The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 165. Suara Menggelegar


__ADS_3

Bab 165. Suara Menggelegar


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Haruskah aku lari dari kenyataan ini....Pernah ku mencoba tuk sembunyi..."


( Diambil dari lirik lagu Iwan Fals ~ Yang Terlupakan)


.


.


Shinta


Shinta yang mengetahui kehadiran Dhira dan Sekar mendadak merasa senang. Ini adalah kali pertamanya mereka bertemu, usai dirinya mengalami kejadian naas itu.


Dhira dan segar setengah berlari menghampiri Shinta yang masih terlihat terpasangi selang infus di punggung tangan kirinya.


" Hey... gimana keadaan kamu?" Dhira yang baru saja menutup pintu itu, kini memeluk Shinta. Mengusap punggung sahabatnya itu dengan lembut. Sekar juga melakukan hal yang sama. Istri Wisang itu bahkan memandang iba kepada Shinta.


" Kepalaku masih sakit. Dokter bilang aku cuma geger otak ringan. Dan nih...mukaku jadi bonyok begini!" Shinta sedikit tergelak waktu memperlihatkan wajahnya yang memar disana sini.


Ia memang sangat membutuhkan sosok sahabat disaat seperti saat ini. " Mana para suami?" tanya Shinta yang kini duduk dengan berlendet di atas tumpukan bantal di ranjangnya.


" Ada di depan, biasa...!" Dhira meletakkan tasnya di nakas yang berada di depannya.


" Ini barang-barang kamu. Sebelum kita kesini tadi, kita berempat ke kantor polisi dulu buat ngambil barangmu sama kasih keterangan lanjutan!" Dhira berdiri seraya mengusap lembut punggung tangan Shinta.


Shinta sejenak tertegun. Ia merasa tak enak hati lantaran membuat mobil mewah Wisang dan Sekar hancur. Apalagi ia tahu, mobil Wisang tidak akan mendapatkan asuransi dari Jasa Raharya. Lantaran kecelakaan yang ia alami, adalah kecelakaan tunggal.


Dan itu artinya, ia dan Rangga harus memikirkan ganti rugi atas kerusakan mobil mewah itu bukan?.


" Sssttttt...udah jangan di pikirin itu. Kamu harus fokus buat pulih dulu!" Dhira merasa ingin menangis saat itu. Shinta masih saja memikirkan hal lain, disaat kondisinya masih mengkhawatirkan.


" Sebenarnya bukan mbak Shinta sama mas Rangga yang harus mengalami hal ini Mbak!" Sekar berbicara dengan suara bergetar.


Membuat Shinta memandangi Sekar dengan masygul.


" Tapi saya dan mas Wisang!" ucap Sekar menatap Shinta dengan wajah penuh rasa bersalah


"Tapi sungguh, saya tidak tahu bila mobil mas Wisang telah di sabotase oleh orang yang kita semua masih belum tahu siapa pelakunya mbak!" Sekar menangis.


" Maafkan saya mbak!!" Sekar menutup wajahnya karena menangis. Wanita itu tak suka bila menjadi penyebab kerugian orang lain. Ia selalu merasa bersalah.


Shinta menatap ke arah Dhira, mencari kebenaran dari apa yang di ucapkan mantan rekan kerjanya itu. Dhira mengangguk lemah, seoalah mewakili pernyataan bila apa yang di katakan Sekar itu ialah benar adanya.

__ADS_1


" Jadi...!" ucap Shinta yang kini malah mengasihani Sekar. Mengapa hidup Sekar selalu penuh dengan teror.


" Polisi masih akan melakukan penyidikan. Oalah sidik jari bisa saja mempermudah buat mengetahui dan menemukan siapa pelakunya!" terang Dhira.


Shinta menghela nafasnya," Udah. Ini bukan salah kamu!" Shinta mengusap lengan Sekar yang masih menangis.


" Apa yang terjadi sudah menjadi bagian dari garis hidup ku Kar. Kamu gak boleh nyalahin diri!" ia ingat dengan Danan yang beberapa jam yang lalu sempat memberikan dirinya petuah yang sama. Bahwa kita tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas apa yang terjadi.


Karena sadar atau tidak, percaya atau tidak. Semua yang terjadi ini adalah ketetapan dari sang khalik.


" Tadi ponsel suami kamu terus berbunyi. Dan kami gak berani angkat...!" kali ini Dhira menyerahkan ponsel hitam kepada Shinta.


Shinta sedikit terkejut. " Siapa yang nelpon Dhir?" tanya Shinta dengan raut penasaran.


" Ibu mertua kamu!" Dhira sedikit tak yakin saat mengatakan hal itu. Wanita itu menggigit bibirnya sendiri, sambil menunggu reaksi Shinta. Sedetik kemudian, ia menelan ludah dengan susah demi melihat pancaran raut wajah Shinta yang berubah muram.


Dan di saat mereka masih membicarakan hal itu, yang dibicarakan kembali menelpon. Membuat Dhira dan Sekar saling menatap.


Mama calling


Shinta dengan segala sisa Kekuatan yang ia miliki, terlihat menggeser tombol hijau di layar ponsel milik suaminya.


Shinta menghela nafasnya, sebelum menempelkan benda pipih itu ke samping Indra pendengarannya.


