
Bab 259. Lintas Kebahagiaan
.
.
.
...🍁🍁🍁...
" Jika pandai menitih buih, selamat badan sampai seberang!"
( Cita-cita akan tercapai jika pandai berusaha dan tak mudah berputus asa, serta berhati-hati dalam menjalani)
.
.
Jalan hidup orang memang tidak ada yang tahu. Usai malang, kita kadang mujur. Bahkan sebaliknya. Usai terlampau senang, kita kadang terlempar dalam keadaan nestapa.
Ucapan selamat dari para handai taulan juga sudah mengalir silih berganti. Membawa serbuk kebahagiaan yang kini menyebar di dalam relung hati dua pengantin baru itu.
Kata orang bijak, semua akan indah pada waktunya. Dan waktu yang tepat, adalah sekarang.
Kini Shinta benar-benar diujung penatnya. Pesta itu benar-benar terselenggara dengan lancar sekaligus melelahkan. Dhira bersama Abimanyu lebih dulu meninggalkan lokasi bahkan sebelum acara itu berakhir, tentulah Kalyna yang menjadi alasan dibalik itu semua.
Ini bukan pertama kali bagi Shinta menikah. Namun, selebrasi yang benar-benar besar itu, sukses membuat tenaga Shinta terkuras habis.
Acara tersebut terpungkas sempurna sekitar pukul tujuh malam. Sengaja memilih menyudahi acara tersebut tidak terlalu malam, lantaran besok adalah hari Senin. Hari dimana segala kesibukan bertangkup.
Danan sengaja menyewa kamar kelas terbaik untuk malam pengantin mereka. Sebagai pria penjelajah kedalaman lautan kenikmatan, jelas ia sudah terbilang kawakan. Ia harus bisa mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.
Di kamar hotel.
Kecanggungan menyelimuti diri Shinta, wanita itu kini mendadak bingung harus berbuat apa.
" Sebaiknya mas mandi dulu!" Ia memalingkan wajahnya saat Danan mendekatinya dalam keadaan bertelanjang dada.
Ya, Danan sudah mencampakkan pakaiannya lantaran rasa gerah yang menyerangnya. Menggunakan beskap sedari pukul dua, jelas merupakan ancaman yang membuatnya rikuh.
" Kenapa wajahmu semerah itu, semua ini kan milikmu sekarang, hm?" goda Danan seraya memeluk Shinta yang masih memakai gaun lengkap.
" Mas!" Shinta merinding. Ini kali pertamanya posisi mereka begitu dekat dan intim. Ya meski mereka pernah tidak sengaja saling tumpuk undung, sewaktu kerja bhakti dirumah baru Dhira beberapa bulan silam.
Danan terkekeh, ia suka wajah Shinta yang tegang karena tingkahnya. " Oke oke, aku mandi dulu sekarang ya?" Danan melonggarkan pelukannya. Tentu saja malam ini akan menjadi malam yang indah untuknya.
Namun saat Danan hendak melangkah menuju kamar mandi, Shinta membuat langkahnya terhenti " Mas, tunggu dulu!" ucap Shinta.
" Ya?" Danan mengernyit.
" Aku tak bisa membukanya!" Shinta langsung berbalik memunggungi Danan dengan maksud agar suaminya itu membukakan resleting gaun yang ia kenakan.
" Oh!" Danan tersenyum licik. Pria itu sangat senang.
Perlahan namun pasti Danan mulai menarik resleting baju Shinta. Pria itu meneguk ludahnya sendiri kala melihat punggung yang begitu sempurna. Pikiran pria itu seketika resah dan gelisah. Danan semakin penasaran bagiamana dengan bentuk bagian lainnya yang masih tertutupi oleh gaun putih itu?
Danan membalikkan badan Shinta. Pria itu menatap wajah istrinya yang masih mengenakan riasan lengkap. Make up bold yang membuat pria itu kehilangan akal sehatnya sejak pertama berjumpa Shinta.
" Mas!" Shinta merasa tubuhnya menegang. Danan sibuk menyusuri wajah Shinta dengan tangannya yang kekar. Jakun pria itu terlihat naik turun saat memindai wajah Shinta. Begitu cantik dan terlihat menggoda.
Danan melepas penjepit rambut yang membuat sanggulan itu terlepas. Kini, rambut panjang Shinta menjuntai kebawah. Danan juga melepas berbagai aksen di kepala Shinta.
Shinta diam tanpa perlawanan, dari posisi yang semakin tak berjarak, Shinta bisa melihat rahang kokoh suaminya. Nyaris tak percaya bila pria yang kerap membuat onar dalam hidupnya itu, kini menjadi suaminya.
" Kau tahu, dirimu yang seperti ini yang pertama membuatku jatuh hati padamu sayang!" Danan menatap dua manik mata jernih Shinta dengan penuh kobaran api cinta yang membara.
" Terimakasih sudah mau menerimaku!" Ucap Danan sembari terus menatap lekat wajah istrinya.
Hangat nafas segar Danan bahkan bisa Shinta hirup dengan leluasa. Membangkitkan gelora aneh dalam jiwa Shinta.
