
Bab 256. Devan side story
.
.
.
...ššš...
Devan
Ia sebenarnya memang keracunan ikan tongkol saat turut makan bersama Alexa di angkringan sewaktu menjemput gadis itu dari Bandara.
Singkat cerita,
Alexa merupakan wanita sederhana. Ia yang tak tahan dengan rasa lapar yang menyerangnya, meminta Devan untuk singgah sebentar di angkringan malam itu. Tak pernah memusingkan soal tempat makan.
" Mas Devan gapapa kan makan di tempat kayak gini? aku keburu laper, aku sama anak-anak kalau pulang duty pasti makan disini!" ucap Alexa seraya duduk bersila di gelaran tikar sederhana.
Devan tak merasa rikuh. Ia oke-oke saja dengan ajakan Alexa. " Gapapa lah, lagian sama aja kan yang dimakan!"
Alexa mengangguk setuju " Bik, aku sama sambel tongkol aja ya. Minumnya kayak biasanya, es temulawak!" ucap Alexa kepada wanita paruh baya.
" Siap Mbak, mas nya?" tanya wanita pemilik angkringan itu.
" Samain aja lah mbak!"
Mereka lantas makan dalam diam. Alexa tak bohong soal rasa laparnya. Wanita itu makan dalam tekun dan tak bersuara.
" Mas beneran gapapa makan makanan kayak gini?" ucap Alexa seraya mengaduk minumannya menggunakan sedotan.
Devan mulai kesal karena Alexa seolah tak yakin jika dirinya mau untuk mengikuti Alexa yang sangat bersahaja.
" Enggak! Udah jangan nanya itu terus. Jujur ini enak. Baru pertama kali makan sambal apa ini?" tanya Devan yang memang menikmati makan itu.
" Tongkol, awas jangan salah nyebut. Ada bocah SD langsung viral karena salah nyebut nama ikan pas di tanya pak Presiden!" Alexa terkekeh " Mas jangan sampai viral juga!" Alexa kian tergelak. Membaut Devan juga turut tergelak kencang karena tahu video viral itu.
Devan langsung meremang saat itu juga. Tak mengira bila Alexa tak begitu menganggap tabu hal absurd macam itu.
" Aman!" sahutnya cepat.
Singkat cerita Devan sudah kembali ke apartemennya usai mengantar Alexa ke kostnya. Pria itu harus memungkasi pertemuannya tanpa keuntungan sedikitpun. Alias tak bisa nyosor, lantaran ibu kost Alexa tengah duduk di singgasananya. Kursi plastik besar. Sebesar ukuran tubuhnya.
Tapi tak apa, lagipula ia sudah senang. Ya, Devan tidak mau grusa- grusu dalam hal asmara kali ini. Jujur, ia juga sudah lelah berkelana dengan banyak wanita dengan berbagai model dan tabiat yang kontemporer.
" Kok deg-degan gini ya!" ia bergumam seraya melepas bajunya. Tubuh Devan bagus, hanya saja ia jarang berpakaian casual. Seringnya ia mengenakan pakaian formal, karena tuntutannya sebagai assiten dari pria diktaktor macam Abimanyu.
Beberapa menit kemudian ia merasa hawa panas menjalari seluruh tubuhnya. " Kok jadi pusing gini ya?" Devan merasa ada yang aneh dalam dirinya.
Perutnya juga mulai merasa diaduk.
Dan saat hendak mandi, ia terkejut melihat seluruh tubuhnya memerah. Bahkan wajah dan area telinganya sudah mirip seperti hellboy. Merah dan terlihat kusut.
" Astaga aku ini kenapa?" kini Devan dilanda kecemasan. Sesuatu jelas terjadi kepada dirinya.
.
.
Alexa
Tidurnya terganggu lantaran ponselnya yang tak mau diam. Sukses membuat wanita itu terusik. Ia juga lupa men-silent ponsel itu. Lagipula, siapa juga yang menelponnya semalam itu.
Benda pipihnya itu terus bergetar saat ia sudah memejamkan matanya sekitar lima belas menit yang lalu.
Mas Devan Memanggil..
" Mas Devan? Kenapa ya?" gumamnya seraya mengerjapkan matanya. Suaranya juga terdengar parau.
