The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 102. One step ahead


__ADS_3

Bab 102. One step ahead


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Tak ku rela kau terluka , biarlah aku menggantikan sulitmu!"


( Diambil dari lirik lagu Melly Goeslaw ~ Bintang Hatiku)


.


.


Bu Kartika merasa tak memiliki daya lagi, ia merasa bak di kuliti habis-habisan oleh Nyonya Regina juga Abimanyu. Semua perkataan mereka, membuat kesadarannya akan perbuatannya yang selama ini kurang tepat muncul kembali.


Alih-alih ingin membuat putrinya bahagia degan dalih menuruti apa mau dirinya sebagai orang tua, ia malah justru membuat banyak orang terluka. Arya apa lagi. Pria tak bersalah itu, kini harus insecure di perbudak rasa bersalah, lantaran menjadi penyebab gugurnya orok dalam perut Andhira.


Ia berniat akan menghubungi Bu Hana setelah dirinya tenang nanti. Bahkan bila perlu, ia ingin bertemu.


Ia menenggelamkan dirinya diatas gelaran sajadah. Meminta petunjuk, seraya memohon ampunan. Berharap takdir masih mau berbaik hati, untuk menyisakan sepenggal kisah bahagia untuk anak-anaknya.


Ia menatap wajah Dhira yang terlihat letih. Letih lahir dan batin lebih tepatnya. Gumpalan rasa kasihan menjadi satu di hatinya, membuatnya untuk memberikan satu keputusan.


Ia mengijinkan Dhira untuk memulai hidup dengan Abimanyu. Benar yang di katakan Oma Regina, ia hanyalah seorang janda yang menunggu giliran kapan akan mati. Ia sudah memutuskan untuk lebih percaya kepada pilihan Dhira.


Melihat ketegasan dan kebijakan Abimanyu, ia yakin pria itu berbeda dengan Indra. Meski ia tak menampik bila Arya adalah sosok yang ideal menurutnya. Lain barang lain harganya, lain orang lain standardnya. Dan untuk hal ini, Bu Kartika Sebenarnya masih minder.


.


.


"Kita kemana?" Abimanyu sengaja bertanya, padahal ia sendiri yang tahu bila kunci ruko itu masih ada pada Sekar.


"Kemana?, ya ke ruko lah mas" jawab Dhira dengan suara lembut.


Abimanyu tersenyum, " Sebenarnya..." Abimanyu sengaja menggantung ucapannya, ia ingin melihat apakah Dhira penasaran apa tidak.


"Kenapa?" Dhira menoleh, menatap Abimanyu penasaran. Mobil yang mereka tumpangi masih berjalan lambat, sengaja dibuat begitu oleh Abimanyu, karena ia ingin berlama-lama dengan Dhira.


"Kuncinya ada pada Sekar. Wisang barusan WA aku, Sekar lagi sama dia!" ucap Abimanyu sambil memasukkan gigi mobilnya, karena akan belok dari pertigaan menuju jalan besar.

__ADS_1


"Hah, kok bisa. Terus Shinta?" alis Dhira berkerut.


Abimanyu mengendikkan bahunya. Mewakili kata aku pun juga tidak tahu. Sejurus kemudian ia memegang tangan Dhira, ia menggenggam lalu mengecup tangan itu penuh cinta.


"Aku bahagia banget Dhir, akhirnya aku bisa sampai di hari ini!" tukas Abimanyu tersenyum. Ia menyetir menggunakan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Andhira.


Dhira merasa bahagia sekaligus senang dengan perlakuan Abimanyu. Kalau ia ingat kembali, rasanya tak mungkin ia bisa bersama Abimanyu. Mengingat pernikahannya bersama Arya sudah hampir terjadi.


Kini ia makin percaya dengan kata bijak klasik, kalau jodoh enggak kemana.


.


.


Abimanyu membawa Dhira ke apartemennya, ia ingin meminta Dhira untuk istirahat dulu, mengingat wanita itu belum beristirahat pasca dari rumah sakit.


Awalnya Dhira menolak, namun usai di beri penjelasan Abimanyu bila Wisang masih mengajak Sekar pergi, membuat Dhira manut.


"Kamu istirahat dulu saja ya, obat dari RS tadi mana?" Abimanyu membukakan kamar satunya untuk Dhira. Ia ingin membiarkan wanitanya itu beristirahat.


"Ada disini!" ucap Dhira menunjuk ke arah tasnya.


Dhira berdiri di kamar itu dengan perasaan biasa saja. Benar kata Abimanyu, ia memang butuh istirahat. Jiwa dan raganya sudah lelah. Gulungan ombak takdir menyeretnya kepada titik terendah dalam hidupnya. Merasa menjadi bukan dirinya.


" Ada baju ganti di dalam lemari. Kamu istirahatlah dulu. Sambil menunggu Wisang pulang. Aku ada di kamar sebelah" Abimanyu mengentikan kegiatannya itu, ia tak ingin sesuatu yang sudah mendesak di bawah sana membuat Dhira tak nyaman. Ia cukup sadar diri untuk hal satu itu


Dhira merasakan kembali bibir Abimanyu yang ia rindukan, tapi terhentinya ciuman panas mereka,. membuat ia tahu pria bila di depannya itu benar-benar menginginkan dirinya untuk Istirahat.


