The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 46. Beban Abimanyu


__ADS_3

Bab 46. Beban Abimanyu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Abimanyu


Malam yang mencekam berganti dengan pagi yang hangat, membuat geliat baru. Menandakan roda-roda kehidupan memulai putarannya.


Sabtu pagi ini Abimanyu sudah bersiap untuk menuju kantornya. Namun saat ia menuju meja makan, ia tak mendapati semua anggota keluarganya di meja makan.


Membuat meja makan itu kosong melompong.


"Apa Rania masih kurang sehat?" gumamnya saat menuruni tangga.


Ya, kejadian terjebaknya Rania di dalam lift sudah sampai ke telinganya bahkan Nyonya Regina. Hanya saja saat ia melihat kondisi adiknya itu, sudah dalam keadaan yang lebih baik. Ia meminta kepala Staff Engineering disana untuk memperbaiki secara total, agar kejadian serupa tak terulang kembali.


"Bik!" ia menghentikan langkah Bik Surti yang tengah lewat, terlihat menyajikan menu sarapan pagi itu.


"Ya Tuan!" jawab Bik Surti.


"Oma kemana?, terus yang lain tumben belum ada!"


" Nona Rania tadi berangkat dulu Tuan, mau ngantar Den Jodhi dulu!"


"Kalau Nyonya besar, saya kurang tahu Tuan."


Abimanyu melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Masih sangat pagi, namun mengapa mereka sudah meluncur terlebih dahulu.


"Ya sudah, terimakasih Bik!"


Bik Surti dengan membungkuk hormat, undur diri dari hadapan Abimanyu. Kembali menuju dapur, menyelesaikan pekerjaannya.


Ia terlihat menarik kuris, sarapan di meja makan sebesar itu seorang diri membuat ***** makannya menguap. Sama sekali tidak berselera.


Ia memundurkan kursinya, jelas ada yang tidak beres. Karena Oma nyaris tak pernah absen untuk sarapan.


.


.


Nyonya Regina


Sejak semalam ia merasa tubuhnya tidak seperti biasanya, semalaman ia menemani Rania yang baru saja mengalami kejadian nahas di kantor. Definisi dari kasih nenek itu nyata.


Ia lebih memilih mengistirahatkan tubuhnya barang sejenak, barangkali membuatnya lebih baik. Berniat tak ingin membuat kedua cucunya panik, atau khawatir.


Wanita berusia lanjut itu terlihat berbaring, dengan selimut yang menutupi separuh badannya. Ia memejamkan matanya meski tak larut dalam tidur.


Tok Tok Tok


Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, namun tanpa bertanya lagi pintu itu terlihat terbuka pelan. Menandakan ada seseorang yang akan menemuinya.

__ADS_1


"Oma!" suara Abimanyu, yang sejurus kemudian menampilkan wajahnya yang terlihat khawatir.


Ia masih diam, namun sudah membuka matanya. Sebisanya merubah posisinya dari berbaring, menjadi setengah duduk dengan kaki yang di luruskan.


"Oma sakit?" Abimanyu terlihat menempelkan punggung tangannya, ke dahi Nyonya Regina. Bak memeriksa seorang bocah.


"Aku hanya ingin istirahat Bim" masih berusaha menyunggingkan senyumnya.


"Oma, Oma demam!" Abimanyu terlihat cemas.


"Biasa orang tua!"


"Uhuk, Uhuk!" terbatuk sebentar, tenggorokannya terasa kering.


"Minumlah dulu Oma!" Abimanyu terlihat mengambil segera segelas air putih, yang berada di nakas samping ranjang Oma.


Ia meminum separuh dari isi gelas itu, sejurus kemudian terlihat bernafas lega. Lalu menyenderkan kepalanya ke ranjang itu.


Suasana masih hening, Abimanyu menatap neneknya yang berwajah sendu.


"Aku tidak tahu sampai kapan akan terus mendampingi kalian berdua!" ia terlihat berusaha untuk berbicara.


Sejenak menghela nafas, seraya memejamkan mata. " Oma ingin kamu segera menikah lagi Bim. Begitu juga dengan Rania" mata wanita tua itu mulai berkaca-kaca.


Abimanyu dengan dada sesak, masih telaten mendengar suara bergetar Nyonya Regina yang terlihat rapuh.


