
Bab 122. First impression
.
.
.
...ššš...
"Cinta memang aneh. Bisa membuat hati sepi meski dalam keramaian, dan bahagia meski dalam keadaan sepi!"
.
.
MC wedding kenamaan tengah ambil bahagian disana. Ia menjalankan tugasnya dengan baik. Mulai dari memberikan sambutan mewakili keluarga besar, mengucapkan terimakasih atas hadirin sekalian yang sudah datang, membacakan acara-acara yang dilangsungkan, serta puncaknya adalah mengundang mempelai untuk masuk.
Abimanyu dan Dhira terlihat berjalan menuju pelaminan dari pintu depan. Lengan Abimanyu yang kokoh menggamit tangan Dhira seraya berjalan diatas karpet merah. Membuat kesemua yang disana menatap dua pengantin itu. Kilatan jepretan kamera fotografer turut menjadi pengiring langkah mereka, dalam menjadi raja dan ratu semalam.
Banyak sekali pasang mata yang tertawan dengan penampilan kedua mempelai. Tak terkecuali dua pria paling heboh disana.
"Gila Bas, itu kakakmu bener- bener ayu banget!" Satrio yang duduk bersama Bastian dan dua orang bocah disana tak hentinya menatap dua anak manusia yang berjalan diatas karpet merah itu.
"Jangan ngomong saja kelen, istri direktur memang haros cantek!" bang Togar menyahuti ucapan Satrio.
Bastian sedari tadi mengamati Rania yang duduk di samping Fredy. Ia lupa jika kakaknya menikah dengan seorang pengusaha, yang pasti juga akan di hadiri oleh sesama pengusaha. Dan ia melupakan soal Fredy disana. Bastian tersenyum kecut.
"Habis ini jangan- jangan kamu jadi atasan kita lagi Bas?" tukas Satrio.
"Bisa jadi, kelen jangan lupakan aku ya. Si Liliana lagi hamil anaku yang ke empat, barangkali aku pula dapat kenaikan gaji, baaaaa bisa senang kali istri aku itu...Ya gak Bas?"
"Bas!!"
" Bas!!!" ucap Bang Togar degan logat bataknya, seraya menepuk tangan Bastian yang sedari tadi melamun. Membuat Bastiaan berjingkat.
"Eh iya gimana Bang?"
Satrio dan Bang Togar menggelengkan kepala mereka, seraya melebarkan lubang hidung dengan mulut rapat.
Mereka berdua mengikuti arah pandangan Bastian, " Kurasa ada yang patai hati disini Yo!" ucap Bang Togar kepada Satrio yang melihat Rania tengah berbicara akrab dengan Fredy.
.
.
"Mas, kok gak seperti yang mas bilang? rame banget ini!" bisik Dhira dengan mulut nyaris tak terbuka, seraya terus menyunggingkan senyum terbaik saat berjalan dengan tatapan mata para tamu yang tertuju kepada mereka.
Abimanyu pikir Dhira lupa soal dia yang enggak mau berselebrasi berlebih-lebihan. " Aku mohon kali ini aja ya. Lainnya nanti apa kata nyonya Abimanyu deh!" balas Abimanyu juga melakukan hal yang sama seraya meringis.
Abimanyu ingin pernikahannya itu diketahui orang, agar tak ada lagi yang merendahkan istirnya yang begitu berharga itu.
.
.
Acara kini diisi oleh penyanyi terkenal dari kota itu. Membuat Abimanyu dan Dhira memiliki kesempatan untuk menyapa para tamu.
"Selamat Tuan Abimanyu. Akhirnya ...." David Darmawan menjabat tangan kokoh Abimanyu dengan mantap, di susul dengan Leo adiknya yang juga mengucapkan hal yang sama. Mereka tertawa dan saling ber high five saat menyapa.
"Selamat Nyonya atas pernikahan anda!" kini David menyalami Andhira begitu juga Leo. Mereka berinteraksi dengan senyum yang selalu tersungging disana.
"Terimakasih banyak Tuan, sudah menyempatkan untuk datang!" jawab Dhira.
__ADS_1
"Sayang, kenalkan ini David dan ini Leo adiknya!"
"Mereka berasal dari ujung timur pulau!" Abimanyu menunjukkan dua orang tampan yang usianya sedikit berada di bawahnya itu.
"Pengusaha cabai sukses!"
Dhira mengangguk seraya tersenyum, " Para istri kok tidak turut Tuan?" Dhira kini mencoba mengakrabkan diri.
"Oh.., kebetulan istri saya baru saja melahirkan!" jawab David tersenyum.
"Oh ya ampun selamat kalau begitu. Sampaikan salam dari kami!" Dhira memegang lengan suaminya.
"Saya juga minta maaf belum bisa mengajak Bella . Lagi mengandung anak kedua!" tukas Leo.
"Tok cer juga kamu Leo!" sahut Abimanyu.
"Setelah ini giliran anda!" membuat semua yang yang disana tergelak.
Abimanyu dan Dhira menyibukkan diri dengan berkeliling ballroom guna menemui para tamu jauh dan beberapa orang penting, yang hadir disana. Meski dengan waktu yang singkat karena banyaknya tamu.
.
.
Sayup-sayup terdengar alunan lagu dari penyanyi ibu kota, mendendangkan lagu-lagu romantis yang membuat kerumunan manusia disana larut dalam kebahagiaan.
Melihat tawamu
Mendengar senandungmu
Terlihat jelas di mataku
Warna-warna indahmu
"Kamu capek ya sayang?" bisik Abimanyu seraya mengusap lengan istrinya.
"Tinggal beberapa jam!" bisik Dhira yang maksudnya setelah itu mereka bisa beristirahat.
