
Bab 99. A Beginning
.
.
.
...ššš...
Izinkan aku menjadikanmu sinar dalam hatiku
Karena hangat senyummu s'lalu menggetarkan jantungku
Izinkan aku mengagumimu tanpa harus kujelaskan
Karena cantik dirimu bagai surga di mataku
Dan izinkanlah aku mendekapmu,
membelaimu, menjagamu
Izinkan aku memelukmu, menyentuhmu, menyanding hatimu di hatiku
Izinkan aku mengagumimu
Dan izinkanlah aku mendekapmu,
membelaimu, menjagamu
Izinkan aku memelukmu, menyentuhmu, menyanding hatimu di hatiku
Dan izinkanlah aku mendekapmu, membelaimu, menjagamu
Izinkan aku memelukmu, menyentuhmu, menyanding hatimu di hatiku
Izinkan aku
Izinkan aku
(Naff ~ Ijinkan Aku)
.
.
Bastian kaget dengan kedatangan Rania, saat dia tengah menyeduh teh ke dalam cangkir di dapurnya itu. " Bu Rania?" ucap Bastian yang tak menanggalkan panggilan formal untuk atasannya itu.
"Duh Bas, numpang ke toilet dong!"
"Itu Bu !" Bastian menunjuk ke arah pintu berwarna hijau pastel.
Selang tujuh menit, Rania sudah keluar. Namun Bastian terlihat masih mengaduk tiga cangkir itu dengan seksama.
"Bas!" ucap Rania, membuat pria itu terlonjak.
"Astaga!" Bastian sampai menyenggol satu cangkir itu. Rania terkikik geli, melihat seorang pria membuatkan minuman untuk tamu.
"Makanya cari istri, biar gak apa- apa sendiri!" tukas Rania.
"Belum pede Bu, beda kasta!" jawab Bastian.
Dan entah mengapa, Rania yang membuat pertanyaan tapi justru Rania juga yang merasa sedih mendengar jawaban Bastian. Benar rupanya, ia sudah punya target. Rania mendadak berwajah muram.
Bastian melirik wanita itu dengan ekor matanya. Gemesin banget sih Bu kalau begitu. Bastian juga berucap dalam hatinya.
Minuman sudah beres, mereka berjalan bersama menuju ruang tamu, namun mereka berdua tanpa komando menjadi sepakat untuk menghentikan langkahnya, demi mendengar suara Oma Regina yang terdengar berang.
''Lihat!"
" Terlepas dari bagaimana kalian menikah dulu, ada atau tidak ada cinta tapi dengan adanya Andhira dan adiknya Andhira ke dunia ini, jelas menerangkan jika kamu mencintai suamimu!"
Deg
Bastian mematung, para orang tua di depannya itu memang sedang terlibat obrolan serius. Bastian memasang wajah tegang, sembari diam mendengarkan obrolan kedua orang tersebut.
__ADS_1
Rania yang berada di belakang Bastian, turut memepetkan tubuhnya ke dinding, kini posisinya sejajar dengan Bastian. Diam-diam Rania mengagumi wajah Bastian. Bastian ganteng. Ia tak mengira bila pria di sampingnya itu, pernah membawa dirinya dalam dekapannya sewaktu ia pingsan di lift sialan kantornya.
Bastian mengenakan T-shirt pollo berwarna hitam, dan mengenakan jeans selutut. Khas pakaian rumah, aromanya laki banget, membuat jantung Rania berdegup kencang. Meskipun agak lucu, karena pria di sampingnya itu berdiri dengan wajah tegang, sembari membawa nampan berisi tiga cangkir teh. Mirip pelayan.
Terdengar Isak tangis dari depan, itu jelas suara ibunya.
"Dengan Kartika, kau dan aku adalah sama. Hanya seorang janda tua yang menunggu giliran untuk mati. Tak ada hal yang membuat kita bahagia selain melihat anak cucu kita juga bahagia. Apa lagi yang kita harapkan?"
Bastian menunduk muram, apa yang dikatakan Oma Regina itu memang benar adanya. ia masih terpekur menatap lantai bersih rumahnya. Masih menunggu Oma menyelesaikan ucapannya. Ia tak mau menginterupsi obrolan penting itu.
"Bu.." Bastian menoleh, ia memandang Rania yang terbengong.
"Bu Rania!" ucap Bastian dengan mulut nyaris tak terbuka.
Rania terlonjak, ia sedari tadi terhipnotis kegantengan Bastian.
"Mmmm iya!" Rania kikuk. Bastian tersenyum kepadanya.
