
Bab 117. Meminta Waktu
.
.
.
...ššš...
"Akhirnya ku menemukanmu. Saat raga ini, ingin berlabuh!"
( Diambil dari lirik lagu Naff~ Akhirnya Ku Menemukanmu)
Wisang
Wisang hatinya cemas bukan main. Ia yang seharian di rundung kegalauan karena untuk kedua kalinya, nomernya di blokir. Apa lagi kesalahannya pikirnya. Namun, begitu mamanya mengutarakan hal itu, ia kini sudah tahu duduk persoalannya. Apalagi ia sangat ingat dengan Sekar yang lugu dan mudah tak enak hati terhadap orang lain.
Ia letih sebenarnya, dengan mengenakan kemeja ungu yang di gulung sebatas siku, ia memacu mobilnya menuju Ruko. Khawatir dengan Sekar. Rasa lelahnya terkalahkan dengan buncahan rasa tak tega dan cemas.
"Mama!!!" Wisang menggerutu seraya memukul setirnya. Menyesalkan perbuatan mamanya.
"Andai mama tahu, dia itu wanita baik-baik ma. Gak seperti yang mama kira!" ia bermonolog dengan emosi.
Ia paham dengan ketakutan Nyonya Lisa, ia juga menyadari kesalahannya yang tak pernah mau mendengarkan apa kata orang tuanya. Namun jika ia dulu mau-mau saja diminta menikah dengan wanita pilihan mamanya itu, jelas ia tak akan pernah bertemu Sekar saat ini. Dan dia merinding memikirkan hal itu. Kini ia tahu rasanya jatuh cinta.
Ruko itu tutup, ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. " Belum malam, apa sudah tidur?"
Ya, saat itu jam masih menunjukkan pukul 18. 11
Waktu yang dirasa belum saatnya bagi manusia untuk lelap bersama mimpi. Ia turun dengan perasaan campur aduk.
Ia mengetuk pintu ruko itu tiga kali. Tak ada sahutan. Ia menekan bel yang di depan rolling door, juga tak ada pergerakan. Ia mau menghubungi nomer Sekar namun urung, ia baru ingat bila ia sudah memblokade akses sambungan telpon menelponnya.
Sejurus kemudian dia menghubungi Abimanyu.
Ya Wis kenapa?
"Lu dimana?"
Dirumah ibunya Dhira Kenapa?
"Berdua aja?" Wisang tak sabar menanti jawaban Abimanyu.
Iya lah, mau sama siapa lagi?
__ADS_1
Sekar di Ruko, mau ngapel lu ya. Bagus deh lu. Gini yang benar minta izin dulu kalau mau ngapel anak orang.
Ia seakan tahu bila Wisang pasti mencari Sekar.Abimanyu malah tergelak di sambungan telepon itu.
"Sialan lu, ya udah!"
Wisang memutuskan sambungannya bersama Abimanyu.
"Dia di dalam, pasti dia tahu kalau aku disini!!" ia bermonolog, ia berniat membuka pintu belakang. Dan benar saja, Sekar terlihat membakar sampah di halaman belakang ruko.
"Pantes aku panggil gak dengar!" batin Wisang.
"Ehem!! Wisang berdehem.
.
.
Sekar
Jelang magrib ia mendapat telepon jika Bos-nya akan pulang agak malam, mereka tengah membicarakan perihal mekanisme pernikahan Abimanyu dan Dhira yang mengusung konsep sederhana.
Ia tak memiliki selera makan malam itu, usai mendapat hinaan dari wanita cantik yang mendaulat dirinya sebagai ibu dari pria yang membuat hatinya bak berada di roller coaster beberapa hari belakangan ini.
Ia sudah tak memiliki kesibukan lagi, sebab jelang pernikahan Dhira memang close order dan menutup rukonya agar bisa concern ke acara pernikahan.
Ia menitikkan air mata, dengan tak terhibur dengan seorang diri ia menangis malam itu. Ia bukan wanita bodoh yang tak tahu arti perlakuan Wisang. Sedikit banyak pria bermata sipit itu jelas meninggalkan kesan di hati Sekar. Apalagi ia sudah tiga kali di cium oleh pria itu.
Kesadarannya seketika kian terang saat ucapan Nyonya Lisa menguliti habis-habisan keadaannya. Bentangan kasta itu, nyata dan tak akan pernah terjangkau oleh manusia berdarah rakyat macam dirinya.
