The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 203. Perhatian Danan


__ADS_3

Bab 203. Perhatian Danan


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Satu pembuktian nyata menutup seribu omong kosong!"


.


.


Dhira terkejut dengan hasil samar yang muncul di dua alat penguji itu.


" Sekar kamu ini musti check lebih lanjut. Ini dua-duanya masih samar. Kamu ke Dokter Septa aja ya. Dia Obgyn yang biasa meriksa aku!" Dhira menatap Sekar yang nampang bingung.


" Jadi aku hamil apa enggak Bu?"


" Sepertinya iya, tapi garisnya masih samar. Kita keluar yuk. Kita kasih tau mas Wisang. Kamu masih pusing gak?"


Mual, pusing, sensitif terhadap bau, perubahan mood yang tiba-tiba, mudah lelah hingga konstipasi ( sembelit) adalah tanda umum wanita hamil. Dhira yang sudah lebih berpengalaman, tentu lebih mudah untuk menganalisis cerita Wisang yang mengeluhkan istrinya yang saking dengan perubahan mood yang kentara.


" Sayang!" Wisang nampak berdiri dari sofa yang ia duduki bersama Abimanyu tatkala melihat Sekar yang berjalan ke arah mereka bersama Dhira.


" Masih samar!" Sekar memberikan dua alat tes kehamilan itu kepada suaminya.


Wisang terlihat menyipitkan matanya saat melihat benda berukuran sepuluh senti itu " Apa aku akan menjadi seorang papa?" Wisang menatap Dhira dan istrinya secara bergantian dengan wajah sumringah.


" Aku sudah info Sekar tadi, sebaiknya datang ke klinik dokter Septa guna memperjelas. Bisa jadi itu karena usianya embrionya masih terlalu muda. Tapi sepertinya anak kita akan lahir di tahun yang sama nanti!" Dhira mengusap punggung Sekar.


Jika Sekar di nyatakan benar hamil, bisa jadi anak Abimanyu dan anak Wisang lahir hanya akan berbeda beberapa bulan saja. Karena mereka menikah, juga terpaut jarak yang tak lama.


Mereka berempat diliputi rasa bahagia. Sungguh, Tuhan sedang memberikan mereka rasa yang tiada terkira.


...šŸšŸšŸ...


Pagi hari ini, Shinta berniat menyibukkan diri dengan membereskan beberapa perkakas yang belum beres. Wanita itu semalam langsung menenggelamkan dirinya dalam mimpi usai membaca pesan dari Danan.


Entahlah, ia terlalu tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Ia ingin marah namun rasa di hatinya mendadak berbeda.


Saat perempuan itu turun , ia melihat cangkir kosong yang masih berada di meja makan. Beberapa sayuran serta wortel dan pisau yang masih tergeletak diatas meja dapurnya.


Sejenak Shinta menarik nafasnya. Ingatannya kembali pada serangan yang di lakukan Danan semalam. Pria itu benar-benar menciumnya semalam.


Dan saat ia hendak membereskan kekacauan di dapurnya yang semalam ia tinggalkan begitu saja, pintu rumahnya kembali di ketik sesorang.


Tok Tok Tok


Mendadak Shinta bernegatif thinking, jangan- jangan Danan yang kesana sepagi itu. Shinta belum mandi pagi itu, ia masih mengenakan setelah baju tidur satin.

__ADS_1


Tok Tok Tok


Shinta terpaksa menuju ke arah pintu depan rumahnya. Dan saat ia membuka pintunya, ia terkejut karena ada dua wanita paruh baya yang berdiri di depan pintunya.


Sejenak ia merasa bersalah karena telah suudzon kepada Danan.


" Maaf Bu, anda siapa?" Shinta dengan dahi berlipat bertanya , karena merasa tak mengenal dua wanita yang berdiri di hadapannya itu.


Namun belum sempat dua wanita itu menjawab pertanyaan Shinta, ponsel di saku Shinta berdering.


Mas Danan Calling


Shinta menelan ludahnya saat ia melihat nama yang terpampang di ponselnya. Dengan ragu Shinta akan menjawab panggilan dari Danan itu .


" Sebentar ya Bu!" Shinta pamit kepada dua orang wanita berwajah teduh dan berpakaian seragam khas itu.


" Ya mas?" jawab Shinta usai menggeser tombol hijau.


Aku kirimkan dua orang ART buat kamu. Jangan di tolak, biar dia bantuin sama temenin kamu dirumah. Aku gak tenang lihat kamu sendirian.


Aku bakal nunggu masa Iddah kamu selesai. Tolong kamu jaga diri kamu. Mereka udah tahu tugas masing-masing. Kamu tinggal atur aja, mereka udah berlisensi. Aku ngambil dari PT resmi penyalur tenaga kerja. Jadi kamu jangan khawatir.


Udah gitu aja dulu, aku beberapa hari kedepan mau ke luar negeri.


Shinta mendadak tercenung, ia bahkan tak bisa menjawab penjelasan panjang lebar dari Danan.


Menunggu masa Iddah?


