The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 35. Raka Cidera


__ADS_3

Bab 35. Raka Cidera


.


.


.


Fredy menawarkan bantuan kepada Rania. Karena mobilnya jelas tak bisa dengan cepat digunakan.


"Biar di bawa orangku ke bengkel, kamu aku antar!" ucap Fredy, Rania pun menuruti saran temannya itu. Lebih penting untuk segera menjemput Jodhi.


Usai menjemput Jodhi dan mengucapkan permintaan maaf yang sama sekali tak di hiraukan oleh anaknya itu, mereka bertiga melesat menuju gelanggang olahraga.


"Lain kali kalau ga niat gak usah iku ma!!" Jodhi merajuk, jelas ini akan menjadi hal yang tak mudah untuk Rania.


"Maafkan mama ya, tadi mobilnya kempes bannya. Untung ada om Fredy" ucap Rania saat mereka masih di perjalanan, namun Jodhi tak berminat untuk menjawab.


Fredy masih diam, bocah bernama Jodhi itu mirip dengan mamanya sewaktu sekolah dulu. Jika sudah ngambek, susah deh buat mengembalikan suasana hatinya.


Mereka ketinggalan satu set, mereka tengah duduk di tribun sebelah barat. Jauh dari tempat Andhira dan Abimanyu berada. Meskipun Jodhi sempat marah, tapi tidak ada pilihan lain.


.


.


Indra menarik tangan Andhira dengan kasar, membawanya menuju ruangan kosong.


"Mau apa kamu mas!!" Dhira tentu saja terkejut, ia menjadi takut sekali.


"O.., jadi kamu setelah bercerai dari aku sekarang mencoba mendekati pria-pria kaya ya?"


Andhira membulatkan matanya, seraya mengusap pergelangan tangannya yang sakit akibat tarikan Indra.


"Apa yang kamu bicarakan mas!!" tentu saja tak terima degan tuduhan Indra yang ngawur itu.


"Alah, kamu itu memang ya. Wanita kalau udah jadi janda suka genit sama pria-pria!!" Indra menatap tajam Dhira.


Plak!!


Dhira menampar wajah Indra, ia benar benar tak tahan bila harus di rendahkan seperti ini. Ini adalah kali pertamanya juga, ia berbuat kasar kepada orang lain.


"Jaga ucapan kamu mas!" Dhira bernafas memburu, menahan emosi.


Indra memegangi pipinya yang panas karena mendapat hadiah tamparan dari Andhira, sakit juga rupanya.


"Antara kita sudah tidak ada apa apa, jadi tidak usah ikut campur urusanku lagi!!" Dhira menabrak tubuh Indra, membuat tubuh pria itu terhuyung.


"Dan satu lagi, aku tidak serendah yang kamu kira?" Dhira menabrak tubuh mantan suaminya itu, membuat pria itu terhuyung.


.


.


Indra


Ia menjadi curiga dengan kepergian dua orang di sampingnya, entah mengapa ia mejadi ingin tahu.


Ia mengikuti langkah orang nomer satu di Delta Group itu, ia bersembunyi di balik tembok. Ia memperlihatkan sosok Abimanyu yang bersidekap di samping pintu toilet.


"Mau apa dia disana?" batinnya.

__ADS_1


Ia terkejut, saat melihat Andhira yang mengobrol dengan Abimanyu. "Sudah aku duga, mereka pasti memiliki hubungan!" batinnya berbicara kembali.


Entah mengapa, ia menjadi tak rela melihat Dhira dekat dengan pria lain. Tapi bukankah dirinya sudah menjadi mantan suaminya, lantas mengapa kini ia merasa tak terima bila Dhira dekat dengan pria lain. Toh selama ini dirinyalah yang sudah berbuat keji kepada mantan istrinya itu.


Ia kembali menyembunyikan tubuhnya di balik tembok, saat Andhira berjalan menuju ke arahnya. Dan saat Dhira melintas tepat di depannya, ia menarik kuat pergelangan tangan mantan istrinya itu.


Namun niatnya ingin berbicara malah berbuah pertengkaran, membuat dirinya mendapat hadiah tamparan keras dari mantan istrinya itu.


.


.


Dhira kembali ke GOR dengan wajah kusut, benar- tak nyaman. Ia melihat Raka yang tengah beristirahat, lantaran timeout tengah diminta oleh official dari Tunas Bangsa.


"Baiklah saudara penonton, kita kembali ke pertandingan. Kali ini Sakti Buana memimpin. Skor sementara 16 12, masih Sakti Buana kali ini"


"Serve sudah dilakukan dengan baik, terima pemain tengah dari pada Tunas Bangsa, angkat tinggi- tinggi dan Spike!!!!"


"Lagi lagi nomer punggung 10, berhasil mengambil bola dengan pukulannya yang mematikan. Telak dan menukik!"


