
Bab 208. Second Touch
.
.
.
...ššš...
" Dosa yang melampaui batasan yang ada!"
.
.
Dengan hati sesak Shinta membereskan semua berkas yang berserakan. Ia kini ingin menemui seorang guna memastikan semuanya.
" Mbak.. Mbak Suko!!!" Shinta setengah berlari menuruni anak tangga mencari ART nya itu. Ia bahkan meninggalkan begitu saja kekacauan yang telah ia buat di kamarnya.
" Bu Shinta jangan lari-lari, nanti tersandung!" Sukoco benar- benar khawatir, pasalnya Shinta berlari sambil menuruni tangga.
" Mbak, saya titip rumah dulu ya. Saya mau pergi dulu!" ucapnya saat sudah berada di lantai dasar.
" Mau kemana Bu?" Alis Sukoco bertaut.
" Saya temani ya, Ibu kenapa?" Suko panik lantaran melihat Shinta yang terlihat baru saja menangis. Hidung merah dan mata bengkak seolah menjadi penegas bila wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
" Gak usah mbak, saya ada urusan sebentar. Sebentar aja!" Shinta bersembunyi di balik senyum palsunya.
" Saya minta tolong, bereskan kamar saya sama pakaiannya. Itu yang saya taruh di atas kasur saya mbak Suko pack ke dalam kardus saja!"
Usai mengatakan hal itu, Shinta pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Shinta rupanya sudah memesan ojek online untuk mengantarkannya ke suatu tempat.
Sukoco bingung, ia sudah di wanti-wanti Danan untuk menjaga Shinta. Tapi, saat ini ia benar-benar tak bisa menahan laju janda Rangga itu.
Suko terlihat menelpon seseorang menggunakan ponselnya. Wanita itu terlihat menunggu beberapa saat hingga panggilnya di jawab oleh seseorang di seberang.
" Halo Pak, Bu Shinta keluar rumah dan seperti habis menangis. Dia keluar sambil terburu- buru!"
.
.
Dengan hati tak terhibur ,Shinta menuju rumah sakit tempat Novan bekerja. Ia tidak tahu apa pria itu masih bertugas disana atau tidak. Mungkin Novan bisa memberikan info alasan di balik kebohongan yang di lakukan oleh mendiang suaminya.
Pagi itu bertepatan dengan jam berangkat ke kantor dan anak sekolah, membuat jalan protokol yang di lalui Shinta agak tersendat.
" Mas, kalau lewat jalur lain bisa gak sih?" tanya Shinta yang di bonceng laki-laki muda itu.
" Ada Bu, tapi lebih muter. Nanti..."
" Saya bayar ongkosnya tenang aja!" Shinta seolah tahu isi otak mas ojol itu.
Motor yang di kendarai mas ojol itu memasuki kawasan pemukiman padat penduduk yang melewati jalan tikus. Sebagai supir ojol kelas kakap, wajib rasanya bagi pengemudi itu untuk tahu tetekbengek perjalanan macet.
Dan benar saja, kini jalan yang mereka lalui tembus ke salah satu gang yang persis berada di samping rumah sakit swasta itu.
" Ambil aja kembaliannya!" Shinta menepati janjinya. Membuat pria itu tersenyum girang.
Wanita itu memasuki lobi rumah sakit. Ia langsung menuju meja resepsionis. " Dokter Novannya ada mbak?" tanya Shinta saat sampai di meja dengan marmer yang panjang sebagai aksennya.
" Dokter Novan sudah tidak bertugas disini Bu!" jawab petugas itu dengan ramah. Membuat Shinta menelan kekecewaan.
Shinta kini bingung. Ia hanya ingin mengetahui dengan jelas mengapa mendiang suaminya itu berbohong kepada dirinya. Atau ada hal lain yang dia sembunyikan. Sia-sia Shinta melakukan semua ini, ia hanya berteman sepi dan rasa ingin tahu yang membuncah.
" Kalau boleh tahu pindahnya ke mana ya mbak?" Shinta masih bersikeras untuk mencari tahu.
__ADS_1
" Kurang tahu ya Bu!"
.
.
Dananjaya
Pria itu hari ini sebenarnya ingin membuat kejutan untuk Shinta. Ia pagi itu baru saja landing dari Bandara SIN Internasional Airport, menuju Bandara Internasional kota J.
Usai menjalani medical check up dan sedikit pengobatan selama beberapa minggu, kini Danan sudah di wanti-wanti agar tidak mengkonsumsi alkohol maupun merokok lagi. Danan perlu mendisiplinkan diri, semua demi Shinta.
Jangan main-main, sama minum terus lu kalau masih ingin merasakan satu selimut dengan janda itu!
Ucap adik sepupunya yang berada di negara SIN.
Kini ia tengah bersiap untuk mencari sopir yang sudah menjemputnya.Namun saat ia masih menunggu bagasi di conveyor, ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar.
Suko Calling
" Kenapa dia nelpon?" dahi Danan berkerut saat melihat nama wanita yang ia tugaskan menjadi ART dirumah Shinta, menghubunginya.
" Ya mbak, gimana?"
"Halo Pak, Bu Shinta keluar rumah dan seperti habis menangis. Dia keluar sambil terburu- buru!"
Tanpa menunggu lagi, ia langsung mencari dimana supirnya berada. Dan tak menunggu lama, ia melihat supir dan mobilnya telah mengantri di barisan penjemput yang mobilnya merayap karena kepadatan.
Memiliki kepentingan yang sama untuk menjemput.
Dengan hati resah Danan masuk kedalam mobil itu. Kini ia mencoba menghubungi Shinta namun tidak di jawab.
