
Bab 168. Mode Angry
.
.
.
...ššš...
" Pernah ku menyakiti hatimu. Pernah kau melupakan janji ini.
Semua karena kita ini... Manusia!"
( Diambil dari lirik lagu GIGI ~ 11 Januari)
.
.
Andhira
Wanita itu telah sampai di ambang batas kesabarannya. Ia adalah wanita yang menjunjung tinggi rasa hormat kepada orang yang lebih tua darinya.
Karena baginya yang terpenting adalah sikap kita, bukan balasan orang lain.
Dhira benar-benar dibuat tak punya muka oleh suaminya itu. Ia bahkan sampai melupakan diri bahwasanya ia tengah hamil muda. Ia berjalan tanpa menoleh, seraya terus menggeret lengan kekar suaminya. Nyaris menabrak pintu baja ringan itu.
" Kamu ini gimana sih mas, bisa-bisanya mas bicara begitu ke mamanya mas Rangga. Beliau itu orang tua loh mas!" ucap Dhira geram saat mereka sudah sampai di luar ruangan.
" Kalau dia benar orang tua, harusnya mikir dan bisa bersikap sebagaimana mestinya orang tua secara wajar!" Abimanyu tak mau kalah. Ia merasa tak bersalah dan memang harus melakukan hal itu.
" Kamu gak kesel apa dengar dia ngatain Shinta begitu, ngatain kamu begitu, aku aja yang cuma denger kesel loh Dhir!" Abimanyu mengembuskan napas berat. Ia kesal.
Tanpa di nyana, mereka berdua bertengkar diluar. Dan sepertinya keduanya sama-sama tak mau mengalah.
" Mas! aku tahu Tante Nisa itu seperti itu. Tapi bukan berarti mas berani jawab loh!" Dhira makin kesal saat suaminya itu tak mau menyadari kesalahannya. Ia nyaris saja menangis karena berdebat dengan suaminya itu.
" Aku gak terima kamu di bentak kayak tadi, siapa dia berani berlaku gak enak sama istri seorang Abimanyu!" ucap Abimanyu mulai bersuara sengit dan bernada keras.
Dhira menatap wajah suaminya dengan tatapan bengis. Suaminya itu rupanya tak bisa sedikit saja terhina harga dirinya. Ia bukannya tak senang bila suaminya itu membela dirinya. Ia senang akan hal itu, menandakan bila suaminya itu begitu mencintai dirinya.
Namun yang di garis bawahi Dhira, adalah sikap arogan yang tak mau di peringatkan. Dhira tak mau suaminya itu menjadi pribadi yang tidak baik. Dan salah satunya adalah berani terhadap orang tua.
" Aku gak suka mas kayak gitu!" Dhira menatap tajam suaminya.
" Gimanapun juga mereka itu orang tua loh mas. Dan mas ini seorang Direktur yang jadi panutan banyak orang. Gak seharusnya bersikap kayak gitu tadi. Malu mas!"
" Udah berapa kali aku bilang, jangan suka begitu ke orang!" Mata dan hidung Dhira mulai memanas. Ia hendak menangis karena suaminya itu tidak mau mengalah dan mengakui kesalahannya.
" Oh ayolah Dhir, apa kita bertengkar untuk hal seperti itu?" Abimanyu memijat kepalanya yang mendadak pusing karena pertengkaran yang seharusnya tidak terjadi. Ia menggeleng tak percaya lalu mengangkat tangannya pasrah.
Sepertinya itu adalah pertengkaran pertama mereka usai menikah. Abimanyu tak bisa mentolerir hal apapun, yang menyangkut keluarganya. Tidak untuk apapun.
__ADS_1
" Oh, jadi mas masih gak mau ngerasa kalau mas itu salah ya?" Dhira melipat kedua tangannya seraya menatap tajam suaminya. Dhira telah berada di titik kesabarannya kala itu.
" Andhira Avanti!" Abimanyu meninggikan oktaf suaranya saat melihat Dhira yang juga mulai mengangkat suaranya.
Pria dengan lesung pipi itu bingung. Bagaimana caranya membuat istrinya itu mengerti, bila ia tak bisa membiarkan orang lain untuk bertindak tak menyenangkan kepada dirinya.
" Mas bentak aku?" Dhira dengan cuping hidung yang mengembang, mendadak sulit menelan ludahnya. Kini mereka benar-benar bertengkar.
Sebulir air mata meluncur tanpa ijin dari Dhira. Wanita itu menangis karena suaminya itu keras kepala.
" Maaf..aku!"
" Mas bentak aku saat aku mencoba buat ngingetin mas!" Dhira yang berlinang air mata itu kini mengeraskan rahangnya seraya menatap suaminya yang terlihat menyesal karena telah mengangkat suaranya.
" Dhira aku...!" Abimanyu memijat keningnya. Pria itu kehilangan kendali akan dirinya sendiri.
Sungguh ia hanya ingin membuat istrinya itu tahu, bila ia tak akan pernah rela bila ada orang lain yang menyakiti istrinya itu. Tidak terkecuali, mau muda, tua, siapapun. Tidak ada kompromi untuk hal satu itu.
" Ya udah, mas lanjutin aja sikap mas yang gak mau di ingatkan itu!" Dhira dengan hati bergemuruh, melenggang pergi begitu saja. Ia marah karena menurutnya, Abimanyu terlalu arogan.
Mata Dhira memanas, hatinya sesak. Apalagi hormon kehamilan makin memperparah kebaperannya.
" Dhira!!"
" Sayang!!! tunggu!!!
Abimanyu mengejar istrinya yang merajuk itu. Kini ia serba salah. Ia juga baru ingat bila istrinya itu tengah hamil. Dan sedikit banyak ia telah mengetahui, kesensitifitasan ibu hamil itu tiada banding.
