The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 255. Sidak


__ADS_3

Bab 255. Sidak


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Kerja akal membuat naluri percintaan berjalan sebagaimana wajarnya!"


.


.


Andhira


Pukul 02.17


Satu pekan setelahnya, Dhira bersama baby Kalyna diijinkan untuk pulang. Sejauh hasil pemeriksaan satu Minggu ini, bayi Dhira itu menunjukkan tanda-tanda kesehatan yang baik.


Kelenjar ASI miliknya juga lancar, membuat tubuh Kalyna kini mengalami kenaikan berat badan yang signifikan, bayi Dhira dan Abimanyu juga terlihat lebih baik.


"Ibu tidak perlu datang kemari, nanti kamu yang akan datang mengunjungi Bu Dhira!" tukas dokter Septa saat mereka akan pulang beberapa waktu lalu. Membuat Dhira tenang karena tak perlu riwa-riwi ke rumah sakit.


Luka bekas operasi Dhira juga mendapat perawatan terbaik, tentu saja duit lah yang selalu bisa menjadi alasan di balik semua itu.


Seperti malam ini, dengan mata terkantuk-kantuk Abimanyu menemani Dhira di kamar mereka karena tangis Kalyna yang lapar.


" Awas loh mas pelan!" Dhira memperingati suaminya yang meraih tubuh Kalyna dari box bayi khusus di dekat ranjang mereka.


" Iya sayang, aman!" ucapnya sambil menguap. Benar-benar diserang oleh kantuk.


" Aman-aman!" jawab Dhira yang melihat suaminya itu mati-matian menahan kantuk. Meski Abimanyu masih sangat kaku dalam menggendong dan perlu belajar lebih banyak lagi, namun Dhira menerima hal itu. Ia tak mau memakai jasa pengasuh.


" Sabar ya sayang....ck...ck... ini sama Mama, udah mik cucu dulu ya!" Abimanyu menyerahkan Kalyna dengan hati-hati, pria itu selama seminggu ini bak kehilangan taringnya hanya karena kerap terjaga bersama Dhira karena Kalyna yang kerap bangun di jam seperti malam.


Abimanyu duduk di sebelah Dhira yang kini menimang anaknya. Sejenak Abimanyu heran, mengapa istrinya tak merasa lelah sama sekali.


" Mas, bantalnya dong!" ucap Dhira.


" Owh iya!" ia lupa jika Dhira harus mengenakan batal itu saat meng-ASIhi Kalyna.


" Mas, bukan ini. Tapi bantal yang itu!" Dhira menggelengkan kepalanya ketika menyadari Abimanyu yang malah mengambil bantal tidurnya, saat Dhira meminta untuk mengambilkan bayi khusus ibu menyusui.


"Astaga maaf... maaf!" ralat Abimanyu cepat, pria itu benar-benar.


" Makanya melek mas, ini anaknya keburu haus!" ucap Dhira seraya meraih benda bulat yang di berikan oleh Abimanyu dengan sedikit kesal.


" Ngantuk banget Dhir, begini ternyata ya rasanya!" ucap Abimanyu kembali menguap. Tak mengira bila perjuangan orang yang baru memiliki bayi, sama lelahnya ketika membuatnya.


Dengan sigap dan penuh kehati-hatian, Dhira meraih tubuh mungil anaknya. Abimanyu teklak- tekluk ketika Kalyna tengah asik menyambar sumber kehidupan yang tengah ia sedot itu.

__ADS_1


Dhira terkekeh melihat wajah Abimanyu yang ta kuat menahan serangan kantuk. " Mas tidur aja kalau ngantuk!" Dhira mengusap lengan suaminya.


" Hah? enggak lah! kalian siapa yang jaga, aku masih kuat kok!" ucapnya seraya menggelengkan kepalanya agar rasa kantuk itu segera rontok dan enyah.


Tapi ucapan itu justru ngelawus alias bablas begitu saja. Pada menit ke dua usai ia berucap, Abimanyu sudah terlihat meringkuk dengan wajah lelap. Dhira hanya tersenyum. Membiarkan Abimanyu untuk tidur.


Dhira mengusap pipi Kalyna yang mulai gembul, yang tengah asik mengenyot ASi itu. " Papamu tepar nak!" Dhira terkikik geli sendiri.


Ia tak bisa bergerak gesit karena luka di perutnya yang kudu ia jaga. Ia membiarkan Abimanyu untuk tidur, pria itu jelas lelah. Dhira yang tak mau melibatkan peran serta baby sitter itu cukup mengerti akan diri Abimanyu.


Suaminya bukanlah superhero dari golongan the Avengers yang bisa gak tidur berhari-hari tanpa menguap. Apalagi, seharian ia juga berjibaku dengan setumpuk pekerjaan di kantor.


.


.


Sejak memiliki bayi, Dhira setiap pagi sudah tampil cantik. Ia mandi saat hari masih pagi sekali. Agar, ia juga bisa melayani kebutuhan Abimanyu seperti menyiapkan pakaian dan sarapan untuk suaminya.


" Mas, bangun!" ucap Dhira yang kini duduk di tepi ranjang sembari mengusap lembut pipi suaminya.


