The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 62. Bertemu Pesaing


__ADS_3

Bab 62. Bertemu Pesaing


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Kau hancurkan aku dengan sikapmu, tak sadarkah kau telah menyakitiku?"


( Diambil dari lirik lagu D'Masiv ~ Cinta ini Membunuhku)


Gwen sudah menaiki taksinya menuju perusahaan. Nampaknya membuat anggota rumah besar itu untuk kembali menyukai dirinya memang tak mudah, tapi demi Calista tentu ia harus kuat setegar karang.


"Kita mau kemana ma?" Bocah perempuan itu diajak mengunjungi Abimanyu.


"Kita ke kantor papa ya, kita ajak papa jalan jalan. Tapi kita tunggu di kantor dulu!" Gwen ingin mengajak Abimanyu, ia merasa bosan dirumah.


Gwen tak jadi membawakan makan siang untuk Abimanyu, adu mulut ringan tadi rupanya cukup mengikis waktunya. Ia mengajak serta Calista yang masih belum ia daftarkan sekolah.


Mereka sampai setelah memakan waktu selama 1 jam, kota selalu saja sarat dengan macet.


Tiara selaku resepsionis berdiri tatkala ada seorang wanita yang mengarah ke mejanya, dengan sigap dan ramah ia mengimplementasikan pelajaran greeting yang sempat ia pelajari saat menerima tamu. Menjadi SOP yang mandatori dilakukan.


"Selamat siang Ibu, ada yang bisa kami bantu?"


Gwen membernarkan posisi berdirinya, ia ingin terlihat baik sekali. " Bapak apa?"


"Mohon maaf Ibu ingin bertemu dengan siapa?"


"Saya ingin ketemu Bapak Direktur, saya istrinya!"


Bagai petir di siang bolong, Tiara terkejut dan tanpa sengaja memindai tampilan Gwen yang terlihat Hedon itu. Tapi, selama dia bekerja disana, dia tidak pernah tau tentang istri Abimanyu.


Menyadari Tiara yang malah mematung, Gwen membuyarkan lamunan wanita dengan seragam warna buluh kera itu," Kamu dengar tidak!"


"D-dengar Bu!" ia tergagap.


Segera menekan tombol ekstensi yang tersambung kepada Devan.


Ya Tir, ada apa?


"Pak, Istrinya pak Abimanyu mau bertemu!"


Istrinya?


Saya kesana, kamu diam disitu


.


.


Devan


Ia baru saja selesai ke sebuah mengikuti rapat bersama para Direksi di perusahaan itu. Termasuk juga sudah menyerahkan obat tikus gila kepada Bos-nya yang kadang aneh itu.


Namun baru saja hendak istirahat, telepon ekstensi di mejanya itu berbunyi. Apa lagi ini, Tiara mengindikasikan jika ada wanita yang mengaku istrinya Abimanyu datang ke perusahaan.


Dengan langkah malas, ia turun ke lantai dasar. Dan betapa terkejutnya, ia melihat Gwen benar-benar ada disana. Ia memang terlibat dalam acara ulang tahun Nyonya Regina tempo hari. Tapi saat Gwen datang ia sudah tidak berada di tempat. Tentu saja setelah mengantongi izin dari Abimanyu.


"Nyonya!" Ia hanya tahu wanita itu dari foto yang pernah tersimpan di laci meja Abimanyu, tak sengaja melihatnya sewaktu membersihkan meja bosnya itu.


"Kamu siapa?" Gwen menatap angkuh pria itu.

__ADS_1


"Perkenalkan saya Devan, saya assisten Tuan Abimanyu" Devan hormat secara formalitas, ia membatin jika wanita di depannya ini sungguh somse, alias sombong sekali. Sejurus kemudian ia menatap bocah perempuan yang mengenakan baju warna pink.


"Saya Istrinya Abimanyu!"


"Saya mau ketemu sama suami saya!"


"Maaf Nyonya, Tuan baru saja pergi!" ucap Devan masih dengan sopan.


"Kemana??"