" Sayang tunggu jangan gini aku minta maaf!! Abimanyu berusaha meraih tangan istrinya, namun Dhira menepis tangan Abimanyu dengan cara menggoyangkan lengannya dengan keras.
" Lepas!!" Dhira masih dalam mode merajuk.
Ia menekan tombol indikator angka di lift itu. Abimanyu menelan ludahnya dengan sulitnya saat ia turut berada di lift bersama istrinya, yang dalam mode don't touch me itu.
.
.
Abimanyu
Sungguh ia tak ada niatan untuk membentak apalagi menyakiti istrinya itu. Ia hanya lelah jika Dhira terus menyalahkannya atas sikap yang memang seharusnya ia lakukan bagi orang dengan golongan Lambe turah macam Bu Nisa.
Mindset Abimanyu saat itu, seseorang bisa dihargai bila mereka sendiri mau menghargai yang lainnya. Dan Abimanyu tak melihat hal itu dalam diri Bu Nisa.
Ia mengutuki dirinya sendiri yang tak bisa lebih telaten saat meladeni layangan protes dari Dhira. Dhira tak mengerti seberapa penting dan seberapa berharganya dia dalam hidup Abimanyu.
Membuat Abimanyu tak akan pernah mengijinkan siapapun untuk menyakiti istrinya itu. Baik langsung maupun ucapan. Apalagi ia ingat dan sadar akan hidup sulit yang pernah terjadi di masa lalu Dhira.
Kini ia belingsatan sendiri saat istrinya itu benar-benar merajuk. Tak menggubris dirinya.
" Sayang aku minta maaf. Tolong jangan seperti ini!" Abimanyu dengan wajah muram memohon dan meratap kepada Dhira. Namun Dhira yang sakit hati karena merasa di bentak oleh suaminya itu. Belum bisa memberikan maaf dalam sekejap.
Agaknya ia harus paham, makhluk bernama wanita itu memang sulit untuk di taklukkan jika dalam mode Angry.
__ADS_1
" Tolong maafin aku, oke aku janji gak akan begitu lagi. Dhir tolong kamu jangan diemin aku gini dong!!" saat pintu lift itu terbuka Dhira masih tak menggubris rengekan suaminya.
Bahkan para perawat dan pengunjung lain di rumah sakit itu sampai melihat mereka dengan tatapan penuh selidik. Seolah mereka menyaksikan tayangan drama.
Abimanyu tak peduli akan hal itu. Kini ia lebih mencemaskan masa depannya nanti malam. Oh no!!!
.
.
Dhira kesal tiada tara. Sekelebat ide muncul dalam otaknya yang panas itu. Ia ingin pulang ke rumah Bu Kartika. Mendengar Abimanyu menaikkan intonasi suaranya saja sudah membuatnya tersulut emosi. Padahal sewaktu ia masih bersama Indra, ia sudah melalui hal yang jauh lebih parah.
Benarkah hormon kehamilan itu mengandung efek sedemikian bapernya?
Ia hanya berniat membuat Abimanyu jera. Ia ingin suaminya itu tak menjadi pria arogan. Ia ingin orang lain itu hormat kepada suaminya bukan karena takut, tapi karena segan. Karena takut dan segan itu, jelas merupakan dua hal yang berbeda.
Takut, menjadikan orang tertekan. Dan tertekan membuat orang mengerjakan segala sesuatunya tidak didasari dengan keikhlasan. Dan jika sudah tidak melakukan dengan rasa ikhlas, maka kita hanya akan mendapat lelah.
Sedangkan segan adalah lebih ke rasa hormat yang alami, yang muncul karena dasar ketulusan karena apresiasi atas sikap baik seseorang. Membuat kita cenderung sungkan.
Sejenak Dhira teringat dengan Devan yang kerap menelan efek dari arogansi suaminya itu.
" Loh sayang kamu mau kemana, mobil kita ada di sana!" tunjuk Abimanyu ke arah parkiran mobil khusus.
Dhira tak menanggapi, ia memilih keluar menuju pintu keluar rumah sakit. Berniat ingin memakai Taksi untuk menuju rumah ibunya.
Dan nampaknya keberuntungan berpihak kepada Dhira. Bertepatan dengan dirinya yang ingin menaiki Taksi, datang sebuah taksi Argo yang menurunkan penumpang di depan rumah sakit itu.
" Kosong ya pak? antar saya ke darah yang dekat Silasona!" ucap Dhira kepada supir taksi itu. Dan sang supir, langsung mengangguk antusias.
" Loh Dhir, kamu mau kemana?" Abimanyu bingung, mobilnya masih ada di sana sementara istrinya malah kini sudah duduk di kursi penumpang.
Abimanyu seoalah menjadi pria lemot saat itu.
" Kunci pintunya pak cepat!" pinta Dhira agar suaminya itu tak menyusulnya untuk turut duduk di kursi penumpang itu.
" Dhir, buka pintunya. Kamu mau kemana?" Abimanyu menggedor pintu taksi itu. Namun sang supir nampaknya sudah mendapat intimidasi dari Dhira. Membuat supir itu, kini bersekutu dengan penumpangnya.
" Jalan pak!!" ucap Dhira tanpa memperdulikan suaminya yang terlihat dirundung rasa bingung dan gundah yang kentara.
" Dhira!!!
" Dhira!!!"
Teriak Abimanyu frustasi karena istrinya itu telah melesat bersama taksi berwarna biru muda itu. Meninggalkan dirinya dengan rasa penyesalan yang tiada berarti.
Seketika Abimanyu lesu dan lemas. Mereka benar-benar telah bertengkar.
.
.
.
__ADS_1