
Bab 145. You'll be Mine
.
.
.
...ššš...
Oh baby I'll take you to the sky
(Oh sayang Aku akan membawamu ke angkasa)
Forever you and I, you and I
(Untuk selamanya kau dan aku, kau dan aku)
And we'll be together till we die
(Dan kita akan bersama sampai kita mati)
Our love will last forever
(Cinta kita akan bertahan selamanya)
and forever you'll be mine, you'll be mine
(dan selamanya kau akan menjadi milikku, kau akan menjadi milikku)
(Diambil dari lirik lagu Petra Sihombing ~ Mine)
.
.
Nyonya Lisa
Sifat suci manusia akan hilang, seiring dengan hadirnya masalah besar dalam hidup mereka. Adalah Nyonya Lisa, wanita yang sejak muda memiliki hidup yang sarat akan integritas, kehormatan dan pandangan lurus itu, agaknya kurang memiliki sikap tepa selira seperti suaminya.
Doktrin yang ia kecap selama ini, adalah kehormatan harus bersanding dengan kehormatan.
Ia memiliki dua orang anak, kakak Wisang adalah seorang perempuan yang sukses dengan karirnya sebagai desainer kawakan.
Adalah Arimbi, kakak perempuan Wisang itu selama ini menetap di luar negri karena suaminya yang orang asli sana. Mereka hanya memiliki satu orang anak, buah dari cinta mereka.
Merasa selalu di kelilingi oleh orang-orang dengan kasta tinggi dari segi keadaan apik, membuat nyonya Lisa lupa diri akan dirinya yang suatu saat pasti akan membutuhkan anaknya juga.
Ia tahu bila Sekar hanyalah buruh di sebuah kedai sederhana, wanita itu juga hanya menamatkan pendidikan sekuatnya. Tak ada prestasi yang pernah di torehkan selain menyelesaikan pekerjaannya dengan tepat waktu.
" Ma...!" Tuan Wikarna membuka pintu kamar mereka. Ia melihat bahu istrinya yang masih berguncang karena tangisan.
" Kalau papa mau kesini cuma mau bahas itu, mama ogah pa. Papa sama aja sama Wisang!" dengan wajah berderai air mata, nyonya Lisa menatap tajam suaminya.
.
.
Tuan Wikarna
__ADS_1
Pria itu kini tengah berusia hampir 70 tahun, uban juga sudah menghiasi rambutnya. Pria itu masih nampak gagah dan sisa ketampanannya masih terpahat di wajah dengan kulit yang sudah mulai muncul kerutan di sana sini.
Bagaimana tidak, Wisang saja sudah berkepala empat, dan mereka baru memiliki seroang cucu dari anak pertama mereka. Arimbi.
Sebagai orang tua, melihat anaknya mau serius kepada seorang wanita saja, ia sudah bersyukur. Apalagi perempuan yang di bawa putranya tempo hari itu, adalah perempuan yang sangat lugu dan sederhana.
Pria itu sudah banyak makan asam garam kehidupan, ia bisa dengan mudah menyimpulkan seperti apa Sekar. Dan yang paling di garis bawahi oleh tuan Wikarna, perempuan itu bisa membuat Wisang berubah.
Selama ini ia tahu akan gaya hidup yang dianut oleh putranya itu. Mereka sampai ogah-ogahan untuk sekedar mengingatkan karena hanya akan berujung pada adu mulut, yang membuat hubungan orang tua dan anak merenggang.
Dan untuk pertama kalinya, Wisang mau memperkenalkan seorang wanita kepada dirinya. Wanita manis dengan tutur lembut dan sikap yang penuh kehati- hatian.
Ia perlu menemui istirnya saat itu. Namun sambutan istrinya kurang baik.
" Kalau papa mau kesini cuma mau bahas itu, mama ogah pa. Papa sama aja sama Wisang!"
Hembusan nafasnya kini mewakili rasa putus asanya. Istirnya itu benar-benar kepala batu.