"Aku di kamar sebelah, tidurlah!" Abimanyu mengecup kening Dhira dalam dan lembur. Sejurus kemudian ia menutup pintu kamar itu, saat dirinya masih berdiri mematung disana. Dhira bergegas mencuci mukanya. Ia benar-benar mengantuk sore itu. Tanpa sadar ia menyunggingkan senyum kebahagiaan, sebagai pengiring langkahnya menuju kamar mandi.


Di dalam kamar Abimanyu mencampakkan pakaiannya, membuat tubuh kekarnya terbuka. Ia lalu bergegas ke kamar mandi. Gerah dan tentu saja gelora panas di dalam tubuhnya ingin ia singkirkan dengan metodenya sendiri.


Ia mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Mencium Dhira sebentar saja sudah membuat kejantanannya bangun. Ia pria normal, tapi ia tahu bila Dhira baru saja mengalami hal tak menyenangkan. Dhira belum pulih.


Sebenarnya jauh di relung hatinya, ia masih di hantui rasa bersalah karena secara tak sadar dengan tumbuhnya benih dalam rahim Dhira tempo hari, itu juga memunculkan stigma tak baik untuk wanita itu.


Tapi persetan, ia hanyalah manusia biasa yang sampai ke titik kebingungan, serta ketidakpercayaan diri bila harus kehilangan Dhira. Ia adalah Abimanyu Aryasatya, tak akan membiarkan Dhira terus menyandang predikat buruk. Berjanji dalam hati tak akan mentolerir siapa saja yang akan membuat hati Dhira tersakiti, walau hanya dengan kata-kata verbal.


Air dingin yang mengucur dari shower itu, masih terus mengguyur tubuh liatnya. Ia menyapu rambutnya kebelakang, merasakan sensasi dingin. Oh andai Dhira melihat Abimanyu saat tengah seksi-seksinya, wanita itu pasti akan menjerit kagum dengan tubuh Abimanyu.


Kucuran air dingin itu, ia biarkan terus membasahi tubuhnya. Berharap rasa panas yang timbul di dirinya akibat pacuan hasrat yang timbul saat mencium Dhira itu, berkurang.


Sejurus kemudian ia melakukan pelepasan versi dirinya sendiri.


...šŸšŸšŸ...

__ADS_1


Wisang sengaja memburu malunya, dengan mengetik pesan kepada Abimanyu. Ia benar-benar malu. Soalnya, hatinya dag dig dug tak jelas. Tak seperti saat ia bersama para wanita seksi, yang bertugas memuaskan dahaga akan hasrat kelelakiannya.


Di rumah makan itu, Sekar lebih memilih diam, ia tak punya muka lagi, lantaran terlibat adegan serius dengan pria yang tiba- tiba ia kagumi itu. Ia belum terlalu mengenal Wisang, tapi sejauh ini pria itu baik pikirannya.


Wanita itu mengambil rendang, sayur daun singkong, sambal ijo dan kuah kare paru. Ia tak berani menatap wajah Wisang. Bahkan ia cenderung buru-buru. Wisang terlihat masih gencar menggulir ponselnya di meja.


Kenapa dia secuek itu sekarang, kenapa aku jadi sedih begini? Sekar mendadak insecure.


Dan kenapa dia tidak mengambil makanan?.


Sekar menuju ke meja dimana Wisang masih sibuk dengan ponselnya. Sejurus kemudian Wisang meletakkan ponselnya di meja putih bersih itu, ia menarik makanan yang berada di depan Sekar. " Kau ini bagaimana, kenapa tidak mengambilkan aku, Ini untukku, dan kau bisa mengambilnya lagi!" tukas Wisang.


Sekar mendelik, apa maunya pria di sampingnya itu " Tidak mau, itu kan punyaku, aku lelah mengantri!" Sekar mendengus kesal.


Wisang tak peduli, ia lekas memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulutnya." Emmmmm!" gumam Wisang.


Sekar masih mengerutkan keningnya, kedua alisnya pun saling bertaut. Menandakan kekesalan.


"Mmmmmm!" Wisang masih ber am em am em ria. Menikmati lezatnya rendang lezat.


"Ini benar-benar enak, kau sangat mengerti seleraku!" tukas Wisang. Membuat Sekar mendecak kesal.


Karena ia juga sangat lapar, mau tidak mau Sekar akhirnya beranjak menuju depan kembali. Ia mengambil sendiri makanan yang sama dengan hati dongkol. Bisa-bisanya pria itu makan dengan enak, baru aja aku mengagumi pria itu, sekarang sudah membuat ulah lagi. Gerutu Sekar dalam hati, sambil mengambil dua centong nasi dan menaruhnya kedalam piring lebar berwarna putih itu.


Sekar mengambil makanan dengan bibir manyun, cenderung ngamuk. Namun saat dirinya hendak berbalik dengan membawa sepiring nasi Padang dengan lauk beraneka macam jeroan sapi itu, ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang.


"Hallo sayang, kau disini rupanya. Kemana saja?


Seorang pria bersidekap di depan Sekar dengan senyum smirk, Sekar terperanjat hingga membuat piring dalam tangannya terjatuh. Membuat kesemua yang di sana memusatkan perhatiannya kepada Sekar.


Pria itu mundur dua langkah guna menghindari pecahan beling dan tumpahan nasi. "Kamu!! tubuh Sekar gemetar, ketakutan melanda dirinya detik itu juga demi melihat pria yang menyapanya itu.


.


.


.


.


.


.


__ADS_1


__ADS_2