"Emmm..." Devan bingung, ia tahu bila bos-nya itu sedang ke Dapur Isun. Ia menjadi ragu, apa memberi tahu apa tidak. Mengingat sepertinya bos-nya itu akan menemui janda itu, tapi kalau dia tidak jujur takutnya ada hal penting.


Duh bos, kenapa selalu membuat saya repot begini. Oh astaga,apa gaji yang aku dapat adalah termasuk untuk melakukan hal ini.


"Cepat katakan!" Gwen nampaknya lebih menyeramkan dari bayangan Devan, pria dingin itu bahkan sempat terhenyak. Tiara bahkan sedari tadi memandang mereka dengan mengeratkan giginya.


"Ke Dapur Isun Nyonya!"


...šŸµļøšŸµļøšŸµļø...


Dhira terkejut saat Abimanyu siang itu berada di rukonya, untuk apa pria itu datang kemari pikirannya.


"Aku cuma bentar, mau ngantar ini!" Abimanyu memberikan se kardus obat untuk mengusir tikus. Sebuah semprotan berisi cairan misterius untuk membuat hewan pengerat itu jera karena telah menyatroni kamar Dhira.


Dhira membulatkan matanya, tak mengira Abimanyu akan seheboh ini hanya karena tikus.


"Cari saja rekan kerja lagi buat bantu- bantu di dapur, kalau kamu perlu biar Devan yang kasih rekomendasi orangnya nanti!"


Untungnya Abimanyu memang tak membahas perhelatan panas mereka tadi, membuat Dhira tak terlalu canggung. Mereka tengah mengobrol di ruang tamu yang berada di samping. Karena rolling door ruko masih Dhira tutup.


Saat masih sibuk dengan pikiran masing-masing, terdengar suara mobil yang masuk ke area ruko.


Siapa itu?


Dhira membatin, turut memanjangkan lehernya. Ia merasa tak mengenali mobil putih yang baru saja terparkir di depan rukonya.


Namun saat ia berdiri hendak membuka pintu ruangan itu, ia terkejut melihat wanita yang notabene adalah istri Abimanyu.


.


.


Usai rapat ia berniat ingin menemui Andhira, sebenarnya sekardus penuh berisi botol- botol obat tikus itu hanyalah alibinya saja. Ia ingin bertemu dengan Dhira siang itu.


Alih-alih ingin bersikap hangat, ia malah canggung. Alhasil obrolan mereka hanya sebatas membicarakan hal lumrah saja. Mendadak menjadi bodoh, padahal tadi pagi mereka baru saja terlibat pergumulan.


Saat hendak pamit, karena rasa rindunya sudah terobati hanya dengan memandang wajah teduh Dhira, rasa rindunya sedikit terobati. Ini gila, benar-benar gila.


Namun saat di sudah akan meninggalkan tempat itu, ia terkejut bukan main. Mengapa mobil Devan ada disana. Lebih terkejut lagi, ia melihat Gwen yang turun dari sana. Apakah yang akan terjadi setelah ini pikirnya.


.


.


Gwen


Ia mendesak paksa assiten suaminya itu untuk mengantarkan dirinya, ini aneh. Dirumah tidak betah, namun saat di kantor ia juga mendapat Abimanyu seperti tak kerasan.


Dengan sedikit membentak dan memberikan ancaman Gwen akhirnya berhasil membuat Devan mengikuti kemauannya.


Ia masih belum tahu apa itu Dapur Isun, namanya asing di telinganya. Tapi sepanjang perjalanan ia memilih untuk bungkam, dan merasa perasannya tidak enak.


Gwen mulai membenarkan pakaiannya, saat mobil itu sudah berbelok ke sebuah bangunan ruko yang tutup, namun terbuka di bagian sampingnya.


Ia turun lalu ngeloyor hendak masuk tanpa menunggu Devan, dan terkejut saat melihat suaminya ada disana dengan seorang wanita yang pernah ia lihat di pesta ulang tahun Nyonya Regina tempo hari.

__ADS_1


.


.


"Kenapa kau kemari?" pria itu berucap dengan santainya.


