The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 19. Follow Your Heart


__ADS_3

Bab 19. Follow Your Heart


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Masih dengan gelas yang sama, tembakau terbaik hilangkan penat".


Pagi itu Abimanyu tengah berdiam diri di ruangan kerjanya, sembari menyesap kopi dan juga merokok.


Sejurus kemudian ia menggerus batang rokok miliknya, yang masih berpuntung cukup panjang.


Menandakan jika dirinya tengah gusar.


Lalu dia menarik ujung laci bercat putih itu, mengaduk aduk isi dalam kotak persegi panjang itu.


Mengambil sebuah foto dirinya bersama Gwen sewaktu dirinya berlibur.


Ia mengusap gambar yang tersenyum itu, kemudian ia memejamkan matanya.


Mencoba merasakan serta mengingat kembali memori serta kenangan yang tercipta diantara mereka berdua. Namun di sela sela hayalan nya , sekelebat wajah Andhira justru hadir.


Dalam sekejap ia langsung membuka matanya, memijat keningnya yang terasa pusing.


"Bisa bisanya otak bodoh ini terus memikirkan istri orang" umpatnya.


Tok tok tok


"Masuk" ucap Abimanyu.


Klek


"Tuan Wisang dan Danan ingin bertemu anda" ucap Devan.


"Suruh mereka masuk"


Selalu saja, tiap malam minggu pasti duo bujang itu menghampiri duda tak jelas itu.


"Hallo tuan Abimanyu yang terhormat namun selalu galau" Danan selalu saja berkelakar.


Sementara Wisang dengan pembawaannya yang tenang, selalu nampak cool.


"Apa kalian tidak punya pekerjaan lain selain menggangguku" ucap Abimanyu.


"Oh ayolah, this is satninght right?" ucap Danan.


Abimanyu hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah tahu jika malam nanti akan berlalu panjang untuk dirinya.


...šŸšŸšŸ...


Andhira yang baru saja pulang itu, penasaran dengan sebuah motor yang terparkir di halaman rumahnya.


"Siapa yang bertamu?"


Terdengar juga suara orang yang tengah berbincang.


"Nah itu Dhira" ucap Bu Kartika yang melihat anaknya telah berada di ambang pintu.


Saat ia menoleh ke arah kursi sebelah Utara, ia tersenyum karena yang datang adalah sahabatnya, Shinta.

__ADS_1


"Shin kamu kok gak ngabari aku kalau kesini" Dhira menyapa sahabatnya itu, setelah meletakkan kantung keresek berisi beberapa tepung.


"Gak kejutan donk kalau bilang"


"Iya deh, ini aku udah terkejut" Dhira terkikik demi menyahut Ucap sahabatnya.


Membuat Shinta juga Bu Kartika tertawa kecil.


"Ibu tinggal ke belakang ya, kalian ngobrol aja dulu" ucap Bu Kartika memberikan waktu kepada anak dan sahabatnya itu, untuk saling bercengkrama.


"Rangga dinas hari ini?" tanya Dhira seraya mengambil bantal sofa, kemudian memindahkan ke pangkuannya.


"Iya, hari ini ada rombongan Menteri yang datang infonya"


"Masih dinas di Terminal Domestik?"


"Kadang gantian, semenjak naik pangkat dia dobel tanggung jawab"


Andhira tersenyum senang, ia menjadi ingat dengan memori sewaktu dirinya juga pernah bekerja di Airport.


Dhira lah yang memperkenalkan Shinta dengan Rangga.


Mereka saling ngobrol dan juga bercerita.


Kadangkala mereka tertawa terbahak-bahak, demi meningkat kembali masa lalu yang menyenangkan.


Mengobrol kesana kemari, seolah tiada jemu untuk saling mendengarkan dan juga berbagi cerita.


Sampai akhirnya, Shinta menanyakan sesuatu yang cukup krusial.


"Maaf ya Dhir, apa dugaanku salah jika kamu sama Indra...." ucap Shinta menggantung.


Mereka berdua saling diam beberapa detik.


