The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 206. A Reality


__ADS_3

Bab 206. A Reality


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Andaikan saja aku tahu, kau tak hadirkan cintamu. Ingin ku melepas mu dengan pelukan"


( Diambil dari lirik lagu Ipang Lazuardi ~ Tentang Cinta)


.


.


Wisang sore itu tak bersemangat. Ia mengendurkan dasinya usai melempar tubuhnya ke sofa ruang tengah apartemennya. Memejamkan matanya sejenak.


Pria yang juga memiliki usaha beberapa pabrik pengalengan ikan itu kini tengah resah. Namun bukan persolan pekerjaannya.


" Kenapa mas?" Sekar yang bersuara lembut datang dengan membawa secangkir kopi menghampiri suaminya sore itu. Kebiasaan rutin semenjak menjadi istri.


" Maaf sayang, aku belum bisa buat mama terima kamu!" Wisang menatap istrinya melas.


Lain lubang lain sarang, lain orang lain persoalan. Wisang semenjak dari rumah orang tuanya tempo hari sungguh gelisah. Ia kasihan dengan Sekar. Benarkah bila wanita yang melahirkannya itu yang keterlaluan, ataukah dirinya yang tak becus untuk sekedar mempersatukan mertua dan menantu.


" Aku gak apa- apa mas. Cuman pesanku, jangan karena aku kamu jadi jarang kesana. Jangan sampai hubungan mas sama Mama terputus karena aku!"


Wisang memandang wajah Sekar muram. Ia tak kurang memberikan nafkah lahir maupun batin, namun sebagai pria yang masih memiliki dua orang tua yang lengkap, ia juga ingin merasakan indahnya keharmonisan antara anak dan orang tua, menantu dan mertua.


.


.


" Malam sayang!" Abimanyu mengusap puncak kepala Raka dengan lembut. Penuh kasih sayang.


" Malam Pa!" sahutnya dengan senyum simpul. Perangai Raka makin besar memang tidak seramai Jodhi. Anak sulung Dhira itu lebih ke talk less do more.


" Nah ini rawon kesukaan kakak!" ucap Dhira kini mulai membiasakan nama panggilan untuk Raka yang sebentar lagi memiliki seorang adik.


Istri Abimanyu itu memasak rawon dengan tangannya sendiri. Yuni hanya membantu seperlunya saja.


Mata anak itu berbinar, ia memang suka sekali dengan masakan kuah pekat dengan isi daging sapi itu. Rasa autentik yang tiada bandingan, menjadi menu favorit sedari kecil.


" Cambahnya banyakin ma, sama sambal!" ucap Raka antusias.


" Nih kerupuknya juga!" Dhira mengangsurkan setoples kerupuk udang kesukaan anak itu.


Abimanyu tersenyum, ia bahagia sekali dengan hidupnya saat ini. Apalagi, sikap Raka yang menurun seperti Dhira, membuatnya begitu menyayangi anak itu lebih dari sekedar anak sambung.


" Jangan pedas-pedas nanti sakit perut!" ucap Abimanyu yang berada di singgasananya malam itu. Tak mau jika Raka sampai mengalami sakit.


" Aman pa, aku minum antasida tiap habis makan pedas!" tukas Raka mantap.

__ADS_1


Mereka makan dengan penuh khidmat, terasa happy dengan kebersamaan mereka.


" Sekolah gimana Ka?" Abimanyu kini mengobrol usai makannya rampung. Pria itu selalu mencoba membangun hubungan sedekat mungkin.


" Lancar Pa, volly juga!"


Abimanyu sejenak menatap Raka. Lekat dan seolah akan mengatakan sesuatu.


" Kenapa Pa? kok lihat Raka begitu?"


Abimanyu tersenyum," Papa boleh enggak minta satu hal sama Raka?"


Anak itu terdiam " Apa itu?" sahutnya kemudian.


Abimanyu menyatukan tangannya ke atas meja. Memandang Raka lekas. Seolah menjadi penegas bila ia sedang ingin berbicara serius.


" Kamu anak pertama Papa, jangan pernah membedakan papa ini papa kandung kamu atau bukan!"


Raka masih tertegun mendengar kata demi kata yang keluar dari mulut Abimanyu.


"Papa ingin kamu sekolah yang bener, terus kuliah yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan Papa. Papa berharap kamu nanti bisa nerusin perusahaannya Papa!"


Kalau ada yang bilang terlalu dini dalam membahas persoalan itu, mengingat Raka masih mengeyam pendidikan di bangku sekolah menengah pertama ,tapi bagi Abimanyu hal seperti itu memang harus di tanamkan sejak dini.


Dhira terdiam memandangi raut wajah putranya yang mendadak berubah namun tak di sadari oleh Abimanyu.


" Apa Raka bisa bantu papa dengan berjanji?" Abimanyu menatap putranya itu.


Raka terisak sejenak, sejurus kemudian ia mengangguk. Dhira tahu ada sesuatu yang di tahan Raka. Tapi putranya itu luar biasa hebat dalam mengatur suasana hatinya.


.


.


Angin malam itu seolah menusuk lengan kurus Raka.


Ucapan Abimanyu terngiang. Ia sebenarnya memiliki passion di bidang bola voli. Tapi, mengapa Abimanyu memintanya untuk berfikir tentang entrepreneurship?