Berkali-kali namun tetap tak mendapat respon.
" Dimana kamu Shin!" Danan cemas, pasalnya Shinta pergi sembari menangis. Apa yang sebenarnya terjadi.
.
.
Ia melihat ruang terbuka hijau tak jauh dari tempatnya berdiri. Ya, Shinta lelah dan beristirahat. Sejenak ia tidak tahu akan kemana lagi. Hatinya terlalu galau dan di penuhi pertanyaan. Ia juga masih malas untuk pulang.
Shinta memasuki kawasan dengan banyak sekali tempat duduk itu. Kawasan hijau yang menyegarkan mata, banyak sekali tanaman aglonema dan berbagai keladi yang lagi tren ada di tempat itu.
Sebuah bunga jengger ayam yang menyegarkan mata dengan warna merah menyala.
Shinta sudah lama sekali tak melewati jalan di daerah sini. Terakhir kali ia kemari bersama Rangga usai menghadiri serah terima jabatan baru di lingkungan Aviation Security.
Ia duduk dan mengamati seorang nenek tua yang di dorong oleh pengasuhnya untuk menjaring kehangatan sinar mentari, tengah berada di sebelah pondok kecil di bawah rindangnya pohon kenitu yang besar.
Di sebelahnya agak jauh, ia melihat seorang pemuda yang nampak duduk memeluk seorang wanita. Di ujung lagi ia melihat anak- anak yang bermain dengan orang tua mereka.
Semua pemandangan itu membuatnya iri.
Shinta tersenyum getir. Hidupnya yang sudah sepi kini terasa makin sepi. Shinta menitikan air matanya. Ia memejamkan matanya, meresapi semua yang telah terjadi dalam hidupnya.
" Kenapa mas Rangga gak jujur sama aku mas?, apa mas Rangga meragukanku selama ini?" ia bergumam dengan dada yang sesak.
Harusnya ia senang bukan, itu berarti dia wanita yang normal. Tak seperti yang di sangkakan oleh ibu mertuanya. Tapi mengapa kesedihan malah mendominasi dirinya.
Shinta menundukkan kepalanya. Ia menangis tanpa suara. Tubuhnya bergetar.
" Apa seumur hidupmu hanya akan kau habiskan untuk menangis?" suara pria yang ia kenali mendadak terdengar. Shinta menoleh dengan wajah yang acak adul.
" Mas Danan?" mata Shinta membulat. Pria itu kembali tanpa mengabarinya.
Pria yang pernah mencuri ciumannya itu kini terlihat fresh. Pria itu juga sudah mencukur bulu di cambangnya, rambutnya juga sudah di pangkas.
__ADS_1
Danan ganteng.
Danan langsung menubruk Shinta dan memeluknya erat. " Aku ingin memberimu kejutan, tapi kenapa kau malah yang membuatku terkejut!" Shinta masih mematung saat tubuhnya di peluk oleh Danan.
" Kenapa kau selalu membuatku cemas!" Danan memejamkan matanya saat memeluk tubuh wanita itu. Shinta hanya diam dengan tangan yang menganggur.
" Apa yang membuatmu menjadi seperti ini,hm?"
" Apa karena kau sudah tahu bila Rangga...." Danan menatap Shinta lekat usai ia melepaskan pelukannya.
Mbak Suko mengabari Danan bila ia menemukan surat di kamar Shinta yang berantakan. Wanita berumur itu telah menjadi menjadi sekutu bagi Danan.
Saya membuka surat ini Pak, kamar Bu Shinta berantakan.
Caption itu ia tulis dibawah foto surat yang ia kirimkan.
Danan benar-benar tak mengira bila Shinta harus tahu dengan cara seperti ini. Danan sudah tahu dari Pak Ali. Ia sebenarnya kasihan kepada Rangga. Namun, tentu buka haknya untuk turut serta dalam persolan krusial seperti itu.
" Kamu tahu mas?" Shinta menatap Danan tak percaya.
Dana menghela napas seraya memejamkan matanya. " Papa mertuamu yang memberitahuku bila kondisi Rangga seperti itu!"
Shinta menggeleng tak percaya. Bagiamana bisa Papa mertuanya merahasiakan semua ini darinya. Apa maksud mereka.
" Sejak kapan kamu tahu mas?" Shinta menatap tajam Danan. Napasnya memburu.
" Shin, tolong jangan salah paham dulu!"
" Jawab aku sejak kapan mas tahu soal ini!!!" Shinta menaikkan nada suaranya.
Danan menekan ludahnya.
" Papa mertuamu memberitahuku saat jasad Rangga masih mau temani di ruang tengah!"
Shinta menatap Danan, kenapa mertuanya itu malah memilih Danan untuk bercerita ketimbang memberitahu dirinya.
" Tolong kamu jangan salah paham. Mungkin Pak Ali waktu itu hanya butuh teman bicara, pria itu terlihat kuat namun sebenarnya hatinya rapuh Shin. Dia hanya ingin mengurangi sesak di hatinya..dia..."
Shinta tak lagi menjawab. Sekalipun dia marah semua akan sia-sia. Rangga sudah pergi. Hanya dia yang tahu seberapa besar rasa cintanya kepada Rangga, sekalipun ia tahu kekurangan suaminya itu.
.
.
.
Penampilan baru Danan
.
.
Shinta yang terlalu sering menangis
.
.
.
.
Hallo Readers, gimana masih semangat gak di the love story'of Single Parents.
__ADS_1
Tim Bastian sama Rania mana nih?
Jangan lupa like dulu sebelum baca ya.