
Bab 86. Menipu Diri
.
.
.
...ššš...
Hingga malam semakin larut
Aku masih tak penat juga
Menegur jalan yang kita tempuh
Sekedar menepis rasa gelisah
Walau diri berhias senyum
Namun hati tak pernah tentram
Dan sering datang p'rasaan lain
Tentang kejujuranmu kepadaku
Setinggi apa kita mampu mendaki
Rasa cinta kasih dan kesungguhan
Namun bila hati jadi terpisah
Beri kepastian agar kulebur semua
Kuakui kesalahanku
Selalu ingin memiliki
Dan engkau pun tak pernah terbuka
Untuk menghalang segala prasangka
( Melly Goeslaw ~ Risau)
.
.
Abimanyu melempar tubuhnya ke sandaran kursi singgasananya. Ia memejamkan matanya sejenak. Ia tak menyangka, bila mantan suami Dhira bisa datang ke tempatnya. Sudah dua dukungan yang ia dapat, namun foto yang di tunjukkan Indra kepadanya tadi, seolah menampar harga dirinya.
Apakah kamu benar-benar tak memiliki rasa setelah apa yang kita lewat Dhir?, kenapa dengan mudahnya kamu menerima lamaran pria itu. Kenapa kamu menipu diri sendiri?
Jika ada istilah yang lebih parah dari seorang pria fakir cinta, Abimanyu lah orangnya. Ia adalah manusia yang pantas menerima serta menyandang predikat itu.
Tok! Tok! Tok!
"Kak Abi?" suara Rania rupanya. Membuat Abimanyu membuka matanya.
__ADS_1
"Masuk" sahut Abimanyu dari dalam.
Rania masuk ke ruangan Abimanyu, kemudian ia duduk di kursi yang berada di meja kebesaran kakaknya itu. " Kak, kau mau kasih kabar besar nih!" Rania memasang wajah lesu.
"Apa?" wajah Abimanyu datar, ia terlihat membenarkan posisi duduknya.
"Kak, kok Mbak Dhira udah lamaran aja. Nih lihat!" Rania rupanya mendapat gambar itu dari Bastian.
"Aku udah tahu!" jawab Abimanyu lempeng.
Rania mengerutkan keningnya," kakak baik- baik aja kan?" adiknya itu terperanjat, mengapa melihat berita besar seperti ini, namun Abimanyu malah bersikap B aja.
"Indra tadi udah kasih tahu aku!" ucap Abimanyu.
Rania membelalakkan matanya," Indra?"
"Indra mantan suaminya mbak Rania?"
Abimanyu mengangguk," memangnya ada berapa Indra yang kita kenal?"
"CK, bukan gitu. Tapi kan Kakak sama dia...." ucapan Rania menggantung.
Abimanyu mengehela nafas," Dia sudah menyadari kesalahannya. Memintaku untuk menjadi ayah sambung Raka. Tapi, jika sudah seperti itu. Aku bisa apa?" Abimanyu tersenyum getir.
Rania hendak menangis, melihat nasib kakaknya yang sungguh ironis. Disaat karir dan pekerjaannya mencapai puncak, namun tak di barengi dengan kisah percintaan yang apik pula.
"Sebelum janur kuning melengkung, masih ada kesempatan kak. Kita semua dukung kakak kok. Aku tahu kalian saling mencintai!" Rania memengangi tangan kakaknya yang kekar berotot itu.
"Let's try one again!"Rania menyemangati.
.
.
Dapur Isun seolah turut menjadi suram, mereka semua bekerja kadang tak fokus. Lantaran melihat owner-nya seperti sedang bersusah hati.
" Bu, ini minum teh dulu!" Sekar sore itu sengaja membuatkan teh melati untuk Dhira. Gadis itu nampak begitu perhatian, dan keakraban diantara mereka makin terjalin erat.
"Terimakasih Sekar!" Dhira tersenyum. Sore itu hujan mengguyur kawasan Silasona. Hujan yang turun kian lebat, membuat Dhira menutup rukonya lebih awal.
"Bu, ibu sudah saya anggap sebagai saudara saya" Sekar sudah hendak mengeluarkan air matanya.
"Ibu jangan begini terus, Ibu kan mau nikah, kok malah begini terus?" Sekar seolah tak rela, bila bos-nya itu bersedih seperti ini.
"Enggak kok, saya baik- baik saja. Mungkin cuma nervous aja." Dhira memaksakan untuk tersenyum.
"Juga cepek karena mengurus ini itu" masih memaksakan untuk tersenyum.
"Bu, saya siap buat denger cerita Ibu. Saya adalah orang yang beruntung karena di pertemukan dengan orang baik seperti ibu. Ijinkan saya untuk membalas kebaikan Ibu, lewat cara seperti ini. " Sekar merasa tertolong dengan kebaikan Dhira, yang mau menerima dia bekerja di Dapur Isun. Ia menjadi menemukan kembali, arti sebuah keluarga.
