenggorokan guna memaksa saliva untuk masuk.
"Aku tahu juga belum lama!" pandangan menerawang Pak Ali membuat Shinta tertegun.
Ya, malam itu mereka mengobrol di gazebo yang terletak di belakang rumah mertuanya, di temani cahaya pendar lampu kuning. Tempat yang belakangan ini sering digunakan Pak Ali guna menenangkan diri.
" Saat Rangga menceritakan semua itu kepadaku aku hanya diam dan tak bisa menjawab. Sebagai papa aku juga merasa sedih!"
" Aku merenung dan berpikir, kesalahan apa di masa silam yang ku perbuat sehingga anakku harus mengalami hal seperti itu!"
" Rangga melarang ku memberitahu Mama mu karena ia takut Mama mu akan terguncang jiwanya!"
Shinta terkejut.
Ya, emosi Bu Nisa yang tak stabil tiap mengetahui hal- hal berat itu, sebenarnya merupakan manifestasi dari luapan dirinya yang menderita gejala gangguan jiwa.
Gangguan jiwa adalah kondisi yang menyebabkan gangguan pemikiran serta perilaku yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengatasi tuntutan dan rutinitas hidup yang biasa. Gangguan jiwa bisa juga terkait dengan stres berlebihan karena situasi atau serangkaian peristiwa tertentu.
" Mamamu mengalami gangguan kejiwaan!"
****Deg****
Shinta merasa bersalah sekali, satu Dekade bersama Rangga tapi ia tak tahu hal penting seperti ini.
Pantas saja selama ini tiap Bu Nisa marah-marah Pak Ali hanya menegurnya sekilas. Ia baru melihat Pak Ali marah sewaktu ia berada di rumah sakit.
" Rangga hanya takut kehilangan kamu Shin!"
Kata yang sama dengan yang di ucapkan Danan empat hari yang lalu. Apakah ia harus merasa senang karena suaminya berbohong?
" Percayalah, aku sebagai orang tua hanya berusaha melindungi. Tapi bila caraku ini salah. Tolong maafkan papa!" Pak Ali dengan mata berkaca-kaca menatap Shinta yang juga sudah hendak meluncurkan air matanya.
" Rangga juga takut kehilangan mamanya!"
" Kalian sama pentingnya dan sama berharganya bagi Rangga!"
" Itulah mengapa Rangga tidak memberitahukan semu ini kepada kalian!"
__ADS_1
Pak Ali tersenyum kecut.
Kini Shinta tahu. Bila saat itu Rangga memberitahu Bu Nisa maka yang terjadi adalah pasti Bu Nisa jiwanya akan terguncang, karena wanita itu tidak bisa di berikan beban pikiran yang berat.
.
.
Kini Shinta menemui Bu Nisa yang duduk dengan pandangan kosong diatas kasur kamarnya. Wanita itu terlihat di tunggui oleh seorang perawat.
" Oh Bu, silahkan ...saya permisi dulu!" perawat itu undur diri saat melihat Shinta mendekat.
Wajah Bu Nisa layu dan tatapannya kosong. Wanita itu terlihat mendekap foto Rangga erat-erat.
Sudah lebih dari empat puluh hari kepergian anaknya, namun wanita itu masih terlihat tak rela. Sejenak Shinta merasa kasihan.
Shinta mengusap lengan mertuanya itu pelan.
" Aku lebih senang kalau mama marah-marah ke aku dari pada seperti ini ma!" ucapnya pelan dengan suara bergetar.
Wanita itu masih diam dengan pandangan kosong, tubuhnya juga terlihat kurus.
" Aku kesini, kangen di marahin mama!"
Shinta meluncurkan air mata dari kedua netranya. Mama mertuanya itu benar-benar terlihat buruk.
Sebagai orang tua, tak peduli seberapapun usia anaknya, kehilangan darah daging tentu saja merupakan suatu bencana yang kadang membuat mereka protes kepada Tuhan.
" Mama!!" Shinta mengusap air matanya menggunakan punggung tangannya.
Pak Ali yang berada di ambang pintu mendekati menantunya yang kini terisak-isak. Pria itu mengusap punggung menantunya yang bergetar.
" Papa akan bawa mamamu ke kota U atas rekomendasi Dian!" ucap Pak Ali. Membuat Shinta mendongak menatap pria dengan uban kentara itu.
" Maksud papa?"
Pak Ali menghela napas.
" Kami sudah tua!"
" Aku dan Dian memutuskan untuk membawa mamamu pindah dan tinggal bersama Dian disana, kakakmu telah mendapat SK pasti menetap disana!"
" Papa harap, dua cucu papa disana bisa membuat mama kamu sehat lagi dan melupakan kesedihannya!"
Shinta tertegun. Itu artinya tidak akan ada lagi yang tersisa dari Rangga dalam hidupnya bila keluarga mendiang suaminya itu pindah. Apalagi, Shinta tak memiliki keturunan bersama Rangga.
"Papa sama mama merestui kamu bila suatu hari nanti kamu ingin melanjutkan hidupmu lagi bersama orang yang tepat!
.
.
.
.
.
Readerku aku kangen banget sama kalian. Maaf kemaren author sibuk seharian di dunia nyata.
__ADS_1
Hari ini bakal up kok š¤š¤š¤