The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 233. Hikmah dibalik peristiwa


__ADS_3

Bab 233. Hikmah dibalik peristiwa


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Hikmah senantiasa mengajarkanmu untuk hidup bijak!"


.


.


Abimanyu


Ia mendapat panggilan dari Devan saat posisinya sudah dekat dari lokasi.


" Dimana Pak?" tanya Devan.


" Sudah di depan, kenapa?"


" Saya dan yang lain sudah tiba, saya menemukan satu orang tewas. Kemungkinan pembantu tuan Wisang!"


Penuturan Devan tak pelak membuatnya mengembuskan napas geram. Abimanyu memejamkan matanya, mengapa sampai harus ada korban begini.


" Tembaki saja yang menghalangi, usahakan jangan sampai mati, masalah polisi nanti biar aku yang mengahadapi!" titahnya jelas. Mendengar kata tewas, membuat Abimanyu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya kasar.


.


.


Dananjaya


Tak berselang lama, begitu sampai mereka tiba di lokasi saat Nanang masih sibuk menarik tuas handbreak mobilnya itu, ia langsung turun bersama Abimanyu.


Tunangan Shinta itu menyapukan pandangannya ke sekeliling. Terlihat kondusif. Hanya saja, ia bisa melihat banyak sekali mobil yang terparkir agak jauh dari rumah sahabatnya itu.


Dari tempatnya berdiri sambil menutup pintu, Danan melihat seorang wanita yang ia kenal.


" Itu kan Mira!" ia bermonolog sambil terus menyipitkan matanya, guna memastikan objek yang ia tangkap menggunakan netranya itu.


Wanita itu terlihat tergesa-gesa memutar mobilnya dari jarak kurang lebih sepuluh meter. Wanita itu bahkan sempat melihat ke arah mereka berdiri


" Kenapa Dan?" tanya Abimanyu.


" Nanti aku jelaskan, ayo masuk!" ajaknya tanpa menunggu lama.


.


.


Devan


Ia melihat banyak orang yang mengenakan pakaian hitam " Lumpuhkan pergerakan mereka, dan usahakan jangan mati!" titah Devan melalui sambungan earpiece kepada anak buahnya.


Dor


Saat hendak masuk, ia dikejutkan degan suara letusan senjata yang berasal dari dalam rumah Wisang. Jantungnya mendadak kian terpompa cepat. " Sial!" ucapnya berlari, pikirannya diliputi yang tidak-tidak.


Saat hendak masuk, ia di cegat oleh satu orang anak buah Wisnu. Perkelahian pun tak terelakkan.


Devan menendang, memukul tangan pria itu. Membuat sepucuk senjata milik musuhnya itu, terpelanting ke lantai. Sejurus kemudian ia menembak betis pria itu. Berharap pergerakannya lumpuh.


Dor


Dor


Dor


Terdengar suara tembakan lain, rupanya Abimanyu menembak pria yang akan menembak Devan dari belakang. Suasana mendadak begitu genting.


Sejurus kemudian Abimanyu menonjok wajah musuhnya itu. Berharap itu bisa membuatnya pingsan untuk sementara waktu dari pada harus mati. Karena jelas Abimanyu akan kesulitan jika mereka semua mati.


.


.

__ADS_1


Wisnu dan yang lain keluar dengan segera dari arah pintu lain. Pria itu rupanya sudah di cegat oleh Mira dengan senyuman licik.


" Bagaimana?" tanya Mira yang saat ini masih merasa diatas angin. Saat ini. Tidak tahu nanti.


" Mereka sangat romantis. Kau tahu, si perempuan tertembak karena menyelamatkan si pria!" Wisnu terkekeh sembari melepas jaketnya.


Mira melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. " Jadi istri Wisang mati" tanyanya sambil fokus di kemudi bundanya.


" Belum, wanita itu hamil!" ucap Wisnu membuat hati Mira Nyeri. Ia masih mencintai Wisang hingga detik ini, namun keserakahan dan keegoisan mengalahkan kewarasannya.


" Kenapa kau tidak menghabisinya saja tadi!" Mira mendadak geram dan tak terima karena mendengar Sekar belum mati. Itu artinya ia masih belum tenang.


