
Bab 185. Sebuah Kelegaan
.
.
.
...ššš...
" Orang yang banyak tertawa, seringkali dia yang paling banyak mengalami pengalaman menyedihkan!"
.
.
Usai mengoleskan krim ke wajahnya, Dhira kini merayap ke atas ranjang dan bersender di bahu suaminya yang juga tengah duduk nyender di tumpukan bantal kasur mereka.
" Sayang!" ucap Abimanyu saat merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Hal yang sering lakukan sebelum tidur adalah, mengobrol.
Membicarakan apa saja tentang kesibukannya, kesibukan istrinya hari itu. Ia ingin menjadikan pengalaman kegagalan hidupnya sebagai sebaik- baiknya guru. Dan salah satu pondasi rumah tangga ialah komunikasi yang terjalin apik.
" Hemmmm?" Dhira yang sibuk menarik selimut hanya ham hem ham hem.
" Lusa aku terbang ke kota BL!" ucap Abimanyu membelai rambut Dhira.
" Mendadak banget?" Dhira menatap wajah ganteng suaminya yang telah bertelanjang dada. Kebiasaan pria itu jika tidur, tak pernah mengenakan pakaian atas.
" Si Devan lupa kasih tahu. Kasihan dia patah hati kayaknya, kerja jadi gak fokus!" Abimanyu terkekeh.
" Pak Devan itu ganteng padahal mas, kok nasibnya tragis begitu ya?"
" CK, kamu gak boleh muji pria lain. Kamu malah bilang Devan ganteng, sedang aku gak pernah loh kamu puji begitu!"
" Astaga mas, kan memang bener kalau Pak Devan itu gant...!"
Abimanyu serius dengan ucapannya, ia tak suka bibir istrinya itu menyebut kelebihan pria lain di depannya. Abimanyu menyumpal mulut istrinya dengan ciuman panas.
" Mmmmmmm!" Dhira memukul lengan berotot suaminya, karena ia kehabisan napas.
Abimanyu tersenyum saat melepas ciumannya.
" Bisa gak sih jangan begitu!" Dhira berengut kesal.
" Sudah aku katakan, jangan sebut pria lain dengan segala kelebihan mereka. Aku cemburu Dhir!" ucap Abimanyu.
" Cuman begitu aja loh mas!" Dhira kini berengut sebal. Lalu harus bagiamana lagi dia?
...ššš...
Dananjaya
Malam ini sepasang mata pria nestapa itu tak mau terpejam. Ia menyambar sebuah jaket lalu meraih kunci mobil di nakas samping ranjangnya.
__ADS_1
Tampilan Danan kini terlihat tak karuan. Cambang tipis di sekitar rahangnya terlihat tak terurus. Pria itu juga agak terlihat kurus, rambutnya juga sekarang panjang tak terpangkas. Apalagi, Danan termasuk golongan orang yang hormon pertumbuhan rambutnya lebih cepat.
Pria itu benar-benar terlihat lain.
Sebulan lebih pasca meninggalnya Rangga, dan ia mangkir dari acara pemakaman itu kini hati Rangga di selimuti rasa ingin tahu. Lebih tepatnya rasa rindu.
Dengan hati gelap gulita yang tak tersuluh apapun itu, Danan memacu kendaraannya dengan santai.
Ia berhenti tepat dari jarak seratus meter dari kediaman Shinta. Wanita itu belum tidur rupanya. Ia tahu dari lampu kamar Shinta yang berada di lantai dua itu, masih terang benderang.
Danan menarik tuas handbreak lalu mematikan mesin mobilnya. Sudah lama ia tak tahu kabar tentang wanita itu. Kini dengan siapa ia tinggal, atau bagaimana janda Rangga itu menjalani kehidupannya, ia benar-benar tidak tahu.
Alih-alih menghalau rasa karena ia tau Shinta tak menginginkan dirinya, namun semua itu malah menjadi sebuah siksaan baginya. Kehilangan gairah hidup. Bahkan selama itu pula, ia tak pernah bersua dengan Wisang maupun Abimanyu.
Lebih dari lima belas menit ia berdiam seraya menata lekat rumah Shinta. Ia hanya ingin mengobati rindunya dengan memuaskan diri menatap rumah Shinta. Namun tak berselang lama, ia melihat pagar itu bergerak, seorang wanita menyembul dari balik pagar tinggi itu.
Shinta terlihat keluar dengan mengenakan kaos dan leging yang fit di kaki jenjang wanita itu.
" Shinta?" Danan bergumam dengan sedikit tersenyum. Tuhan sedang baik kepadanya saat ini. Melihat Shinta dari jauh saja sudah membuat kerinduannya mereda.
.
.
Shinta
Dalil yang menyebutkan jika waktu adalah sebaik- baiknya penyembuhan luka , itu adalah benar adanya.
