The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 157. Siapa Musuhku ? (2)


__ADS_3

Bab 157. Siapa Musuhku ? (2)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Jangan melakukan apapun saat emosi menguasaimu, dan jangan menjanjikan apapun saat hatimu diliputi oleh kebahagiaan. Karena keduanya, sama- sama mendatangkan penyesalan!"


----Mommy Eng


.


.


Mendengar namanya di panggil, pria dengan tinggi kisaran seratus delapan puluh meter itu, menoleh ke arah kanan. " Bim?".


Ya, rupanya Abimanyu beserta istrinya lebih dulu tiba di rumah sakit. Sementara Wisang, pria itu masih belum menampakkan batang hidungnya.


Danan berdiri menyongsong kedatangan Abimanyu beserta Dhira. Rautnya tak menerangkan mimik apapun, hanya saja ia yang biasanya berpembawaaan vokal dan jenaka, kini terlihat lebih konsonan.


" Kenapa baru datang?" tanya Danan, pria itu kini menyiratkan wajah cemas. Pria itu letih luar dalam.


" Sory, ada kejadian tak terduga juga di rumahku!" sahut Abimanyu dengan wajah serius.


Mendengar ada suara lain, Sekar yang barusaja terlelap akibat kantuk yang menyerangnya, kini terlihat membuka matanya.


" Bu Dhira, Pak Abimanyu!!! anda sudah sampai?" perkataan Sekar membuat ketiga manusia itu menoleh kepada istri Wisang itu.


Dhira yang tak begitu melihat Sekar agak terperanjat, wanita yang pernah menjadi pegawainya itu rupanya turut ada disana.


" Sekar?, maaf kami baru datang. Mas Sugeng.....maksud saya, satpam kami dirumah tadi juga habis di culik oleh seseorang!!" terang Dhira dengan wajah cemas.


Danan menatap Dhira begitu juga Sekar, mereka kini sama-sama mengernyitkan dahi. " Kenapa bisa pas begini?" seru Danan seperti memikirkan sesuatu.


" Keluarga pasien?" seorang petugas pria berpakaian putih dengan dua kantong di bagian depannya, membuka pintu ruang tindakan itu. Menginterupsi pembicaraan empat orang disana.


Tentu saja kaum hawa lah yang lebih cepat untuk segera mendatangi petugas itu, Sekar dan Dhira berduyun-duyun menghampiri pria dengan name tag Yoga itu. Sementara Danan dan Abimanyu masih mengiringi langkah dua wanita itu, dengan pandangan mereka.


Saat dua orang pria yang masih sama-sama berkacak pinggang , terdengar derap langkah yang kian mendekati keberadaan mereka, dan saat mereka menyadari kedatangan seseorang...


" Wisang?" sapa Abimanyu yang melihat sahabatnya itu datang.


" Sini lu!!!!" Tanpa menyambut sapaan Abimanyu, Wisang menggeret lengan Danan, sejurus kemudian membawanya ke tempat lain. Tempat yang sepi, dan sepertinya itu adalah parkiran yang berada di paling belakang gedung rumah sakit itu.


Melihat raut tak biasa Wisang, Abimanyu sekilas menatap istrinya yang tengah sibuk berbincang dengan petugas itu. Dan di saat bersamaan, Sekar menatap ke arahnya.


Abimanyu memberikan kode bila dirinya akan menyusul Danan dan Wisang ke arah belakang, sorot mata pria itu seolah mengatakan kepada Sekar untuk tetap bersama istrinya dulu.

__ADS_1


Sekar mengangguk tanda mengerti serta setuju, sejurus kemudian wanita itu turut menyimak penjelasan petugas itu bersama Dhira.


Mungkin ada sesuatu yang akan dibicarakan para pria itu pikirnya.


.


.


Di halaman parkir belakang


Jam telah bergeser di menit lima belas, lepas dari jam dua pagi. Danan dengan lengan yang masih di genggam oleh Wisang hanya diam. Menurut saja saat sahabatnya itu, membawanya ke area sepi.


