
Bab 26. Kiriman Makanan
.
.
.
...ššš...
"Hisap rokok dengan secangkir kopi, menghilangkan penat dengan kesederhanaan".
Hari Selasa ini, Abimanyu sengaja memanggil dua rekan gilanya.
Siapa lagi, jika bukan Wisang dan Danan.
"Cari tahu tentang rekam jejak kepala cabang baru BCS!!!"
Titahnya kepada dua sahabatnya.
" Apa ada masalah?" Wisang menautkan alisnya.
"Cari tahu tentang dia!!!. Asal usul, anak, istri. Semuanya!!"
Wisang dan Danan saling tatap.
"Apalagi ini" batin mereka berdua.
.
.
Danan dan Wisang melakukan makan siang, sekaligus pelaporan di sebuah restoran milik Abimanyu.
Brukk
Suara amplop coklat ,yang mendarat di meja kaca di depan Abimanyu.
"Apa ini?"
"Kau bilang untuk mencari tahu kepala cabang baru itu"
"Ya itu hasilnya" ucap Danan tak sabar.
"Bacakan!!!" Abimanyu melipat kedua tangannya ke belakang, melempar tubuhnya ke sofa empuk itu, seraya memejamkan matanya.
Ya benar, mereka tengah berada di ruang VIP restoran milik keluarga Aryasatya.
Danan mendelik, tak percaya dengan sikap diktator sahabatnya itu. " yang benar saja".
Wisang meraih amplop itu, mulai membuka berkas yang tersusun di dalamnya.
"Indra Tanaya, usia 42 Tahun"
"Cih, hanya beda setahun rupanya denganku" batin Abimanyu.
"Anak dari Joko Prayitno dan Novi Susilowati"
Wisang masih setia membacakan semua itu, dengan wajah datar. Sementara Abimanyu masih memejamkan matanya, mendengarkan secara saksama dongeng Wisang.
"Memiliki satu anak Raka Chandrakanta, buah pernikahannya dengan Andhira Avanti"
"Bercerai pada 3 bulan yang lalu"
"Wih dah habis tu masa Iddah nya" Danan memotong ucapan Wisang.
"CK" Wisang bahkan mendecak, seraya menatap wajah Danan dengan kesal.
"Sory sory, lanjut" Danan nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Disinyalir bercerai karena orang ketiga"
Ia kemudian membacakan resume dan biografi Indra, juga rekam jejak pekerjaannya.
"Cukup!" ucap Abimanyu, kini membuka matanya.
"Kita makan dulu"
...ššš...
Jelang sore Dhira sempat menolak keras permintaan Bu Kartika, ide ibunya itu benar benar tak sejalan dengan dirinya.
Bu Kartika meminta Dhira untuk mengantarkan makanan untuk nyonya Regina, juga Abimanyu.
"Tak apa, lagipula Abimanyu kan atasannya Bastian"
"Dan Nyonya Regina adalah orang tua yang baik"
"Mereka membayar kita sangat banyak Dhir, ibu sungkan jika tidak ater ater ( memberi bingkisan nasi dan kue) kepada mereka"
"Kita kan sedang tasyakuran" ucap Bu Kartika yang menyusun beberapa makanan buatannya, juga kue kue lezat khas produk homemade mereka.
Dhira memasang wajah tak setuju.
Ya benar, besok hari Rabu rencananya akan dilakukan pembukaan ruko milik Dhira, hasil kerja keras Bastian.
__ADS_1
Saat ini mereka tengah buat acara selamatan sederhana, dengan mengundang tetangga kanan kiri untuk turut mendoakan saat kendur nanti.
Bastian bahkan menggadaikan mobilnya untuk membuat toko itu jadi dengan cepat.
Benar benar siap melakukan apapun untuk kakaknya.
"Buk, mereka itu orang kaya. Mereka tidak akan terbiasa mendapatkan makanan seperti ini"
"Lagipula, kita ini siapa Buk"
Dhira terus berbicara kepada ibunya, seraya mengikuti kemana ibunya itu pergi.
Maju mundur, kesamping, kedepan, kebelakang.
Ini tidak perlu dilakukan pikirannya, mereka juga bukan saudara.
Namun usaha Dhira sia sia.
"Ini dari ibu, mereka adalah orang baik. Kamu tidak usah khawatir"
"Ibu hanya minta tolong kamu, untuk mengantarkannya"
.
.
Dhira mematung di depan perusahaan, dengan bangunan menjulang tinggi itu.
Keraguan menghinggapi relung hatinya.
Berbekal kartu nama yang di berikan Nyonya Regina tempo hari, ia mengetahui alamat perusahaan itu.
"Ibu, yang benar saja" ia melihat dua hand bag yang berada dalam genggamannya.
Berisikan makanan lezat, juga kue kue nikmat.
Ia merasa kerdil, kecil dan tak PD. Berada di perusahaan sebesar ini, hanya untuk mengantarkan beberapa makanan yang pasti menurutnya tak memiliki makna itu.
"Ibu benar benar" gerutu Dhira dalam hati , benar benar tidak percaya diri.
"Maaf Bu, ada yang bisa kami bantu" sapa salah seorang resepsionis cantik itu.
Dhira menjadi bingung, ia ingin melangkah keluar saat ini juga. Menyesali mengapa ia justru masuk ke gedung mengkilat itu.