Ia menyusut air matanya, namun saat ia mendengar suara pria berdehem. Ia menoleh, dan betapa terkejutnya ia melihat Wisang berdiri dengan wajah lelah dan pakai amburadul disana.
.
.
Mereka berdua duduk di temani bau asap bekas bakaran sampah yang mulai mengecil. Sekar diam tak berucap satu katapun.
"Aku.. " Wisang bingung memilih kata untuk memulai percakapan mereka.
"Semua yang dikatakan mama Tuan benar" Sekar menatap dengan mata menerawang. Sayup-sayup terdengar lalu lalang kendaraan yang lewat di depan Ruko.
Wisang menatap wajah Sekar dari samping, wajah ayu yang sendu dan kini bertambah tak memiliki rona ramah kepadanya.
"Saya sudah cukup lelah tuan dengan persoalan saya." Sekar tersenyum getir.
__ADS_1
Hening sejenak.
"Tolong jangan menambahkan masalah lagi. Anda dan saya memang berbeda!" Ini adalah kali pertamanya Sekar menatap kedua netra Wisang yang berwarna coklat. Netra yang menyiratkan cinta.
Debaran jantung kian terasa disana. Membuat kedua manusia itu gelisah secara bersamaan.
"Sekar ..aku.." Wisang benar-benar tercekat. Ia menarik nafasnya mengumpulkan ketenangan.
"Aku bisa jelaskan semuanya. Mama hanya belum kenal kamu. Percaya sama aku, aku bisa membuat semuanya berjalan lancar. Aku hanya perlu kamu jangan menghindar. Sisanya biar itu menjadi tugasku!" Wisang nyaris saja menangis. Dan ini kali pertama dalam hidupnya, ia berbicara memelas di hadapan wanita.
"Tuan.." Sekar menatap wajah Wisang sendu.
"Aku suka sama kamu Sekar. Aku mulai suka sama kamu saat kita...." ia tak melanjutkan ucapannya yang mungkin membuat Sekar malu.
"Tolong beri aku waktu dulu buat meyakinkan mama!" Wisang menatap Sekar dengan wajah memohon.
Wisang menangkup wajah Sekar, wanita di depannya itu diam. Wisang mendekati wajah Sekar lalu mencium bibir Sekar dengan sangat dalam. Kali ini gadis itu tak menolak, ia memejamkan matanya merasakan sapuan lidah Wisang yang memperlakukannya lembut kali ini. Sekar terbuai.
Mereka kini saling melu mat, dalam dan makin dalam. Tangan kanan Wisang meraba pinggang Sekar sementara tangan kirinya menekan tengkuk wanita itu. Sekar yang menghirup aroma parfum Wisang yang masih awet di malam hari itu benar-benar terbuai. Ia merasa amat di cintai.
Sayup-sayup terdengar jangkrik yang berbunyi malam itu, tangan Sekar yang awalnya menganggur kini lekas meraba dada Wisang. Reaksi alami yang timbul ialah gelenyar yang datang bersama gelora di dada mereka.
Sekar meraba rahang kokoh Wisang, ciuman mereka berlangsung sangat lama. Seolah menyiratkan jika mereka membutuhkan satu sama lain.
Ciuman mereka terlepas saat Sekar kehabisan nafas. Dengan wajah sendu mereka saling menatap. Pandangan mereka terkunci beberapa detik.
"Beri aku waktu, ok?"
Sekar masih menatap wajah Wisang dengan tangan yang masih memegang rahang Wisang. Hembusan nafas Wisang bisa ia rasakan. Membuatnya melayang bagai tak menjejak tanah. Mengisi laju darahnya yang kian tak normal ,seiring aroma tubuh Wisang yang mengalun di indra penciumannya.
"Aku sayang sama kamu Sekar, do you listen me? ucap Wisang dengan suara parau.
Sekar menatap sendu wajah ganteng Wisang. Harus ia akui, Wisang adalah pria pertama yang memperlakukan dia dengan lembut, menjamahnya dengan kasih sayang yang begitu kentara. Jika sudah begini, apakah dia akan tega membiarkan Wisang berjuang seorang diri?
Sejurus kemudian mereka melanjutkan ciuman penuh kasih sayang itu. Menandakan bila kedua insan itu telah sepakat untuk berjuang bersama.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.