Mata Dhira memanas, ia memang benar-benar butuh sandaran saat ini. Ia tak menyangka, bila Sekar sangat perhatian kepadanya.
"Sinta dimana?" tanya Dhira.
"Mbak Shinta baru aja pulang Bu" Ya, kini Shinta sudah seperti orang mereka sendiri.
"Saya mau istirahat dulu, badan saya rasanya gak enak. Terimakasih tehnya ya" ucap Dhira seraya tersenyum. Ia hanya tak ingin Sekar turut larut dalam kegundahannya. Ia memilih menyimpan kepedihan serta kesedihan, di dalam hatinya.
__ADS_1
Bolak balik mengurus urusan untuk pencatatan pernikahan membuat dia kelelahan, badan lemas dan sering berkunang-kunang. Tak ayal, ia menjadi lesu dan tak bersemangat.
Kandung kemihnya penuh, ia menuju kamar mandi untuk mengosongkan isi kemihnya. Namun saat celana bagian dalam itu melorot, ia bernafas lega. Kekhawatirannya selama ini tak terbukti. Ada bercak merah yang ia yakini, bila itu adalah awal dari periode bulanannya.
"Huft!" Dhira merasa lega. Ia cepat- cepat membersihkan dirinya, untuk kemudian mengganti CD nya juga memasang pembalut. Ia sempat tertegun menghadap cermin di kamar mandinya, bayangan Abimanyu yang mencumbui dirinya tiba- tiba melintas, dadanya masih berdesir kala mengingat hal itu. Dan secara tak langsung, ia merindukan pria itu. Entah mengapa, ia ingin sekali bertemu. Tapi ia tak ingin semuanya sia-sia. Ia sudah memantapkan hati, bila membuat hati ibunya senang sekaligus tenang, adalah opsi nya saat ini.
ššš
Pak Joko
Pikirannya diliputi ketidaktenangan semenjak ia tahu wajah mantan mertua anaknya. Ya, selama Dhira menjadi menantunya dulu, ia sama sekali tak pernah melihat siapa orang tua Dhira. Hal itu wajar, karena Bu Kartika memang tak mau lagi berhubungan dengan Dhira, bila dia nekat menikah dengan Dhira.
Membuat hubungan ibu dan anak itu, terputus total.
Dhira saat itu tak tahu alasan mengapa ibunya kekeuh melarangnya, usia muda dan gelora cinta yang membara, mendominasi dirinya untuk lebih memilih Indra. Baginya, saat itu Indra adalah dunianya.
Pak Joko adalah mertua yang baik, sekalipun ia tahu bila Dhira tak mengantongi restu, namun sebisa mungkin ia dan Bu Novi tak menyinggung akan hal itu. Salah satu caranya adalah dengan sering mengunjungi mereka, sewaktu masih menjalin rumah tangga dengan Indra.
Prinsip yang di pegang oleh pak Joko adalah, kebahagiaan itu diri kita sendiri yang menciptakan. Tugasnya sebagai orang tua hanya memberikan restu, atas pilihan anaknya.
Malam usai ia melihat foto di ponsel cucunya, ia menjadi kian tidak tenang. Apalagi, mendengar cerita bila Dhira dijodohkan oleh orang lain, sementara menurutnya cerita yang berkembang, Dhira tengah menjalin kedekatan dengan Abimanyu.
Ada sebuah hati yang tersakiti, ada sebuah jiwa yang memaksakan diri, ada seroang anak yang meratap, ada kecemasan melandai. Semua hal itu, adalah hasil dari keegoisan seroang mantan besannya. Bu Kartika.
Hari itu, ia memantapkan hati, untuk menemui mantan besannya itu. Ia telah gagal mendidik anaknya untuk menjadi suami yang baik bagi Dhira. Berangkat dari itu, pak Joko merasa ia harus bisa mengembalikan kebahagiaan Andhira. Dia adalah wanita yang baik, tak sepantasnya terus-terusan menerima kediktatoran ibunya.
Dan mau tak mau, ia sepertinya harus membereskan kepingan masa lalu, yang rupanya masih berserakan. Meskipun sudah berpuluh-puluh tahun lamanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hay Readers ku tersayang. Mommy janji hari ini akan update banyak. Maaf ya, semalam rempong dirumah šš. Jadi gak up banyak.
Insyaallah hari ini udah lebih free.
Jangan lupa like ya.
Terimakasih yang selalu dukung Author receh ini. Mommy sayang kalian semua.
__ADS_1
Big hug
Mommy Eng š¤š¤š¤š¤