The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 33. Wanita yang Berbeda


__ADS_3

Bab 33. Wanita yang Berbeda


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Ada apa ini?" tanya Devan, yang melihat Tiara seperti kebingungan. Dan ia terperanjat saat melihat wanita yang tak asing baginya. Wanita pemilik ruko tempat kue dan makanan lezat berjajar rapi disana.


Andhira menoleh ke arah Devan, yang berjalan sok cool. Mengenakan pakaian formal berwarna abu abu, sepatu pantofel yang mengkilat, juga rambut licin yang bersih. Jelas menandakan jika lelaki yang berjalan kearahnya itu, bukanlah karyawan biasa.


"Ini Pak, ibu ini yang tempo hari menitipkan makanan. Dan sekarang..." ucapan Tiara terpotong.


"Maaf, saya terburu-buru. Saya hanya ingin mengembalikan itu Pak" ucap Andhira yang merasa ia sudah terlalu lama berada disana. Mengembalikan sebuah Cek saja, sampai membuatnya melewatkan waktu selama ini.


"Apa?, dia memanggilku Pak?" batin Devan.


"Saya permisi!" ucap Andhira undur diri, bahkan sebelum dua orang itu menjawab. Ia berfikir untuk secepatnya meninggalkan gedung berlantai banyak itu, putranya tengah menunggunya saat ini.


"Tir, memangnya aku kelihatan seperti Bapak- bapak?" Devan sampai bertanya kepada Tiara.


.


.


.


"Apa?" Abimanyu menyesal betul, begitu mengetahui bila Andhira baru saja datang ke kantornya.


"CK, kamu ini gimana sih Van. Kenapa gak manggil saya tadi!!" Abimanyu kesal dengan Devan, yang tak memberitahu dirinya bila Andhira datang ke kantornya.


Abimanyu melihat selembar Cek, yang ia tinggalkan di meja Dapur Isun tempo hari. Wanita yang berbeda, jika orang lain pasti akan silap mata menerima uang sebanyak itu. Pikir Abimanyu.


Devan terkena semprot. Niatnya mengantar selembar Cek, justru malah berimbas pada mood seorang Abimanyu yang menjadi uring-uringan.


"Cih, kenapa jadi aneh begini sih si bos kalau berurusan dengan ibu-ibu itu" ucapannya dalam hati.


Devan diam seribu bahasa, benar benar mendapatkan simalakama. Lapor salah, tidak lapor tambah salah.


"Maaf Pak, Ibu-ibu tadi terlihat terburu- buru" Devan menjadi ciut nyali.


"CK, berhenti memanggilnya dengan sebutan seperti itu!" Abimanyu mendecak kesal, menatap tajam ke arah Devan yang kemudian tertunduk layu.


"Tuh kan, lagi lagi salah" batin Devan kembali.


"Namanya Andhira!!" ucap Abimanyu menegaskan.


Gleeekk


Devan merasakan nyeri di tenggorokannya, saat ia menelan ludah. "Salah lagi salah lagi" batinnya berbicara. Sepertinya hidup Devan memang ditakdirkan untuk disalahkan oleh bos-nya itu.


Tring


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel milik Abimanyu, ia menyambar benda pipih itu lalu membacanya. Sebuah senyuman mengembang di bibirnya, membuat Devan lagi-lagi mengernyitkan dahinya.


+628579049xxxx


Maaf saya tidak bisa menerima hal yang berlebihan, tolong jangan tersinggung. Dan maaf saya terburu-buru, karena harus segera ke Gelanggang olahraga. Terimakasih banyak


Mama Raka

__ADS_1


.


.


.


Andhira


Ia terpaksa mengetik sebuah pesan untuk Abimanyu. Ia benar-benar terburu-buru. Berkali- kali ia melihat jam yang melingkar di tangannya, demi memburu waktu.


Rupanya kartu nama yang diberikan nyonya Regina berguna juga. Sejurus kemudian ia menyimpan ponselnya ke dalam tasnya.


"Pak lebih cepat ya!" pinta Andhira kepada supir taksi. Tentu saja ia tak mau kelewatan pertandingan yang melibatkan putranya itu.


Dengan tergopoh-gopoh ia segera menuju pintu, untuk memasuki tribun penonton. Untung saja dia tidak terlambat, namun saat hendak masuk dan tengah mengantri ia melihat mantan suaminya ada disana.


.


.


Indra


Ia sudah merayu Renata untuk ikut menemani dirinya, ia juga sengaja mengambil ijin agar bisa melihat putranya bertanding. Namun Renata lagi lagi enggan untuk turut terlibat dalam urusan darah dagingnya itu.


Ya sudahlah, toh selama ini dia sudah berusah untuk selalu melibatkan Renata, berniat ingin menjadikan wanita itu sebagai ibu sambungan anaknya. Ia hanya ingin menjadi papa yang baik.


Namun tak di nyana, ia malah melihat mantan istrinya juga ada di antrian para penonton. Hendak masuk menuju tribun penonton.


"Andhira" ia berucap dalam hati.


Ia melihat mantan istrinya itu kini lebih cantik, namun ia melihat tatapan tak bersahabat dari wajah mantan istrinya itu.


"Sendirian?" ia bertanya, bisa juga dikatakan ingin berbasa-basi.


Tentu saja mantan istrinya itu sendiri, memangnya harus bersama siapa lagi?.