Terdengar suara pintu yang mengayun lalu terbuka. Dhira rupanya menyusul ke kamar Raka. Kebiasaan wanita itu sebelum anaknya tidur.


" Kok belum tidur?" Dhira mendatangi Raka yang melipat kakinya sambil duduk menghadap ke cahaya rembulan yang berbetuk sabit malam itu.


" Belum ma!" Raka mencoba tersenyum.


" Ada apa, hm?" Dhira adalah ibunya, tentu saja ia tahu apa yang terjadi dengan putranya.


" Apa ucapan papa tadi mengganggu Raka?" Dhira mengelus rambut anaknya dengan lembut.


Raka hanya tersenyum. Ia tak berani untuk mengecewakan Abimanyu. Jika harus menuruti papanya, itu berarti dia akan kuliah tentang bisnis dan manajemen di universitas yang pasti menurutnya membosankan. Sementara dirinya berjiwa sport sejak kecil.


" Papa bicara begitu, karena benar- benar menganggap Raka bagian hidup Papa!"


Raka tercenung.


" Raka pintar, dan Papa bisa lihat kalau Raka anak baik!" imbuh Dhira.

__ADS_1


" Memang masih jauh, tapi Papa benar-benar memikirkan masa depan Raka dengan teliti!" Dhira mencobanya memberikan pengertian kepada bocah itu.


Entahlah , Raka hanya tidak ingin mengecewakan siapapun saat suasana serta situasi hidupnya tengah baik- baiknya seperti saat ini. Ia hanya ingin Mamanya juga Papa Indra tetap bahagia meski di jalur masing-masing.


Karena sampai kapanpun, mereka berdua adalah asal muasal Raka. Mereka orang tua yang wajib merasakan bakti Raka suatu saat.


Dan untuk Abimanyu, malaikat tak bersayap itu juga adalah salah satu daftar orang yang tak boleh ia kecewakan. Lantas bagiamana dengan passionnya?


...šŸšŸšŸ...


Shinta hari itu membersihkan kamarnya yang cukup berantakan. Sedari pagi berjibaku dengan tumpukan pakaian miliknya yang sudah waktunya pekir. Ia mulai menata kembali baju-bajunya, serta beberapa perkakas mendiang suaminya yang kini ia simpan dengan rapi.


Waktu memang sebaik-baiknya penyembuh luka dan kesedihan. Meski di dalam hatinya, nama Rangga tidak akan pernah hilang.


Ia membongkar semua baju-baju Rangga dan hanya menyisakan beberapa potong baju sebagi obat rindu yang sengaja ia biarkan tetap berada di lemari gantung.


Namun saat ia membongkar tumpukan baju paling bawah, ia tak senagaja menjatuhkan sebuah map.


" Apa ini?" Shinta mengambil map itu usai menaruh beberapa tumpuk baju yang hendak ia bereskan.


" Mas Rangga kan dulu pernah nyari ini. Gini nih kalau barang lagi di butuhkan nyarinya susah banget. Eh pas gak butuh, malah nongol!"


Shinta ingat beberapa bulan sebelum mereka kecelakaan, Rangga sempat mencari rekam medis hasil pemeriksaan reproduksi mereka berdua.


Shinta kerap percaya diri karena menurut analisa dan diagnosa dokter yang notabene adalah sahabat Rangga, menerangkan bila mereka berdua memiliki reproduksi yang sehat.


Map itu adalah map rekam medis milik Rangga yang beberapa tahun yang lalu sempat ia baca. Dan entah mengapa, suaminya mendadak bingung dan seperti mencari sesuatu.


Shinta ingat, waktu itu Rangga yang menyimpannya. Namun hingga membuat rumah mereka berserakan, map itu tak ketemu juga.


" Hemm...kayaknya bajuku ini mending aku pak aja deh. Aku sumbangin aja kali ya?" Shinta sudah berangsur ke mode normal dirinya yang sebenarnya energik.


Dan saat ia membongkar semua lemari itu, tanpa sengaja ada sebuah kertas yang tersangkut diantara tumpukan baju paling bawah. Baju yang sudah sangat lama sekali jarang mereka gunakan. Bahkan mungkin, jika Rangga tak meninggal mungkin Shinta tidak akan pernah membongkar isi lemarinya.


Dengan dahi berkerut ia memungut secarik kertas yang nampak sudah menguning di bagian pinggirnya. Mungkin saking lamanya tersimpan dan menjadi lembab.


" Apalagi nih, kayaknya aku memang sudah lama tidak berberes!" gumamnya seraya lekas membuka lipatan kertas simetris itu.


Mata Shinta membulat begitu mengetahui isi surat itu juga adalah sebuah data rekam medis milik mendiang suaminya.


Tapi mengapa ini beda.


Dengan tubuh bergetar dan jantung yang berdetak cepat, wanita itu membaca sebuah kenyataan yang bahkan selama ini tidak ia ketahui.


Shinta menangis demi melihat isi kertas itu. Batinnya nelangsa secara mendadak, Shinta menangis begitu mengetahui kenyataan yang di idap oleh mendiang Rangga.


" Mas Rangga kenapa kamu sembunyikan semua ini dari aku mas?" wanita itu menggeleng lemah, frustasi dan menangis. Menyesalkan semua ini seorang diri.


Shinta tak percaya akan hal itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2