The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 32. Terlalu Berlebihan


__ADS_3

Bab 32. Terlalu Berlebihan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Cerminan isi hati, ada pada perbuatan"


Shinta memandang Abimanyu yang dahinya di penuhi oleh butiran peluh, menandakan jika pria tampan di depannya sungguh terkena efek sambal kelas setan.


"Tuan, apa anda baik baik saja?" tanya Shinta yang melihat wajah Abimanyu menjadi merah. Mungkin karena sambal rasa setan, yang sudah ia lahap tak bersisa. Entah lapar, entah doyan.


Abimanyu tersenyum," ini enak, jujur meskipun pedasnya keterlaluan untuk saya. Tapi overall, ini benar benar enak."


Dhira dan Shinta saling melempar senyuman, saling memandang. Itu artinya makanan mereka banyak yang menyukai. Sebuah pujian bisa memberikan semangat baru bukan?.


Sejurus kemudian, Dhira menatap ke arah Abimanyu yang masih duduk di samping Jodhi. Menunggu keponakannya itu, menyelesaikan suapan demi suapan makana lezat buatan Dhira.


Dhira bahkan sempat terpesona dengan senyuman khas, yang menampakkan lesung pipi di wajah tampan Abimanyu.


Pandangan mereka sempat terkunci beberapa detik.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


Shinta bahkan sempat melirik mereka secara bergantian. Berhasil mengetahui pandangan tak sengaja itu.


"Ehem ehem" Shinta berdehem, memecah suasana hening yang berlangsung selama beberapa detik tersebut. Namun saat kesadaran mereka kembali, Andhira lekas mengalihkan pandangannya," Jodhi mau nambah nak?" kilahnya.


Membuat Shinta menggelengkan kepalanya, menyadari jika sesuatu mungkin saja telah terjadi. Hal manis mungkin. Entahlah, ia sendiri belum bisa memastikan hal itu.


"Bungkus ya Tan, ayamnya aja!" tukas Jodhi, sesaat setelah segelas es jeruk segar, meluncur ke rongga tenggorokannya.


.


.


.


Dhira menghembuskan nafasnya lega, sungguh kedatangan Abimanyu membuat dirinya tak merasakan ketenangan barang sejenak. Apalagi Shinta, sahabatnya itu benar-benar kepo tingkat akut.


Jodhi melambaikan tangannya, tanda salam perpisahan kepada mama dari temannya itu. Sekotak penuh ayam pecak, juga sudah berada dalam genggaman Jodhi.

__ADS_1


"Tante besok besok aku kesini lagi ya" kilasan ingatannya kembali pada ucapan bocah bandel itu, sesaat sebelum ia masuk kedalam mobil.


Membuat dirinya mematung, dan menatap mobil milik Abimanyu yang menghilang seiring jauhnya jalan yang sudah di lewati.


"Woy Dhir, buruan sini!" Shinta membuyarkan lamunannya, sudah dua kali ia bak kena hipnotis. Ya, hipnotis wajah ganteng Abimanyu. Buru-buru ia menepikan hal ini, bukankah dia sudah berjanji dalam hati bila prioritasnya saat ini adalah Raka.


Laki-laki yang ia cintai sepenuh hati, serta yang menjadi cinta pertamanya seperti Indra saja bisa berbuat hal menjijikkan kepadanya. Hatinya masih tertutup oleh rasa trauma.


"Ada apa?" Dhira berjalan menemui Shinta yang sepertinya tengah kegirangan.


"Gila!!, tadi itu siapa sih?"


"Masa cuma makan begitu doank, ngasih cek segini banyaknya" Shinta menunjukkan selembar Cek dengan sebuah logo Bank yang sangat ia kenali. Bank Central Seroja. Tempat dimana mantan suaminya dulu, memberikan nafkah untuknya.


"Ditolak pas mau di bayar cash, eh gak taunya.."


"Benar-benar sultan orang itu" tambah Shinta, yang takjub. Seberapa kaya sebenarnya pria yang baru saja makan di kedai Dapur Isun.


Kening Dhira menjadi berlipat, lalu meraih selembar cek itu dari tangan Shinta yang masih tersenyum senang. Ia tadi padahal sudah mewanti-wanti Abimanyu dan Jodhi, untuk tak membayar. Mengingat bila ibunya pernah di bayar secara berlebihan saat mereka diminta untuk membuatkan lapis legit, dirumah keluarga Aryasatya tempo hari.


" Kita harus kembalikan ini Shin" ucap Dhira.


"Lah, kenapa di balikin?"


"Makananku harganya gak seberapa, kalau dia ngasih sebegini banyak. Sama aja gak menghargai aku Shin".


