
Bab 251.Welcome to the world my Princess
.
.
.
...ššš...
" Mencintaimu seratus ribuan tahun adalah inginku!"
.
.
Devan
Ia tengah bersama Alexa di jam menjelang siang itu. Sengaja meninggalkan kantor mumpung Abimanyu berhalangan hadir karena menghadiri pernikahan mantan suami Istrinya. Terdengar aneh. Namun lebih anehnya, itu merupakan suatu kenyataan.
" Maaf ya Al, aku jarang bisa ada waktu buat kamu. Tapi, aku janji nanti kalau kamu bisa cuti, aku bakal ngajak kamu liburan!"
Rayuan maut bahkan gombalan apapun, membuat gadis dengan kulit sawo matang nan eksotis itu, sungguh senang. Devan adalah pria yang menyenangkan pikir Alexa. Dimata gadis berusia sama dengan Sekar itu, Devan merupakan sosok yang jenaka.
Padahal, dalam sekejap ia bisa bermetamorfosal menjadi apapun sesuai kebutuhan. Menjadi pria Badas yang jago mengokang senjatanya, juga pasti oye.
" Iya, aku ngerti kok kalau mas Devan sibuk!" Alexa sebenarnya grogi dengan pria yang jelas memiliki kantong tebal itu. Kadang ia masih tak percaya, bila pria sekelas Devan, mau dekat dengan gadis biasa macam Alexa.
Mereka berdua saling menatap, Devan nanar menatap bibir Alexa yang begitu menggoda. Ia bukanlah pria ingusan yang membiarkan sebuah pertemuan hanya diisi oleh obrolan ngalor-ngidul yang tak jelas.
Devan mendekatkan wajahnya ke wajah Alexa saat mereka sama-sama terdiam. Gadis itu hendak memejamkan matanya saat hidung Devan sudah hampir menyentuh hidungnya. Ia tahu bila Devan hendak menciumnya.
Namun sejurus kemudian...
š¶ " I Miss you but i hate you, my girl, I Miss you but i hate you my girl"
Ruangan suara Kaka Slank membuat keduanya kikuk. Bagaimana tidak, mereka sudah hampir saja berciuman namun gagal karena interupsi dari deringan ponsel milik Devan.
" Sial!!" Devan menggerutu dalam hati seraya merogoh ponsel di saku celananya. Sementara Alexa terlihat menyurai rambutnya ke telinganya, sembari menelan ludah.
Matanya membulat begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Panggilan alam dari manusia dengan lencana tukang ganggu kelas tinggi itu, sukses membuat Devan meneguk ludahnya gugup
" Hal..."
"Van, dimana kamu? cepat kerumah sakit, saya lagi perlu kamu!"
Tut
As usual ( seperti biasa), pria itu tak pernah sekalipun membuat Devan tidak kesal.
Ucapan pria itu terdengar bukan seperti sebuah pertanyaan, namun cenderung seperti titah yang harus segera di jalankan.
Tanpa penundaan apalagi penjedaan.
" Pak Bos?" tanya Alexa saat wajah Devan muram.
Devan mengangguk " Maaf ya, aku diminta kerumah sakit, gak tahu kenapa" Devan bermuram durja saat ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.
Alexa tersenyum, " Ya udah. Mas kesana dulu aja, nanti malam aja kita jalan!"
Devan tersenyum. Selain pribadi yang sederhana namun menyenangkan, Alexa merupakan wanita yang begitu pengertian.
" Baiklah, aku pergi dulu ya. See you!" Devan mengecup bibir Alexa sekilas dengan penuh kebahagiaan. Ia senang karena Alexa tak seperti beberapa wanita yang pernah ia kencani dulu, yang kerap bersikap posesif dan tak mau mengerti akan posisi Devan. Membuat pria itu rawan untuk di selingkuhi, karena jarang bisa meluangkan waktu untuk para ladies.
.
.
Usai memarkirkan mobilnya di basemant rumah sakit terbesar itu, Devan dengan langkah cepat menuju meja resepsionis.
" Atas nama Pak Abimanyu!" ucap Devan kepada petugas Sedaya mengetuk-ngetukan jarinya ke atas meja.
" Mohon di tunggu ya Pak, akan saya cek!" tukas wanita dengan seragam putih bersih itu.
Devan malas menghubungi Abimanyu. Malas kena damprat. Membuat pria itu menggunakan birokrasi kunjungan standar manusia lumrah.
__ADS_1
" Mungkin yang anda maksud Nyonya Andhira Abimanyu Pak. Beliau berada di ruangan dokter Septa. Dan akan segera menjalani proses persalinan!"
" Hah?" Devan terkejut demi mendengar penuturan petugas itu. Pantas saja bosnya tadi terlihat cemas dan terburu-buru. Rupanya bukan Abimanyu yang saat, melainkan Nyonya besarnya.
Usai mendapat informasi terkait letak dan tempat yang dihuni Dhira. Devan melesat menuju poli kandungan VIP yang berada di lantai sepuluh.
