The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 82. Bertikai


__ADS_3

Bab 82. Bertikai


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


.....


Arya mencium gelagat aneh, terutama dari pria bernama Abimanyu. Tak ingin sok tau dan malah salah terka, ia akhirnya bertanya kepada Dhira. Namun wanita di sampingnya itu berucap bahwa dirinya tak saling kenal.


Arya bukanlah pria kemaren sore yang tak bisa membaca situasi, sorot mata Abimanyu jelas menyiratkan sesuatu. Apalagi ia tahu, bila Dhira baru saja menangis. Ia tak mau terlalu memaksa diri untuk mengorek ke dalam, tapi harus dia sadari bila ia memang telah jatuh hati kepada Andhira.


" Kalau kamu gak nyaman kita bisa pulang Dhir?" ucap Arya.


"Mmmm ga apa-apa kita tunggu sampai selesai" Dhira tidak mau hanya karena dirinya, Arya tak bisa menikmati pesta disana.


.


.


Sementara di zona lain, Wisang hampir saja meninju muka Danan," mulutmu apa gak pernah makan bangku sekolahan?" Wisang mendengus kesal. Abimanyu masih terlihat bermuram durja, kehilangan selera bahkan untuk sekedar berucap.


" Hey tenang!, aku hanya sedikit menggoda dokter itu. Tapi Bim, mengapa tidak kau beritahu saja kepada dokter itu jika kalian itu saling berhubungan?" tukas Danan.


"Apa kau gila, masalahnya tidak sesederhana itu. Dhira berdalih jika ia tak mau mempertaruhkan kesehatan ibunya jika dia gagal untuk bersama pria sialan itu!"sahut Abimanyu.


"Ya kau katakan saja bila kau sudah pernah tidur dengan wanita itu!" tukas Danan kembali.


"Dasar edan!!!!. Lagipula, tak sesederhana itu. Ada ibunya Dhira yang juga harus dipikirkan. Otak selang*kangan ini benar-benar!" kesal Wisang.


Danan hanya manggut-manggut saat kedua sahabatnya itu, melempar kekesalan kepadanya. Benar-benar pembuat onar.


Abimanyu lagi- lagi merenungkan saran gila temannya itu, tapi sekalipun ia membuka rahasia bila dia dan Dhira memiliki kedekatan semua itu tak akan menjamin bila Dhira akan kembali ke pelukannya.


Acara itu berakhir jam 10 malam, saat hendak masuk ke mobil Arya di kejutkan dengan kedatangan tiga sultan yang berjalan ke arahnya.


"Wah dokter, anda juga baru mau pulang?" sapa Danan kepada Arya, yang baru saja menutup pintu mobilnya saat Dhira telah duduk di kursi depan.


"Iya Tuan, sepertinya anda juga sangat menikmati pestanya!" Arya tersenyum simpul, ia menatap tajam Abimanyu, begitu juga sebaliknya. Arya semakin tak mengerti, mengapa tatapan pria itu seolah menyiratkan kibaran bendera perang kepada dirinya.


"Saya permisi dulu tuan-tuan, pasangan saya nampak tidak nyaman sedari tadi!" seolah sengaja memancing reaksi Abimanyu.


Abimanyu menatap Dhira yang diam di kursi itu," wah apa pestanya tak menyenangkan?, atau karena banyak semut dokter?" Danan kembali meladeni selorohan Arya.


Arya merasa ucapan pria itu seolah menggiring pemikirannya ke hal lain, " tuan, saya yakin anda adalah orang terpelajar. Saya tidak perlu mengatakan hal apapun kepada anda!" menatap Danan geram.


"Mas ayo !" Dhira melihat aura yang mencekam disana, tak ingin sesuatu yang tidak ia inginkan terjadi.

__ADS_1


"Hey pelankan nada suaramu!" Abimanyu tak suka dengan Arya yang berucap seperti itu kepada Danan.


"Maaf saya tidak ada urusan dengan anda!"dugaan Arya benar, jelas ada sesuatu.


"Kau sebenarnya sudah memiliki urusan denganku, sejak kau mendekati kekasihku!"


Jeduuuuaaaaarrrr


Arya juga Dhira sama- sama terkejut, matanya terbelalak lebar. Dugaannya benar. Andhira dan Direktur Delta Group itu, memiliki hubungan. Tapi ia sudah memiliki perasaan kepada Dhira, dan tentu saja ia sudah mengantongi restu dari ibunda Dhira.


Seolah merasa diatas angin, Arya makin bisa unjuk gigi. Dari kesimpulannya sementara, pria di depannya itu menjalin hubungan dengan Dhira tanpa restu. Jika tidak, tentu mereka sudah pasti telah menikah. Mengingat usia mereka bukan saatnya untuk menghabiskan waktu, dengan pacaran.


Apalagi Arya teringat dengan Bu Kartika, yang selalu bersikap ramah dan welcome kepadanya, Cendrung ingin menjodohkan putrinya dengan dirinya.


