The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 194. Misi Dhira (1)


__ADS_3

Bab 194. Misi Dhira (1)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Hukum karma itu cepat, silahkan tanam benih yang kita mau!"


.


.


Dari check in counter Dhira berjalan lagi menuju ruang tunggu di lantai dua menggunakan eskalator. Ada banyak konsesi di dalam bandara itu yang mengingatkan dirinya belasan tahun silam.


Toko-toko dengan harga tak murah itu, masih saja ramai di serbu golongan manusia berkantong tebal. Semua itu terjadi, selaras dengan pajak yang di bebankan di stand- stand toko di dalam bandara itu.


Ia mendadak ingat akan Rangga yang memperkenalkan Indra, dan segala kepingan masa lalunya yang berserak. Dan hari ini, berbekal pelajaran di masa silam itu, ia tak ingin membiarkan bahkan memberikan celah bagi si perusak.


Dhira terlihat memasuki X-ray kedua. Banyak sekali perubahan yang terjadi di sana. Bangunan yang kian futuristik serta desain yang menonjolkan estetika itu, kian membuah Dhira berdecak kagum.


Tidak mungkin selama empat belas tahun tidak terjadi perubahan, hidupnya saja kini juga sudah berubah.


" Loh Bu berangkat sendiri?" sapa salah seorang petugas Avsec wanita, yang bertugas di ruang tunggu keberangkatan domestik bandara itu.


" Iya mbak, mbaknya...." Dhira tidak mengenali wajah perempuan itu, namun mengapa wanita itu mengenalinya. Sejenak Dhira berpikir, apa iya ini menyangkut Devan lagi? Dhira mencoba mengingat rupa wanita yang menyapanya itu.


" Saya yang tempo hari datang ke pemakaman Rangga Bu. Shinta apa kabarnya?"


Rupanya dia adalah junior Rangga yang bertugas. Ah, Dhira bahkan terlalu bernegatif thinking kepada assisten suaminya itu.


" Oh iya iya, ini mau nyusul suami. Kemaren lebih dulu berangkat. Shinta baik, saya belum kesana lagi mbak, hanya sing berkabar lewat ponsel!"


Dhira orang yang supel, membuatnya tak kesulitan dalam membangun komunikasi dengan khalayak umum.


Sedikit intermezo dengan para petugas itu tidak masalah pikirnya. Ia tak memanfaatkan layanan lounge kelas bisnis, yang bisa ia singgahi sebentar sebenarnya. Dhira lebih memilih langsung masuk ke ruang tunggu.


Ia duduk di depan pintu boarding, pandangannya lurus menghadap Apron ( parkir pesawat) yang menyajikan pemandangan para pegawai yang tengah bergeliat disana, tangki-tangki Pertamina tengah melakukan refuelling avtur di bawah sayap pesawat.


Hamparan landasan pacu kini bisa Dhira nikmati, sambil menggulir ponselnya ia berkirim pesan kepada Devan. Antek yang kini lebih menghamba kepadanya.


Saya sudah di waiting room, siapa yang jemput saya di bandara?


Usai mengirim pesan itu, Dhira kembali mengedarkan pandangannya. Penebangan Kamis pagi itu lumayan rame, terlihat petugas dengan seragam yang mirip dengan Alexa tadi sudah memasuki ruang tunggu.


Mungkin boarding akan sebentar lagi di lakukan.


Siap Bu, Wayan sudah standby di airport. Nanti saya kabari dia jika ibu sudah landing.


Ponsel Dhira berbunyi, Dhira menghela napas usai membaca kesan dari Devan itu. Menjaga itu memang lebih sudah dari mencari. Ia tak mau jatuh ke lubang yang sama, ia tak bisa menghindari serangan si perusak. Yang Dhira ingin lakukan adalah, mengukuhkan kepemilikan atas diri Abimanyu. Suaminya.


.

__ADS_1


.


Bandara Internasional Kota BL


Pesawat yang di tumpangi Dhira mendarat dengan selamat. Turbulensi juga gak begitu ia rasakan ketika berada diatas. Singkat kata, kehamilan Dhira aman- aman saja. Sebab, wanita itu telah mengikuti prosedur yang telah berlaku di maskapai penerbangan itu.


Jadwal mundur setengah jam dari estimasi, delay itu terjadi karena alasan operasional, bisa jadi ada beberapa masalah dari pihak maskapai. Kelengkapan dokumen misalnya. Karena Dhira tahu, ada banyak sekali dokumen yang wajib di sertakan kepada crew cockpit selaku PIC ( Pilot In Command).


" Halo Van, saya sudah sampai ini!" Dhira menghubungi Devan saat ia mengantre di dekat conveyor untuk mengambil bagasinya.


Dhira lebih mandiri ketimbang Abimanyu yang super super diktator, bila bersama Devan. Pria nestapa itu memang kacung setia Abimanyu.


" Ibu mau menunggu di mana, biar saya hubungi Wayan?"


Dhira celingak-celinguk, mencari tempat yang strategis. " Saya langsung keluar aja!"


Dan tak berselang lama, koper milik Dhira sudah meluncur pelan di atas conveyor bisnis class itu. Dhira langsung berjalan keluar bersamaan dengan para penumpang lainnya.


Riuh rendah suara supir taksi yang mencegat para penumpang begitu menyita perhatian Dhira.