" Papa cuma mau bilang, mereka akan tetap menikah sebentar lagi. Tolong mama jangan begini ma, kasihan Wisang. Anak tinggal satu yang dekat sama kita, Arimbi juga udah ikut suaminya. Pulang kemari juga gak musti setahun sekali, mereka semua orang sibuk!"
" Bahkan karena kesibukannya, Arimbi malah jarang ngurus suaminya!"
" Papa setuju dengan gadis itu, karena papa yakin Wisang akan terurus dengan baik. Kita juga gak tahu bernapas sampai kapan ma!"
" Sekar memang bukan dari golongan kita ma, tapi anak kita bahagia sama dia. Mama belum kenal aja sama gadis itu!"
" Wisang udah bener kalau dapat istri yang begitu, bukan istri yang terus sibuk diluar sana kayak yang mama pingin itu!"
Selama tuan Wikarna berucap, nyonya Lisa hanya diam terpekur menatap dinding kamarnya.
" Memangnya papa udah kenal?" sahut Nyonya Lisa dengan ketus.
" Papa emang belum kenal, tapi papa mau mengenal. Ma, seringnya orang yang kurang berada itu malah jauh lebih bisa menghargai orang lain ma!"
" Mereka malah lebih sungkan!" Dan itu benar adanya.
" Jujur papa lelah dengan sikap mama yang begini terus ke anak!"
...ššš...
Hari ini adalah Minggu pertama di bulan April, Bertepatan pula dengan hari pernikahan Sekar dan Wisang. Rasa haru biru nampak mendominasi perasaan Sekar.
Ia yang mematut dirinya di depan cermin itu, seolah tak mengenali dirinya. " Pak, Buk hari ini anakmu akan menjadi seorang istri. Semoga Bapak sama Ibuk disana senang melihat Sekar!" ia bermonolog seorang diri.
Sekar yang kerap di anggap manusia tak memiliki aji itu, seringnya menelan kesedihannya seorang diri. Ia ingat waktu di kampung bahkan tak ada yang mau berteman dengan dirinya, karena dia yang yatim piatu.
Kemiskinan rupanya membuat semua keluarga yang ada, enggan untuk menanggung hidup Sekar. Alhasil dia yang termakan bujuk rayu Wisnu, malah terdampar di kerasnya laju kehidupan di kota.
Kekalahan tak selamanya, dan kemenangan pasti berganti. Dan itu nyata terjadi dalam hidupnya, hari ini ia akan menyudahi masa lajangnya bersama seorang pria dewasa. Pria yang selalu mencurahkan segala kelembutan, dan juga kasih kepadanya. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia dapatkan.
Sekar merasa di sayangi dan terlindungi jika bersama Wisang. Ia tak mengira, ciuman nyasar tempo hari adalah cikal bakal dirinya dan Wisang dalam merajut janji sehidup semati.
" Mbak sudah siap?" tanya MUA yang sedari tadi menunggu Sekar yang izin untuk ke toilet.
.
.
Ya, Wisang melangsungkan pernikahan mereka di gedung hotel eksklusif dengan kapasitas tak terlalu banyak. Sekar sudah mewanti-wanti dirinya agar tidak terlalu berlebih-lebihan. Mengingat mereka menikah juga masih belum mendapat sambutan baik dari Nyonya Lisa.
__ADS_1
Tamu yang hadir juga tak banyak. Disana sudah terlihat Abimanyu yang rempong menggunakan masker, karena belakangan ini Indra penciumannya kerap terganggu. Ia kerap kebauan dan langsung mual.
Abimanyu duduk tenang bersama Dhira, istrinya itu tak menolak saat suaminya yang kini rewel itu menggamit lengannya dengan posesif.
Bastian selaku mantan bos Sekar juga di undang, Danan apalagi, pria itu sudah tebar pesona sedari tadi. Mereka semua gagah dengan jas dan baju resmi. Baju kebanggaan yang secara khusus mereka kenakan, demi menyaksikan pernikahan Wisang dan Sekar.
