
Bab 176. Awan Hitam
.
.
.
...ššš...
"Angin malam berhembus
Lirih dingin menyapa
Coba merasakan
Semilir kehadiran mu
Tuhan ku tanya cinta
Kemana arah dan tujuannya
Bila memang berpisah
Mengapa maut yang pisahkan
Aku memuji mu hingga jauh
Terdengar syahdu ke angkasa
Rintihan hati ku memanggil mu
Dapatkah kau dengar nyawa hidupku
Runtuh jiwa raga ku
Hancur berkeping-keping
Tangan dan kaki tiada
Berpijak di bumi lagi
Aku memuji mu hingga jauh
Terdengar syahdu ke angkasa
Rintihan hati ku memanggil mu
Dapatkah kau dengar nyawa hidupku
Kau menelanjangi diri ku slalu lewat indahnya
peluk kasih
Merangkul kalbu yang membelenggu dan kini tinggalkan ku"
( Ada Band ~ Nyawa Hidupku)
__ADS_1
.
.
Sore itu Bu Nisa keukeh ingin kerumah sakit. Ia tak bisa barang sejenak memejamkan matanya walau raganya letih saat berasa di rumah anaknya. Alhasil, Pak Ali tak bisa berbuat banyak. Ia paham dengan istrinya yang begitu menyayangi putra bungsunya itu.
Mereka kembali ke rumah sakit sore itu juga.
Saat berjalan menuju kamar perawatan Rangga, Bu Nisa masih biasa-biasa saja. Namun, kedua netranya membulat saat pandangannya menangkap hal tak terduga di depannya.
" Apa yang kalian lakukan?" Suara Bu Nisa yang begitu memekik tak hanya membuat dua orang di sofa itu terperanjat, namun juga membuat Pak Ali tersentak.
Danan bersikap santai, sementara Shinta yang tahu ibu mertuanya pasti salah paham itu mendadak berdiri.
" Ma...mama kok kembali, katanya mau istirahat?" Shinta bertanya karena sedari siang mertuanya itu mengeluhkan sakit kepala.
" Kenapa kalau saya balik? jadi buat kamu gak bisa pacaran begini ya?" dengan mata melotot Bu Nisa berang.
Shinta melipat dahinya sebagai tanda keterkejutan. Apalagi maksud mertuanya itu.
" Ehem...maaf saya bisa jelaskan dulu?. Ini tidak seperti yang anda lihat!" Danan perlu meluruskan semua ini.
" Tentu....kamu memang harus jelaskan!" ketus Bu Nisa menatap tajam Danan dan Shinta.
Pak Ali masih mencoba meredakan istrinya yang selalu saja cepat naik pitam itu. Meski ia sendiri juga ingin tabu mengapa pria itu masih berada di sana saat semuanya sudah pergi.
" Sebelumnya saya minta maaf Pak, Buk. Kehadiran saya mungkin memang membuat anda mencemaskan posisi saya disini. Tapi saya hanya berbagai tugas dengan sahabat saya untuk menemani Rangga bersama istrinya disini!"
" Saya hanya mengantarkan makanan untuk Shinta. Rekan saya yang lain berserta istri mereka masih harus ke kantor polisi. Jadi...."
" Saya gak percaya sama kamu!" sergah Bu Nisa kepada ucapan Danan. Membuat ucapan pria itu menguap percuma ke udara.
" Kamu Shinta!!!, bisa-bisanya kamu pegang pegangan tangan saat suami kamu seperti itu!!!" Bu Nisa marah, ia bahkan hendak menyerang Shinta namun berhasil di cegah oleh pak Ali.
" Ma tenang ma, ini rumah sakit!!" Pak Ali merasa istrinya mulai tersulut. Keadaan mendadak menjadi kacau dan memanas.
" Terserah mama mau percaya saya atau tidak. Yang dikatakan mas Danan tadi benar. Dia hanya mengantarkan makanan untuk saya!" Shinta merasa lelah bahkan untuk sekedar menjelaskan.
Namun saat mereka tengah sibuk ribut, saling menyahut dengan emosi mengembang, tubuh Rangga tiba-tiba kejang dan layar monitor yang tersambung dengan pacuan detak jantungnya itu berbunyi. Menandakan jika sesuatu telah terjadi.
" Mas Rangga!!" dengan panik Shinta tak memperdulikan lagi kesemua orang disana. Ia berlari menuju ranjang dimana Rangga berada.
" Mas Rangga!" Shinta dengan wajah panik menatap Danan seolah menyiratkan untuk memintanya memanggilkan dokter.
Danan yang paham dengan situasi itu segera menekan tombol emergency, merasa tak juga mendapat tanggapan ia kemudian melesat keluar mencari dokter.
Mata Shinta terus menatap kepada layar yang menunjukkan garis- garis fluktuatif. Garis yang ia ketahui jika itu adalah monitoring pacuan denyut nadi dan jantung suaminya.
" Rangga, ini mama nak!" Bu Nisa kini menangis dan turut berada di samping anaknya, pak Ali terus menatap ke arah layar dengan garis yang kian melandai dengan perasaan tak bisa di tebak.
Bedside Monitor adalah suatu alat yang digunakan untuk memonitor vital sign pasien, berupa detak jantung, nadi, tekanan darah, secara terus menerus.
