
Bab 219. Aku Mencintaimu
.
.
.
...ššš...
" Jangan mau berlelah-lelah hanya karena penghakiman orang lain. Kita terlahir pasti di lengkapi naluri bukan. Lantas apa yang kau takutkan?
.
.
Nyonya Alda
Tak selalu kekayaan itu dekat dengan sikap se-maunya sendiri atau kesombongan yang terlalu buta. Adalah Nyonya Alda, wanita itu menyadari keleletan putranya dalam hal mencari jodoh.
Kurang apa sebenarnya? wajah rupawan, iya.
Pekerja keras, iya. Ya, walau sikapnya yang di perbudak free for life malah membuatnya terjerumus kedalam hal yang membuat kesehatannya menurun. Tapi, sekali lagi uang yang mereka miliki rupanya masih bisa di manfaatkan untuk upaya kesembuhan.
Oleh karenanya, jika saat ini Danan menginginkan serta mengijinkan seorang wanita masuk kedalam hatinya, maka sebagai orang tua wajib hukumnya bagi Nyonya Alda, untuk turut serta mendukung.
"Bawa dia kemari, mama ingin kenal dengan Shinta!"
" Mama serius?" Danan masih tak percaya, pria itu ingin memastikan " Mama tahu track record Shinta sebelumnya kan ma?"
" Gak bisa langsung?"
" Gak bisa diburu-buru!"
Ia tersenyum, menampilkan wajahnya yang cantik di usianya yang sudah senja " Kenapa? kamu ragu kalau mama ga Nerima Shinta. Tak kenal maka tak sayang bukan?"
" Papa setuju, baiknya kamu ajak dia kemari. Ya, walau sekedar makan malam saja. Atau kamu cari alasan lain Dan!" ucap tuan Yusuf.
.
.
Danan
Kesenangan sekaligus Kelegaan.
Tak di nyana, ia dapat paket combo, untuk urusannya yang kerap mengganggu tidurnya itu.
Ia sangat takut bila mamanya akan menolak mentah-mentah pilihannya. Apalagi, cara Shinta masuk ke hatinya cukup weird ( nyeleneh).
Teringat akan persoalan pelik yang di idap oleh sahabatnya, Wisang.
" Tapi Danan takut kalau Shinta gak mau ma!" wajahnya berubah muram. Se matang apapun usia seorang Danan, ia tetaplah anak dari dua manusia di depannya itu. Naluri kekanakan, tentu saja masih kerap timbul saat bersama dua induknya.
" Yang penting usaha dulu, soal hasil biar kita sama-sama lihat. Nyonya Alda mengusap punggung kokoh anaknya.
" Mama sama Papa menyetujui nak. Mari kita sama-sama buat rasa percaya diri Shinta tumbuh lagi. Mama jadi kepingin cepat kenal!"
.
.
Tuan Yusuf
__ADS_1
Pantas saja beberapa bulan yang lalu, putranya yang saat itu entah pulang dari mana , pernah pulang dengan wajah yang bahagia, dia menyanyi bak orang kena serangan jatuh cinta.
Ia juga pernah muda bukan, kegilaan putranya itu jelas merupakan bagian dari percikan asmara yang melandanya.
"Mama sama Papa menyetujui nak. Mari kita sama-sama buat rasa percaya diri Shinta tumbuh lagi. Mama jadi kepingin cepat kenal!"
Ia mengangguk saat istrinya berucap seperti itu.
" Atau, kita yang kesana?" tawarnya. Ia penasaran dengan sosok yang bisa menaklukkan putranya. Putranya yang tadinya menjadi Cassanova kelas kakap.
" Jangan Pa, biar Danan ajak dia kemari!"
Ia melihat kobaran semangat di mata anaknya. Jelas Danan adalah putranya, yang mewarisi sikap tak kenal menyerah jika ingin mendapatkan sesuatu.
" Tuntaskan nak!"
...ššš...
Shinta mengalihkan rasa canggung dengan mengedarkan pandangan. Wanita itu menatap ke luar jendela, saat Danan dengan senyam-senyum mengemudikan mobilnya.
Kembang api seolah-olah meledak di dalam hatinya. Memberikan warna-warni rona kebahagiaan di hatinya.
" Kamu cantik banget Shin?" mulut Danan licin bak belut sawah.
Ya, Shinta yang mengenakan dress warna bottle green itu, terlihat memukau. Rambutnya ia biarkan menjuntai indah. Penampilan yang bagi Shinta itu sederhana, namun justru membuat hati Danan berdesir.
Meski terdiri dari unsur pemaksaan dan di bumbui sedikit kebohongan, namun Danan malah justru senang. Segala cara, ia halalkan.
" Mamaku kurang enak badan. Dia pingin ketemu kamu. Aku udah cerita soal kamu ke mama !"
" Kamu ketemu dulu ya, aku sebenarnya gak mau maksa kamu. Tapi, mama kekeuh ( ngotot) minta kamu kesana!"
Berbohong adalah tindakan yang pernah di lakukan oleh semua orang di jagat raya ini bukan? namun, semua perkataan Danan tadi pagi, jelas itu yang keluar dari dasar hatinya. Hanya saja, ia mengkambinghitamkan mamanya. Benar-benar licik dan licin.
" Aku malu mas!" Shinta meremat tangannya. Wanita itu grogi rupanya.
Danan tersenyum. " Kenapa grogi?"
