The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 146. First Night Interruption


__ADS_3

Bab 146. First Night Interruption


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Miskin itu keadaan. Sederhana itu gaya hidup!"


.


.


Adalah Bastian, pria dengan kulit kuning langsat itu sudah pernah membahas hal mengenai hubungan mereka beberapa waktu lalu. Rania cukup mengerti bila Bastian kini tengah di sibukkan dengan birokrasi kepengurusan Dapur Isun.


Dhira yang mendukung keputusan adiknya itu, juga turut mendapat sambutan baik dari Abimanyu. Membuat pria itu tak perlu susah payah untuk membuat istrinya menyadari jika Abimanyu ingin Dhira full mengurus dirinya dan keluarga.


Bastian menjadi belingsatan sendiri, karena ucapan Rania. Sampai sekarang yang menjadi sebab musabab dirinya belum juga berani melangkah adalah ia masih terlalu sibuk merombak Dapur Isun menjadi wajah baru.


Ia juga masih harus mencari orang baru yang bisa menggantikan Sekar. Apalagi, Shinta disana hanya sendiri. Ia tak mau bila menikah nanti, dia masih kelimpungan untuk sekedar memberikan uang belanja istri. Dia tidak mau seperti itu. Dan dia juga tidak mau di cap aji mumpung oleh semua orang, mengingat Dhira baru saja menikah dengan Abimanyu.


Sementara hari-hari Rania ia rasa makin berwarna karena meskipun mereka belum ke jenjang yang lebih serius, namun Bastian selalu memperlakukannya secara spesial.


Rania merasa bak anak muda yang menjalin cinta. Meski mereka belum terlalu melibatkan para tetua untuk urusan asmara mereka, namun Rania sudah lega karena pernyataan Bastian yang juga memiliki perasaan yang sama terhadap dirinya.


Rania cukup paham akan ambisi Bastian, dalam membuktikan dirinya. Karena sebagai keturunan Adam, pria itu harus memiliki tulang yang tahan banting.


.


.


" Selamat mas Wisang dan Sekar. Akhirnya kalian menyusul kami!" Dhira dan Abimanyu memberikan selamat kepada mereka berdua. Harus Dhira akui, Sekar beruntung bisa mendapat cinta Wisang. Suaminya pernah berkata, jika pria itu tak pernah mau serius kepada wanita dulunya.


" Terimakasih Bu, semua ini juga karena Bu Dhira dan Pak Abimanyu!" Sekar yang di peluk Dhira merasa menghangat. Ia yang di hari pernikahannya ini tiada terhadirkan dengan sosok keluarga, merasa hatinya terharu.


Pelukan demi pelukan tercurah buat wanita yang menjadi istri resmi Wisang itu. Tak terkecuali Danan yang kini semakin iri dengan kedua sahabatnya itu.


" Hehh, gak usah peluk-peluk!" Wisang menghadang Danan saat pria itu hendak merentangkan tangannya. Membuat pria itu berhenti mendadak.


" Kenapa?, semua juga peluk?" Danan mendengus.


" Semua yang meluk kan perempuan, nah elu?" Wisang menggerutu.


" Makanya kak Danan buruan nikah kak, buat bisa peluk- peluk!" Rania terkekeh.


" Nikah ya?" Danan meringis dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Iya lah, jangan celap celup aja lu kerjaannya!" sahut Abimanyu di balik maskernya. Pria itu tak bisa menahan dirinya untuk tak menyahuti.


" Gaya banget mentang-mentang baru nikah, elu juga udah sakit masih semangat banget bully gue!" cibir Danan kepada Abimanyu.


Dhira dan Abimanyu tergelak mendengar jawaban Danan.


" Gue udah enggak celap- celup tuh!" jawab Danan sejurus kemudian seraya menyebikkan bibirnya.


" Habis kena azab mana berani!" cibir Wisang menimpali.


" Alah kayak elu enggak aja!" jawab Danan tak terima.

__ADS_1


Membuat Wisang mendelik.


Sekar yang mendengarkan jawaban Danan menjadi mengernyit, seraya memainkan rahangnya ke kanan dan ke kiri. Menatap tajam Wisang dengan cuping hidung yang melebar.


" Emmm, maksudnya kita dulu sering minum teh celup bareng sayang....Iya? kan Dan" Wisang meringis belingsatan. Tanpa sengaja ia mempertaruhkan nasib juniornya nanti malam.


Sementara Danan hanya mencibir tak peduli.


Kesemua yang disana tertawa puas dengan tingkah Wisang yang mati kutu. Danan tersenyum penuh kemenangan.


" Tunggu gue, semua akan enak-enak pada waktunya. Ya kan Nyonya Rangga?" Danan menatap Shinta yang sedari tadi bersidekap di sampingnya.