Rangga!! kamu ini dimana sebenarnya, kenapa dari tadi telepon mama gak jelas. Kamu mama WA juga gak kamu baca!!!


Mama udah capek dari tadi di depan rumah kamu!


" Ini Shinta ma....!" suara Shinta tercekat.


Shinta? sahut ibu mertua Shinta, dan sepersekian detik berikutnya suara menjadi senyap. Hening semriwing.


" Shinta ada di rumah sakit, Shinta sama mas Rangga habis kecelakaan!!"


...šŸšŸšŸ...


Bu Nisa


Ia sengaja ingin memberi kejutan kepada Rangga akan kunjungannya yang tanpa info terlebih dahulu itu. Selain sudah lama ia tak bertandang ke rumah anak bungsunya, ia ingin melihat secara langsung bagiamana Shinta merawat anaknya dirumah.


Namun alih-alih ingin memberi kejutan, Bu Nisa justru yang terkejut demi mendapati kenyataan yang menimpa putranya.


Usai mendapat jawaban dari mulut menantunya bila mereka terlibat kecelakaan, seluruh tubuh Bu Nisa bergetar hebat. Lututnya mendadak lemas, dan ponsel yang ia pegang tadi langsung melorot dan jatuh kelantai. Membuat Pak Ali seketika menahan istrinya yang hendak jatuh itu.


" Ada apa ma? kenapa mama begini?" pak Ali terperanjat. Apa yang sebenarnya terjadi.


" Rangga Pa....Rangga kecelakaan!" Bu Nisa menangis dengan posisi beringsut ke lantai. Wanita itu langsung lemas seketika. Bagaimanapun juga Rangga adalah putra kesayangannya.


" Dimana mereka sekarang?" pak Ali kini turut panik. Ia menatap wajah istrinya dengan alis bertaut.


Bu Nisa menggeleng lemah seraya kedua netranya mengeluarkan cairan bening secara terus-menerus. Wanita itu tak kuasa menahan kesedihan. Padahal mereka belum tahu kenyataan yang lebih memilukan. Rangga koma.

__ADS_1


" Ya sudah kita cari taksi!"


.


.


Shinta mengirimkan pesan kepada mertuanya. Ia tak bisa menghalangi kedua orang tua Rangga untuk datang. Ia hanya melakukan yang semestinya dilakukan olehnya.


Dan berbekal dari alamat yang di kirimkan Shinta, pak Ali yang masih setia mengusap pundak istrinya itu meminta supir taksi untuk mempercepat laju kendaraannya.


" Mama yang sabar, jangan begini!" Pak Ali memberikan kekuatan dengan terus mengusap lembut pundak istrinya itu.


" Gimana mama bisa sabar Pa. Anak kita sedang berada di sana, dan kita gak tahu gimana nasibnya. Kalau anak kita baik - baik saja, tidak mungkin Shinta yang jawab teleponnya Pa!" Dengan suara bergetar, Bu Nisa masih seperti biasanya. Tak mau mengalah dalam urusan ucapan.


Selang tiga puluh menit, taksi itu berhenti di rumah sakit terbesar di kota itu.


...RS Bhakti Husada...


...Jl. Imam Syafi'i no 45 xx...


Sebuah tulisan dari partisi besar menyambut kedatangan mereka. Membuat mereka yakin bila supir taksi itu, telah membawa mereka ke tempat yang benar.


" Ambil saja kembalinya Pak!" ucap Pak Ali usai menyerahkan selembar uang bergambar Proklamator kepada sulit taksi.


" Terimakasih banyak Pak. Mari....!" sapa supir taksi itu.


Dengan langkah gemetar, Bu Nisa berjalan dengan bergandengan tangan bersama suaminya. Barang-barang mereka masih mereka bawa hingga kerumah sakit. Lantaran mereka tak memiliki keluarga lain selain Rangga.


.


.


Dhira dan Sekar memeluk Shinta. Mereka berdua terlihat memberikan kekuatan moril yang nyata. Mereka tahu, bila Shinta tengah tertekan dengan kedatangan ibu mertuanya.


Danan yang melihat interaksi ketiganya itu, sebenarnya ingin tahu. Ada hal apa yang mereka sembunyikan. Mengapa sedari tadi mereka bertiga terlihat seperti membicarakan sesuatu.


Abimanyu dan Wisang lebih memilih diam, sambil duduk di sofa hijau yang berada di depan ranjang Shinta. Mereka hanya memperhatikan interaksi ketiga wanita itu dengan masygul.


Dan sejurus kemudian...


" Mana anak saya!!!!" suara menggelegar seorang wanita yang bernada tinggi , membuat pria yang tengah duduk di sofa hijau itu, sontak bersamaan menoleh ke sumber suara yang berada di ambang pintu.


Dhira dan Shinta langsung menelan ludahnya dengan susah payah saat melihat wanita paruh baya yang berwajah cemas , yang mereka yakini adalah mertua Shinta itu.


Sementara Shinta, ia terlihat menarik nafasnya dengan berat, memejamkan matanya barang sejenak sebelum ia akan menjadi orang yang paling di salahkan dalam kejadian ini oleh mertuanya itu.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2