Rania juga terlihat mengobrol dengan Shinta yang seperti biasa selalu hadir sendiri, karena pekerjaan suaminya yang memerlukan dedikasi yang tinggi dalam bekerja.
Nyonya Regina juga terlibat obrolan dengan orang tua Danan. Meskipun sesekali mereka masih menyangsikan ketidakhadiran Nyonya Lisa dalam pernikahan anaknya.
Meski dengan hati sedih karena mamanya benar-benar tak ada disana, namun kehadiran tuan Wikarna agaknya bisa menjadi sumber kekuatan buat Wisang.
" Kamu ini gak bisa diam apa!" tuan Wikarna memukul paha Wisang yang sedari tadi tak hentinya bergoyang dengan gerakan menjahit bumi. Menandakan jika anaknya itu tengah gusar, grogi dan cemas.
" Deg-degan pa!" sahut Wisang.
" CK, awas jangan malu-maluin kamu. Harus sekali tarikan nafas!" bisik tuan Wikarna.
Hanya keluarga dekat, sahabat karib, juga petugas pencatatan sipil yang berada di ruangan itu.
Sekar cantik degan balutan gaun pengantin yang fit membalut tubuhnya. Lagi-lagi dua gundukan milik Sekar yang terjunjung ke atas itu, kian membuat Wisang gelisah.
Ia tak hentinya menatap Sekar yang sebentar lagi resmi menjadi istrinya itu. Sekar yang tak biasa dengan make up tebal, hari itu seperti menjadi pribadi yang berbeda.
Membuat kesemua yang disana, tersenyum karena pangling.
" Tutup mulutmu itu Wis!" sahut tuan Wikarna yang melihat putranya bengong.
" Papa kayak gak pernah ngerasain jadi pengantin aja. Calon istri Wisang cantik banget pa!" balas Wisang yang menunggu istirnya tiba, entah mengapa jarak yang hanya beberapa meter saja, kini mejadi sangat lama untuk di tempuh.
" Istri kamu masih muda banget, jangan sampai loyo Wis!" bisik tuan Wikarna lagi.
" Aman kalau itu pa. Aku perkasa karena dapat warisan dari papa kan?" anak dan bapak itu kini terkikik, mereka bisa berkelakar karena efek kebahagiaan yang terasa disana.
Sekar duduk di sebelah Wisang, pria itu menatap Sekar seraya menelan ludahnya. " Kamu cantik banget!" bisik Wisang kepada Sekar.
" Mas juga ganteng kalau begitu!" balas Sekar yang menatap Wisang begitu tampan. Tuxedo lengkap dengan jas yang yang membungkus tubuh tegap Wisang dengan eloknya. Rambut klimis yang tersisir rapih kebelakang membuat pria itu benar-benar macho.
Semua yang disana kini tengah bersiap dengan ponsel mereka masing-masing. Tak mau melewatkan momen bersejarah, seorang Wisang kini akan melepas masa kesendiriannya. Karena jelas, ia bukan pria perjaka.
Keperjakaannya pasti sudah lebih dulu terenggut saat ia masih menyandang gelar Cassanova kelas kakap.
Dan saat semua tengah tegang menunggu mulut Wisang yang komat kamit karena mengucap kalimat sakral, Danan menjadi pria yang paling heboh saat mereka semua menutup kalimat itu dengan ucapan....
" Saaaaaaaaahhhh!!!!!!"
Pria itu membuat Shinta menutup telinga yang serasa jebol karena ulah Danan. Rona bahagia terpancar dari kedua mempelai, tuan Wikarna terlihat menyusut sudut matanya yang berair.
Abimanyu dengan Dhira juga tersenyum lega,. para kerabat juga turut bersukacita. Dan Rania yang berada di samping Bastian itu, dengan wajah haru berkata ...
" Seneng banget deh si Sekar akhirnya jadi seorang istri. Aku kapan?"
Dan ucapan Rania barusaja sukses membuat Bastian tersedak ludahnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1