Shinta memutar bola matanya malas, entah mengapa ia menjadi takut dengan pria yang panah menguncinya di salah satu kamar rumah baru Dhira. Sejurus kemudian ia enyah dari kumpulan orang itu. Membuat yang lain turut membubarkan diri, menuju meja berisikan makanan lezat.


.


.


Malam menjelang, Wisang secara eksklusif membooking hotel untuk malam pengantinnya. Kebungkaman Sekar usai kelakaran yang di ceploskan Wisang tadi, membuat Wisang gelisah bukan main.


" Sayang kamu udah mandi?" Wisang yang baru bertemu seseorang diluar kini masuk kembali ke kamar mereka.


" Udah!" ketus Sekar.


Malam pengantin itu, malah menjadi malam yang kaku. Sungguh, bukan ini yang di harapkan Wisang. Dan semua ini hasil dari salahnya sendiri yang berani mencibir Danan, sementara dirinya setali tiga uang dengan pria berwajah agak bule itu.


" Kamu kok ketus sih?" Wisang mendekati istrinya. Acara mereka tadi baru selesai siang hari. Sore harinya Sekar menghabiskan diri untuk istirahat karena lelah. Sementara dirinya, masih menemui beberapa orang penting yang masih ada disana.


" Aku capek mas!" Sekar duduk dengan meregangkan otot-ototnya.


Entah mengapa sekar memang beberapa hari ini merasa pinggangnya nyeri, cenderung pegal. Ia juga kerap merasa lelah.


" Aku mau tidur!" Sekar menjadi tak tenang lantaran Danan yang berbicara mengenai kebiasaan suaminya beberapa bulan yang lalu, sebelum mengenal dirinya. Langsung membuat moodnya buruk.


Sekar merasa dia memang tak tahu apa- apa soal suaminya itu. Namun sedikit banyak, Sekar tahu arah ucapan absurd dua pria konyol itu.


" Sayang...aku salah ya? oke oke kalau aku salah, tolong dong bilang!"


"Aduh kita ini baru jadi manten loh, kok begini sih!" Wisang belingsatan tidak karuan, bahkan ia mirip orang bodoh di depan istrinya.


" Gak tahu!" merajuknya Sekar, memang tak bisa membohongi orang lain jika dia adalah gadis muda dengan segala sifat yang mengikuti. Gaya marahnya saja, masih khas bocah yang merajuk ,karena chat yang tidak kunjung dibalas.


" Kamu percaya sama ucapan si Danan ya?" Wisang menangkup wajah istrinya itu dengan muka muram.


Sekar mendengus, bibirnya manyun lima senti. Wanita itu kesal, semacam cemburu tidak jelas kepada masa lalu Wisang.


" Mas sering pergi sama cewek- cewek kayak mas Danan?" Sekar berucap dengan wajah kesal.


" Kalau aku enggak jujur kamu marah gak?" tanya Wisang dengan nada lirih, dan berhati- hati sekali saat berucap.


" Ya marah lah mas!" jawab Sekar cepat.


" Kalau aku jujur aku memang seperti yang di ucap Danan, kamu marah juga?"


Sekar menatap Wisang beberapa detik. " Ya marah lah mas, mas berarti gak baik dari dulu. Mas tukang..."


" Tuh kan, terus aku musti gimana?" Wisang sudah putus asa. Bak menelan simalakama, pria itu mengembuskan napasnya pasrah.


Mereka hening selama beberapa detik.


" Aku memang pria gak bener sayang, tapi aku selalu periksa kesehatan ini aku kok!" Wisang meraih tangan Sekar, dan meremaskan tangan mungil wanita itu ke atas kejantanannya.

__ADS_1


Membuat Sekar mendelik.


" Maafin aku gak pernah jujur sama kamu. Tapi aku semenjak kenal kamu, aku udah gak pernah begituan lagi loh sayang. Aku cinta banget sama kamu, kamu Jangan diemin aku gini dong!" Wisang benar-benar melas. Malam pertama yang ia bayangkan indah, malah harus menjadi ajang pembeberan perkara. Semacam menguliti diri sendiri.


" Mas sudah jadi suami Sekar, mas gak boleh berhubungan sama wanita-wanita lain. Aku gak sanggup mas kalau sampai mas begitu, Sekar cuma punya mas sekarang!" wanita itu memang tak mengetahui banyak hal soal Wisang, bisa dibilang ia mau dinikahi pria itu karena ia merasa dicintai dan dilindungi saat bahaya mengancamnya.


Dan perilaku Wisang itu, sukses membuat Sekar jatuh hati. Sekar juga mencintai pria itu.