"Oma ini sudah tua. Oma hanya ingin jika Oma meninggal nanti, kalian sudah bersama orang yang tepat dan hidup bahagia!!" air mata itu sudah lolos, mengaliri pipinya yang keriput.


"Oma!" suara lirih Abimanyu, seraya menggenggam tangan keriput Nyonya Regina.


"Siapapun orangnya Oma akan merestui, asal kamu bahagia Bim!" tangisnya makin terisak.


...šŸšŸšŸ...


Ia juga menyadari bila selama ini dirinya terlalu bodoh karena menunggu istrinya untuk kembali. Sepuluh tahun nampaknya adalah penantian yang sia-sia.


"Temui aku di kantor!" ucapnya melalui sambungan telepon. Ya, dia sedang menghubungi Wisang.


Sejurus kemudian ia menghubungi Richard, temannya yang berprofesi sebagai seorang Dokter.


"Halo, tolong datang kerumah?"


"...."


"Bukan aku, tapi Oma!"


"Hemm!!"


Tut


Ucapnya singkat, Nyonya Regina meminta Abimanyu untuk tak terlalu mengkhawatirkan keadaanya. Tapi tentu saja ia tak bisa menuruti permintaan neneknya itu. Meski ia harus segera ke kantor, namun ia ingin neneknya itu mendapatkan yang terbaik.


"Bik Surti!" panggilnya.


Dengan tergopoh-gopoh wanita Paruh baya itu, datang memenuhi panggilan majikannya.


"Saya Tuan!"

__ADS_1


"Bawakan sarapan ke dalam, dan nanti kalau Richard datang tolong temani dia memeriksa Oma dikamar!"


"Baik Tuan!!"


.


.


Sabtu ini sebagian besar karyawan Manufacturing libur, hanya ada beberapa Devisi yang masih masuk. Seperti bagian produksi.


Ia juga tak memakai baju seformal hari biasanya. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya gusar.


Ia melempar punggungnya pada sandaran kursi kebesarannya itu, ucapan Nyonya Regina nampaknya menjadi sebuah beban baginya.


Hatinya bercabang, antara dirinya yang masih menjadi suami sah Gwen. Dan hatinya yang bergetar saat berada di dekat Andhira. Di usianya yang matang, kisah cintanya benar- benar menguji hidupnya. Membawa dirinya kedalam titik nadir.


Sejurus kemudian, terdengar ketukan dari luar.


"Masuk!!" sahutnya masih di tempat yang sama.


Terlihat Wisang yang membuka pintu , sahabatnya itu berpenampilan rapi. Ia juga heran, mengapa juga memiliki sahabat tampan namun juga tak laku. Bukan tak laku sih, hanya saja sepertinya Wisang itu menempelkan slogan not for sale dalam dirinya. Membuat pria itu seolah tak berminat untuk memiliki salah satu tujuan dalam hidup.


Menikah.


"What's problem?" langsung saja ia ber- to the point. Mendudukkan dirinya di sofa yang berada di ruangan itu.


Abimanyu terlihat berdiri, lalu mensejajarkan tubuhnya di samping sahabatnya itu.


"Oma memintaku untuk segera menikah lagi!"


"Ya menikahlah!" jawab Wisang enteng.


"CK, gak segampang itu!" Abimanyu mendecak kesal.


" And then?, kau memanggilku kemari untuk membicarakan hal gampang seperti ini?"


Abimanyu mengusap wajahnya kasar, "Tapi Gwen masih jadi istriku Wis!"


"Dengar! Sekalipun istrimu kembali, meskipun aku sendiri tidak yakin apa dia kembali apa tidak. Tapi dengan waktu selama itu, kalian harus harus membangun nikah lagi jika ingin bersama!"


"Kau pun punya hak prerogatif untuk mengakhiri hubungan kalian, yang menurutku memang sudah tak jelas!"


"Meskipun aku tidak yakin bila hatimu masih ada perasaan kepada Gwen!"


Abimanyu terlihat menyimak ucapan Wisang yang selalu saja solutif menurutnya, benar benar definisi sandaran pundak terbaik.


"Karena jelas, sepertinya janda itu lebih menggoda untukmu!!


"Berhenti menyebutnya seperti itu!"


"J A N D A!!" Wisang malah memperjelas kalimatnya, dengan memasang wajah konyol.


Detik itu juga, Abimanyu memiting leher Wisang.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2