"Iya Shin, ada orang ketiga yang masuk dalam hidup kami"


"Mungkin aku yang belum bisa jadi istri yang di mau mas Indra, atau bisa jadi dia yang kurang bersyukur"


"Dhir" Shinta menggenggam tangan sahabatnya.


"Insyaallah aku kuat Shin, demi Raka" ia mencoba tersenyum di sela luncuran cairan bening, dari mata Dhira.


Air mata Dhira sudah tak terbendung lagi, pertahanannya jebol sudah.


Apalagi ia teringat saat ia tengah berada di tempat tukang tambal ban. Ia melihat Indra yang bermesraan dengan wanita itu.


"Mungkin juga ini teguran buat aku, karena semua kesilapanku terhadap ibu Shin"


Shinta merasa ikut terpukul, ia bahkan turut menitikan air mata.


"Life must go on. Allah maha mengetahui sedang kita tidak" ucap Shinta mengusap punggung Dhira, memberikan kekuatan.


...šŸšŸšŸ...


Trio sultan malam itu sudah bertengger diatas kursi di Caffe langganan mereka.


Spesial performance dari singer baru itu, makin menambah syahdu suasana malam Minggu disana.


Ditambah dengan iringan band lokal, makin menambah semarak tempat itu.


"Selamat malam, spesial untuk semua yang ada di Patrick Star Caffe"


Namun selalu saja, Abimanyu merasa sepi di dalam keramaian.

__ADS_1


šŸŽ¶ "Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang ku rasakan.."


Ketika lagu itu mulai di nyanyikan, riuh tepuk tangan pengunjung seolah mengudara memenuhi isi cafe itu.


"CK, kenapa musti lagu ini sih" gumam Abimanyu.


"Aku jatuh cinta kepada dirinya, sungguh-sungguh....šŸŽ¶


( Roulette Jatuh cinta)


Lagu itu seolah mewakili buncahan rasa yang hilang timbul di dasar hatinya.


"Masih mikir yang kemaren?" tanya Wisang.


"Gue masih waras" ucapnya tersenyum kecut demi menanggapi selorohan Wisang.


"Kalian ngomongin apaan sih?" Danan yang tak mengerti arah pembicaraan kedua sahabatnya itu, sontak saja mengajukan pertanyaan.


"Udah gak usah ikut, gak ngejar juga otak lu sama kasus beginian" ucap Wisang.


"CK, lu ada target lain?, siapa?"


"Panda lokal lagi, bebek Victoria, ayam kampus?" Danan menaikturunkan alisnya.


"Sembarangan aja, emang gue elu" sahut Abimanyu.


Mereka tertawa terbahak-bahak. Memilih pindah ke Pub andalan, guna menghindari lagu lagu yang seolah menjadi original soundtrack hati Abimanyu.


Adalah Wisang, sahabat yang memegang rekor paling peka.


Ia juga yang memprakarsai untuk moving ke Pub TND


Malam kian larut, setelah berpindah menuju Pub TND ( Tommorow Never Die) untuk menghabiskan minuman,mereka bergegas pulang.


Namun lagi lagi hanya Wisang yang menemani Abimanyu, sedangkan Dananjaya sudah melesat menuju hotel bersama bebek California, untuk berganti oli.


.


.


"So, seperti apa dia" ucap Wisang seraya fokus di kemudinya.


"Jangan membahas itu lagi" ucap Abimanyu yang memijat keningnya.


Wisang tertawa," she's the special one"


"Dia sudah bahagia bersama suami dan anaknya"


"Ini kesalahan" ucap Abimanyu tertawa sumbang, cenderung menyesali kebodohannya.


"Really?" tukas Wisang.


"Suaminya bekerja di perusahaanku"


"Menjadi anak buah Rania"


"What??" Wisang menatap Abimanyu.


"Anaknya teman dekat Jodhi, membuatku mau tidak mau sering bertemu mereka" Abimanyu menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan " aku juga tak habis pikir"


"Ikuti kata hati, karena disana kebenaran bersemayam"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2