Namun, ucapan Danan tadi seoalah mengoyak keteguhan hatinya. Kerlingan mata Danan tadi, juga seolah menambah aroma keseriusan dari ucapan pria berwajah bule itu.


" Aku janji sama kamu, aku gak akan kecewain kamu Sekar. Aku sayang banget sama kamu!"


" Maafin aku dan seluruh masa laluku yang gak bener itu!" Wisang menangkup wajah Sekar kembali dengan wajah muram, melas dan menyedihkan.


Mereka diam saling pandang. Lagi-lagi Sekar meluluh hanya karena ucapan lembut suaminya. Wisang menyentuh pipi dingin Sekar dengan aroma sabun yang masih tertinggal.


Pria itu lekas menyambar bibir menggoda istrinya. Telah lama ia ingin memasuki istrinya itu. Meski tujuannya menikah, bukan hanya ingin tergulung ombak kenikmatan bersama Sekar saja. Namun ia memang benar-benar ingin memiliki, melindungi, dan menghabiskan hidup bersama wanita dengan selisih usia 20 tahunan lebih itu.


Wanita yang membuat dirinya kerap gelisah. Serta wanita yang mengajarkannya, apa itu arti kerinduan. Rindu yang membara, jelas mengisyaratkan bila cinta hadir disana.


Merasa tak mendapat penolakan, bisa Wisang pastikan bila istrinya itu sudah tidak marah. Ciuman panas itu semakin menuntut. Handuk kimono putih itu mulai Wisang lucuti.


Rintihan halus yang keluar dari bibir Sekar membuat Wisang menyeringai. Wanita itu menyukai sentuhannya rupanya.


Sekar memang minim pengetahuan soal urusan peranjangan. Namun, ia adalah wanita yang pasti tahu jika kegiatan seperti ini adalah bagian tugas dari statusnya sebagai seorang istri.


Meski dengan dada berdebar luar biasa, Sekar mencoba mengikuti ritme dari Wisang. Dan ia begitu malu saat mulutnya tanpa sungkan meloloskan suara desah itu dengan bodohnya. Reaksi alami memang sulit di halau.


Bagi Sekar, Wisang begitu dewasa. Pria itu menuntun, ia merasa Wisang menyentuhnya dengan begitu lembut dan melindungi.


Dengan posisi masih berada di bibir ranjang itu, Wisang kini membuka bagian dada Sekar yang sudah membuatnya gelisah cukup lama. Pria itu menekan paksa ludahnya untuk masuk ke tenggorokan yang mendadak menjadi sempit itu.


Wisang terpana dengan bentuk indah yang sempat ia ragukan ukurannya itu. Kini dengan debaran dada yang seolah meledak, Wisang bisa menggapai benda itu.


Dan begitu dua benda indah itu kini bisa ia nikmati, ia langsung meng*ulum kuncup dada Sekar dengan rakusnya. Membuat Sekar menggelinjang. Dan Wisang sangat suka akan hal itu.


Foreplay sangat penting guna kelancaran operasional penuntasan hasrat bagi Wisang. Ia pria dengan keperkasaan yang terbilang kawakan di bidangnya. Meski tak terhitung banyaknya wanita yang silih berganti sudah ia keloni, namun ia merasa Sekar begitu berbeda.


Sekar mulai merasakan sengatan listrik menjalari seluruh tubuhnya. Ia merasa pacuan nafasnya mulai tak teratur. Dia sangat berhasrat.


Namun, saat Wisang mulai menciumi area perut Sekar, wanita itu merasa bagian bawahnya terlampau basah. Ia tak nyaman.


" Mas!" Sekar memegang bahu kekar Wisang yang sibuk mengecup perut rata Sekar.


" Ada apa?" suara Wisang parau menjawab. Sorot matanya sendu.


Sekar mendorong Wisang untuk menjauhinya. Wisang mengernyit, namun ia diam dulu seraya beringsut menjauhkan jarak tubuhnya. Istrinya itu terlihat meraba bagian bawahnya menggunakan tangan kanannya. Seperti memastikan sesuatu.


Wisang dengan kepala pusing dan rasa gelisah, masih setia menunggu yang di lakukan istrinya itu. Berharap itu tak akan lama.


" Mas kayaknya tamu bulanan ku mulai datang deh!" ucap Sekar dengan wajah meringis tak enak hati. Pantas saja ia merasa gampang lelah, dan pinggangnya serasa mau patah saja sedari tadi. Kesibukan mengurusi acara pernikahannya, membuat Sekar lupa dengan periode bulanannya.


" Apa??????" Wisang membulatkan matanya dengan kepala nyut-nyutan, bahkan hingga malam pengantin pun, bersolo karir masih menjadi pilihan terkahir Wisang untuk mengusir kemumetan yang kini sudah di ubun-ubun.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2