" Hey, apa kau tidak dengar suara tembakan diluar ? apa kau ingin kau mati konyol disana?" kini Wisnu yang geram.


Membuat Mira mendengus. Suasana senyap beberapa detik.


" Sekarang apa rencanamu?" tanya Wisnu.


" Kita buat mereka miskin!"


.


.


Mata Abimanyu, Devan dan Danan dikejutkan dengan pemandangan menyedihkan yang sarat keharuan.


" Astaga!" gumam Abimanyu dalam hati.


" Oh tidak!" isi hati Danan yang merasa nyeri melihat Sekar yang terluka


Wisang menangis sembari terus menggoyang tubuh istrinya yang terus mengeluarkan darah pada bagian perutnya.


" Sekar!" ucap Wisang terlihat lemah.


" Sekar!!" Kini Nyonya Lisa bahkan menangis untuk menantunya itu.


" Cepat Wis, kita bawa Sekar kerumah sakit!" ucap tuan Wikarna yang turut panik.


Saat mereka hendak mengangkat tubuh Sekar yang bersimbah darah itu, Abimanyu dan Danan datang dan berlari ke arah kerumunan keluarga yang di rundung duka itu.


" Aku melihat Mira di depan!" tukas Danan kepada mereka semua.


Benarkah wanita yang selama ini ia gadang-gadang untuk menjadi menantunya, malah justru dalang di balik keonaran yang terjadi?


" Benar Tante, saya melihat degan mata kepala saya sendiri!"


" Wisnu yang melakukan semua ini!" ucap Wisang dengan rahang mengeras.


" Apa?" Abimanyu tak mendengar jelas gumaman sahabatnya itu.


" Wisnu dan Mira?" ucap Danan tak percaya. Mengapa dua orang itu bisa kenal dan terlibat aksi ini.


Disaat Danan sedang menuturkan informasi yang ia lihat, Devan terlihat serius mendengarkan gelombang suara dari earpiece yang terpasang di telinganya.


" Bos, ketua kelompok mereka kabur. Kami sedang dalam mengejarnya. Mereka mengarah ke jalan Silasona!"


Jason melapor kepada Devan, sebagian anggotanya sudah berhasil melumpuhkan anggita Wisnu itu. Namun Wisnu dan Mira kabur dengan mengendarai mobil lain.


" Pak, mereka berhasil kabur!" lapor Devan kepada Abimanyu.


" Kalian kejar saja si brengsek itu, aku akan membawa menantuku ke rumah sakit!" tuan Wikarna berbicara dengan raut geram.


Kesemuanya mengangguk setuju dengan ucapan tuan Wikarna. Sudah saatnya mereka harus melenyapkan pria biadab itu.


" Sekar, kamu harus bertahan sayang!" Wisang kini mengangkat sendiri tubuh istrinya dalam rengkuhannya. Mereka semua berlari meninggalkan rumah yang sudah mirip dengan lokasi gempa itu.


.


.


Nanang


Diluar Nanang terlibat perkelahian dengan pria yang menjadi anak buah Wisnu. Entah sudah berapa lama mereka saling adu jotos.


Terlihat wajah Nanang yang bengkak dan sedikit memar di bagian sudut bibirnya.


Bug


Tinjuan pamungkas yang dilayangkan oleh supir pribadi Raka itu, berhasil membuat anak buah Wisnu itu semaput.

__ADS_1


Bruk


Pria itu langsung ambruk dibawah kaki Nanang. " Mati aja Lo sana!" Nanang meludah diatas tubuh pria yang kini kehilangan kesadarannya itu.


" Sebaiknya jangan mati agar kita semua tidak dalam masalah!" sahut Abimanyu dari dalam. Membuat Nanang terkejut.


" Pak Abimanyu?" Nanang membungkukkan badannya hormat.


" Kerja bagus Nang, sekarang aku ada satu lagi misi penting untukmu!" ucap Abimanyu menepuk pundak Nanang.


" Dan kau tidak boleh gagal!" imbuhnya.


" Ya Pak?" Nanang menajamkan pandangannya, dengan sedikit menahan nyeri di rahang kirinya.