" Permisi, anda..." Ucap dokter Septa yang melihat Devan berlari. Ruangan disana tak mengijinkan sembarang orang bisa masuk. Hanya orang-orang tertentu saja.
" Saya sekretaris Pak Abimanyu mau ke ruangan Bu Dhira!" sahut Devan cepat. Pria itu turut menjadi pias. Seingat dia, Abimanyu pernah berkata bila bila depan istrinya baru akan melahirkan. Jelas terlah terjadi sesuatu pikirnya.
" Kalau begitu mohon ini di bawa ya Pak, saya mau mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu. Ini harus segera di tanda tangani!"
Usai membaca sekilas isi surat itu, kini Devan sudah tahu tugasnya. Rupanya istri bosnya itu akan menjalani persalinan melalui operasi Caesar lantaran kelahiran anak mereka yang bisa di katakan prematur, meski usia kandungannya telah menginjak 35 Minggu.
Melihat wajah dokter Septa yang serius, membuat Deva turut tersugesti menjadi terburu-buru. Pria itu langsung melesat menuju ruangan Dhira.
" Pak, dokter mint...!" ucapannya menguap tak berguna saat melihat Abimanyu yang tengah menunduk, dan jelas bisa ia simpulkan bila bos-nya itu tengah enak-enak.
" Van!" Suara Abimanyu terlihat meradang.
"Sial!" umpatnya dalam hati karena jelas ia akan mendapatkan masalah.
.
.
" Apa kamu gak bisa ketuk pintu dulu!" Abimanyu mendengus. Dan kini mereka berdua tengah berada di luar.
Ia tak mau memarahi Devan di depan istrinya. Jelas ia ingat betul bila Devan merupakan sekutu Dhira. Antek diatas segala antek.
" Ma-maf Pak, tadi saya terburu-buru!" Devan menunduk. Mana mungkin berani melawan.
" Sini!" Abimanyu menyahut lembaran yang menerangkan persetujuan pihak Pasien, lalu langsung membubuhkan tandatangan ke atas kertas bermaterai itu.
" Pergi dan carikan saya baju ganti Van!" ucapnya sembari menyerahkan selembar surat kepada Devan.
.
.
Rupanya, prosedur yang harus di lalui Dhira adalah berpuasa selama enam jam, sebelum ia akan menjalani operasi. Dan dalam kurun waktu tersebut, Abimanyu telah berhasil menghubungi semua keluarganya beserta para sahabatnya.
Kini Raka juga sudah terlihat berada di rumah sakit, " Papa..adiknya udah lahir Pa?" tanya Raka yang datang bersama Nanang.
" Raka!! belum sayang, masih nunggu tiga jam lagi!" sahutnya sembari mengusap rambut Raka.
" Aku mau lihat mama dulu!" ucap Raka yang terlihat harap- harap cemas, karena mengetahui mamanya akan menjalani operasi.
Matahari sedang tinggi-tingginya, jam saat itu tengah menunjukkan pukul satu siang. Di perkirakan Dhira akan menjalani operasi sekitar pukul tiga sore.
" Mama!" Raka datang sembari berdiri memegang tangan mamanya yang sudah terpasang jarum infus.
" Raka! kamu kesini sama siapa nak?" ucap Dhira.
" Sama mas Nanang, tadi kakung sama itu bilang nyusul nanti. Mama gak apa-apa kan?" bocah itu jelas turut cemas.
" Doakan mama sama adek sehat ya, lancar operasinya!"
Abimanyu tersenyum melihat Raka yang benar-benar mencemaskan mamanya. " Udah ada nama buat adek belum?" tanya Abimanyu turut bergabung dengan Dhira dan Raka.
" Belum tahu cowo apa cewe pa!" ucap Raka polos.
" Berarti harus ada spare dua-duanya dong?" Abimanyu mencoba membuat Dhira tak terlalu panik meski ia sendiri merasakan dag dig dug der dalam hatinya.
Raka tersenyum penuh arti saat menatap Abimanyu.
.
.
Ruang operasi pukul tiga sore
Raka menunggu diluar bersama Nanang, Yuni dan juga Rania beserta Nyonya Regina serta Jodhi yang juga sudah hadir sejak pukul dua tadi.
Kini, tim dokter Septa yang terdiri dokter bedah, perawat spesialis persalinan, assiten dokter yang bertugas memperhatikan tabel instrumen peralatan seperti kain kasa, gunting, jarum jahitan dan lain sebagainya telah berada di ruang operasi.
__ADS_1
Terlihat juga ahli anastesi, serta ahli neonatologi, yang bertugas untuk mengurusi bayi baru lahir yang beresiko tinggi turut berada di ruangan itu.
Pada banyak kasus, operasi caesar dilakukan dengan jenis bius epidural atau anestesi spinal di mana ibu dapat tetap sadar selama menjalani proses operasi. Termasuk Dhira.