Ia bahkan tak percaya, bila dirinya sudah ada di dalam perusahaan itu.
"Sa saya, mau nitip ini" ucapannya yang gagap , jelas menandakan ke grogian Andhira.
Resepsionis dengan name tag Tiara itu, menatap heran.
.
.
Sore hari Devan mengetuk pintu ruangan Abimanyu, sesaat setelah ia mendapat info dari Tiara, bahwa ada paket makanan dari seorang wanita.
Tok tok tok
Ia membuka pintu itu, setelah mendapat sahutan dari dalam, yang mempersilahkan dirinya untuk masuk.
"Ada kiriman tuan"
"Sudah kami check di X-ray, dan aman" ucap Devan memberitahu.
"Apa itu?" Abimanyu menunjuk dua handbag itu.
"Jangan suka terima paket sembarangan!!"
"Aku tidak memesan makanan apapun!"
"Baiklah, aku akan membawanya keluar"
"Tiara bilang yang mengantar seorang wanita, wanita itu hanya bilang itu dari Bu Kartika"
"Bu Kartika?" Abimanyu mengikuti ucapan Devan.
"Apa, dimana dia sekarang?"
Abimanyu yakin, pasti Dhira yang mengantar makanan ini tadi.
Dia tidak mengenal nama Bu Kartika, selain neneknya Raka.
"CK, kenapa tidak memberitahuku bila dia kemari" ucap Abimanyu terlihat menyesal.
Dahi Devan terlihat mengernyit, apa maksud bosnya itu. Dia saja bahkan tidak tahu bila ada seorang wanita yang datang, dan siapa wanita itu?.
"Tiara bilang, dia langsung pergi" jawab Devan.
Abimanyu buru buru menyambar dua tas berisikan kotak makanan itu, ia membuka dua kotak putih itu, berisikan makanan lezat dan juga kue.
"Jadi saya bawa keluar tuan?" ucap Devan.
"Apa kau mau mati Van?"
"Ini untukku, dan pergi sana"
__ADS_1
"Hus hus" ucap Abimanyu, dengan gerakan mengusir menggunakan tangannya.
Devan merasa aneh, ia terbengong bengong melihat tingkah Abimanyu, ada apa dengan bosnya itu.
.
.
Abimanyu memandang makanan itu senang, ia bahkan memotret makanan itu sebelum melahapnya, kemudian mempostingnya di akun jejaring sosial miliknya.
..."Thanks š"...
Begitulah caption, di bawah gambar makanan itu.
Sontak ramai chat, yang mengomentari tindakan Abimanyu itu. Salah satunya adalah Rania.
"Mau dong, dari mana tu" Rania.
"Bukannya kita baru makan" Danan.
"Wow, special food??" Wisang
Namun Abimanyu tak berniat membalas, ia tersenyum senyum sendiri.
Ia mengecek CCTV dari layar komputer di kantornya itu, dan benar. Ia melihat Andhira yang datang ke perusahaannya.
"Awal yang manis" ucapnya sendiri, seraya menatap dua kotak makanan itu.
.
.
Usai juga pekerjaannya hari ini, ia menghabiskan semua makanan yang di antar Dhira tadi.
Bahkan senyum tak luntur dari bibirnya, membuat semua karyawan yang berpapasan dengannya, terheran heran.
Itu bukanlah hal yang biasa.
Saat ini ia tengah berada di bagian departemen keuangan, tempat dimana Rania bertugas.
Hari ini mereka akan pulang bersama.
Saat berjalan, ia berpapasan dengan Bastian.
"Hey kamu, kesini sebentar"
"Saya Pak?" tunjuk Bastian kepada dirinya sendiri.
.
.
Bastian
Bastian terpekur menatap lantai licin nan mengkilap di depannya, di sampingnya duduk sang Direktur, seraya mengepulkan asap rokoknya.
Benar benar membuatnya bak menunggu suatu putusan menegangkan.
"Tadi saya dapat kiriman makanan dari ibu kamu"
Ia terkejut.
Hening beberapa detik.
"Ada acara apa?" tanya Abimanyu, seraya memangku sebelah kakinya. Dengan masih menghisap batang rokok itu.
"Saya minta maaf pak, jika membuat bapak tidak nyaman" Bastian takut jika ini akan menjadi masalah untuknya.
"Bukan, itu"
"Maksud saya, ada acara apa sampai kirim makanan ke kantor?"
"Apa cuma sengaja memberi saya makanan?"
Bastian diam, ia tahu jika dirumahnya kini ada acara selamatan. Makanya dia ingin pulang cepat cepat, tidak taunya malah di tahan disini sama bosnya itu.
"Dirumah ada kenduri pak, besok kakak saya akan membuka warung kecil-kecilan untuk jualan"
"Mungkin maksud ibu tadi, ingin ater ater kepada Bapak" jawabnya takut membuat kesalahan.
"Benarkah?" Abimanyu menatap Bastian, kemudian tersenyum.
Apa itu artinya, ia memiliki makna di keluarga Dhira?,ahay!!
"Untuk itu, saya ijin untuk pulang dulu ke Bu Rania tadi Pak. Soalnya dirumah tidak ada laki laki selain saya, Raka juga masih di asrama"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi, ya sudah ayo kita pulang!!"
"Kita???" Bastian terheran-heran.
.
.
.
__ADS_1