"Mana ada makanan harganya sama dengan harga ponsel baru" Dhira memanyunkan bibirnya, tanda tak senang dengan sikap Abimanyu, yang semena-mena memberikan dirinya cek dengan nominal yang banyak.


"Lagian, dia udah punya anak masih aja curi curi pandang sama kamu. Kamu juga kan, hati-hati Dhir. Jangan sampai kamu ja..." ucapan Shinta terpotong.


"Ssssttt, ngomong apa sih kamu!" Dhira buru-buru menyetop ucapan Shinta yang mulai ngelantur.


"Dhir, aku tahu kali. Laki-laki tadi itu, menatap kami dengan tatapan gak biasa lo" ucap Shinta, seraya mendudukkan dirinya ke kursi dekat Dhira.


"Shin, stop. Hidup aku cuma Raka, gak ada yang lain."


"Itu tadi anaknya kan?"


Demi apa, Dhira mulai memutar bola matanya malas. Lantaran jengah dengan sikap Shinta yang selalu kepo.


...šŸšŸšŸ...


Seperti biasa, sehabis kenyang terbitlah ngantuk. Jodhi sudah tertidur dengan mulut sedikit terbuka, membuat Abimanyu menggelengkan kepalanya.


"Dasar anak bandel!" ucap Abimanyu tersenyum, dengan tangan masih memegang kemudi bulatnya.


Kilasan ingatannya kembali, kepada perhatian kecil. Ya meskipun hal remeh temeh, seperti memberikan minuman hangat untuk mengusir rasa pedas, yang seolah membakar bibir.


"Terimakasih" ia bahkan berucap sendiri di dalam mobil itu, tersenyum-senyum sendiri. Layaknya orang tak waras.


Abimanyu menjadi seperti orang yang baru mendapat jackpot. Ia merasa senang dengan perhatian Dhira. Makanan wanita itu memang enak, ia sengaja memberikan cek lebih lantaran Dhira menolak untuk diberikan uang.


Dan sialnya, ia tak membawa uang cash sama sekali. Malu?, sudah pasti iya. Apalagi, ia melihat belum ada fasilitas untuk pembawa kartu kredit di kedai milik mamanya Raka itu.

__ADS_1


Ia lantas mengisi selembar cek, lalu meninggalkannya di meja. Berharap tidak ada penolakan, tujuannya bila keponakannya itu tiba-tiba kesana dan meminta makan, setidaknya itu tak membuatnya rugi. Karena Jodhi adalah anak yang lumayan bandel.


.


.


Hari berganti dengan cepat, setelah Sabtu lalu team Raka lolos ke perempatfinal. Kini Raka akan bertanding di pertandingan final. Melawan team kelas kakap, jelas akan menjadi pertandingan yang seru.


Andhira sengaja akan menutup kedainya, demi mendukung sang putra. Ia berniat akan menuju ke perusahaan milik Abimanyu terlebih dahulu, untuk mengembalikan cek yang di berikan oleh Abimanyu tempo hari. Karena jalan yang searah, memudahkan dirinya untuk tidak bolak-balik.


"Maaf Bu, apa sudah membuat janji sebelumnya?" tanya Tiara, customer service yang tengah on duty pagi itu. Menyambut kedatangan wanita yang tempo hari sempat mengantarkan makanan, untuk Pak Dirut.


"Emm mbak, saya buru-buru. Dan saya juga belum buat janji. Saya cuma mau nitip ini" Dhira menyerahkan selembar cek bernominal lumayan itu, kepada Tiara.


"Tolong mbak berikan kepada Tuan Abimanyu" ucap Dhira memohon. Tentu saja, ia tak berani jika harus menemui langsung.


Tiara menatap heran, cenderung bingung. Apa maksudnya wanita di depannya itu, memberikan cek yang sudah di tandatangani oleh orang nomer satu di Delta Group itu.


"Kalau boleh tahu, Ibu mendapatkan ini dari mana?"


"Sa-Saya..."


"Ada apa ini?" terdengar suara seorang pria dari arah belakang.


.


.


.


.


.


.


.


.


Selamat malam readers terkasih.


Ada yang rindu Abimanyu sama Andhira kah? 😁😁😁😁 Mommy minta maaf ya sudah lama gak up.


Ada acara keluarga, semoga readers dimanapun berada tetap di berikan kesehatan. Biar bisa terus baca karya Mommy.


Untuk visual udah Mommy up di reels Instagram Mommy ya.


Jangan lupa follow


Fitriaermilayessi


Big hug from me šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜šŸ˜˜

__ADS_1


__ADS_2