Abimanyu masih tertinggal di belakang, lantaran pria itu harus memberitahu Sekar terlebih dahulu. Ia melihat gelagat aneh dari Wisang. Pria itu tak berbicara apapun saat datang, dan malah langsung menarik lengan Danan. Kemarahan yang belum pernah ia jumpai selama mereka bertiga menjadi kawan.


Bought!!!!


Wisang langsung melayangkan pukulan ke wajah Danan saat meraka tiba di tempat yang sepi.


Membuat pria itu terperanjat. Danan bahkan mundur dua langkah dari tempatnya berdiri akibat pukulan dari Wisang. Dan untuk pertama kalinya, Danan kini bisa mencicipi kekutan seorang Wisang. Kekutan yang bercampur kecurigaan, kemarahan, dan kekecewaan.


" Wis, elu gila ya???" Danan meraba wajahnya yang terasa ngilu dan perih saat bogem dari tangan kekar Wisang, mendarat di wajahnya yang lelah.


Dengan otak di penuhi tanda tanya, mengapa Wisang menempeleng wajahnya, dan mengapa Wisang begitu emosi se pagi buta itu terhadapnya, pria itu mencoba menetralisir rasa emosinya. Ia juga lelah, di tambah kini harus menanti kabar dari Rangga dan Shinta.


Wisang tak bisa lagi menahan emosinya. Pria itu mengeraskan rahangnya, guna mengahalau emosi yang membara. Lebih tepatnya sebuah kekecewaan.


" Jangan bilang, elu terlibat dalam hal ini!!!"


Pipi yang terasa panas, perih dan berdenyut.


" What????" Danan menatap tajam Wisang. Mencoba mencari tahu apa maksud dari sahabatnya itu.


Melihat kejadian yang tak pernah terbayangkan oleh Abimanyu, pria itu kian mempercepat langkahnya saat Danan terlihat di hadiahi tinju oleh sahabatnya itu.


Pertengkaran rupanya terjadi di sana, dan untuk sebab musababnya, Abimanyu ingin segera mencari tahu.


" Berapa kali udah gue ingetin, dia itu istri orang. Ngaku elu sekarang, elu kan yang pingin semua ini terjadi???" untung saja Sekar dan Dhira tak sampai melihat kejadian itu. Kejadian dimana kedua sahabat itu saling bertikai.


Hingga detik itu, Wisang masih menjadi satu- satunya orang yang mengetahui, bila Danan menyukai Shinta sejak awal.


Kepanikan Danan, juga sikap kekhawatiran yang berlebihan dari sahabatnya itu, nampaknya memupuk semua kecurigaan, bila Danan menginginkan bila Rangga musnah dari dunia ini agar ia bisa bersama Shinta. Sikap yang paling tak di senangi oleh Wisang, sikap pecundang.


" Omong kosong apa ini Wis??" Danan tentu saja menyangkal, apakah sahabatnya itu mencurigai dirinya untuk hal yang ia sendiri tidak mengerti?


" Alah, bacot aja lu!!!" Wisang hendak melayangkan pukulan keduanya, namun berhasil di cegah oleh Abimanyu.


" Wisang!!! tahan diri elu, ada apa ini sebenarnya!!! jangan sampai kalian buat kekacauan disini brengsek!!! ada istri elu di dalam!!" Abimanyu memang belum mengerti duduk persoalannya, namun perbuatan kedua sahabatnya itu jelas akan menambah persoalan saja bila tak segera di hentikan.


Wisang terlihat membuang wajahnya, ia terlihat mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Sementara Danan terlihat menatap kedua sahabatnya itu dengan wajah lesu.


" Gue gak nyangka kalau elu berfikir se picik ini ke gue Wis!!!" Danan seolah berada di titik rendahnya pagi buta itu. Sahabatnya itu rupanya meragukan dirinya.