"Oh, jadi benar kamu ini ada apa - apa dengan wanita murahan itu?" Gwen nampak kembang kempis menahan emosi. Menatap tajam suaminya.


"Gwen, jaga ucapan kamu!" kamu tak jauh lebih baik dari Dhira!"


"Oh jadi namanya Dhira, aku nungguin kamu buat ngurus sekolah anak kita. Tapi kamu malah asik- asikan sama ***** itu!"


"Ngakunya sibuk, aku datangi ke kantor tapi gak ada rupanya!"


"Gwen!!!!" Abimanyu benar-benar merasakan sesak saat istrinya menyebut Dhira dengan sebutan seperti itu.


Tanpa mereka sadari Raka sudah pulang sekolah menggunakan angkot, dia bahkan sudah menyimak sedari Gwen turun dari mobil tadi. Langkahnya terhenti karena ia ingin mendengar apa yang terjadi.


Dhira mendadak tubuhnya gemetaran, reaksi alami dari berani karena benar takut karena salah. Ia memandang Abimanyu yang terlihat adu mulut dengan wanita itu diluar. Entah apa yang mereka bicarakan. Ia memberanikan diri untuk mendekat.


"Mas?" Dhira turut keluar, ia tentu cukup tahu diri untuk hal ini.


"Nah, keluar juga kamu wanita sialan!" Dhira terhenyak, ia memang salah jelas salah. Ia bahkan tak bisa untuk sekedar menjawab hinaan Gwen.


"Janda dimana-mana sama, kerjaannya godain laki orang. Udah berapa lama kamu jadi gundik suami saya ,huh?" Gwen berbicara dengan nada menggebu, emosinya memuncak.


Dhira hanya diam, Abimanyu mengeraskan rahangnya sementara Devan bingung. Pertengkaran ini benar-benar terjadi.


"Kita pulang!" Abimanyu menyeret tangan Gwen. Sebelum hati Dhira makin tersaki dengan ucapan ngawur dari mulut wanita yang masih menjadi istri sahnya secara dokumen itu.


"Lepas, dasar wanita murahan, pelakor, *****!!!" Gwen benar-benar merasa sakit, ia kalap siang itu. Ia memaki- maki Dhira yang bahkan tak melakukan perlawanan itu


"Perempuan sun..!!" ucap Gwen terhenti lantaran Raka tiba-tiba datang mendorong Gwen.


"Auuwww!" Gwen terhuyung, bahkan cekalan tangan Abimanyu sampai terlepas.


"Cukup Tante!!!" Raka memasangkan badannya untuk melindungi surganya.


"Tante gak pantas hina mama saya seperti itu!" Raka terlihat marah, ia memandang tajam ke arah Abimanyu penuh kebencian.


Calista menangis mendengar orang-orang yang berbicara kerasa disana.


"Om, mendingan om pergi sekarang. Dan jangan temui mama lagi!"


"Raka dengar om bica..!" Abimanyu merasa frustasi, karena mengapa Raka harus menyaksikan langsung pertengkaran ini.


"Pergi!!!" hari itu Raka mengeluarkan suara paling keras sepanjang dia hidup. Suara pembelaan untuk mamanya.


"Ayo kita masuk ma!" Dhira yang sudah menangis terisak hanya bisa pasrah saat tangannya di tarik paksa oleh Raka untuk masuk kedalam rumah, masih di iringi suara tangis Calista.


"Kamu, jelaskan sama aku setelah ini!" Abimanyu menunjuk wajah Devan yang pucat pasi. Jelas dia berada di dalam masalah besar.


Braaaaaak


"Mas!!!"


"Mas!!!!"


Gwen meneriaki Abimanyu yang meninggalkan dirinya, kali ini Devan benar-benar bingung harus bagaimana.


"Nyonya sebaiknya kita pulang!"


Gwen menangis seraya mengusap puncak kepala anaknya yang bergelayut di kakinya, merasa dirinya sangat hancur. Apakah rasa itu yang di alami Abimanyu saat ia pergi tanpa pamit?.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2