Abimanyu juga sudah mengganti bajunya dengan pakaian standard rumah sakit. Mengenakan penutup kepala juga masker.
Dhira juga sudah menjalani serangkaian pemeriksaan, antara lain pemeriksaan darah. Hal itu dilakukan agar dokter dapat mengetahui kadar hemoglobin serta golongan darah Dhira, guna persiapan transfusi apabila dibutuhkan.
Semua benar-benar di persiapkan dengan cara terbaik untuk istri dari direktur utama Delta Group itu.
Abimanyu benar-benar seperti uji nyali saat melihat Dhira yang kini berbaring usai diberikan suntikan anastesi, dengan posisi kepala yang sedikit di naikan.
Suntikan yang jelas terasa luar biasa sakit.
" Pak, anda bisa mengajak Bu Dhira ngobrol ya. Berikan dukungan terbaik!" ucap dokter Septa.
" Rileks saja!"
" Bu Dhira masih dalam keadaan terjaga, hanya bagian bawahnya saja yang sudah kami berikan anastesi!"
Penuturan dokter itu kini membuat Abimanyu paham. " Baik dokter!"
Ruangan itu terlihat mencekam, apalagi raut wajah dari semua orang yang ada disana semua juga terlihat serius.
" Sayang aku deg-degan!" Abimanyu mengatakan sebuah kejujuran. Tangannya bahkan gemetar.
" Mas lihat, biar tahu perjuangan seorang ibu!" titah Dhira kepada Abimanyu, agar pria itu mau mengintip sejenak kegiatan dokter itu.
Abimanyu bisa melihat perut Dhira yang sudah mulai di sayat. Sayatan horizontal sepanjang 20 centimeter itu membuat Abimanyu meringis ngeri.
" Apa tidak terasa sakit?" Abimanyu ngeri melihat apa yang ia lihat barusan. Menjadi wanita benar-benar tak mudah.
Dhira menggeleng " kan sudah di anastesi mas!" Dhira tak bisa melihat proses itu lantaran tertutup oleh bentangan kain biru, yang menghalau pandangannya.
" Maksih banyak sayang, kamu sudah berkorban sejauh ini!" Abimanyu menghujani wajah Dhira dengan ciuman. Kini ia paham betul arti kekeramatan seorang ibu.
Dokter terlihat saling berkolaborasi dengan para ahli yang ada disana, terlihat serius di bawa sorotan lampu terang yang menyuluh tindakan mereka.
" Mas!" ucap Dhira yang merasakan perutnya seperti di tarik saat bayi itu kini terangkat oleh tangan dokter Septa.
Detik itu juga, pandangan Abimanyu berpusat kepada seorang bayi perempuan yang baru diangkat dari perut Dhira yang tersayat itu. Beberapa detik kemudian bayi itu menangis saat dokter sudah berhasil mengeluarkan buah cinta Abimanyu dan Dhira yang berukuran kecil itu.
" Welcome to the world my Princess!" Abimanyu seketika berucap dalam batinnya seraya menitikan air mata.
" Makasih sayang, makasih untuk semua!" Abimanyu terlihat menangis saat itu juga, ia mengeluarkan air mata kebahagiaan begitu bayi dengan ukuran kecil itu kini telah berada di dunia.
Tak mengira kini ia benar-benar bisa menjadi lelaki seutuhnya yang bisa memberikan Dhira seorang putri. Di usia mereka yang matang, diiringi perjuangan yang melelahkan, akhirnya semua kebahagiaan ini nyata tersaji di hadapan mereka.
Dokter terlihat membersihkan bayi itu dari lumuran darah dan air ketuban. Sejurus kemudian mereka ingin memperlihatkan bayi mungil itu kepada ibunya, sebelum akan di letakkan di tempat khusus.
Dhira menangis haru begitu dokter Septa memperlihatkan bayi perempuan dengan bobot berkisar 1,5 kg itu kepada Dhira. Dhira merasakan kebahagiaan yang tak terkira, meski anaknya itu terlahir prematur.
"Selamat Bu Dhira, cantik seperti anda Bu!" Dokter Septa bahkan turut menitikan air matanya. Ia terharu karena di usia Dhira yang sudah sangat matang itu, masih bisa berjuang melahirkan bayi perempuan cantik.
" Selamat datang di dunia putriku!" ucap Dhira dengan suara bergetar sembari menatap bayi mungil dengan berat kurang dari dua kilo itu.
.
.
.
.
.
.
Halo Readers ku sekalian. Maafin author telat dan slow ya dalam update nya ya.
Sesungguhnya author lagi kurang enak body hai ini. Tapi entah kenapa, sudah seperti ada ikatan batin. Author rindu dengan kalian.
Rindu komentar yang bikin semangat. Jaga kesehatan semua ya,.lagi musim tajuk #Indonesia_Nggregesi š
Peluk cium dari author
__ADS_1
Mommy Eng š¤š¤š¤