Koma yang di alami Rangga terjadi karena kerusakan salah satu bagian otak. Penyebab kerusakan otak ini sangat beragam, salah satunya adalah benturan keras yang mengakibatkan kerusakan permanen.
Danan kepanikan datang bersama Richard dan seorang dokter ahli syaraf yang usianya lebih tua dari mereka semua. Dokter itu terlihat memasang sebuah alat ke tubuh Rangga.
" Dokter suami saya kenapa Dok?" Shinta terlihat pias dan wajahnya pucat. Danan yang menatap Shinta sedemikian paniknya, malah tak lekang memperhatikan wanita itu dengan iba.
__ADS_1
" Sebentar Bu, kami akan berusaha!" Richard tahu hal ini mungkin saja akan terjadi pada beberapa korban kecelakaan. Dan yang ia takutkan adalah ketidakmampuan tubuh Rangga dalam bertahan yang mengakibatkan dirinya mengalami mati otak.
Untuk menentukan apakah seseorang mengalami mati otak, dokter juga akan memantau pernapasan dan tanda-tanda vital lain, seperti denyut nadi atau detak jantung.
Dan seseorang disebut sudah mati otak atau meninggal jika ia tidak lagi bisa bernapas sendiri, serta jantungnya tidak berdetak atau tidak ada denyut nadi.
" Cek EEG!" titah dokter ahli syaraf itu kepada Richard.
Elektroensefalografi (EEG) adalah alat untuk mengukur aktivitas listrik pada otak pasien. Pada pasien yang sudah meninggal, aktivitas gelombang atau listrik otaknya tidak lagi terdeteksi.
Richard menggeleng seraya menatap dokter ahli syaraf itu. Mereka melanjutkan upaya lain sesuai SOP. Namun masih belum juga membuahkan hasil.
Pemeriksaan listrik jantung digunakan untuk menilai aktivitas listrik dan detak jantung. Orang yang mati otak atau sudah meninggal tidak lagi memiliki aktivitas listrik di jantungnya.
Wajah kedua dokter itu terlihat begitu tegang. Tubuh Rangga yang awalnya kejang tadi kini sudah tak bergejolak seperti tadi. Namun dua dokter itu saling pandang tak percaya, bersamaan dengan suara bunyi dari layar monitor yang melandai dan lama.
Tiiiiiiiiittttttt
Malang tak dapat di tolak, dan untung tak dapat di raih. Segala ketetapan hanyalah milik yang kuasa.
Layar monitor itu sudah tak menunjukkan fluktuasi garis. Garis kuning lurus itu seolah menjadi penegas bila nyawa yang di kandung oleh Rangga kini sudah kembali kepada pemiliknya.
Richard memejamkan matanya seraya menarik nafas dalam, Danan merasa tubuhnya tiba-tiba tercekat dan mematung. Mereka berdua menatap Shinta yang masih kebingungan menunggu penjelasan dari dua dokter itu.
Bu Nisa dan Pak Ali juga terlihat masih terlihat cemas dan menunggu dokter itu.
" Ada apa dok, kenapa anda menatap saya seperti itu?" Shinta dengan wajah pias menatap Richard.
" Kenapa anda diam saja dok, katakan apa yang tejadi terhadap suami saya dok!" Shinta terlihat mencengkram dan menggoyang tubuh Richard yang terlihat muram. Meminta dan mendesak dengan segera agar dokter itu segera membuka suara.
" Dokter Richard anda bisa jawab saya!!!" Shinta yang tak sabar karena kebisuan Richard menjadi tak terkendali. Ia berteriak seraya mengguncang tubuh Richard yang nampak menahan tangis.
" Shinta!! tenang dulu!" Danan berusaha membuat istri Rangga itu untuk tenang.
" Dokter katakan, apa yang terjadi. Kami tidak mengerti dengan kerumitan semua alat itu!" Pak Ali yang juga penasaran akan sikap dua dokter yang berubah itu, menjadi angkat suara.
Pria itu dengan dada berdebar menguatkan hati untuk berbicara.
" Kami mohon maaf Pak!" Dengan suara tercekat Richard mau tak mau harus menyampaikan kebenaran dan kenyataan itu.
Shinta yang di pegangi Danan masih terlihat menatap Richard tak lekang, Bu Nisa yang berada dalam rangkulan suaminya juga menatap lekat kepada Richard.
" Katakan dok!" ucap Pak Ali.
" Nyawa Pak Rangga tidak terselamatkan!" dengan suara bergetar, kenyataan itu sudah dikabarkan. Richard bahkan terlihat menahan laju air mata yang mendesak ingin keluar.
Petir tiba-tiba menyambar Shinta, meski tanpa ada hujan apalagi mendung. Shinta merasa tubuhnya tak menjejak bumi dan lututnya seketika tak memiliki daya untuk menopang dirinya.
Ucapan yang mengandung kenyataan dari Richard barusan, menghujam relung hatinya, menampar kesadarannya dan membawanya ke titik lebur terendah saat itu.
" Mas Rang....!" mendadak pandangannya gelap, dan seketika tubuhnya beringsut kelantai. Bersamaan dengan jeritan kedua orang tua Rangga yang sama tak percayanya dengan dirinya.
.
.
.
__ADS_1
.