" Eugghhhhh!" lenguh Abimanyu yang malah meraih tangan Dhira lalu mengusapnya. Pria itu malas untuk bangun.


" Bangun, katanya rapat!" ucap Dhira kembali.


" Jam berapa ini sayang?" pria itu menggeliat lalu bertanya dengan suara parau.


" Jam enam. Bangun, kata mas hari ini Pak Devan izin gak masuk. Mas harus pimpin rapat direksi loh mas!" ucap Dhira mengingatkan.


" Astaga...!" Abimanyu kini bangun dengan mata lebar seratus persen, sejurus kemudian ia duduk seraya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


" Mas jenguk Pak Devan nanti ya, kasihan!" ucap Dhira sambil beranjak dari kasurnya usai berhasil membangunkan suaminya. Sejurus kemudian ia menuju ke box bayi khusus yang memuat tubuh mungil baby Kalyna yang terlihat lelap dengan wajah menggemaskan.


...šŸšŸšŸ...


Pagi ini Abimanyu benar-benar dibuat repot dengan ketidakhadiran Devan. Mulai dari tidak cocoknya dia dengan notula yang diminta Devan untuk menggantikan dirinya, juga banyaknya beberapa orang kepala beberapa Devisi , yang datang terlambat.


" Maaf Pak, tadi saya harus menunggu istri saya selesai dengan anak saya. Anak saya....!"


Abimanyu menatap pria muda yang menjadi kepala Devisi packing, yang sedang tertunduk sungkan itu. Jelas ia menyadari kesalahannya.


" Ssstt, kenapa gak pakai baby sitter?" bisik rekannya, yang menjadi kepala Devisi produksi. Membuat Abimanyu kini paham, mungkin kondisinya hampir sama dengan dirinya saat ini


Secara tak langsung, semua itu langsung menjadi permakluman untuk Abimanyu.


" Anak pertama, Nova gak mau pakai begituan!" bisik orang itu pelan.


" Ehemm!" Abimanyu berdehem, membuat dua orang yang saling berbisik itu terdiam.


Abimanyu sedikit bisa mendengar. Lagi-lagi ia bisa mentolerir hal itu, karena saat ini ia juga merasakan hal yang sama.


" Ya sudah tidak apa, silahkan duduk dan kita mulai saja rapat ini!" tukas Abimanyu. Membuat dua orang tersebut bernapas lega.


Rapat evaluasi para kepala Devisi itu selalu digelar rutin tiap bulannya, guna membahas keluhan masing-masing Devisi. Selain itu, Abimanyu sengaja merombak struktur kepala Devisi agar kinerja mereka lebih optimal. Menaikkan jabatan bagi mereka yang berkompetitif, dan menurunkan jabatan bagi mereka yang kinerjanya flat"

__ADS_1


Yang pasti, Abimanyu selalu obyektif dalam menilai kecakapan masing-masing personal.


.


.


Apartemen Devan


16.47 waktu setempat


Abimanyu


Sore hari ia sudah izin kepada Dhira untuk mengunjungi Devan ke apartemennya. Sebenarnya tidak perlu izin, lawong Dhira sudah memintanya.


" Sayang aku pulang terlambat ya, mau sekalian ke apartemennya Devan. Miss you !"


Ia menyematkan emoticon kecupan mesra pada pesan yang ia kirim, yang ia tujukan kepada Dhira, Kesayangannya.


Ia terperanjat saat seorang wanita yang keluar menyambut dan membukakan pintu untuk dirinya.


" Kamu siapa?" tanya Abimanyu langsung.


" Saya Alexa Pak!" wanita muda itu sopan saat menjawab. Membuat Abimanyu manggut-manggut.


" Devan?" tanyanya memastikan.


" Mas Devan di dalam!" jawab Alexa dengan menganggukan kepalanya hormat.


" Cih, mas. Sialan si Devan! bilangnya keracunan tongkol, kalau begini dia keracunan cucur, bukan tongkol!" mendengus dalam hati.


Abimanyu kira Devan tengah terkapar tak berdaya, bayangan wajah muram pria itu agak mengusik pikiran Abimanyu sejak berada di kantor tadi. Bagiamanapun juga Devan adalah salah satu punggawa yang setia. Wajib hukumnya bagi Abimanyu untuk melihat langsung kondisi pria bujang itu.


Namun, kekhawatirannya rupanya menjadi kesia-siaan. Ia tak mengira bila Devan kini duduk santai di depan televisi, seraya duduk memakan semangkuk sereal plus susu, saat Alexa mengantarkan Abimanyu masuk ke dalam.


Menyadari derap langkah yang kian mendekat, Devan mengira jika itu Alexa.


" Siapa sayang?" ucap Devan dari dalam sembari fokus ke televisi layar datar, yang menunjukkan film kartun dengan nama-nama Hokage sangar sore itu.


" Sudah sehat kamu rupanya Van?"


Suara yang tak asing sukses membuat Devan menoleh dengan keraguan.


Burrrr


Suara semburan sereal itu jelas terdengar di telinga Abimanyu dan Alexa yang kini menatap kedua pria itu tak mengerti.


" Pak?" Devan tersedak sereal yang baru ia siapkan demi melihat kedatangan bos-nya dengan wajah tak terbaca.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2