__ADS_1


" Apa yang kalian bicarakan sebenarnya??" ucap Abimanyu meminta penjelasan.


.


.


" Apa??" Abimanyu terlihat begitu terkejut usai mendengar penuturan dari Wisang. Wisang itu tanpa tanggung- tanggung menjelaskan hal yang selama ini tak di ketahui oleh Abimanyu. Sementara Danan tak bisa membantah untuk penjelasan yang satu itu. Damned!!!


Penjelasan yang menerangkan bila seseorang Dananjaya, telah menyukai seorang wanita yang sudah menjadi istri orang.


Tiga orang sekawan itu kini terlihat duduk menghadap lurus ke arah lahan parkir, dengan posisi Abimanyu berada di tengah-tengah.


Ya, mereka kini duduk untuk berbicara dengan nada normal. Berusaha memecahkan gelombang perseteruan dengan tendensi rendah


Suasana hening untuk sementara waktu, Abimanyu terlihat memijat kepalanya lantaran baru mengetahui fakta mengejutkan itu . Ia tak mengira bila sahabatnya yang memiliki kebiasaan paling binal itu, kini terjebak di cinta terlarang.


" Gue udah peringatkan dia waktu jaman kita bantu elu buat pindahan!" tukas Wisang memecah kesunyian. Wisang masih menatap menerawang ke arah barusan motor di lahan parkir itu.


" Wis, gue udah bilang berapa kali ke elu...gue emang suka sama Shinta, tapi ga mungkin gue melangkah jauh!!! apalagi mau menyelakai Rangga biar Shinta Jandi janda, terus gue nikahi!!" Danan tentu saja bersungut-sungut. Ia membela dirinya sendiri.


Untung saja Abimanyu berada di tengah-tengah, membuat mereka berdua yang adu mulut itu bisa terhalau oleh tubuh tegap Abimanyu.


Pria itu berani berbicara, karena dia memang benar. Bahkan, ia saja berhasil menghalau diri saat tak sengaja bertemu Shinta di mall tempo hari. Jika dia mau, tentu saja ia pasti akan membawa Shinta saat itu juga, Danan adalah pria berduit yang bisa saja melakukan segala hal.


"Otak gue gak mungkin tega nyelakain orang yang gue sayang!!! jujur Wis, gue gak nyangka elu berfikir sedangkal ini ke gue!!!" Danan menggeleng lemah tak percaya.


Sejenak mereka hening kembali, berusaha merenungi tiap sahutan dari masing-masing ucapan yang terlontar.


Wisang juga tak salah. Bukan tanpa alasan Wisang curiga, ia yang beberapa kali menangkap raut kepanikan, serta sikap Danan yang cenderung lebih menghawatirkan Shinta daripada Rangga saat di lokasi laka tadi, jelas membuat pikiran negatif itu menyeruak ke dalam otak Wisang.


Apalagi, sejak awal Danan sudah menunjukkan ketertarikannya pada wanita bersuami itu. Dan sepersekian detik kemudian, suara Abimanyu memecah keheningan....


" Satpam gue tadi cerita kalau dia habis di culik seseorang, makanya gue telat datang kesini!"


Ucapan Abimanyu sukses membuat dua manusia di sayap kiri dan kanannya itu menoleh bersamaan. Dua pria di sampingnya itu masih tekun menunggu kelanjutan ucapan darinya.


"Bisa jadi , orang itu adalah orang yang juga mensabotase mobil elu Wis!" Abimanyu menoleh ke kiri, ia menatap Wisang dengan tatapan penuh keyakinan.


" Besar kemungkinan kalian udah di incar sedari awal!" kini Abimanyu menoleh ke arah Danan.


" Bisa jadi tujuan mereka mensabotase mobil itu sebenarnya elu sama istri elu, gue masih minta Devan buat periksa CCTV!!!" terang Abimanyu kepada Wisang kembali.


" Apa??? kenapa elu gak bilang dari tadi!!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2