Shinta yang lebih dari sebulan ini hidup sendiri benar- benar di buru oleh kesepian. Wanita itu kini sudah lebih ikhlas dengan kepergian suaminya. Walau belum seratus persen.
Malam itu ia yang lekas bangkit dari keterpurukannya, berniat membakar sampah di dalam gorong- gorong depan rumahnya yang biasa dijadikan sebagai tempat pembakaran sampah.
Ia ingin menyibukkan diri dengan bersih-bersih rumahnya.
Apalagi, sudah lama ia tak bertemu degan teman-temannya, ia sibuk mengurung diri juga meratap. Namun semua itu tak menghasilkan apapun, selain kesunyian. Shinta berada di titik rendah dalam hidupnya.
Dan saat ia sedang memandangi jilatan api yang membakar cepat kertas dan sampah itu, seseorang menangkukan jaket ke tubuhnya yang ia peluk sendiri sedari tadi.
" Kalau dingin kenapa tidak pakai jaket?" suara seseorang itu mengagetkan dirinya. Suara yang familiar di telinganya.
" Kamu!"
.
.
" Minumlah selagi hangat!" Shinta membuatkan jahe hangat untuk Danan karena suara pria itu tenggelam. Ya, Danan baru saja sembuh dari batuk akibat gaya hidup yang kembali tak sehat.
Rupanya Shinta mengajak Danan masuk karena tak enak jika mengobrol di luar. Penghakiman orang lain seringkali membuat segala sesuatunya tidak berjalan mudah.
" Terimakasih!"
Kecanggungan kini menyeruak. Shinta ingat saat pemakaman suaminya, pria di depannya itu tak terlihat ada di sana.
__ADS_1
" Bagiamana keadaanmu sekarang?" Danan tak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.
Shinta tersenyum kecut " Ya , seperti yang mas Danan lihat!"
" Masih sama!" sambung Shinta.
" Sama dengan saat mas Rangga pergi meninggalkan aku tanpa pamit!" Shinta tersenyum ironi.
Danan meletakkan cangkir jahe hangat itu, usia meminumnya separuh. Hatinya nyeri mendengar ucapan Shinta.
" Aku minta maaf!" ucap Danan melipat kedua tangannya dan menumpukannya di tengah- tengah kedua pahanya.
Shinta menatap keadaan Danan yang berbeda jauh, saat ia menemuinya sewaktu sebulan yang lalu.
" Untuk?" Shinta menatap Danan yang kini tampilannya benar-benar kacau.
" Aku mau jujur sama kamu. Aku tertarik sama kamu sedari awal kita bertemu. Bahkan meski aku tahu kamu sudah menjadi istri dari Rangga!"
" Aku memang brengsek, sangat brengsek!" Danan tersenyum kecut.
" Apa mas sadar dengan apa yang mas Danan ucapkan?" Shinta menautkan kedua alisnya.
" Sangat sadar. Mungkin kamu tidak menyadari, tapi...itu yang aku rasa Shin. Bahkan hingga detik ini!!" Danan menatap lekat wajah Shinta.
Keadaan mendadak menjadi sunyi, dan kenyamanan di sekitar perlahan memudar. Shinta menatap Danan tidak mengerti.
" Aku merasa gak sanggup bahkan untuk menghadiri pemakaman suami kamu Shin. Aku ngerasa jadi manusia paling brengsek waktu itu, aku ingin hibur kamu saat kau di rundung duka. Tapi aku bisa apa?
" Apa kata dunia?"
" Hatiku sakit saat kamu di katai sama mamanya Rangga, aku terluka saat ngelihat kamu hancur karena duka, aku ....!"
" Aku bingung dengan semua ini, aku cinta sama kamu Shinta....!" Dengan semua kata-kata yang keluar barusan, Danan merasa hatinya plong. Ia lega.
Shinta menggeleng lemah seraya menatap Danan dengan berlinang air mata.
" Ini gak benar mas!" ucap Shinta lirih.
" I know..I know Shinta, perasanku emang gak bener dari awal. Bahkan aku ngerasa aku hidup aja emang udah gak bener. Tapi aku bisa apa? aku gak sanggup nahan lagi buat ngungkapin ke kamu!" Danan kini berwajah muram. Dengan napas tersengal-sengal, Danan meluapkan isi hatinya.
" Mas Danan lebih baik pulang, ini udah malam. Aku gak enak sama tetangga!" Shinta beringsut bangkit dari Sofanya dengan air mata berderai.
" Shinta ..dengerin aku dulu!" Danan berusaha mencegah.
" Aku wanita mandul mas, mas gak akan dapatkan kebahagiaan sama aku..mas gak akan dapatkan apapun. Pusara suamiku juga belum mengering, aku gak mau membahas hal ini mas!!!"
Dengan air mata berlinang ia kembali ke lantai atas, meninggalkan Danan yang hatinya sudah lega namun frustasi karena nampaknya Shinta sulit di beri pengertian.
.
.
.
__ADS_1
.