" Xa, bisa minta tolong gak? Aku barusan muntah, nih sekujur badan aku merah dan gatal, kepalaku pusing banget ini!"
Alexa langsung mendudukkan dirinya saat ia mendengar suara Devan yang panik.
.
.
Apartemen Devan
Pukul 22.04
Devan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Pria itu memang sedang teler akibat tongkol. Tapi lebih gilanya, ia memanfaatkan situasi agar bisa dekat- dekat bersama Alexa.
" Mas kok gak bilang kalau alergi sama tongkol?" Alexa mendengus sekaligus merasa bersalah. Baru mengetahui fakta bila pria itu mempunyai alergi.
" Aku juga gak tau Xa. Baru pertamakali makan sambel ikan itu!" sergah Devan dengan wajah muram.
" Abisin ini air kepalanya, nanti kalau masih mual sama kepalanya masih sakit kita ke rumah sakit!" ucap Alexa penuh penekanan.
" Susah- susah belinya awas ga di habisin!" sejak tahu bila kemungkinan besar Devan keracunan, wanita itu pergi dari kost dengan dalih akan kembali ke bandara kepada ibu kostnya.
Status Bandara internasional kita J yang 24 jam itu, memudahkan alasannya kepada ibu kostnya.
Alexa lantas mencari warung tenda di trotoar yang biasa buka di sepanjang jalan dekat gang kostnya, ia lantas membeli air kelapa muda dalam jumlah banyak. Beruntung masih ada yang buka malam itu.
" Iya- iya. Duh kamu jangan marah-marah dong, aku lagi sakit loh Xa!" Devan menggunakan paha Alexa untuk di jadikan bantal.
__ADS_1
Usai memuntahkan seluruh isi perutnya, pria itu kini sudah merasa lebih baik. Pusing dan rasa berat di kepalanya juga berangsur berkurang.
" Aku pulang ya...udah malam. Mas besok juga kerja!" ucap Alexa tak enak hati.
" Jangan!" ucap Devan cepat. Membuat Alexa menatapnya tak mengerti.
" Mak-maksud aku jangan dulu!" meralat ucapannya dengan tergagap.
" Aku besok mau izin saja lah. Aku takut kalau besok perutku belum beres Xa!" Devan berdalih. Lagipula ia mana pernah absen. Persetan bila besok Abimanyu harus memimpin rapat itu seorang diri pikirnya.
" Mas ini malem, lagipula ini kan...!" Alexa rikuh malam-malam berada di rumah orang.
" Ini apartemen bukan kostmu yang tiap dijaga sama gapura kecamatan!" cibir Devan mengatai ibu kot Alexa yang ukuran badannya benar-benar jumbo.
" Hush!" Alexa mencubit perut Devan dengan sangat kecil. Membuat pria itu kini menggeliat karena kesakitan.
" Ahhhww udah dong, la kan iya aku jadi gak bisa kasih sun kamu pas disana!" ucap Devan yang berhasil membuat Alexa terdiam.
Kini Alexa malu karena ucapan Devan barusan.
" Aku serius Lo Xa sama kamu. Aku pingin kenal kamu lebih jauh lagi. Kamu beda dari yang pernah aku kenal selama ini. Kalau kamu cuti, aku pingin ke rumah orang tua kamu. Nanti gantian, aku bakal ajak kamu ke rumah orang tua aku!"
" Aku bakal ngajuin cuti jauh-jauh hari deh!"Kali ini wajah Devan terlihat serius.
Alexa masih tertegun. Ia menyukai Devan, tapi ia juga merasa minder. Benarkah pria semacam Devan benar menaruh rasa terhadap dirinya?
" Kamu gak perlu jawab sekarang kok, yang penting kamu udah tahu perasaanku yang sebenarnya gimana!"
" Aku ya emang begini adanya. Kerap gak punya waktu, kamu juga harus mau ngalah kalau urusannya udah sama si bos. Dia paling rewel, gak bisa dengar penolakan. Ini aja aku agak mending karena dia sudah kawin. Dulu menderita banget aku!" ucap Devan dengan wajah memelas demi mengingat kegilaan Abimanyu.
" Bu Dhira maksudnya?" jawab Alexa.
Devan mengangguk " Cuma Bu Dhira yang bisa buat Pak Abimanyu kehilangan taringnya!" ucap Devan sembari terkekeh.