Duh ganteng banget kalau begini, aahhhhh Bastian!!!
"Oma Regina lagi bicara serius sama ibuk, kita jangan kesana dulu ya?. Obrolannya soal Pak Abimanyu!" terang Bastian.
Wanita di depannya itu mengangguk. Sudah Rania duga, persoalan ini akhirnya membuat Oma-nya meradang. " Iya Bas, aku cuma khawatir kalau Oma terlalu terbawa emosi, nanti darahnya naik lagi!"
Mereka kembali diam. Seraya memasang telinga, untuk menguping pembicaraan dua orang tua itu.
"Dengar Kartika, aku sudah pernah melakukan kesalahan dengan memperkenalkan Gwen kepada Abimanyu. Dan yang kudapat adalah kekecewaan, dan juga kesedihan. Dan kuharap, kau juga jangan mencobanya. Manusia memiliki takdir sendiri, baik atau buruk. Tapi jangan kamu turut berkontribusi dalam menjadikan nasib anakmu lebih buruk!"
Bastian tertegun mendengar kalimat terakhir Oma Regina. Dia kagum kepada Bu Rania. Bahkan cenderung menyukai, tapi jika Abimanyu nanti jadi bersama dengan Dhira. Lalu bagiamana dengan dia. Tapi dia tak punya nyali, mengingat ia hanya pria berstatuskan bawahan Rania.
Mereka lalu melangkahkan kakinya, lantaran Oma Regina sudah tak bersuara lagi. Hanya sayup-sayup terdengar Isak tangis Bu Kartika.
"Kalian buat tehnya ke Teluk Bone atau bagaimana?"
"Lama sekali!"
Rania dan Bastian mendelik karena Oma mendamprat mereka perihal kedatangan teh yang delay.
...ššš...
Bocah itu benar-benar sudah dewasa sebelum waktunya, ia tahu kecemasan Bastian. Om nya itu pasti tengah menemani Uti-nya yang bisa ia pastikan tengah merajuk.
Ya, Bastian hanya mengetahui kabar Dhira dari berbalas pesan dengan keponakannya itu.
Jelang siang Andhira sudah terlihat berganti baju. Ia sudah siap untuk pulang. Ditemani Shinta dan Sekar, ia telah menyelesaikan segala sesuatunya.
Abimanyu menepati janjinya, tepat pukul 10 ia dan Wisang datang. " Sudah siap rupanya!" tukas Abimanyu tersenyum sesat setelah ia menutup pintu itu. Shinta adalah yang paling bahagia. Tentu saja, ia adalah team pendukung Abimanyu dan Dhira.
"Sudah Tuan!" jawab Shinta.
"Jangan memanggilku se formal itu, teman Andhira temanku juga. Apa aku terlihat setua itu?" Abimanyu tergelak.
Shinta tersenyum, pria di depannya tidak se arogan yang ada dalam pikirannya. Ia menjadi makin mantap, jika pria itu adalah yang terbaik untuk sahabatnya.
Dhira masih belum tenang, ia belum mendapat kabar ibunya. Bahkan ibunya tak menanyakan kabarnya lewat siapapun. Ia menjadi hopeless pagi itu.
Sejurus kemudian muncul Wisang," Gimana Wis?" tanya Abimanyu.
"Beres!" Abimanyu memerintahkan Wisang untuk membereskan urusan administrasi. Membuat Dhira mengerti.
"Gak usah bingung, membayar biaya rumah sakitmu tidak akan membuat Kak Abimanyu bangkrut Dhir!" tukas Shinta. Ya dia lebih memilih memanggil Abimanyu dengan sebutan 'Kak'. Lantaran kata 'Mas' adalah sebutan khusus Dhira kepada pria itu.
Abimanyu terkekeh, namun tidak dengan Dhira. Ia malah menjadi semakin sungkan. Sekar yang membereskan beberapa barang, juga terlihat sudah rampung.
"Udah beres semua Pak!" ucap Sekar.
"Baiklah, ayo!"
.
.
Rombongan itu menyusuri koridor RS beramai-ramai. Abimanyu sendiri yang mendorong Andhira menuju parkiran.
Saat Sekar hendak membuka mobil hitam Abimanyu, ia di kejutkan oleh suara Wisang.
__ADS_1
"Hey, kenapa kau kesana?" ucap Wisang.
Sekar mengerutkan keningnya," Bukannya ini mobil Pak Abimanyu?"
"Benar, tapi kau pulangnya denganku. Tidak dengan dia!" sahut Wisang.
