The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 91. Sepertinya Benihku Tak Tumbuh


__ADS_3

Bab 91.Sepertinya Benihku Tak Tumbuh


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Aku mencintaimu setulus hatiku


Aku menyayangimu dengan sepenuh jiwaku


Aku mengasihimu sepanjang usiaku


Aku menginginkanmu lebih dari apapun


Meski 'tak seindah yang kau mau


'Tak sesempurna cinta yang semestinya


Namun aku mencintaimu, sungguh mencintaimu


( Naff ~ Tak seindah seindah cinta yang semestinya)


.


Entah ada dorongan apa, Wisang hari itu justru membelokkan mobilnya ke Dapur Isun.


"Aku pasti sudah gila, untuk apa kau kemari?" gumam Wisang saat mesin mobilnya sudah mati , dan kini ia berada di depan ruko Dhira. Benar-benar definisi dari munafik. Namun dahi Wisang berlipat, karena ia melihat tawon betinanya tengah menutup rolling door ruko Dhira.


"Loh, kenapa di tutup?" Wisang kemudian membuka seatbealtnya. Ia kini sudah berada di halaman ruko Dhira.


Wisang melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya," masih pagi!" ucapnya.Sejurus kemudian, ia melihat tawon betina garang itu, keluar dengan langkah tergesa.


" Hey tawon, emmm maksudku kamu mau kemana, kok tutup?" Wisang menahan langkah Sekar, yang mendadak berhenti.


Sekar menatap sebal ke arah Wisang, apa maunya pria di depannya itu. " Bukan urusanmu, sana minggir aku buru-buru!" Sekar menampik tangan Wisang.


"Ehhh tunggu dulu!" Wisang menarik ujung rambut Sekar, membuat wanita itu meringis dan terpaksa berhenti. Kulit kepalanya serasa di cabut.


"Ihhh, kamu gendeng banget sih. Mau apa?" Sekar mendengus kesal, sembari mengusap kepalanya yang perih.


Wisang tergelak," aku tanya baik-baik!" ucap Wisang.


"Mau kerumah sakit, Bu Dhira pingsan!" tukas Sekar dengan wajah sebal.


"Hah?" Wisang lumayan terperanjat.


"Kerumah sakit mana?" tanya Wisang.


Sekar mendelik, ia lupa menanyakan dimana Shinta akan membawa Dhira untuk mendapatkan penanganan.


"Astaga, aku lupa. Mana aku belum punya nomer mbak Shinta lagi!" Sekar kini bingung.


"CK, dasar gadis aneh, lalu untuk apa kamu terburu-buru!" Wisang berdecak kesal. Bisa-bisanya gadis di depannya itu bertingkah tak jelas.


"Aduh , ya mungkin di rumah sakit terdekat situ?" jawabnya asal.


"Ya udah, ayo ku antar. Pumpung aku lagi baik hati!" Wisang membuka pintu mobilnya. Sekar masih berdiam diri. Ia tak kenal Wisang, bagaimana jika pria itu berbuat yang tidak-tidak.


"Aku tida akan berbuat apa-apa kepadamu, cepat masuk!" Wisang seperti bisa membaca pikiran Sekar.


Hah, bagaimana bisa dia tahu pikiranku. Batin Sekar, ia bergidik ngeri kemudian membuka pintu penumpang belakang.


"Heh, ngapain buka pintu?"

__ADS_1


"Katanya mau ngantar?" Sekar sudah mengernyitkan dahinya.


"Pindah ke depan, memangnya aku supirmu!" tukas Wisang.


"CK, yang benar saja. Belum apa-apa sudah bikin kesal dua kali orang ini. Dasar!" Sekar menggerutu sepanjang ia berpindah.


Brakkkkk


"Ini bukan angkot, jadi B aja kalau tutup pintu!" sahut Wisang yang baru saja terlonjak kaget.


"Maaf biasanya naik Lin kuning, jadi kebiasaan!" jawab Sekar datar.


"Takut sekali denganku, lagipula aku tidak selera dengan dada terepes macam kamu!" ucap Wisang seraya memasukkan perseneling mobilnya.


Sekar mendelik, refleks menutup bagian dadanya yang di katakan terepes tadi. Membuat Wisang terkikik geli.


.


.


Rania memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke rumah sakit yang terdekat. Rumah sakit swasta yang lokasinya tak terlalu jauh dari kedai.


...Rumah Sakit Citra Medika...


Rania memberhentikan mobilnya tepat di lobby rumah sakit tersebut, setelah menarik tuas handbreak dan mematikan mesin. Rania buru-buru membuka pintu penumpang.


"Sus tolong, pasien pingsan!" ucap Rania .


Petugas disana rupanya begitu sigap, tanpa menunggu lama terlihat ada dua perawat yang membawa brankar ke arah mereka. " pelan - pelan mas?" ucap Shinta yang mengiringi pemindahan tubuh Andhira, dari duduknya ke atas ranjang brankar.


"Aku parkir dulu ya mbak!" ucap Rania kepada Shinta. Raka dan Jodhi berbondong-bondong mengikuti Shinta, untuk menuju uang tindakan, tempat dimana Andhira di periksa.


Rania sibuk mencari nomer ponsel kakaknya.


"Halo kak?"


"Kak, aku lagi di Citra Medika ini. Aku bawa mbak Dhira kesini. Dia pingsan!"


"Apa, dia kenapa?. Kamu sama siapa aja disana?"


"Aku sama anak- anak. Tadi rencananya mau jemput Raka. Pas aku mau masuk, tiba-tiba mbak dhira udah di papah sama kedua pegawainya. Ya udah aku langsung bawa kesini.


"Ya udah, aku kesana. Kamu tolong kasih kamar terbaik disana Ran"


"Baik kak!"