" Kau harus pastikan istri dari pak Wisang tiba dirumah sakit dengan cepat. Kami semua mengandalkan mu!"


Saat Abimanyu mengatakan hal itu, ia melihat seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan wajah penuh linangan air mata, yang membopong tubuh seorang wanita dengan simbahan darah yang banyak. Wanita itu terlihat setengah sadar.


Mata Nanang membulat.


Jadi wanita itu yang di maksud bos-nya itu, wanita yang kini harus menjadi tanggungjawabnya. Tanggung jawab untuk mengantarkannya ke rumah sakit dengan cepat dan selamat.


.


.


" Mas!" ucap Sekar dengan suara lirih dan terdengar lemah saat ia sudah duduk diatas pangkuan nyonya Lisa, yang sudah berada di dalam mobil Abimanyu.


" Ya sayang!" jawab Wisang dengan raut wajah yang benar-benar berada di titik nadir saat itu.


Wisang membungkukkan badannya saat berbicara dengan istrinya yang terbaring di pangkuan ibunya.


"Pergi dan pastikan jika Wisnu tidak akan menggangu kita lagi!" ucapnya pelan dan terdengar lemah.


" Tapi, aku harus..." Wisang tercekat. Ia harus memastikan istri dan calon anaknya selamat. Wisang berpikir untuk turut serta ke rumah sakit saat itu.


" Kumohon, aku harus mendengar dari bibir mas Wisang sendiri tentang kematian Wisnu!" Sekar meringis menahan sakit akibat peluru yang kini bersarang di perutnya.


Ia terlalu mual dengan tingkah Wisnu selama ini Pria itu benar-benar layak untuk di lenyapkan dari muka bumi ini.


" Sudah Wis, cepat kamu pergi. Mama akan bersama istrimu!" ucap Nyonya Lisa dengan wajah tak sabar. Ia benar-benar mencemaskan Sekar saat ini.


Wisang lagi-lagi dihadapkan pilihan yang sulit. Di lain sisi, tentu ia ingin menemani istrinya yang begitu terlihat menderita. Sementara, jika ia harus menuruti permintaan istrinya, itu artinya ia tak bisa menemani Sekar.


Namun, hati Wisang menghangat demi mendengar ucapan mamanya. Sungguh, hikmat besar yang ia dapat dari hal mengerikan ini, mampu membuat Wisang sedikit bahagia di sela kesedihannya.


" Baiklah, kamu janji harus selamat!" Wisang mengecup bibir istrinya di hadapan kedua orangtuanya. Hal itu membuatnya nyonya Lisa menangis sekaligus merasa bersalah.


.


.


Wisang menatap nanar mobil milik Abimanyu yang di kemudian Nanang , yang berisikan istri dan keluarganya itu. Mobil itu terlihat menghilang dari pandangannya, saat berbelok ke kiri menuju jalan raya.


" Baiklah, siapkan diri kalian. Karena aku yakin, mereka pasti akan membawa anggota lebih banyak lagi!" tukas Abimanyu kepada Danan, Devan dan Wisang.


Wisang terlihat kacau dan sesekali menyusut air matanya. Pria itu terlihat lemah dan tak berdaya saat ini.


"We're together buddy!" Abimanyu dan dan Danan menepuk pundak Wisang yang terlihat kacau. Berusaha memberikan kekuatan.


Arti persahabatan sesungguhnya, saat yang satu terluka. Yang lain turut merasakan pedihnya.


" Ya Jas?" jawab Devan menajamkan pendengarannya, saat kembali menerima gelombang suara dari earpiece yang ia kenakan.


" Mereka mengarah ke kawasan Siliwangi. Entah menuju kemana. Bawa semua pasukan yang ada bos!"


" Ada apa Van?" tanya Abimanyu.


" Mereka mengarah ke kawasan Siliwangi!" ucap Devan dengan wajah tak mengerti.


Wisang langsung menatap wajah Devan dengan wajah tak percaya. " Mereka akan menghancurkan pabrik utama milik papa!" ucap Wisang dengan raut wajah geram.


" Mira!!!!" ucapnya meremas tangannya sembari mengeraskan rahangnya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2