Shinta teringat mama mertuanya, ia bahkan sudah lama tak merasakan sentuhan kasih seorang ibu. " Aku...aku janda yang baru di tinggal mati suaminya lima bulan, tapi..."
Shinta kadang merasa insecure, apa benar bila hatinya secepat itu melupakan Rangga.
Sebenarnya tidak, ia tak pernah menjawab 'iya' ataupun ' tidak' saat Danan kerap mengungkapkan perasaannya, kepada dirinya. Hanya saja, manusia seringkali terlalu banyak menimbang.
Danan menepikan mobilnya, ia tahu bila Shinta sedang cemas akan dirinya sendiri. Pria itu ingin mengusir kegundahan Shinta.
" Hey, what did you say?" Danan kini menepikan mobilnya, saat mereka sudah berada di kilometer tujuh dari kediaman Shinta.
" Aku malu mas. Mas keluarga terhormat, sementara aku..." Shinta berusaha menarik napasnya. Menyedot seluruh oksigen yang ada, guna menetralisir kegugupan.
" Suamiku baru lima bulan pergi, sementara aku?"
Danan kini tahu, Shinta pasti tengah memusingkan penghakiman orang lain. Wanita di sampingnya itu cemas, karena takut dengan ocehan orang lain.
" Hey!" Danan mengusap pipi Shinta dengan posisi memiringkan tubuhnya, dari depan kemudi. Membuat dada Shinta kini berdesir karena sentuhan tangan kokoh Danan.
" Kamu tahu hidup yang lelah itu hidup seperti apa, hm?" tanya Danan dengan suara pelan. Ia menatap mata Shinta yang suka berkaca-kaca.
Shinta menggeleng menahan sesak.
" Hidup yang selalu memusingkan kata orang lain!" ucap Danan.
Suasana senyap. Shinta berusaha menelaah ucapan Danan yang agaknya mengandung kadar kebenaran.
__ADS_1
" Dengan kamu membuka hati, bukan berarti kamu gak cinta sama suami kamu kan?"
Shinta masih terdiam.
" Aku siap kok Shin, berbagi tempat dengan Rangga. Dengan sosok yang sudah enggak ada lagi. Aku tahu nama Rangga pasti masih bersemayam di hati kamu. Dan aku mau terima hal itu!"
Shinta menatap Danan lekat. Cairan bening itu hampir saja lolos. Ia menghela napas guna mentraliris sesak di dadanya.
" Aku cinta sama kamu Shin. Aku pingin melanjutkan kebahagiaan yang Rangga berikan buat kamu, dengan caraku dan dengan versiku!"
Hening.
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Ia harus pandai-pandai memilih kata-kata, meskipun itu bertolak belakang dari hatinya. Tapi, ia masa bodo akan hal itu.
Danan tahu, selama ini Shinta belum pernah menjawab apapun, selama ia gencar melayangkan ungkapan rasa.
" Jadi please, stop feeling you are worthless ( berhenti merasa kamu ini gak berharga)"
Shinta tercenung dengan hati menahan sesak. Pria di sampingnya itu benar-benar pejantan tangguh. Ia selalu tak bisa menolak saat Danan memberikan perhatian, dan pernyataan indah yang kerap membuatnya seperti hidup kembali.
Suasana kembali senyap dalam sekejap. Dua insan di dalam mobil itu saling menatap. Danan menatap nanar bibir Shinta, sejurus kemudian pria itu mengecup mesra bibir Shinta.
Shinta bisa merasakan aroma tubuh pria yang kini menyapukan lidah ke bibirnya itu. Ciuman dalam yang bisa Shinta rasakan penuh kasih, penuh rasa sayang.
Sayup-sayup suara kendaraan yang melintas menjadi backsound kegiatan mereka.
Sepertinya usaha danan mengalami kemajuan. Bibir hangat Danan yang menempel ke bibir Shinta kini mendapat sambutan dari wanita itu.
Shinta membalas ciuman Danan.
Lum*atan dan sapuan lidah Danan benar-benar membuat Shinta merasa dicintai. Pria itu terlihat meraba lengan Shinta. Sejenak Shinta merasa dirinya bak di aliri arus listrik. Gemetar dan ada hak dahsyat yang tak bisa ia jelaskan. Hanya bisa ia rasakan.
" Mas!!" Shinta yang kesadarannya kembali seketika mendorong tubuh Danan dengan wajah malu.
Ini gila, benar-benar gila.
Namun tidak dengan pria itu, pria itu justru tersenyum smirk ( menyeringai), saat Shinta membuanh wajahnya.
Baiklah, setidaknya wanita itu sudah mau menyambut ciumannya. Sisanya, biar ia bereskan nanti. Ahay!!!
" Biasakan dirimu, latih dirimu untuk terbiasa mendapat serangan dariku sayang!" batinnya seraya menatap Shinta dengan wajah senyam-senyum sendiri bak orang gila.
Danan senyam-senyum seraya menghidupkan kembali mesin mobilnya, ia melirik Shinta yang wajahnya memerah karena malu. Wanita situ kini mengarahkan pandangannya ke luar jendela yang gelap.
Percikan kembang api dar der dor di hati Danan. Ia bahagia sekali malam itu.
Dalam hati, Danan bersorak-sorai. Agaknya usahanya sudah membuahkan hasil. Kini, ia tinggal pasrah kepada mama dan papanya, yang telah merelakan diri untuk menjadi tim sukses buatnya.
Cihaaaaaaa!!!
.
.
.
.
__ADS_1