Rania mengehela nafas. Ia bingung jika harus bertindak sendiri, ia segera melangkah ke dalam, guna menyusul Shinta.


Citra Medika bukanlah tempat Arya bekerja. Arya berada di rumah sakit lain, rumah skait terbesar di kota itu. Sementara Citra Medika bukan rumah sakit yang terlampau besar.


Dhira masih berada di dalam untuk di periksa, Raka dan Jodhi terlihat memeluk tas mereka. Entahlah, bagiamana nasib sekolah mereka pagi ini. Mengingat jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih.


"Itu mama!" tukas Jodhi melihat Rania berjalan menuju arah mereka.


"Mbak gimana?" tanya Rania kepada Shinta.


" Masih di dalam, masih di periksa!" jawab Shinta.


"Mbak udah menghubungi keluarganya?" tanya Rania lagi.


Shinta menggeleng, " Bagus, saya mohon jangan telpon siapa- siapa dulu ya mbak. Kak Abi sedang menuju kemari!"


Shinta akhirnya tahu, rupanya wanita cantik berambut coklat di depannya itu adalah adik dari Abimanyu.


Abimanyu rupanya datang lebih dulu. Entah secepat apa ia mengemudi. " Bagiamana keadaan mama nak?" Abimanyu bersimpuh di hadapan Raka yang duduk dengan wajah muram.


"Kak!" ucap Rania dari belakang.

__ADS_1


Abimanyu langsung berdiri," gimana?"


"Dokter bilang tensi Mbak Dhira rendah banget. Terus kayaknya dia kecapekan deh. Mbak Dhira masih di kamar. Kakak kalau mau masuk boleh, kami semua tadi udah masuk.


Shinta yang berdiri di dekat Raka sebenarnya senang sekaligus tenang melihat Abimanyu datang, begitu juga dengan Raka. Jodhi terlihat setia di samping Raka. Seolah menyiratkan ' don't worry. I'm here!'.


"Aku ingin masuk!" ucap Abimanyu. Rania mengangguk tersenyum.


Dhira terlihat terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata terpejam. Abimanyu sebenarnya senang bisa bertemu Dhira, tapi hatinya nyeri karena harus bertemu dengan keadaan seperti ini.


Abimanyu masuk seorang diri, ia mendekati Dhira yang terlihat pucat dengan jarum infus yang terpasang di tangan kanannya.


Aku tahu kamu pasti stres Dhir. Mata Abimanyu menggenang, hidungnya memanas. Ia tak kuasa menahan kesedihan.


Abimanyu mengecup bibir pucat Dhira yang terasa dingin itu, agak lama. Sejurus kemudian ia mencium kening Dhira, lalu mengusap rambut Dhira yang tergerai.


Ingin sekali rasanya Abimanyu membawa tubuh itu untuk pergi dari sana. Dan saat Abimanyu tengah duduk seraya memegangi tangan kiri Dhira, wanita itu terbangun.


"Mas Abi?" Dhira terperanjat, kepalanya masih pusing.


"Kamu udah sadar Dhir?" Abimanyu kini berdiri.


"Mas kok bisa disini?, dan kenapa aku..." Dhira mengumpulkan kepingan ingatannya. Abimanyu menekan tombol indikator, untuk memanggil petugas medis.


Dan tak berselang lama...


"Anda sudah sadar nyonya!" ucap seorang dokter wanita, yang baru saja masuk itu.


Abimanyu memundurkan langkahnya. Memberikan ruang buat Dhira untuk diperiksa.


"Anda suaminya tuan?" tanya dokter itu.


Abimanyu seketika salah tingkah, mau menjawab apa dia sekarang.


"Emmm dia teman saya dok!" Dhira menyahut, ada rasa nyeri di hati Abimanyu saat Dhira mengatakan hal itu.


"Oh baik, Bu diagnosa awal ibu mengalami kelelahan yang cukup parah. Tekanan darah ibu sangat rendah, saya sarankan untuk menginap semalam disini. Saya akan berikan ibu vitamin guna mempercepat kondisi ibu. Ibu juga seperti tengah stress" ucap dokter itu.


"Kalau saya mau pulang gimana dok?" Dhira tak mau merepotkan banyak orang.


"Kebetulan saya sedang datang bulan, mungkin..."


"Emmm, ya sudah nanti saya buatkan resep ya. Ibu dilarang untuk terlalu banyak beraktivitas berat, dan perbanyak konsumsi zat besi ya Bu. Bisa di urus administrasinya setelah ini.


Abimanyu mendengar setiap interaksi dua wanita di hadapannya itu. Ia sebenarnya terlonjak kaget saat mendengar Dhira berkata sedang datang bulan. Apakah itu artinya rencananya kandas?


"Saya permisi dulu, mari!" pamit dokter itu.


Abimanyu mengehela nafasnya, ia memandang Dhira lekat. Wanita itu terlihat tak nyaman dengan tatapannya, tapi ia tak peduli.


"Mas sebaiknya pulang, saya tidak ingin menambah masalah lagi!" Dhira berucap seraya menunduk. Tap berani memandang Abimanyu.


"Saya takut jik...."


Abimanyu menangkup wajah Dhira, ia mencium wanita itu dengan lembut. Meski tak mendapat balasan, Abimanyu terus Melu*mat bibir pucat Dhira dengan sesapan dalam.


Namun sejurus kemudian....


"Oh sory sory!" ucap Wisang yang mendelik saat membuka pintu itu seraya salah tingkah. Membuat ciuman dua anak manusia itu terlepas dengan segala interupsi dari Wisang.


Abimanyu jelas mengumpat dalam hatinya, sementara Dhira kepalang malu dan membuang mukanya. Ia merasa seperti wanita tidak benar. Berciuman dengan pria lain jelang tiga hari pernikahannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2