Dari kejauhan, Dhira membuka kacamata hitam yang bertengger di wajahnya.


...Nyonya Andhira Abimanyu...


Seorang pria dengan udeng yang lengannya penuh dengan tato itu, membawa papan nama bertuliskan namanya.


Dhira langsung menghampiri pria dengan baju motif bunga yang ramai itu. Dhira yakin, bila itu adalah orang yang di tugaskan Devan.


" Pak Wayan?" sapa Dhira kepada pria itu.


" Nggih Bu, tiang Wayan. Ini Bu Andhira?" sapa Wayan balik nampak berbinar karena tamu spesialnya sudah ia temukan.


Tentu saja dengan uang tutup mulut.


Dhira meminta Devan untuk tak memberitahu Abimanyu, sampai jam makan malam tiba.


" Permisi Bu, saya bawa kopernya dulu?" ucap Wayan saat akan meraih koper maroon Dhira.


" Silahkan Bu!" Wayan dengan pelayanan prima melayani istri Abimanyu itu. Wayan membukakan pintu untuk Dhira.


" Makasih pak Wayan!"


Dalam hati Wayan, bisa ia simpulkan bila Dhira adalah wanita yang memiliki kesopanan tingkat tinggi. Wanita itu bahkan memanggil dirinya dengan sebutan 'Pak' sedari awal bertemu.


Wayan sudah kong kalikong dengan Komang Ariska, uang memang selalu mempermudah segala, dan meringkas birokrasi rumit yang melelahkan.


Dalam waktu sekejap, Dhira sudah berada di hotel itu dan kini tengah menunggu petugas hotel itu membukakan pintu sembari membawakan kopernya. Meski dulu ia sempat ke BL, namun tidak seperti sekarang.


Di masa mudanya dulu, Dhira harus mengumpulkan uang dari sisihan gajinya, untuk bersama rekan-rekan sejawat pergi berlibur. Sudah sangat lama sebelum ia mengenal Indra, dan itu artinya sudah belasan tahun silam.


" Terimakasih!" Dhira menyalami petugas hotel itu dengan memberinya tips dua lembar pecahan bergambar Proklamator.


Pria muda itu terlihat berbinar.


" Suksma Bu!" pria itu mengatupkan kedua tangannya sembari membungkuk ke arah Dhira. Dhira begitu senang jika ia berguna untuk orang lain.

__ADS_1


Dhira langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur pegas dengan seprai putih bersih itu. Matanya nyalang menatap langit-langit, ia bisa sampai sejauh ini demi menjaga miliknya.


Miliknya yang nampaknya mulai di incar oleh makhluk perusak.


.


.


Abimanyu benar-benar mangkir dari kegiatan pagi hingga sore itu. Devan lah yang menjadi bulan-bulanan pertanyaan dari beberapa rekan.


Leo dari Darmawan Group, rupanya juga hadir disana. Ia bersama Bella yang tengah hamil anak kedua.


" Dimana kak Abimanyu?" tanya Leo kepada Devan.


" Pak Abimanyu tengah sakit mendadak!".


Devan sebenarnya ingin tertawa saat menerangkan hal itu kepada Leo. Bosnya itu memang sakit angan pikirnya.


" Sakit apa? istrinya gak ikut turun juga?" Bella yang notabene adalah istri Leo malah kini menanyakan Dhira.


" Tidak Nyonya, istri pak Abimanyu tengah hamil muda!".


" Pak Abimanyu mungkin kena jet lag!" Devan terkikik dalam hati.


" Oh, pasti kayak kamu dulu sayang. Mual gak selesai- selesai di trimester awal!" sahut Leo memberikan permakluman.


Devan lagi- lagi menahan tawanya. Andai dua manusia dari kota S itu tahu, bila Dhira tengah bobo manis di kamar terbaik hotel itu, karena akan memberikan kejutan suaminya, mereka pasti ikut tergelak.


...šŸšŸšŸ...


Agenda malam ini selain makan malam, akan ada sedikit acara inti Bu. Lalu di lanjutkan dengan pesan dan kesan, karena besok siang sudah penutupan.


Devan mengirimkan pesan itu kepada Dhira.


Kamu info aja saya munculnya di waktu kapan. Pastikan yang mengejutkan saya itu terkejut.


Devan merinding saat membaca pesan dari Dhira. Istri bosnya itu lebih terlihat mengintimidasi dari pada Abimanyu pikirnya.


Pucuk dicinta ulampun tiba, wanita yang dibicarakan kini nongol di hadapannya.


" Pak Abimanyu kenapa tidak ikut acara pagi ini?" tanya Melinda saat mereka usai menuntaskan kegiatan sore, dan hendak menuju kamar untuk beristirahat.


" Oh, beliau sedang tidak enak badan!" jawab Devan memindai tampilan Melinda yang benar-benar memancing otak bapak- bapak untuk positif thinking.


" Benarkah, apa dia baik-baik saja?" Melinda melipat kedua dahinya.


" Sure, nanti malam beliau sudah bisa ikut acara inti!" Devan tersenyum penuh arti.


" Baiklah, sampaikan salam ku untuknya!" Melinda menepuk pundak Devan lalu melenggang pergi.


Devan menatap bekas sentuhan Melinda di pundaknya. " Enam Huruf yang membuat permasalahan tidak selesai, wanita!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2