
Bab 236. Perasaan Bersalah
.
.
.
...ššš...
" aku pulang...tanpa dendam. Ku terima kekalahanku, aku pulang...tanpa dendam. Ku salutkan, kemenanganmu!"
( Diambil dari lirik lagu yang di nyanyikan Sheila on 7)
.
.
Wisang
Dengan mengeraskan rahang, juga menggertakkan giginya, ia tertunduk seraya menitikan air mata. Tubuhnya bergetar hebat di bawah suhu yang masih terasa panas itu.
Ia bukan menangisi bangunan besar yang menjadi sumber pundi- pundi rupiah di keluarganya itu, melainkan dirinya yang telah mengotori tangannya karena telah melesatkan timah panas ke tubuh dua manusia biadab itu.
Mira dan Wisnu.
" Am sorry about that!"
" Wis!" Abimanyu mengusap punggung sahabatnya yang masih bergetar itu. Ia menarik nafasnya saat melihat sahabatnya yang sangat kacau. Terbakar kegetiran.
" Sebenarnya tidak harus berakhir seperti ini Bim andai mereka tidak bodoh!" ucap Wisang terlihat sendu.
.
.
Dalam sekejap, kejadian itu mengundang perhatian masyarakat. Sisa bau mesiu menyeruak dan menyerang hidung lautan manusia yang ada disana.
Bahkan, tak sedikit yang mengabadikan hal itu menggunakan telepon pintar yang mereka miliki. Sibuk membuat strory di berbagai portal media sosial yang mereka miliki.
Bom itu memiliki daya ledak yang lumayan besar. Jilatan si jago merah yang merembet itu kian membuat kepulan asap yang membumbung menjadi makin pekat.
Kepolisian juga sudah berkoordinasi dengan Damkar, guna proses pemadaman sisa api yang di takutkan merembet ke bangun lainnya.
Sejumlah polisi yang telah hadir kini sibuk memasang garis kuning bertuliskan do not cross. Garis kuning itu membentang sejauh beberapa kilometer. Mengitari panjang dan lebar dari luas bangunan pabrik yang kini porak poranda itu.
" Bas kamu urus ini dulu bersama Jason!"
" Van aku minta tolong kamu untuk memberikan keterangan kepada polisi, aku akan membawa Wisang dan Danan ke rumah sakit!"
Mereka semua mengangguk, para anak buah Mira yang masih hidup namun terluka kini telah di gelandang oleh para anak buah Jason yang berada di sana.
Mereka harus membayar semua perbuatan mereka. Beruntung, semua yang terluka masih bernapas alis masih hidup. Memudahkan urusan yang jelas akan di ambil alih oleh pihak penegak hukum.
Dengan tak terhibur, Wisang berjalan menuju mobil Abimanyu bersama Danan. Dalam sekejap, hatinya mendadak diliputi perasaan yang campur aduk. Mira dan Wisnu pasti sudah meregang nyawa disana, di dalam bangunan yang kini rusak dan terpanggang api panas.
Abimanyu mengangguk ke arah Danan untuk membiarkan Wisang sejenak. Ia tahu perasaan macam apa yang menyelinap kedalam hati sahabatnya itu.
__ADS_1
.
.
Nyonya Lisa
Ia menjadi yang paling tegang disana. Wanita itu merasa sangat bersalah. Ia kini menunggu diluar ruangan oprasi. Proyektil yang bersarang di tubuh menantunya itu harus segera di keluarkan.
Dengan harap-harap cemas, ia berdoa semoga calon cucunya selamat. Meski ia sendiri tidak yakin akan hal itu.
" Mama duduk dulu ma, papa jadi ikut gugup kalau lihat mama mondar-mandir kayak gitu!" tukas tuan Wikarna dengan wajah tak kalah cemas.
Nanang yang berdiri disana mendadak menjadi tegang. Apalagi, ia tahu Sekar yang sepertinya sudah kehilangan kesadaran sejak mereka sampai di lobby tadi.
" Mama menyesal Pa. Mama selama ini menyakiti wanita yang bahkan rela menolong anak mama!" Nyonya Lisa menangis demi menyadari segala kesilapan yang ia lakukan.
" Mama memihak orang yang salah Pa!" kedua netra wanita tua itu kini tergenang oleh cairan bening.
" Sudah ma!, semua sudah terjadi dan terlewat. Sekarang kita berdoa semoga Sekar dan calon bayinya selamat!" Tuan Wikarna merengkuh tubuh istrinya yang menangis hebat.
Penyesalan memang selalu berada di akhir.
Saat mereka sibuk mengharu biru, ponsel milik Nanang berdering. Mendendangkan lagu ciamik milik penyanyi ternama ibu kota.
" Di geboy geboy mujaer, Nang Ning Nong....Nang Ning Nong"
Membuat Tuan Wikarna dan Nyonya Lisa melonggarkan pelukan mereka karena raungan lagu dangdut itu. Mereka menatap Nanang yang seketika belingsatan.
Nanang seketika meringis, ia lupa untuk men-silent ponselnya.
" Kamu masih rumah sakit Nang?"