Alexa turut tertawa meski ia belum mengenal Abimanyu. " Tapi ini udah malam mas, nanti kostku keburu di tutup!" tukasnya sejurus kemudian.
" Aman, kamu tidur di sini aja!" ucapnya enteng.
" Apa?" Alexa membulatkan matanya.
" Emmm maksud aku, itu kan ada kamar satunya. Kamu bisa tidur di sana. Lagian, kamu tega ninggalin aku?"
" Kalau aku mual sama muntah lagi, terus gak ada orang, terus aku dehidrasi, terus aku kehilangan keseimbangan dalam hidup, lalu mati tanpa ada yang mengetahui, gimana dong?" ucap Devan yang panjang seperti rumus luas trapesium. Membuat Alexa hanya melongo.
" Please?" Devan menggunakan jurus puppy eyes,. membuat Alexa mendecak demi melihat wajah bodoh Devan yang memelas.
"CK, ya sudahlah. Besok aku masuk sift sore. Tapi antar loh besok mas!" ucap Alexa. Toh selama ini Devan selalu bisa menjaga sikap.
Devan pria baik dan sopan. Akhirnya Alexa memutuskan untuk menginap disana. Berniat besok siang ia minta diantar kembali ke kostnya.
" Siap!"
.
.
Lebih gilanya Devan bahkan sudah menelpon bagian kepegawaian perusahaan Ground Handling dimana Alexa bekerja. Membuat ijin palsu atas alasan Alexa yang keracunan ikan.
Benar-benar bermulut licin.
" Kamu udah aku izinkan Xa. Aku pingin ngobrol banyak sama kamu hari ini!" ucap Devan tersenyum menatap wajah bingung Alexa.
" Mas Devan ini gimana sih, kalau mereka tahu aku bohong nakal abis aku!" Alexa takut.
" CK, udah tenang. Aman!" jawabnya enteng. Jelas Devan punya seribu satu cara untuk memuluskan aksinya. Ia ingin berduaan dengan gadis berambut pendek itu.
Hari itu terasa mengasyikkan. Saling berbagi cerita ngalor-ngidul, tentang keluarga mereka dan asal muasal bisa datang ke kota J.
" Bagi orang kampung kerja di kota itu Wow banget mas. Kalau kita pas mudik, terus bawa oleh-oleh mereka pasti senang banget sama kedatangan kita!" Alexa sangat berapi- api sewaktu bercerita.
Tak terasa hari berlalu dengan cepat. Devan telah memesan banyak sekali makanan. Pria itu malah kini lebih mirip seperti anak kost buangan, yang hidupnya terasingkan.
" Mas mas, makan sereal itu pagi!" cibir Alexa yang kini turut mendudukkan tubuhnya di sofa depan telivisi ruangan itu.
" Sayang kalau di buang. Habis mancur atas bawah sekarang waktunya ganti kalori yang terbuang!" Devan terkikik geli.
" Hari ini Pak Abimanyu gak nelpon mas, berarti aman dong mas?"
" Aman! palingan beliau langsung ngacir, kan udah ada Kalyna!" ucapnya sembari menikmati sajian kartun animasi yang menceritakan beberapa Hokage hebat.
Tak berselang lama, dentang bel menginterupsi obrolan mereka.
" Mas pesen apa lagi?" tanya Alexa yang mengira jika itu mungkin salah satu kurir makanan.
" Gak tau lupa, coba kamu lihat ya. Lagi seru nih mau aku tinggal!" Devan berucap tanpa menoleh kepada Alexa, masih seru mengunyah sereal.
.
.
Alexa
Matanya membulat demi melihat pria tinggi, tampan dan berwibawa kini berdiri di depan pintu apartemen Devan.
"Kamu siapa?" ucap pria itu seraya memandangi Alexa datar. Nyaris tanpa ekspresi.
" Saya Alexa Pak!" Jawabnya gugup. Membuat pria itu manggut-manggut.
__ADS_1
" Devan?" tanya pria itu untuk yang kedua kalinya.
" Mas Devan di dalam!" jawab Alexa dengan menganggukan kepalanya hormat.
.
.
Devan
Menyadari derap langkah yang kian mendekat, Devan mengira jika itu Alexa.
" Siapa sayang?" ucap Devan dari dalam sembari fokus ke televisi layar datar, yang menunjukkan film kartun dengan nama-nama Hokage sangar sore itu.
