The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 41.Witing tresno jalaran Soko kulino!


__ADS_3

Bab 41.Witing tresno jalaran Soko kulino!


.


.


.


...🍁🍁🍁...


.....


"Apa??" tentu saja Bastian terhenyak, demi mendengar permintaan tak wajar bocah ingusan di sampingnya itu. Bahkan supir taksi itu terlihat menoleh. Turut terkejut.


Jodhi diam menatap Bastian dengan tatapan yang tak bisa di baca. Sejurus kemudian "Bhahahahaha!!!" Jodhi tertawa terpingkal-pingkal demi melihat reaksi Bastian yang keki.


"Gak lucu!" Bastia terlihat kesal.


"Canda om, hahahahaha" ucapnya memperjelas, seraya memegangi perut yang sakit karena ekspresi keterkejutan Bastian.


Bastian menggelengkan kepalanya, bagaimana bisa ia di kerjai oleh seorang bocah tengil yang doyan makan itu. Sungguh, mereka terlihat begitu akrab.


Kini Bastian bernafas lega. Adalah sebuah kegilaan, bila itu sampai menjadi permintaan sungguhan. Ya meski tak bisa di pungkiri, bila mamanya Jodhi itu cantik dan menawan. ihaaaa!!! 😁.


"Tapi andai punya papa gapapa juga sih om, seru kali ya" ucap Jodhi masih santai.


Membuat Bastian melirik Jodhi menggunakan ekor matanya, bocah di sampingnya itu seringkali menipu dirinya, dengan ucapannya yang tak bisa di tebak.


"Ayah Abi selalu sibuk, gak pernah ada waktu buat aku!" ucapnya melipat kedua tangannya kebelakang, menjadikannya sebagai sandaran.


"Rumah sebesar itu kayak gak ada kehidupan om!" ucap Jodhi yang memang selalu merasa kesepian.


Bastian menatap bocah di sampingnya yang memejamkan mata. "Kasihan juga kamu Jo!"


Namun, Bastian tak habis pikir, mengapa dirinya?. Bukankah tadi Rania datang ke Rumah Sakit dengan seseorang yang terlihat sepadan. Muda, kaya dan tidak begitu jelek tampangnya.


Membuat Bastian bergidik, bila harus membandingkan dengan keadaan dirinya yang serba pas-pasan. Apalagi mobil sejuta umat yang kebanggaannya, masih teronggok di jasa pegadaian. Sungguh keadaan yang Hamsyooong banget.


"Tadi kan udah ada calon papa buat kamu!" ucap Bastian yang teringat dengan kehadiran Rania bersama Fredy.


"Om cemburu?" ucap Jodhi menaikturunkan alisnya. Dan menatap dekat dengan wajah Bastian.


"Eh bocah, bukan begitu!"


"Halah!!!" ucap Jodhi makin menggoda.


Saat itu juga Bastian memiting leher Jodhi.


.


.


Wisang masih menunggu Abimanyu menyelesaikan kalimatnya.


"Pecat kepala bagian BCS Seroja sekarang juga!"


"What's the problem?" Wisang bertanya, karena memutuskan sesuatu musti ada sebab musababnya bukan?.


Abimanyu tanpa ragu menceritakan dasar dari niatnya memecat Indra, ya meski ini cenderung tidak adil karena tidak ada sangkut pautnya dengan pekerjaan. Selama ini Indra adalah karyawan yang produktif, namun perseteruannya secara tak sengaja itu jelas membuat sisi arogannya mencuat.


Wisang terlihat serius mendengarkan penuturan Abimanyu, tak di sangka sahabatnya itu benar-benar menjadi Devil.


"Dengar, ada dua hal yang perlu kau cerna!" terang Wisang.

__ADS_1


Abimanyu masih dalam mode diam, memandang Wisang yang siap memberikan beberapa pernyataan.


"Yang pertama Pria itu akan kembali membuat perhitungan, bahkan masalah" terang Wisang. Sudah jelas, buah dari kebencian adalah dendam, dan dendam melahirkan kejahatan.


"Yang kedua, secara tidak langsung kau sudah menenggelamkan dirimu pada persoalan mereka!"


"Sementara kalian tak memiliki hubungan apapun!" Wisang masih menatap Abimanyu.


"Aku tidak takut!" jawab Abimanyu datar.


"Baiklah, akan kulakukan seperti yang kau mau!"


...🍁🍁🍁...


Andhira


Hari berlalu dengan cepat, hari ini sungguh Dhira lalui dengan banyak air mata. Benar-benar membuat dirinya lelah jiwa raga.


Ia turut menginap dirumah ibunya, tak mungkin dia meninggalkan putranya dalam keadaan seperti ini.Ditatapnya wajah Raka yang terlelap, malam ini ia sengaja tidur bersama putra semata wayangnya itu.


"Maafkan mama nak" ia berucap dalam hati, seraya mengusap pipi anaknya yang sudah mulai terlihat wajah tegasnya. Ada wajah Indra yang nampak di raut teduh Raka yang terlelap. Membuat dirinya lagi-lagi mengharu biru.


"Ya Allah, berikanlah putraku segala yang terbaik. Semoga kelak hidupnya lebih beruntung dari hidupku" ia berdoa dalam hati, lagi-lagi netranya mengeluarkan cairan bening. Hatinya terlampau rapuh.