Jaga diri kamu


" Apa mau kamu mas?" Shinta memijat keningnya yang terasa pusing usai panggilan itu berakhir. Pria itu bahkan mengirimkan dua ART untuknya. Hal yang tak pernah di pikirkan oleh Shinta.


Shinta kembali keluar menemui dua wanita paruh baya itu.


" Kami dari PT Wisma Jati. Kemari karena Pak Dananjaya meminta kami untuk bekerja di tempat Bu Shinta!" ucap seorang wanita yang lebih tinggi. Ia menyerahkan sebuah surat resmi.


Shinta menerima dan membacanya sekilas. Dua wanita itu bernama Sundari dan Sukoco. Berusia 57 Tahun dan 55 Tahun.


" Saya Sundari, panggil saja saya Ndari Bu. Ini Sukoco, biasa di panggil Suko!"


Shinta masih menatap tak percaya. Bisa-bisanya pria itu memberikan pembantu tanpa berunding dengannya.


Aku gak bisa jaga kamu langsung, jadi biar kamu gak kesepian mereka akan temenin kamu disana dulu. Payment nya beres sama aku.


Sebuah pesan masuk saat Shinta masih sibuk dengan kebingungannya.


" Apa yang kau lakukan mas?" gumam Shinta dengan mata nanar menatap kertas resume dua ART itu.


Kedua wanita itu menatap Shinta yang masih bingung. Saat Shinta menyadari mereka terlalu lama ngobrol dengan posisi berdiri di depan pintu, Shinta langsung tersadar.


" Maaf!" Shinta benar-benar dibuat terperangah dengan semua ini.


" Mbak mari masuk dulu!"

__ADS_1


.


.


Danan


Rumah Shinta yang berantakan semalam mengganggu pikirannya. Bukan karena pemandangannya, tapi ia lebih memikirkan Shinta yang jelas akan beres-beres sendiri. Ia juga ingat hari Shinta yang teriris pisau semalam. Membuatnya berpikir untuk mencarikan ART dari PT resmi yang jelas asal usulnya.


Lagipula, ia kini tahu. Norma yang umum di masyarakat adalah seorang wanita yang di tinggal wafat suaminya masih dalam masa berkabung yakni selama empat bulan sepuluh hari.


Danan yang menyesalkan ketergesaannya semalam tak mau mengulangi ulah bodohnya. Ia ingin memastikan bila Shinta baik-baik saja meski ia tak menjangkaunya.


" Berikan aku orang yang berusia matang yang bisa kerja cekatan. Dua orang!" ucapnya sewaktu menghubungi agensi penyalur tenaga kerja ART.


Usai menerima resume dari dua orang bernama Sundari dan Sukoco itu, Danan langsung mentransfer beberapa uang yang musti ia setorkan sebagai tanda jadi.


Dan perbulannya, ia sendiri yang akan menggaji dua orang wanita itu. Danan ingin dua orang itu bisa membuat Shinta tidak lelah dirumahnya sendiri.


Lagipula, Danan hendak memeriksakan dirinya kembali. Stress yang membuatnya kembali mengkonsumsi alkohol itu, rupanya membuatnya merasakan sakit kembali. Ia ingin sehat secara normal. Apalagi, ia sebentar lagi harus bisa mendapatkan cinta Shinta.


Tak mungkin dia menjaga Shinta jika situasinya seperti itu. Apalagi, di masa Shinta yang masih harus menjalani masa Iddah.


.


.


" Emm Mbak, saya masih...."


Shinta bingung, ia masih tidak mengerti dengan apa yang Danan lakukan. Dan ia yang selama ini tak biasa di layani oleh orang lain.


" Bu Shinta, kami akan mulai bekerja pagi ini. Pak Danan sudah membayar kami mahal. Biarkan kami melakukan tugas kami!" Wanita bernama Suko itu terlihat sangat ramah kepada majikannya.


Shinta benar-benar kikuk dibuat. Mendadak ia merasa asing dirumahya sendiri. Shinta masih memikirkan pesan dari Danan tadi. Serta ucapan Danan yang menyinggung soal masa Iddah, terus terngiang-ngiang di otak dan bebasnya.


" Ya sudah, sekarang bawa barang-barang Mbak Ndari sama mbak Suko ke kamar. Mari!" dengan kepala yang masih ruwet, Shinta mencoba bersikap tenang.


" Ini kamar ada dua, lama tidak digunakan. Karena biasanya saya hanya berdua dengan...." Shinta mendadak teringat akan Rangga. Matanya mulai memanas.


Suko dan Ndari saling menatap. Majikan barunya itu mendadak seperti mau menangis.


" Bu Shinta bisa membersihkan diri saja dulu Bu. Kami yang akan membereskan rumah setelah ini. Ibu mau di buatkan sarapan apa?"


" Hah?"


Shinta yang tak pernah mendapatkan pelayanan dari siapapun benar-benar tidak biasa. Saat bersama Rangga dulu, semua ia kerjakan sendiri. Meskipun mereka bukan orang tak berada, namun gaji Rangga tentulah tak sebesar penghasilan Danan yang notabene adalah seorang pengusaha.


Danan benar-benar sudah masuk ke kehidupan Shinta secara tidak langsung.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2