The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 131. Bandot Tua


__ADS_3

Bab 131. Bandot Tua


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Seperti arang untuk bara menyala, dan kayu untuk api. Demikianlah orang yang tengah di hadapkan dengan si pemantik emosi. Dengan mudahnya membakarnya hingga tak bersisa!"


.


.


Sekar


Ia berlari dengan air mata yang berderai. Ia menyusuri trotoar dengan keadaan kacau balau. Sebenarnya ia sudah memantapkan hati untuk bersama Wisang berjuang. Tapi yang berat rupanya adalah penghakiman orang lain terhadap dirinya.


Banyak rancangan di hati manusia, tapi keputusan Tuhanlah yang selalu terlaksana. Dan itu terbukti hari ini.


Bilur- bilur kasih Wisang masih bisa ia rasakan. Tapi, mengapa pria itu malah membawa Mira? Sejenak ia telah terbawa perasaan alias baper karena mengapa Wisang tak lebih dulu menyapanya.


Dan saat langkah gontainya kian lemah. Seseorang terlihat membekap mulutnya. Sekar kehilangan kesadarannya hanya dalam beberapa detik.


.


.


Wisang


Sekembalinya ia dari menyingkirkan Mira, ia ingin segera menemui Sekar. Namun ia dibuat melongo karena wanita itu sudah tidak ada disana.


"Dimana wanita yang di sini tadi?" tanya Wisang kepada pelayan disana.


Pelayan itu ketakutan karena intonasi Wisang yang terbilang ekstrim. " Ta-tadi keluar Pak. Habis di bully sama ibu-ibu yang disana!" ia berucap gagap, seraya menunjuk sekumpulan wanita dan ibu-ibu yang berada di sudut, tengah tertawa ria.


Tanpa ragu, Wisang mendatangi sekumpulan manusia tak berguna itu.


"Apa yang kalian katakan kepada kekasihku tadi, hm????" Wisang mengeraskan rahangnya saat berucap kepada ibu-ibu itu.


Mereka diam tak berani menjawab. " Kalau sampai terjadi sesuatu kepada wanita tadi. Akan ku buat hidup kalian menyesal!!!" ancam Wisang. Para ibu-ibu tadi saling menatap dengan wajah ketakutan. Suara berat Wisang saja sudah bisa mengintimidasi mereka.


Sejurus kemudian Wisang melenggang pergi. Ia lebih dulu membereskan bill kepada pelayan. Ini adalah kali kedua ia berada di tempat makan, dan selalu berakhir dengan kekacauan. Nampaknya ia memang harus mempertimbangkan saran Sekar untuk makan makanan kelas street food saja.


.


.


Berbekal dari penuturan satpam yang melihat Sekar keluar dengan menangis, Wisang menyusuri jalan yang menuju ke arah tempat tinggal Sekar.


Dengan pelan namun pasti, ia menginjak pedal gas sembari terus menyapukan pandangannya untuk mencari sosok itu.


Namun hasilnya masih nihil. Ia mencoba menghubungi nomer Sekar tapi tidak di angkat.


" Apa kamu marah lagi, CK!!"


Wisang menyesalkan kejadian ini. Ia lupa bila Mira sering makan disana. Dan potensi bertemu jelas ada, Ia terus memacu kendaraannya. Bahkan ia sudah sampai di Ruko, namun ruko itu masih dalam keadaan terkunci. Itu artinya Sekar belum kembali.


Seketika Wisang menjadi panik, sejurus kemudian datang Bastian ke ruko seorang diri dengan mengendarai mobilnya.


"Tuan, anda disini?" tanya Bastian segan.


"Ah kau pasti adiknya Dhira ya?" ucap Wisang.


"Ya Tuan, saya Bastian. Tapi, kenapa anda disini kenapa tidak langsung masuk?


Mereka memang pernah bertemu beberapa kali, namun belum pernah terlibat obrolan secara langsung.


Bastian petang itu berniat ingin mengontrol dan menengok keadaan ruko. Karena jelas, Dhira pasti masih dirumah besar keluarga Aryasatya.


" Emmm, sebenarnya aku sedang mencari Sekar!" jawab Wisang.


Bastian bisa mengerti sekarang, kedekatan pegawai kakaknya dengan sahabat kakak iparnya itu ,rupanya bukan isapan jempol belaka.