" Aku mencintaimu!"
Danan melayangkan ciuman usai mengatakan kalimat yang jujur ia utarakan itu. Shinta memejamkan matanya kala bibirnya kini bersentuhan dengan bibir Danan. Hangat dan memabukkan.
Shinta mengalungkan tangannya ke leher suaminya, sementara Danan terlihat mendecak menikmati sapuan bibir istrinya yang membuatnya gila. Menuntut dan kian memanas.
__ADS_1
Sampai akhirnya.
🎶You're all I need beside me girl
You're all I need to turn my world
You're all I want inside my heart....
Bunyi nada dering berupa reffrein dari lagu White Lion yang berasal dari ponsel Danan menginterupsi kegiatan panas mereka.
"CK!" Danan mendecak. Siapa pikirnya yang berani menganggu dirinya di saat-saat krusial seperti saat ini. Shinta memalingkan wajahnya kemudian duduk di tepi ranjang. Mencoba bersikap B aja.
" Siapa?" Danan bermonolog kala melihat nomer baru yang memanggilnya.
" Hal..."
" Aku cuma mau bilang, jangan sampai elu keluar duluan. Ingat ladies first ya!"
Tut
" Brengsek si Wisang!" umpatnya dengan wajah berengut begitu mendengar suara Wisang yang tergelak di ujung telepon.
Sahabat terkutuk.
Shinta terkikik geli demi melihat wajah sebal Danan. Suaminya itu pasti lupa mengantisipasi gangguan dari luar.
...🍁🍁🍁...
Di tempat lain, Wisang sedang tertawa terbahak-bahak. Ia bisa membayangkan wajah Danan yang pasti saat ini tengah bersungut-sungut dan memaki dirinya.
Puas bisa mengerjai sahabatnya itu. Danan pasti minim antisipasi. Dan sesuai degan tebakannya, Danan benar-benar tak men-silent ponselnya.
Sekar yang baru keluar dari kamar mandi itu terlihat mengerutkan keningnya demi melihat suaminya yang mirip wong edan. Tertawa seorang diri.
" Ada apa sih mas?" Sekar heran demi melihat suaminya yang terpingkal-pingkal hingga sudut matanya berair.
Sekar berdiri sambil mulai mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil yang membebat rambutnya.
Masih dengan sisa tawanya " Enggak, cuma remind si Danan aja. Udah lama enggak ganti oli, perlu di ingatkan!" Ucap Wisang seraya berdiri dan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
" Ishh...Jangan begitu, sukanya loh ganggu orang. Mereka pasti lagi capek mas!"
Sekar mencibir. Namun sejurus kemudian ia terkekeh demi mengingat nasib Wisang yang pernah zonk saat malam pertamanya.
" Kenapa?" Wisang balik bertanya.
" Enggak kenapa-kenapa!" Jawa Sekar asal. Ia juga lelah malam ini.
" Sayang?" Ucap Wisang yang meletakkan dagunya di pundak Sekar.
" Ya?" jawabnya seraya sibuk mengusap rambutnya.
" Aku bahagia banget. Kamu sama mama makin kompak. Tapi...." ucap Wisang sengaja menggantungkan ucapannya.
" Tapi apa?" dengan wajah serius wanita itu menghentikan kegiatannya, lalu menatap suaminya.
" Tapi jangan lupa buat...?" Wisang menaik-turunkan alisnya. Memberikan kode alam untuk meminta hak nya sebagai suaminya.
" Dasar!" Sekar mencubit pinggang Wisang dengan membabi-buta.
" Auhhwww sakit sayang!!" Wisang meliuk-liuk demi menghindari serangan cubitan istrinya.
Mereka kini saling berkejaran bak bocah yang kegirangan. Terlihat kebahagiaan yang jelas kian terpancar dari wajah kedua insan itu. Sungguh kebahagiaan memang untuk orang-orang yang mau bersabar.
...🍁🍁🍁...
Dimalam yang dingin seorang bocah duduk menyendiri berteman sepi. Raka duduk di atas balkon kamarnya, seraya menatap rembulan yang tersenyum kepadanya.
Ia melihat gugusan bintang yang membentuk rasi yang indah malam itu. Semilir angin malam menerpa wajahnya. Ada satu kelegaan menelusup dalam hatinya.
Kebahagiaan kedua orangtuanya.
Papanya sudah beristri dengan wanita manis yang ramah dan baik kepadanya. Mamanya juga sudah memiliki suami yang begitu luar biasa dalam hidupnya.
Ia tak menyangka, jalan hidupnya akan sedemikian uniknya.
__ADS_1
Meski ia merasa sendiri, tapi terlepas dari semua itu mereka tetaplah orang tuanya. Sebagai seorang anak, ia akan terus mendoakan kebahagiaan untuk dua manusia yang menjadi sebab musabab hadirnya ia ke dunia ini.
" Anak Papa disini ternyata!" suara Abimanyu mengangetkan Raka. Tak mengira bila papanya akan mencarinya malam itu.