Namun Abimanyu malah mengartikannya dalam hal lain, " Oh kamu ini bikin aku gak tahan aja!" ucap Abimanyu seraya mengerlingkan matanya.
Dahi Dhira berlipat, otak kotor suaminya itu agaknya tengah bekerja.
Menatap langkahmu
Meratapi kisah hidupmu
Terlihat jelas bahwa hatimu
Anugerah terindah yang pernah kumiliki
(Sheila on 7 ~ Anugerah Terindah)
.
.
Suasana santai yang tercipta membuat para tamu rilex. Dengan di temani alunan lagu romantis, mereka menikmati jamuan lezat nan mewah yang kesemuanya di ladeni oleh para pelayan yang ramah. Tak sia- sia manager hotel milik Danan itu menatar mereka agar bersikap sesuai SOP.
Wisang sedari dari mondar mandir mencari Sekar yang seolah hilang. Ia bahkan mencari-cari namun tidak menemukannya. Namun kemudian, ia melihat Sekar yang menuju toilet. Tapi saat langkahnya hendak terangkat, suara seseorang membuatnya terhenti.
"Wisang!" ucap Nyonya Lisa.
Wisang berbalik dan melihat Mamanya datang bersama seroang wanita yang selama ini ia hindari. Mira.
__ADS_1
Mira adalah model, cantik dan terlihat berkelas. Namun, selama ini Wisang hanya memaknai pertemanan mereka dengan istilah friend with benefit. Dan itu adalah kesalahan yang membuatnya kini sulit untuk menyingkirkan Mira.
Mereka pernah terlibat di ranjang panas karena efek alkohol. Begitulah Wisang, tak pernah melibatkan hati dalam urusan penuntasan hasratnya. Tapi nampaknya, Mira yang tahu bila Wisang adalah orang dengan strata sosial yang cukup tinggi, wanita itu mulai mencari siasat. Dengan mendekati Nyonya Lisa salah satunya.
"Ada apa ma?" Wisang menjawab sekenanya saja, ia mengedarkan pandangannya mencari papanya. Rupanya Tuan Wikarna tengah mengobrol dengan Tuan Yusuf dan beberapa orang penting lainnya.
"Kamu ini, mama cari dari tadi!"
"Mira jangan di cuekin terus, ajak dia berkenalan dengan teman-teman kamu. Banyak pebisnis disini. Mereka pasti banyak yang bertanya kapan kamu nyusul. Mama gak mau keluarga kita jadi bahan gosip karena punya anak gak laku- laku!" cerocos Nyonya Lisa.
Mira menahan tawanya mendengar ucapan Nyonya Lisa. " Honey, kamu ganteng banget malam ini!" wanita itu langsung bergelayut manja di lengan Wisang. Membuat pria itu rikuh.
"Mama temui papa dulu, Mir Tante tinggal ya!" wanita itu berbalik arah dan meninggalkan dua manusia di depannya itu.
"Mir, jangan seperti ini!" Abimanyu melepas tangan Mira.
" Kamu berubah banget sih Wis, udah jarang datang ke pub juga. Aku telpon gak pernah kamu gambres!" Mira merajuk.
"Kita bisa menghabiskan malam bersama setelah ini, hm?" Mira kembali bergelayut seraya menempelkan kepalanya ke dada Wisang.
Sejurus kemudian Wisang gelisah, cemas dan tak siap. Ia melihat Sekar yang berjalan ke arahnya, seraya memandangnya dengan tatapan tajam. Dan hal itu, sukses membuat Wisang belingsatan. Ia bahkan susah untuk sekedar menekan ludahnya sendiri. Sekar pasti salah paham.
.
.
Dananjaya tak memiliki semangat hidup malam itu, ia berjalan gontai di tengah keramaian orang banyak. " Tuan silahkan!" seorang pelayan pria menawari dia dengan berbagai minuman yang ia bawa diatas nampan coklat itu.
"Terimakasih!" Danan mengambil minuman dengan warna merah. Entah apa itu.
Ia terus berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya, dan alhasil..
Bruukkk
Mata Danan membulat begitu minumannya kini menumpahi pakaian seorang wanita, dan sialnya tepat mengenai dada wanita itu.
"Astaga maaf, biar saya bersihkan!" Danan refleks mengambil sapu tangan di saku celananya, dan langsung mengelap dada wanita itu.
plaakkk
"Kurang ajar!!!" Shinta berang dengan perlakuan Danan yang sebenarnya tak sengaja itu.
Tentu saja wanita itu menampar Danan. Tangan dengan otot kentara itu dengan kurang ajarnya menyentuh dua benda kenyal milik Shinta.
Dan saat Danan mendongak menatap wajah Shinta yang sudah sangat marah, ia tersenyum " Wow macan!!!!" Danan terhipnotis dengan Shinta yang malam itu benar-benar tampil hot. Ia suka dengan wanita yang bermake-up sedikit kentara. Apalagi bibir merah merona Shinta malam itu, membuat jiwa cassanova Danan bangkit.
Dan ini adalah pertama kalinya bagi seorang Dananjaya, mendapatkan tamparan Dari seorang wanita.
"Kenapa aku senang bertemu dengan wanita ini!" Danan malah terpesona, seraya menatap wanita di depannya itu dengan wajah tersenyum- senyum sendiri, saat Shinta menatapnya dengan tatapan membunuh.
Membuat wanita itu mengira jika Danan adalah orang tak waras.
"Edan kamu ya!!!" Shinta menabrak pundak Danan dengan marahnya. Hingga membuat tubuh pria itu terhuyung.
"Benar- benar macan!"
.
.
.
.
__ADS_1
.