" Pasti ada di dalam, mari masuk!" tukas Bastian hendak melangkahkan kakinya.


"Emm Bas sebenarnya..." Wisang berniat bercerita saja kepada Bastian.


Hari sudah semakin gelap, dan Wisang perlu teman untuk mengobrol dan sekedar membagi kegundahannya petang itu. Tanpa ragu, Wisang membeberkan kejadian yang mereka alami.


" Ponselnya masih aktif Tuan?" tanya Bastian.


"Masih!"


"Kita cek lokasi saja via ponsel itu. Saya temani!" ucap Bastian serius.


Kadang mengajak orang lain untuk tahu persoalan kita itu, sedikit banyak bisa membantu. Asal dengan orang yang tepat. Seperti saat ini, ia yang panik malah tidak sampai berfikir ke arah sana. Dan Bastian petang itu mendadak menjadi pribadi yang solutif.

__ADS_1


"Ayo Tuan!"


.


.


Wisnu


Ia terlibat hutang yang banyak sekali. Telah babak belur pria itu karena hadiah bogem mentah ,dari ketua lintah darat yang memiliki banyak anak buah yang menggurita disana.


Wisnu yang notabene pemalas, namun memiliki gaya hidup bak orang kaya itu telah terjerumus dalam pusaran hutang piutang dengan rentenir kelas kakap.


Dan pusatnya adalah pagi tadi, ia tertangkap oleh Deb colector milik Johan. Bandot tua yang kerap memberikan pinjaman tanpa agunan, namun dengan bunga yang mencekik. Tak jarang urusan mereka berakhir dengan kekerasan. Atau dengan nyawa.


Wisnu yang gelap mata, ia ingat akan Sekar. Dan saat hendak ia menuju ruko bersama para preman sewaan Johan, tak di nyana ia melihat Sekar yang berjalan gontai.


Pucuk di cinta, ulam pun tiba. Ia merasa Dewi Fortuna memang ada padanya. Dengan tangan masih di tali, ia berbicara kepada para preman yang membawanya.


"Itu wanita yang aku maksud. Dia kubawa dari kampung, jika dia tidak memberikanku uang. Kalian bisa membawanya, terserah mau kalian jual atau kalian nikmati!" Wisnu benar-benar gila. Ia bahkan menjadikan Sekar sebagai penjamin hutangnya.


Bandot tua bernama Johan itu, melirik dari balik kacamatanya. Seringai licik terbit di bibirnya saat melihat betis mulus Sekar.


"Bawa dia!"


Dan saat itulah, mereka membuntuti Sekar. Dan saat berjalan di area yang agak sepi, mereka membekap mulut Sekar hingga pingsan. Mereka terlihat begitu mahir. Bahkan keadaan disana tadi, sama sekali tak terlihat seperti aksi penyekapan.


Mereka membawa Sekar menuju markas milik bandot tua saat itu juga.


.


.


Sekar


Dengan rasa kepalanya yang agak pusing, ia mengumpulkan kepingan ingatannya. Ia terperanjat, mengapa ia bisa ada di tempat gelap dan bau bensin seperti itu.


Keringat yang terproduksi di lipatan kulitnya membuatnya tak nyaman. Untung saja ponselnya ia silent. Membuat kesemua manusia biadab disana tidak menaruh curiga, saat layar ponsel Sekar tengah berkedip. Tanda ada panggilan masuk.


Tapi, ia menggeser tubuhnya agar ponsel dalam Tasya itu bisa tak kentara. Itu sangat tak bagus untuknya.


Ia melihat Wisnu yang di lepaskan talinya. Ada sekitar delapan orang anak buah Johan yang berada di gudang pengap itu. Ia juga tak tahu mengapa Wisnu turut berada disana.


Aroma tembakau busuk mengusik hidungnya, saat mulut kotor Johan berbicara kepadanya. Pria gendut dengan tinggi satu meter kotor itu benar-benar terlihat menjijikkan.


" Dimana kau bisa mendapatkan barang sebagus ini Wis?" Johan meraba pipinya. Ia merasa risih sekaligus jijik.


Johan tertawa mengerikan. " Wow, kau galak ya?" Johan mencengkram dagunya.


Sekar meludahi wajah Johan. Membuat bandot tua itu langsung melayangkan tamparan kepada Sekar. Keras dan begitu menyakitkan.


Pria tua itu menampar Sekar sebanyak dua kali.