Raka tersenyum, sejurus kemudian ia memperhatikan Abimanyu yang turut duduk di sampingnya.
" Papa enggak tahu kalau dari sini kita bisa lihat benda langit seindah itu!" Abimanyu menatap bulan yang tengah dalam posisi purnama.
Raka juga menatap bulan yang tengah memancarkan cahaya indah malam itu.
" Setiap hari aku bisa melihatnya!" Ucap Raka dengan tatapan menerawang.
" Kamu tahu, nenek kamu dulu pernah berkata pada Papa jika kita rindu kepada sosok ibu, kita bisa melihat bulan yang sedang purnama. Seperti saat ini!" tukas Abimanyu menatap bulan itu dengan pandangan menerawang.
Raka menatap papanya tak mengerti.
Abimanyu tersenyum menatap Raka yang berwajah bingung. " Ratih Pregiwati. Itu nama orang tua papa. Papa adalah papa kamu, jadi beliau juga nenek kamu!" Abimanyu tersenyum seraya mengusap lembut puncak kepala Raka.
" Beliau sudah meninggal, dan kalau Papa rindu kepada beliau, papa sering menatap bulan purnama!"
" Coba deh kamu perhatikan, permukaan bulan yang bulat itu persis seperti seorang ibu yang tengah menyusui anak mereka!" Abimanyu menunjuk ke arah bulan. Raka dengan cepat mengikuti arah telunjuk Abimanyu yang mengarah ke satelit bumi itu.
Di fase bulan yang tengah bulat sempurna, kita memang bisa melihat gambar permukaan satelit bumi itu yang mirip gambar seorang wanita yang merunduk.
Raka memandangi bulan itu lekat " Benar Pa, kok bisa ya?" Raka menatap Abimanyu kembali dengan tersenyum takjub.
" Kata orang dulu, itu widodari ( bidadari)!"
Raka menekuk lututnya seraya memeluknya. Bocah itu merasa takjub. Ya meski itu mungkin hanya sebuah mitos. Tapi visual yang ia lihat memang begit adanya.
" Raka!" Ucap Abimanyu menatap anak sambungnya.
" Ya Pah?" sahut Raka.
" Papa cuma mau berpesan sama Raka. Jadi lelaki itu berat....Kita diberi tulang yang keras itu memang untuk di banting demi keluarga!"
Raka masih tekun mendengar ucapan Papanya. Ia merasa akan ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh Papanya.
" Raka!, kamu itu sudah papa anggap sebagai anak kandung papa sendiri. Dan jangan pernah ragukan hal itu. Rasa cinta Papa ke kamu, ke mama dan ke adik kamu sama besarnya!" Abimanyu merasa ia harus segera membicarakan hal ini.
Raka meneguk ludahnya. Benar prediksinya, pria di sampingnya itu jelas akan membicarakan hal serius.
" Papa sebenarnya masih berharap agar bisa memberikan kamu adik lagi. Tapi, mengingat usia mama kamu dan cara lahir Kalyna yang membuat papa gak tega, jadi membuat papa berpikir"
"Papa tahu ini terlalu dini untuk kita bicarakan, tapi menurut papa kamu adalah anak yang cara berpikirnya sudah dewasa ka!"
Raka terpekur menatap lantai marmer yang ia duduki itu. Merasa aura papanya semakin kuat.
" Sudah menjadi tradisi dalam keluarga papa bila anak laki-laki harus meneruskan perusahaan. Jadi, papa berharap banyak sama kamu!"
Kini Raka semakin mengerti arah pembicaraan mereka. Ia dulu juga pernah mendengar mamanya dan papanya membicarakan hal itu. Ia menyadari, adiknya adalah seorang perempuan. Meski jenjangnya masih jauh, namun sepertinya papanya itu adalah orang yang penuh perhitungan.
Raka menelan ludahnya dengan susah. Tak mengira bila Abimanyu mengajaknya dengan cara yang laki banget.
" Kamu anak laki-laki papa, jadi ka..."
" Lalu Jodhi?" Raka menatap papanya. Membuat ucapan papanya menguap ke udara.
Abimanyu tersenyum. " Tante Rania sudah memiliki bagiannya sendiri!"
Raka mengangguk paham. Papanya benar-benar luar biasa.
" Papa bukan bermaksud apa-apa nak. Papa bisa melihat bila kamu merupakan anak yang bertanggung jawab. Kamu harapan papa!"
" Suatu saat kamu yang akan memimpin Delta Group!" Abimanyu mengusap punggung Raka penuh kasih.
Dari ambang pintu, Dhira menitikan air matanya. Tak mengira jika Abimanyu akan seserius ini dalam menganggap Raka sebagai bagian krusial dalam keluarga mereka.
Pernyataan terbuka Abimanyu barusan, jelas menyatakan bila Raka akan di dapuk untuk mewarisi Delta Group di masa mendatang. Kini Dhira paham, mengapa para pengusaha selalu tak padam obor dalam hal finansial. Semua itu karena mereka jelas mempersiapkan segala sesuatunya sejak dini, bahkan untuk urusan generasi penerus.
.
.
.
__ADS_1
.
.