
Bab 38. Indra yang Kalap
.
.
.
...ššš...
"Sangat kecil kemungkinan orang akan menyadari kesalahannya sendiri, lebih mudah untuk menguliti kesalahan orang lain."
Andhira mengerjapkan matanya, kepalanya terasa berat. Ia mengedarkan pandangannya, berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia mencoba merangkai ingatan.
"Tadi aku..." ia terlihat berfikir.
"Astaga!" Andhira membelalakkan matanya, ia ingat terakhir kali masih bercakap-cakap dengan Rania dan temannya, detik itu juga ia menoleh ke samping.
Ia membelalakkan matanya, demi melihat Abimanyu yang tertidur dengan posisi masih duduk dan tangan yang menyilang ke dada.
"Apa aku tadi pingsan?" ia bermonolog sendiri saking bingungnya.
"Kau sudah bangun!" nampaknya pria di ujung sana itu, sangat peka dengan suara.
"Maaf aku tertidur!" ucapnya lagi seraya berdiri, membenahi bajunya.
Membuat Andhira grogi, karena hanya berdua dengan pria yang bukan mahramnya.
"Tadi kamu pingsan!" terang Abimanyu.
"Dokter bilang kamu kelelahan, dan...!_ ucapannya terpotong.
"Saya harus segera menemui Raka, terimakasih. Maaf merepotkan!" Andhira segera turun dari ranjang dengan tergesa gesa, sampai ia hampir saja terjatuh. Namun dengan sigap Abimanyu menangkap tubuh Dhira.
"Awas!" Abimanyu berhasil meraih tubuh Dhira, membuatnya tak jadi tersungkur ke lantai.
Mereka terdiam sejenak, berada di posisi yang begitu dekat. Saling menatap, irama jantung mereka jangan ditanya, sudah mau lompat keluar saja.
Dhira bahkan bisa mencium aroma maskulin Abimanyu, begitu juga dengan pria itu. Ia bahkan bisa menghirup aroma sampho yang menempel di rambut Dhira, membuatnya mabuk kepayang.
" Wangi banget" ucap Abimanyu dalam hati.
"Permi...." ucapan Rania menguap di udara, demi menyaksikan tontonan ekslusif di depannya.
Dengan gerakan cepat dan kompak, Abimanyu dan Andhira saling melepas pegangan mereka. Menjadi seperti seseorang yang tertangkap basah.
Rania terlihat menggigit bibir bawahnya, sepertinya ia datang di saat yang tidak tepat.
"Tolong jangan salah paham!" ucap Dhira yang takut dengan apa yang di pikirkan oleh mama Jodhi.
"Sa - saya tadi..." kini gantian ucapan Dhira yang terpotong.
"Raka mencari mbak Dhira!" Rania tersenyum ke arah Andhira, ia tahu bila wanita di depan kakaknya itu tengah ketakutan.
"Saya permisi dulu!" pamit Andhira kepada Abimanyu, memegangi tengkuknya. Pertanda dirinya tengah malu abis.
Dhira tersenyum saat melewati Rania yang masih berada di ambang pintu, Rania juga membalas senyuman ramah mama Raka itu, setelah Dhira pergi Rania masuk dengan senyum licik.
__ADS_1
"Ehem ehem. Kesempatan dalam kesempitan!!" cibir Rania dengan berjalan melipat kedua tangannya, menuju ke arah Abimanyu.
"Udah tahu, ganggu aja!" Abimanyu menjawab dengan entengnya.
"Beneran mau sama janda?" Rania menaikturunkan alisnya, menggoda kakaknya.
"Berhenti menyebutnya seperti itu, kau ini sama saja dengan Devan!! ucap Abimanyu kesal.
...ššš...
Bastian yang mendapat kabar bila keponakannya itu tengah berada di Rumah Sakit, segera melesat menuju gedung bertingkat itu. Ia tak sendiri, Bu Kartika juga turut bersamanya.
Setelah mendapat info dari resepsionis, mereka melesat menuju tempat dimana Raka berada.
Terlihat Raka yang tengah di suapi makan oleh Andhira.
"Mama dari mana aja sih?" tanya Raka setelah menelan suapan pertama.
Andhira memberikan kedipan kepada Jodhi, sebagai isyarat untuk tidak menceritakan terkait dirinya yang baru saja pingsan. Sementara Indra masih diam seraya melipat kedua tangannya.
"Mama ke administrasi tadi!" bohong Dhira.
"Mama kamu tadi pingsan!, kebanyakan begadang kali. Sibuk mainan ponsel terus!" Indra justru berkata-kata yang membuat hati Dhira memanas.
Janda Indra itu terlihat memejamkan matanya, berusaha menetralisir amarah.
Raka tentu saja kaget, "Pingsan?" ucapnya meminta penjelasan kepada Dhira.
Jodhi menatap tak suka kepada Indra, ia mengepalkan tangannya menahan kegeraman.
"Mas, tolong ya!" ucap Dhira dengan suara lembut, mencoba menahan amarah.
Namun belum Dhira sempat menjawab, terdengar langkah kaki yang masuk ke ruangannya.