Tentu saja membuat Sekar meringis kesakitan. Kesemua manusia disana hanya diam saat Johan menyiksa Sekar.


" Brengsek kau wanita ja*lang!!!!!!" Johan mengusap air ludah Sekar yang bertengger di wajah bopengnya dengan kemarahan.


Ia menjambak rambut Sekar hingga membuat wanita itu mendongak" Nasibmu berada di tanganku, jadi jangan macam-macam!!!"


"Lihat!!!" ia menunjuk Wisnu yang baru saja di lepaskan ikatannya oleh salah seorang preman itu.


" Dia kekasihmu bukan, hahahahaha!!!" Jihan tertawa mengerikan.


" Dia sudah menjual mu kepadaku. Jadi jangan macam-macam, tidak akan ada yang menolongmu dari sini!!"


Sekar menatap tajam ke arah Wisnu yang belingsatan. Air matanya mengucur saat itu juga, kenapa ada orang se keji Wisnu. Ia bahkan merasa dirinya tak berharga lagi.


Jadi kamu yang sengaja melakukan ini Wis? Batin Sekar, ia menangis saat itu juga.


Di waktu bersamaan kilasan ingatannya kembali saat ia di guyur oleh Mira, dan mengapa pria bernama Wisnu itu tak hentinya membuat hidupnya sengsara.


Apa yang harus aku lakukan? tangisnya dalam hati.


Wisnu tak memiliki pilihan. Meskipun mereka berasal dari kampung yang sama, namun tabiat Wisnu yang memang brengsek itu, tak memiliki iba barang sedikitpun kepada Sekar. Pria itu hanya ingin cari aman atas kelakuannya.


" Ganti bajunya. Aku ingin menyantapnya malam ini!!" pinta Johan.


"Tidak, aku tidak mau!!!?"


"Lepaskan!!!!!" Sekar berteriak histeris, seraya memberontak saat empat pria berwajah sangar disana hendak membawanya.


.


.


"Tuan ini di daerah gudang kilang minyak lama. Kenapa Sekar bisa kesana?" Bastian heran.


"Yang benar kamu!" sahut Wisang yang sibuk dengan kemudinya.


"Benar Tuan, saya yakin. Ini tidak salah lagi. Tapi..." Bastian nampak berfikir, Sekar tak mungkin kesana sendirian. Lagipula, wanita itu tak pernah tahu bagian lain kota itu kan.

__ADS_1


"Saya merasa sesuatunya pasti terjadi kepada Sekar Tuan!" Bastian menatap Wisang yang kini juga mulai mengerutkan keningnya.


Detik itu juga, ia menelpon Danan. Tak mungkin ia menelpon Abimanyu. Sudah pasti mereka tengah berasyik-asyik ria bersama keluarga mereka.


Ya ada apa? ucap Danan dari seberang. Ya, Wisang menelpon Danan karena ia merasa ucapan Bastian itu ada benarnya.


"Temui gue di jalan xx.." ucap Wisang menerangkan.


Apa?, untuk apa elu disana malam- malam begini?


"Jangan banyak bacot, gue butuh bantuan. Kalau ada elu bawa senjata ya. Ya udah gitu aja dulu!"


Wisang memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Membuat Danan pasti sudah mengumpat dan memberikan sumpah serapah kepadanya, karena memutuskan sambungan telepon saat Danan masih berbicara.


"Bas, coba kau hubungi nomer Sekar lagi?"


Bastian melakukan apa yang di minta Wisang. Dan dalam panggilan ke tiga, ponsel itu terjawab namun tak ada yang menyahut. Bastian reflek menekan tombol loud speaker.


"Halo!" ucap Bastian.


Wisang seketika menghentikan laju kendaraannya. Ia ingin mendengar suara dari sambungan telepon itu.


Terdengar suara Sekar yang menjerit dan samar-samar terdengar suara pria yang tertawa, marah dan membentaknya.


Bastian dan Wisang saling menatap. Darah Wisang menjadi panas seketika, ia mengeraskan rahangnya. Membayangkan jika sesuatu pasti telah terjadi kepada Sekar.


"Brengsek!!!!" Wisang geram bukan main.


"Tuan, tenang dulu. Biar saya yang bawa mobil. Kita atur rencana dulu. Bisa saja Sekar di culik!" ucap Bastian yang bisa membaca raut wajah Wisang, yang mulai di kuasai oleh amarah.


" Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri Bas, jika sesuatu terjadi pada Sekar!" Wisang melempar punggungnya ke sandaran kursi di mobil itu. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia frustasi, Sekar dalam bahaya pikirnya.


"Biar saya yang bawa mobilnya Tuan!"


Wisang mengangguk, ia begitu cemas dan khawatir dengan Sekar. Ia kembali ingat dengan Mira, yang menjadi biang kerok dari semua kejadian ini. Andai tadi dia tak membuat Sekar pergi, pasti tak akan begini jadinya.


.


.


Sekar terus saja memberontak. Dan di saat bersamaan telepon dari Wisang telah masuk ke ponselnya. Gerakannya yang tak tentu, membuat tombol hijau itu tak sengaja tergeser. Membuat sambungan telepon dari Wisang tersambung.


Mereka semua tak sadar, bila sambungan telepon itu tengah terjadi. Ia saat itu masih berusaha ingin melepaskan diri. Ia jijik karena tubuhnya mulai di gerayangi oleh para pria itu.


" Jangan sentuh aku brengsek!!!" maki Sekar. Ia hanya ingin membela dirinya.


Ke empat pria disana berhenti saat bandot tua itu masuk ke ruangannya." Siapa yang menyuruh kalian untuk pegang- pegang?" Mendengar suara ribut dari dalam, membuat Johan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Johan marah kepada anak buahnya yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan itu. " Pergi kalian. Dasar brengsek!!" Maki Johan.


Ia tah tahan melihat dress Sekar yang tersingkap. Pria itu merasa birahinya langsung memuncak saat melihat paha berwarna kuning langsat milik Sekar.


"Cabut!!" ucap salah satu dari anak buah Johan. Mengajak ketiga kawannya untuk keluar. Menyisakan Johan dan Sekar di ruangan yang mirip kamar itu.


Sekar sangat ketakutan, keadaannya kacau balau. " Jangan mendekat!!" Sekar beringsut mundur ke tepi ranjang dengan keadaan tangan masih di tali.


"Kita bersenang-senang dulu sayang, hm. Kau jangan takut, kita bisa mencoba berbagai gaya!" Johan melepaskan pakaiannya. Menampilkan perut buncitnya yang membuat Sekar ingin muntah karena jijik.


Sepanjang dada pria itu di tumbuhi bulu, Sejurus kemudian ia melepas celana gombrongnya dan mencampakkan begitu saja. Sekar bisa melihat jika burung Jihan hanya sebesar anak tikus dari balik celana da lam warna putih itu.


Keringat dingin muncul di dahi Sekar, jantungnya juga berdetak kencang lantaran ketakutan.


Sekar sangat ketakutan, ia jijik teramat jijik. Pria dengan wajah bopeng, dan bentuk tubuh yang mirip bagong dalam tokoh punakawan itu, membuat Sekar menangis karena ketakutan.


Dan saat bandot tua itu, mulai meraba pahanya..


Braaaaakkkk


Sebuah mobil Range Rover sport menembus tembok dari kayu dan triplek itu. Membuat Johan membelalakkan matanya.


Sekar yang sudah seakan pasrah, kini kembali memiliki harapan saat ia melihat dua orang pria di balik kaca mobil itu. Pria yang ia kenali.


"Siapa kalian brengsek, berani beraninya mengganggu kesenanganku!!!!"


Tanpa menunggu lagi, melihat Johan yang sudah setengah bugil itu , membuat Wisang langsung mendatangi bandot tua itu.


Lengan Wisang yang kekar, mengetat saat itu juga. Memperlihatkan ototnya yang liat karena melayangkan tinju ke wajah Johan . Tak terbayang seberapa kekuatan Wisang saat itu. Bandot tua itu terjengkang dengan sekali pukulan saja. Ia segera melepaskan tali Sekar, sejurus kemudian ia menangkup wajah Sekar.


Darahnya mendidih saat ia melihat sudut bibir Sekar yang biru karena memar akibat di tempeleng oleh Johan tadi.


Wisang mengeraskan rahangnya saat melihat kondisi Sekar yang seperti itu." It's Ok. Ada aku, kamu tenang ya!" bisik Wisang saat melihat tubuh Sekar yang gemetar hebat. Wanita itu sangat ketakutan pikirnya.


"Tuan awas!!!!" ucap Bastian dari kejauhan


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2