...šŸšŸšŸ...


Bos-nya itu bahkan menyuruh dirinya, untuk membatalkan segala acara pertemuan. Demi turut berkunjung ke gelanggang olahraga terbesar di kota itu. Benar-benar gila.


"Van, menurutmu apa aku harus ganti baju?"


"Tu kan anda memulai lagi, kalau aku jawab ini pasti salah, jawab itu pasti salah, diam apalagi" Devan membatin.


"Itu saja juga bagus tuan!"


"CK, kau ini!!. Aku ini akan menonton olahraga, masa aku memakai baju kantor?"


"Kalau begitu, kita ke mall dulu Tuan. Kita beli baju lalu anda bisa ganti baju disana" saran Devan, mencoba meladeni.


"Kau ini, kelamaan Van. Nanti aku bisa telat !!"


"Kalau begitu lebih baik anda tak usah memakai baju saja tuan!" batinnya.


"Apa kau mengataiku Van!!!


.


.


.


Andhira

__ADS_1


Entah hanya kebetulan atau memang sudah takdir, Ia mendapatkan tempat duduk di samping Indra. Pertandingan siang itu akan menampilkan team sekolah Tunas Bangsa melawan SMP Sakti Buana.


"Astaga, kenapa harus disini sih" Andhira menggerutu dalam hatinya, saat melihat Indra yang duduk di sebelahnya.


Lebih dari satu Minggu hanya berhubungan melalui sambungan telepon, membuat Dhira sangat merindukan buah hatinya. Ia melambaikan tangannya kepada Raka. Tersenyum selebar mungkin, memberikan dukungan.


"Semangat Raka!!" andhira berteriak seraya mengepalkan tangannya keatas, dibarengi senyum terbaik.


Tak menghiraukan keberadaan Indra yang turut melakukan hal yang sama dengan dirinya, jujur meski masih ada rasa terhadap Indra. Namun ia mencoba menepis segala perasaan, tidak ada yang tersisa untuk seorang pengkhianat.


Ia hanya mencoba menjadi pribadi yang kuat, urusan Raka dengan mantan suaminya memang tak bisa dia halangi. Karena bagaimanapun juga Raka tetaplah darah daging Indra. Namun untuk hal yang berbau perasaan no way!


.


.


Raka


Ia tersenyum senang saat melihat wanita nomer satu di hidupnya, wanita yang teramat penting untuknya, tengah berdiri memberikan semangat untuknya saat ini.


Namun ia sebenarnya tak menyangka, bila papanya turut ada disana. Duduk di sebelah kanan mamanya. Hanya saja ini lebih baik, lantaran tidak ada kehadiran sosok wanita berambut jagung, seperti beberapa waktu yang lalu. Sebagai anak, tentu saja ia teramat senang sekaligus merasa bahagia.


Namun, percikan rasa sumbang menyeruak ke relung hatinya. Meskipun kedua orang tua kandungnya duduk berdekatan, namun jelas ada tembok pemisah yang terbangun. Tidak kasat mata, namun bisa dilihat jelas oleh dirinya.


Ia melambaikan tangan kepada kedua orang tuanya, selanjutnya ia berkumpul untuk briefing bersama tim official dari sekolahnya.


.


.


Akhirnya Abimanyu mengganti bajunya di mobil, usai mejalani serangkaian rumit bersama Devan yang sudah dibuat pusing tujuh keliling. Ya, Devan lah yang disuruh untuk membeli baju ganti, dengan time frame yang begitu limit. Entah sudah berapa kali Devan mengumpat.


"Tuan, ini saja lebih bagus. Jika tidak kita akan segera terlambat!" Devan akhirnya berbicara agak ketus, karena sudah beberapa baju yang di tujukan kepada Bos-nya itu, namun selalu saja tidak sesuai dengan kemauan Abimanyu.


"Terlalu norak!"


"Apa kau tidak punya selera Van!!"


"Tidak, aku akan terlihat tua jika memakai itu!!"


Dan masih banyak kata kata sialan lainnya, sebagai bentuk penolakan keras Abimanyu, terhadap baju pilihan Devan.


Akhirnya pilihan jatuh pada polo T-shirt hitam, dengan jeans warna krem juga sepatu sneaker hitam.


"Sempurna!" ucap Abimanyu puas. Sementara Devan, hanya menghembuskan nafasnya kasar. Belum pernah atasannya itu, bertingkah aneh seperti saat ini.


Jangan di tanya, dengan kekuatan uang siapapun bisa memangkas birokrasi rumit. Termasuk untuk datang ke gelaran pertandingan bergengsi, seperti saat ini.


Devan masih setia berada di belakang Abimanyu, sebenarnya ia belum pernah datang ke gedung olahraga atau sejenisnya. Karena ia memang tidak berkompeten dalam hal ini, ia juga tipikal pria yang malas berolahraga.


Namun saat sudah masuk, ia malah dibuat bingung lantaran bos-nya itu malah mematung, dengan menatap tajam ke arah jam 2.


"Apalagi ini Tuan, tiba-tiba perasaanku tidak enak, pasti aku lagi yang repot" batinnya.


Belum juga ia selesai membatin, Abimanyu sudah terlihat kesal.


"Van!!!!"


.


.


.

__ADS_1


.


Please like and comment biar author makin semangat berkarya šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2