Wisang juga terperanjat, tak mengira bila Abimanyu akan mengatakan hal itu. Melihat situasi makin kacau dan memanas, Dhira turun dari mobilnya.


"Apa maksud anda?" ucap Arya.


"Dhir?" tanya Arya kepada Dhira, meminta penjelasan.


"Apa kau sebagai dokter jarang memeriksakan telingamu sendiri?" Abimanyu nampak tak bisa menahan dirinya untuk tak menjawab.


Arya menatap tajam Abimanyu, mengeraskan rahangnya.


Dhira begitu takut, tapi dia juga ingin melihat reaksi Arya. Apakah pria itu akan mundur setelah mendengar ucapan Abimanyu.


"Aku yakin kau adalah pria pintar, jika tidak kau mungkin tak akan menyandang gelar seorang dokter. Tapi kau masih terlalu bodoh dalam menilai seseorang!"


Bought


"Brengsek!"


Bought


Membuat pria itu mundur dua langkah.


"Mas!!!" Dhira kaget betul, tak mengira bila mereka akan bertikai.


"Mas cukup!!!" ucap Dhira kepada Abimanyu. Aku mohon, hentikan. Jangan membuat segala sesuatunya makin sulit untukku. "Dhira kembali menitikan air mata ...." tolong, aku minta tolong dengan sangat!" air matanya mengalir dengan tanpa ijin.


Abimanyu yang melihat Dhira menangis sungguh hatinya tercabik-cabik, bukan seperti ini yang dia mau. Tapi terus terang saja, ia tak bisa lagi menahan kegeraman sejak tadi.


Untung saja tamu yang lain belum keluar. Jika tidak, tentu Dhira tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Pasti akan banyak berita tidak benar bermunculan.


Sudut bibir Arya berdarah, Abimanyu menghantam dengan keras. Wisang tak bisa menahan sahabatnya jika sudah begini.


Abimanyu terlihat mengatur nafasnya, ia menatap Arya degan tatapan permusuhan juga kebencian.


Wisang dan Danan masih berdiri di samping Abimanyu.


"Ayo mas kita pulang, sebelum tamu yang lain datang.!" hati Abimanyu nyeri melihat Dhira yang menggandeng lengan Arya. Dhira terlihat melintas di depan ketiga pria itu tanpa menoleh.

__ADS_1


" Urusan kita belum selesai!" Arya menunjuk Abimanyu.


Abimanyu tak menghiraukan Arya, ia sama sekali tak takut dengan ancaman. Ia hanya takut, bila kecerobohannya ini membuat Dhira makin membuat sekat untuknya. Dan itu artinya, ia akan benar-benar kehilangan Andhiranya.


Arya dan Dhira kini sudah berada di dalam mobil, sejurus kemudian mereka melajukan mobil itu menuju pintu keluar. Mobil itu menghilang dari pandangan ketiga sultan itu.


"Kau gila Bim!" ucap Danan.


"Diam kau, semua ini gara-gara bacotmu yang tak tahu aturan itu!" Wisang menatap tajam Danan.


"Aku ingin ke TND ( Tomorrow Never Die)!" ucap Abimanyu datat. Ya, Abimanyu mengajak kedua sahabatnya untuk menuju pub.


.


.


"Dhir, apa yang diucapkan tuan Abimanyu itu benar?" kali ini Arya ingin meminta kejelasan.


Ia berbicara sambil fokus ke arah jalan di belakang kemudinya.


"Maaf Dhir, apa kalian...."


"Mas, tolong tidak usah bahas itu lagi. Aku capek, aku mau pulang !" otak Dhira benar-benar panas.


"Aku tidak masalah jika dia pernah menjalin hubungan denganmu. Aku akan tetap maju"


"Mas!!!, harusnya mas jangan seperti itu tadi.?" Dhira kesal, sungguh mereka adakah pria dewasa, tapi mengapa malah berbuat seperti itu.


"Lalu aku harus apa. Aku mulai curiga dengan Abimanyu yang selalu menatapmu sedari kamu tiba dari toilet!"


Dhira sejenak terdiam, anda Arya tahu apa yang dilakukan Abimanyu terhadapnya tadi.


"Dhir.."


Dhira terdiam tak menyahut.


"Aku jatuh cinta sama kamu!"


Dhira tertegun, ia pikir Arya akan melepaskan dirinya setelah mendengar pernyataan dari Abimanyu tadi. Rupanya Dhira salah menilai. Arya adalah pria, dengan segala pembawaan yang lumayan tenang saat berbicara terhadap wanita.


Namun, jawaban Arya barusan jelas membuat Dhira memang harus menyerah.


"Aku ingin segera melamar kamu!"


Dhira menatap Arya, bisa apa dia?. Kalaupun dia menolaknya, sama artinya ia mengantar hubungan buruk dengan ibunya secara sukarela.


Dhira diam menatap nanar jalanan yang lengang, pikirannya begitu semrawut. Sementara Arya menganggap kebisuan Dhira itu adalah jawaban 'Ya'


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2