"Yeeeee"


"Wuuuuuuu"


Suara sorak Sorai mengiringi keberhasilan Raka dalam mencetak poin, sungguh membanggakan dan membuat Hadi suporter dari pada Tunas Bangsa puas hati.


Dhira sempat bertepuk tangan, tatkala putranya mencetak skor untuk team kebanggaannya. Melupakan sejenak kejadian tak menyenangkan yang ia alami.


"Mengejar ketertinggalan, kali ini Tunas Bangsa lakukan serve....." Suara pemandu jalannya pertandingan masih terdengar bersemangat, seolah tiada pernah kehabisan energi untuk berucap.


Tanpa terasa Indra dan Abimanyu sudah duduk di dekat Dhira kembali, bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa.Hingga tak terasa, berkali-kali skor di set terakhir itu menjadi skor yang kian memanas.


.


.


Raka


Official dari team sekolahnya meminta timeout untuk kesekian kalinya, Raka terlihat meminum air mineral. Melegakan tenggorokannya barang sejenak.


"Libero tolong standby di belakang sayap .Bloking, hati hati dengan pemain yang bisa saja melakukan serangan back attack! . Raka, kamu coba quick bal. Mereka agak keteteran menahan spike kamu!" ucap Pak Renaldi, memberikan arahan.


"Ingat, selangkah lagi kita juara!" ucap Pak Renaldi.


Raka dan teman-temannya mengangguk, pertanda paham dengan arahan coach mereka.


Eddo, adalah tosser kebanggan team Tunas Bangsa. Ia memberikan kode untuk Jodhi, untuk segera melakukan quick ball setelah passing diterima oleh yoga, yang bertugas sebagai Libero.


Prirrrtt


Bunyi peluit sudah terdengar, pertanda waktu timeout telah berakhir. Membuat semua pemain dari dua tim untuk kembali ke lapangan pertandingan.


Kode juga sudah ia baca, ia melihat papan skor. Menunjukkan angka 8 untuk Tunas Bangsa dan 7 untuk Sakti Buana. Artinya kini mereka harus change place, atau berganti tempat.


Prit


Suara peluit kedua dibunyikan, pertanda pertandingan kembali dimulai. Bola diterima dengan baik oleh Yoga, kemudian di ambil alih oleh Eddo, diumpankan kepadanya.


Dan sepersekian detik kemudian,


"Praaaakkk" bunyi bola yang berhasil di halau oleh dua blocker dari Sakti Buana.

__ADS_1


"Arrrrggghhh" Raka merintih kesakitan, jari-jarinya rupanya terlalu keras menghantam, membuat ia cidera.


Raka bahkan sampai berguling ke lapangan, membuat pertandingan itu terhenti. Wasit meniup peluit dan menghentikan pertandingan saat itu juga.


Raka memejamkan matanya, menahan sakit yang luar biasa. Jarinya serasa patah, nyeri, perih sakit tiada tara.


.


.


Pak Renaldi


Ia sudah sangat yakin dengan performa anak didiknya, Raka. lompatan yang tinggi dan power yang kuat saat melakukan spike, jelas menjadi keuntungan untuk team Tunas Bangsa.


Namun setelah membuahkan poin ke 9, nampaknya Raka mengalami cidera. Melihat anak didiknya berguling kesakitan membuat dirinya segera mengambil timeout, ia menghampiri Raka.


"Raka!"


"Pak, jari saya keseleo Pak!" Raka meringis kesakitan. Terlihat tiga jari kanannya cidera parah.


"Team cadangan masuk satu, kita harus segera ke rumah sakit!!" titah Pak Renaldi. Meminta pemain cadangan untuk menggantikan Raka.


Suasana menjadi panik, para pendukung dari Tunas Bangsa terlihat berdiri dengan bingung, khawatir dan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Raka dibawa oleh team medis yang sudah standby, apabila ada kejadian seperti saat ini. Ia terlihat di tandu, dan dibawa untuk mendapatkan pertolongan.


.


.


Andhira


"Raka!!" ia berteriak, demi melihat putranya yang terlihat tidak baik-baik saja.


Ia bingung bukan kepalang, melihat anaknya tang berguling kesakitan di tengah lapangan. Ia bahkan sempat tercekat, tak tau harus berbuat apa.


"Bagaimana ini Tuan!" tanpa sadar, ia memegang tangan Abimanyu karena panik.


"Kita kesana!" ajak Abimanyu yang juga nampak panik.


.


.


Indra


Ia langsung berdiri begitu melihat putranya tengah kesakitan di tengah lapangan, namun yang membuat dia terkejut adalah reaksi Andhira yang memegang tangan Abimanyu.


Sejurus kemudian, ia melihat dua orang di depannya pergi. Jelas menuju ke tempat Raka.


"Apa- apan ini!" hal yang aneh, mengapa dia tak terima?, bukankah selama ini dialah yang menyia-nyiakan mantan istrinya itu.


.


.


.


.


Follow author yuk,

__ADS_1


Fitriaermilayessi šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2