Ia membalikkan badannya, seraya menyusut sisa air mata yang baru saja keluar tanpa seijinnya. Pikirannya kembali kepada Abimanyu, kenapa pria itu justru melibatkan dirinya dalam persolan peliknya.


Mengapa pula, akhir-akhir ini hidupnya seolah selalu terlibat dengan pria yang menjadi Direktur adiknya itu.


.


.


Abimanyu


Tapi kejadian tadi siang sewaktu di Rumah Sakit, jelas membuat dirinya tidak tenang. Bukan dia takut dengan Indra, tapi ucapan Wisang ada benarnya.


"Yang pertama Pria itu akan kembali membuat perhitungan, bahkan masalah" .


"Yang kedua, secara tidak langsung kau sudah menenggelamkan dirimu pada persoalan mereka!"


"Sementara kalian tak memiliki hubungan apapun!"


"Brengsek!!" ia mengumpat lalu bangkit dari tidurnya, mengapa ia justru mengkuatirkan Dhira?.


Tenggorokannya terasa kering, ia membuka pintu kamarnya. Ia berniat menuju dapur, menyusuri tangga dengan ruangan di sekitar yang sebagian sudah gelap. Pertanda semua penghuni telah beristirahat.


Ia membuka lemari es ukuran giant, mengambil sebotol air mineral dingin. Dan saat menutup pintu lemari es itu, ia terperanjat bukan main.


"Astaga!!!" ia berjingkat.


.


.


Rania


Malam itu ia merasa dehidrasi. Sejak pulang dari Rumah Bu Kartika tadi, ia selalu merasa kehausan. Mungkin karena sewaktu di RS tadi, ia tak sempat mengurus dirinya.


Ia melihat gelas di atas nakasnya kosong melompong. Meski malas , mau tidak mau ia harus turun ke lantai dasar, untuk menuju dapur.


Dahinya mengernyit, " siapa malam malam begini buka kulkas?" ucapnya bermonolog.


Ia mendekati lemari es dengan pelan, langkah kakinya pun tak terdengar.

__ADS_1


Dan detik itu juga, " Astaga!!" kakaknya itu terlihat begitu terkejut. Terang saja, Rania yang memakai gaun tidur putih dan berdiri di samping lemari es secara tiba-tiba, dengan lampu yang temaram.


Abimanyu jelas mengira bila dirinya adalah mbak kuntil😁😁😁.


.


.


23.12 WIB


Sudah terlalu malam untuk ukuran orang makan, namun nampaknya perut Abimanyu tengah membutuhkan asupan tak terduga.


Rania terlihat memanaskan lauk, sisa makan malam tadi yang di simpan oleh bik Surti di lemari es.


"CK, sumpah deh kak. Baru kali ini aku masak malam-malam begini!" ucap Rania, yang terlihat memasukkan oalahan daging ke microwave.


"Itung itung belajar, siapa tahu bentar lagi dapat ayah baru buat Jodhi"


"CK, kenapa harus aku. Kakak tu mendingan yang lebih dulu. Kalau aku sih udah ada anak, nah kakak?"


"Buruan nikah lagi aja kak, terus buat Anka yang banyak. Kak Gwen pasti juga udah nikah lagi!" cerocos Rania tanpa jeda.


Abimanyu terdiam begitu mendengar nama Gwen, ia menyadari beberapa waktu ini ia sudah tak seperti dulu. Yang selalu merindukan istrinya, yang hilang entah kemana. Meninggalkan dirinya, tanpa sepatah kata pun.


"Harusnya udah punya cucu, ini malah satu anakpun belum punya!" cibir Rania tanpa tedeng aling-aling.


Ya memang kenyataannya begitu sih, usia matang namun belum juga memiliki momongan. Jangankan momongan, istri saja tak ada.


"Huft!!" Abimanyu malam menarik nafasnya. Selalu saja mellow, jika menyangkut urusan hati.


Tring


Bunyi suara pemanas makanan itu, menandakan bila makanan yang dipanaskan telah selesai di proses.


Rania terlihat mengambil makanan itu, menyajikannya di piring putih lebar.


"Aku setuju kalau kakak sama mbak Dhira!" ucapnya seraya menyerahkan makanan, yang akan di santap oleh kakaknya itu.


Abimanyu masih terdiam, ia memilih untuk mengambil nasi dan lauknya. Menyantap dengan ekspresi datar.


Rania bertopang dagu, seraya memandang kegiatan kakaknya yang memamah biak. Berniat menemani barang sejenak.


"Dia udah lama kan cerainya?, udah habis masa Iddah tuh kayaknya" tukas Rania.


"Dia wanita baik, lemah lembut, penyayang, jago masak. Jodhi aja sampai terhipnotis sama makanan dari mereka"


Abimanyu masih diam, belum mau menjawab selorohan adiknya yang tanpa jeda itu.


"Kalau kakak gak gercep, ntar bisa di..." ucapan Rania menggantung.


"Gak semudah yang kamu kira Ran!" Abimanyu bahkan menghentikan kegiatan mengunyahnya.


"Dia wanita yang berbeda, yang enggak silau dengan apa yang aku miliki. Tak seperti wanita kebanyakan."


Rania menatap kakaknya lekat, ini pertama kalinya mereka berbicara serius sebagai seorang saudara.


"Sabar, Witing tresno jalaran Soko kulino!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2