" Sudah sehat kamu rupanya Van?" Suara pria yang ia kenal membuat laju darahnya seketika berubah meski ia belum sempat menatap wajah sang pemilik suara.
Burrrr
Suara semburan sereal itu jelas terdengar di telinga Abimanyu dan Alexa yang kini menatap kedua pria itu tak mengerti.
" Pak?" Devan tersedak sereal yang baru ia siapkan demi melihat kedatangan bos-nya dengan wajah tak terbaca.
Ia lantas meletakkan sereal itu dengan cepat ke atas meja yang berada di depannya.
" Pak Abimanyu silahkan duduk Pak!"
" Aduh kenapa gak bilang kalau mau datang, ini sih namanya kena sidak!" menggerutu dalam hati.
.
.
Abimanyu
Ia bak seorang guru BP yang tengah mengatasi kenakalan anak didiknya. Duduk menatap dua orang berbeda jenis itu dengan tatapan penuh selidik.
" Jadi benar dia sakit?" tanya Abimanyu kepada Alexa.
" Benar Pak saya...!" ucapan Devan menguap.
" Diam kamu, saya gak nanya sama kamu. Saya tanya sama dia!" tunjuk Abimanyu kepada Alexa.
Membuat Devan menelan ludahnya dengan susah. Jelas bosnya itu salah paham.
Akhirnya Alexa menceritakan kronologi kejadian keracunan ikan itu apa adanya dan tidak ada yang di tutupi. Membuat Abimanyu menatap Devan tajam.
" Benar begitu Van?" tanya Abimanyu.
" Benar Pak, saya beneran sakit. Untung Alexa mau merawat saya Pak!"
Abimanyu menatap Alexa lekat " Kamu beneran mau sama anak buah saya?" tanya Abimanyu sembari duduk menyilangkan kakinya.
"Nah mulai lagi dia?" ucap Devan harap- harap cemas dalam hati.
Alexa tertunduk. Sungguh ia sungkan.
" Jawab aja, dia itu suka gombal loh. Suka gak tepat waktu juga, dan suka main rahasia- rahasiaan!" tunjuk Abimanyu kepada Devan menggunakan dagunya.
Devan mengumpat dalam hatinya, apa maksud bos-nya itu. Sementara Alexa masih terdiam.
" Dia assisten saya. Sudah banyak yang gak tahan karena waktunya lebih banyak untuk saya dari pada untuk pacarnya. Apa kamu sanggup seperti itu?"
Kesemuanya tak bersuara. Devan fokus menatap Alexa yang nampak berpikir.
" Saya justru yang menjadi takut Pak. Apa betul mas Devan mau sama saya!"
Membuat Abimanyu seketika teringat dengan istrinya.
" Saya cuma orang biasa, dan mas Devan...!"
" Jawab saja kamu mau apa tidak, saya gak ada waktu lagi!" ucap Abimanyu dalam mode sebal.
Alexa mengangguk. Membuat Devan tertawa kegirangan. Abimanyu juga terlihat menarik senyuman di bibirnya. Namun sejurus kemudian Devan yang bersorak-sorai itu ditatap oleh sepasang mata elang milik Abimanyu. Membuat Devan seketika diam belingsatan.
" Orang tua masih ada?" tanya Abimanyu kembali.
" Masih Pak, semuanya di kampung!" sahut Alexa masih tertunduk segan.
" Van! dua Minggu!" ucap Abimanyu sembari berdiri. Membuat Devan reflek turut berdiri dengan wajah bingung dan tegang.
Bahkan Alexa kini turut mendongak ke wajah Abimanyu, sembari bingung.
" Dua Minggu aku kasih kamu waktu cuti tanpa pengajuan, dan segera bereskan Van. Jangan buat main- main terus anak orang. Kalau sudah beres, bilang ke saya. Saya bakal kasih kamu jatah libur lama buat ngurus yang perlu di urus!"
" Apa? Apakah kepala anda baru saja kena benturan bos? sehingga anda berubah menjadi seperti peri penolong?"
" Oh my God!!" Batinnya bergembira ria.
" Oh astaga, apa ini rejekiku?" Ucap Devan dalam hati yang sangat kegirangan.
.
.
.
.
__ADS_1
.