Dhira menoleh ke arah Abimanyu," Aku ingin segera menyelesaikan yang perlu di selesaikan!" ucap Abimanyu meminta ijin Dhira.
Dhira tertegun sejenak, ia memandang Raka. Bocah itu mengangguk.
"Ayo!" Abimanyu mengajak Raka dan Dhira.
Wisang, Shinta dan Sekar melaju menggunakan mobil Wisang menuju Ruko. Sementara Abimanyu, Dhira dan Raka berada dalam mobil lain.
Meski lemah, namun Dhira masih bisa berjalan. Abimanyu saja yang lebay, tak mau barang sedikitpun Dhira merasa lelah. Namun bukan kenyamanan yang Dhira dapat, Dhira justru merasa dirinya mirip orang lumpuh.
"Kita makan dulu ya?" ucap Abimanyu masih di belakang kemudi, sementara Raka sibuk menggulir ponselnya di kursi belakang.
"Langsung pulang saja!" tolak Dhira.
"Kita belum pernah pergi bertiga, kita makan yang dekat-dekat saja!" Abimanyu merasa, ini adalah quality time pertama mereka.
Bagiamana Dhira bisa menolak, lawong mobilnya saja sudah terlanjur berbelok.
Ia membelokkan mobilnya ke restoran yang terdekat. Abimanyu tampil segar pagi itu, ia terlihat memangkas rambutnya juga mencukur bulu halus di sepanjang garis rahangnya, membuat di tampak lebih muda dan ganteng.
Dhira diam-diam menyukai tampilan Abimanyu yang ia nilai sangat maskulin itu, aroma parfumnya juga masih sama. Pria di sampingnya itu mengenakan kemeja warna navy yang di tekuk sebatas siku, dengan mengenakan celana jeans yang di lengkapi sneaker shoes warna senada.
Setelahnya menemukan parkiran yang strategis, ia menarik tuas handbreak lalu mematikan mesin mobilnya.
"Ayo Ka, setelah ini kita kerumah Uti!" ucap Abimanyu sesaat setelah melepaskan seatbelt nya . Ia membuka pintu kemudian berlari kecil memutari mobilnya.
Raka tersenyum senang, ia memang sudah lama tak makan di tempat begituan. Indra dulu juga jarang mengajaknya makan diluar, ia bahagia sebagai bocah remaja saat ini.
"Awas hati-hati!" Abimanyu membukakan pintu untuk Dhira, ia ingin memproteksi Dhira dengan prima.
Dhira berjalan pelan karena perutnya masih agak nyeri pasca proses kuretase, Ia menolak untuk menggunakan wheelchair. Lantaran tak mau menjadi pusat perhatian.
Usai menyiapkan kursi untuk Dhira, pria itu kini mengusap kepala Raka dengan lembut. " Ayo Raka yang pesan!"
Dhira melihat interaksi dua laki-laki di depannya itu begitu hangat, ia merasa sejumput rasa bahagia memasuki relung hatinya. Bahkan dengan Indra dulu, ia jarang di ajak makan seperti saat ini.
Tatapan Abimanyu sesaat bertemu dengan Dhira, tatapan yang menyiratkan kerinduan. Dhira yang merasa malu dan tak percaya diri itu, hanya mengulum senyum dalam keraguan.
"Ma, aku ke toilet dulu ya!" pamit Raka usai kegiatan santap itu berakhir.
"Om temani ya?" ucap Abimanyu.
"Ga usah Om, malu udah gede!" ucap Raka. Abimanyu tergelak mendengar jawaban bocah itu.
"Ya sudah, Om tunggu ya!"
Suasana sejenak senyap beberapa detik, karena Abimanyu terlihat membalas sebuah pesan.
"Mas!" ucap Dhira.
"Hemm!" jawabnya tanpa menoleh, masih terpaku di layar ponselnya.
"Aku takut ketemu sama ibuk, aku takut beliau kecewa sama aku mas!" Dhira memasang wajah sendu cenderung sedih.
Abimanyu mengehela nafas.
"Aku yang akan bertanggung jawab, trust me!!!" jawab Abimanyu sembari meletakkan ponselnya diatas meja.
Dhira tertegun.
"Dengar, aku tahu kamu pasti takut. Aku akan bicara baik-baik dengan ibumu. Kamu jangan kawatir, semua akan baik-baik saja" Abimanyu mencium punggung tangan Dhira. Membuat Andhira merasa terlindungi oleh pria gagah di depannya itu.
.
.
.
.
__ADS_1