
Bab 245. Tamu tak terduga
.
.
.
...ššš...
" Kesedihan selalu berdampingan dengan kebahagiaan. Layaknya siang dan malam!"
.
.
TOK TOK TOK!
Ketukan pintu dari luar sukses membuat lidah yang saling berbelit itu terlepas. Baik Bastian maupun Rania sama- sama belingsatan.
" Buka aja dulu!" tukas Rania seraya membenarkan anak rambutnya ke tepi telinga. Malu karena kepalang tanggung.
" Ehem!" Bastian berdehem guna menetralisir rasa hamsyong dalam dirinya.
Ceklek
Pintu terbuka, menampilkan seorang petugas hotel pria yang membawa sebuah koper kuning. " Maaf Pak, sepertinya ini koper milik bapak. Tadi tertinggal di depan meja resepsionis!" tutur petugas itu dengan penuh kesopanan.
" Astaga, maaf ya!" Bastian melupakan benda itu. Tahu begitu, ia tak akan susah- susah untuk ke toko mencari baju.
" Saya permisi, mari pak!" pria dengan name tag Ginanjar itu mengangguk sopan.
" Kenapa?" ucap Rania menyongsong kedatangan Bastian " Lah itu kan?" ucap Rania kembali saat melihat koper hardcase miliknya.
" Tahu begini aku gak lama-lama ninggalin kamu di bathtub tadi, mana wajah kamu udah pucet banget lagi tadi!" Bastian mendengus, sementara Rania tersenyum.
" Tapi kalau gak gini kamu gak akan tahu ukuran Bra aku kan!" Rania memeluk Bastian seraya menyenderkan kepalanya.
Bastian mendelik, Rania lebih agresif ketimbang dirinya. Keturunan Aryasatya memang tak bisa diragukan lagi.
" Tadi aku minta mbaknya buat nyari yang seukuran punya dia kok, aku mana tahu nomer Bra kamu!"
" Auwhhh!" Bastian mengaduh karena Rania mencubit lengan Bastian sangat kecil.
" Sakit Ran!" Bastian berengut.
" Jadi kamu genit sama pegawai toko, beraninya ya!" Rania terus mencubit perut Bastian, membuat mereka berdua tergelak sambil berlari-lari mirip bocah pecicilan.
__ADS_1
Hingga akhirnya mereka berdua terpantul-pantul diatas kasur pegas besar itu. Seketika saling menatap dengan napas yang kembang kempis.
" Jangan marah-marah terus, entar..."
Rania langsung mencium bibir Bastian, wanita itu benar-benar takut kehilangan Bastian dengan segala cinta dan perhatiannya.
.
.
SMP TUNAS BANSA
" Kenapa Jo?" Raka yang datang dengan Snack berbumbu micin itu menginterupsi lamunan Jodhi.
" Bosen Ka, tiap hari begini-begini aja!" Jodhi duduk di kursi panjang, memandang hamparan lapangan basket di halaman sekolahnya.
" Maksudnya?" Raka mengerutkan dahinya seraya menatap wajah adiknya itu.
Jodhi menghela napas " Kapan ya Jo, mama bisa kayak Bunda Dhira. Diem dirumah, ngurus kamu ngurus , Ayah Abi!"
Membuat Raka tertegun, adiknya itu rupanya merasakan kesepian terkait kasih sayang. Ia pikir semua sudah beres.
" Kamu udah tahu kalau mama kamu dekat sama seseorang?" tanya Raka.
Jodhi menggeleng lemah dengan wajah muram. " Om Fredy?"
Rania memang belum membicarakan kedekatannya dengan Bastian. Yang Jodhi tahu, mereka dekat karena circle keluarga yang terbentuk karen Abimanyu yang menikah dengan Andhira.
" Kamu dulu bilang sebentar lagi aku bakal punya papa baru, tapi..." Jodhi benar-benar itu kepada Raka.
" Kita tidak pernah tahu persoalan orang dewasa Jo. Mereka banyak pertimbangan, maaf kalau aku salah mengira!" Raka menepuk pundak Jodhi yang lesu.
" Memangnya dulu kamu nebak siapa?" Jodhi menatap wajah kakaknya.
" Om Bastian!"
Kini gantian Jodhi yang tertegun.
.
.
Kediaman Yusuf Wiratmaja
Pukul 09.00
" Kamu kapan lamar Shinta Dan?" ucap Nyonya Alda saat mereka duduk di ruang keluarga.
__ADS_1
" Aku sudah lamar dia kok!" jawab Danan sambil sibuk menenggelamkan dirinya ke ponsel.
" Apa?" Nyonya Alda terperanjat, bagaimana bisa anaknya itu menjawab hal krusial dengan santai seperti itu.
" Kenapa kamu tidak melibatkan mama, kamu..."
" Ssstt ma, Danan cuma lamar secara simbolis kok , Danan cuma kasih cincin ke Shinta. Itupun dalam waktu yang mendesak, sebelum kita bantu Wisang kemaren!"
Nyonya Alda bermuram durja, bagaimanapun juga Danan adalah anaknya. Melepas masa lajang harus dilengkapi dengan selebrasi.
" Kalau begitu, kita harus melamar Shinta secara resmi. Mama mau..."
Lagi-lagi ucapan wanita tua nan cantik itu, harus menguap percuma. " Ma, Shinta mau sama Danan aja, Danan udan bersyukur!"
Danan memegang tangan putih mamanya.
" Danan takut membuat Shinta tertekan. Ini pertama untuk Danan dan kali kedua untuk Shinta, jangan dipaksakan ya mah kalau Shinta gak mau ada perayaan. Buat Danan yang penting Shinta mau jadi menantu mama!"
Danan tahu pasti hal itu yang akan dipikirkan Shinta. " Aku setelah ini mau kerumah dia!"
" Jangan macem-macem kamu kalau pas sama dia. Tunggu sampai menikah!" peringatan keras dari nyonya Alda membuat Danan meneguk ludahnya degan seret.
Apalagi, ia tahu betul tabiat Danan yang seorang Cassanova kelas kakap.
" Iya-iya!" ucap Danan berengut seraya memanyunkan bibirnya.
.
.
" Ya ampun Bu, ini enak banget!" Sundari dan Sukoco menjadi tester untuk lapis legit yang dibuat oleh Shinta.
" Beneran mbak? aku baru di kasih resep ini sama Dhira. Mudahan mas Danan seneng ya?" Shinta nampak antusias.
" Enak Bu, beneran. Legit banget!" Sukoco jujur, rasa kue lapis legit buatan Shinta memang endulitak.
Shinta cantik sekali pagi itu, ia kini terlihat memakai dress dengan motif bunga tanpa lengan. " Mbak, minta tolong bukain pintu ya, itu mas Danan kayaknya!"
Shinta meminta Sukoco untuk membuka pintu, lantaran bel itu terus saja berbunyi. Namun, mata Shinta membulat dan mengahru biru demi melihat sosok orang yang membuatnya terkejut.
" Halo Shinta apa kabar?" ucap orang itu dengan tatapan sendu.
.
.
.
__ADS_1
.