"Raka!!" suara Bu Kartika yang panik melihat keadaan Raka, kaki cucunya di balut dengan tensocrap, jari jarinya juga. Menandakan jika cucunya itu tengah tak baik-baik saja.
Bu Kartika memeluk tubuh cucunya, sementara Bastian menatap tak suka ke arah Indra yang berdiri di sisi kanan Raka.
"Kenapa bisa begini?"
.
.
Indra kini berada di luar, tatapan mantan mertua dan mantan adik iparnya jelas menerangkan bila mereka tak mau bersapa. Bahkan hanya sekedar basa-basi. Ia juga tak mau ambil pusing, ia memilih untuk menunggu diluar.
Saat Andhira terlihat membuang sampah bekas makanan ke luar, lagi lagi Indra datang ke arahnya.
"Kamu seneng kan cerai sama aku?, ibu kamu juga sepertinya senang dengan laki laki tadi!" ucap Indra tanpa tedeng aling-aling kepada Dhira, mengingat saat Abimanyu yang datang di sapa ramah oleh Bu Kartika.
"Kamu ngomong apa sih mas!" Dhira kesal bukan main, apa tidak bisa mantan suaminya itu tak membuat dirinya tak marah?.
"Kamu tadi pingsan sengaja kan buat manas- manasin aku!"
"Tamparan aku tadi pagi rupanya gak cukup ya mas, buat nyadarin kamu!" Dhira sangat jengah dengan sikap Indra.
"Kamu sadar dong mas!, siapa yang membuat keadaan kita seperti ini. ha!!"
__ADS_1
"Kamu berani ya!!" Indra menarik tangan Andhira dengan paksa, membuat wanita itu kesakitan.
"Lepas mas!!, sakit!!!" rintih Dhira, ia sungguh tak habis pikir. Mengapa saat sudah menjadi mantan istrinya sekalipun, ia masih saja tersakiti.
"Lepaskan atau kau akan dalam masalah!" terdengar suara bariton yang memergoki mereka berdua.
Indra dan Andhira menoleh secara bersamaan, rupanya Abimanyu mengetahui aksi Indra.
Indra melepaskan cekalannya, Dhira terlihat mengusap lengannya yang sakit karena tarikan kasar Indra.
"Ini adalah kali kedua saya melihat anda memperlakukan istri anda, upsss... sory. Lebih tepatnya Mantan Istri anda dengan kasar!" ucap Abimanyu dengan tegas, menatap Indra dengan tatapan tajam.
"Anda tidak perlu ikut campur, ini urusan saya!" Indra nampaknya melakukan perlawanan, ia sudah tak sungkan lagi meskipun Abimanyu adalah atasnya. Geram dengan ucapan Abimanyu yang terdengar tak menyenangkan.
"Jelas saya akan ikut campur, ini kekerasan!!"
"Wah wah, sepertinya kamu ini sudah berhasil merayu pria pria kaya ya. Dasar wanita ja lang!!!!" umpat Indra kepada Andhira.
Bought
Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Indra, membuat sudut bibir Indra terluka. Ia bahkan sampai jatuh ke lantai licin rumah sakit itu. Kini ia merasakan kekuatan seorang Abimanyu Aryasatya.
"Tuan!!" Andhira menjerit panik, melihat perkelahian dia pria di depannya.
"Breng sek!!!" Indra sama sekali tak memberikan rasa hormatnya, persetan dengan nasib pekerjaannya nanti. Yang jelas, harga dirinya tengah diinjak.
Bought
Indra membalas, mengenai pipi Abimanyu. Membuat pria itu sedikit terhuyung.
"Mas Indra!!!" ucap Andhira yang berteriak,.membuat orang yang didalam berhamburan keluar.
Bastian dan Fredy yang mengetahui pertengkaran itu, segera melerai Meraka berdua sebelum menjadi lebih parah.
Bastian terlihat memegangi tubuh kekar Abimanyu, sementara Fredy menghalangi Indra yang masih mencoba untuk menyerang.
"Sudah Pak, biarkan saja!" ucap Bastian kepada Abimanyu.
"Pak, tolong ini rumah sakit!!" Fredy memberikan peringatan kepada Indra.
Membuat mereka diam, dan saling memberikan tatapan permusuhan.
Bu Kartika sampai memegangi dadanya yang terasa sesak, "Ada apa ini. Mengapa mereka bertengkar?"
"Kau!!" tunjuk Abimanyu penuh kemarahan.
"Kenapa?, tidak perlu repot repot memecatku!. Aku yang akan keluar dari tempat sialan itu!!" Indra sudah muak, tak bisa bersopan santun lagi kepada Abimanyu.
"Dan kau!!, Kau sama saja dengan wanita murahan!!!" Indra berucap kasar sekali lagi kepada Andhira.
"Kau dengar!! Wanita Ja Lang!!!!!" ucap Indra berteriak, lalu pergi meninggalkan mereka tanpa rasa bersalah.
Andhira tentu saja menangis, bagiamana bisa mantan suaminya itu mengatai dirinya dengan kata-kata yang tidak pantas. Air matanya berderai tiada henti.
Bukankah selama ini ia yang tersakiti?, lantas mengapa Indra begitu murka tatkala melihat dirinya yang tanpa sengaja ditolong oleh Abimanyu?.
.
__ADS_1
.
.