" Benar pak, saya masih di sini bersama Papa dan Mama pak Wisang!" Nanang menatap wajah dua orang yang kini memperhatikannya dengan serius.
" Ya sudah, tolong kamu jemput istri saya dan Bu Shinta ya. Pastikan kalian selamat Nang. Saya kesana sekarang!"
" Ingat Nang, jaga istri saya seperti kamu menjaga harga diri kamu!"
Nanang memutar bola matanya dengan sangat malas. Tugas penting namun lebay itu agaknya sudah harus Nanang biasakan. Menurutnya, bosnya itu unik.
.
.
Andhira
Ia sudah meminta Rania untuk menjemput Raka terlebih dahulu, namun sebelum ia menelpon adik iparnya itu, rupanya Abimanyu sudah lebih dulu meminta Rania untuk melakukan hal yang sama.
" Tadi aku udah di kasih tahu kak Abi mbak. Aman!"
Sejenak Dhira merasa senang dengan suaminya yang benar-benar memikirkan Raka. Membuat Dhira makin dibuat jatuh hati dengan suaminya yang selalu selangkah lebih maju darinya, dalam hal apapun. Termasuk perhatian kepada anak mereka.
Matahari berarak ke barat dan perlahan cahayanya sudah semakin mengeluarkan semburat jingga. Shinta dan Dhira sudah membersihkan badannya. Kini mereka terlihat resah menunggu kabar dari Abimanyu.
" Dhir, tenang. Kamu lagi hamil besar. Jangan sampai kamu stress loh!" Shinta khawatir, mengingat sahabatnya itu merupakan wanita hamil dengan resiko yang lebih.
" Aku cemas Shin!"
__ADS_1
Disaat mereka tengah duduk dalam keresahan, deru mobil yang terdengar membuat keduanya beranjak dalam waktu bersamaan.
" Mungkin itu mereka!" ucap Dhira seraya berjalan. Shinta kini mengikuti Dhira dengan langkah cemas.
Namun mereka terkejut saat melihat Nanang yang terlihat menyurai rambutnya di spion mobil yang baru saja ia kemudikan. Pemuda itu bisa-bisanya masih memperhatikan penampilannya di saat genting seperti saat itu.
" Nanang!" ucap Dhira.
Membuat Nanang seketika berjingkat karena terkejut. " Astaga Bu!" pria itu memegangi dadanya. Tak mengira bila Dhira akan menyongsong kedatangannya.
" Kamu kok pulang?" dahi Dhira kian berkerut.
" Sa- saya sama Bapak diminta untuk menjemput Bu Dhira dan Bu Shinta!" ucapnya seketika gagap.
.
.
Abimanyu
Kemudi mobil itu ada di bawah kendalinya. Bagiamana tidak, Danan lengan kirinya terluka karena timah panas yang masih bersarang di lengan kekar pria itu. Sementara Wisang, tidak usah di tanya lagi. Pria itu jelas pikirannya tengah bercampur aduk saat ini.
Istrinya yang kondisinya belum di ketahui seperti apa, keadaan Pabriknya yang luluh lantak, serta perasaan berdosa yang pasti bersarang di benak pria berwajah oriental itu, usai menarik pelatuk senjatanya ke arah Mira dan Wisnu.
Abimanyu meminta Nanang menjemput istrinya bukan tanpa alasan. Selain ia yang lebih tenang jika di dekat pujaan hatinya itu, kehadiran Dhira dan Shinta pasti sedikit banyak bisa menghibur Sekar bila sesuatu yang paling buruk sekalipun nanti terjadi.
Sedia payung sebelum hujan, Abimanyu kini benar-benar seperti seorang wali murid yang memerhatikan keperluan anaknya.
" Tolong jangan beritahu istri gue Bim!" ucap Wisang. Membuat Danan menatap dengan tatapan penuh tanya.
" Your secret is safe with us!" sahut Abimanyu.
Sejurus kemudian ia mengedipkan matanya kepada Danan sebagai pertanda untuk menahan diri agar tak bertanya.
Abimanyu akan berniat memberitahu Danan saat mereka tiba di rumah sakit nanti.
.
.
Rupanya baik Nanang maupun Abimanyu datang dalam waktu yang bisa dikatakan bersamaan. Danan meringis nyeri saat tangannya tak senagaja menyenggol pintu mobil Abimanyu.
" Ouh Shiii*iiit!"
Sementara Wisang terlihat menampilkan wajah dengan tatapan kosong. Tak memiliki semangat apalagi daya.
Abimanyu menjadi manusia yang paling akhir keluar dari mobil itu. Ia mengembuskan napas sebelum menemui istrinya.
Berbarengan dengan hal itu, Shinta dan Dhira juga keluar dari mobil yang di kendarai Nanang dengan wajah cemas dan panik.
" Astaga mas!" Shinta terperanjat saat melihat lengan kiri Danan yang berdarah. Hati wanita itu mendadak berdegup kencang saat melihat keadaan tiga pria ganteng yang kini terlihat seperti seorang pesakitan.
.
.
.
__ADS_1