The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 204. Bertemu dengan Kerikil di masa lalu


__ADS_3

Bab 204. Bertemu dengan Kerikil di masa lalu


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Kehilangan dirimu


Menyakitkan nurani


Separuh nyawa terbawa


Menyisakan perih di hatiku


.


Baiknya semua kenangan yang terindah


Tak ku balut dengan tangis


Baiknya setiap kerinduan yang merajam


Ku ratapi penuh penyesalan


.


Ku hanya terus berharap


Ini bukan kenyataan


Kau pergi tinggalkan dunia fana


Akhiri kisah asmara kita berdua


.


Baiknya semua kenangan yang terindah


Tak ku balut dengan tangis


Baiknya ku lepaskan


Segala kepedihan tuk merelakanmu


.


Benarkah semua ini terjadi


Betapa ku mencintai dirimu

__ADS_1


Ku tak kuasa menahan kesedihan


Yang begitu dalam


( Ada Band ~ Baiknya)


.


.


Shinta meninggalkan dua orang ART barunya itu usai ia menjelaskan sedikit tentang beberapa tempat di rumahnya yang sebenarnya tak terlalu besar itu.


Ia malah heran, mengapa Danan bisa seheboh itu.


Ia masuk lalu mengunci pintu kamarnya. Wanita itu terlihat mengambil foto Rangga di nakas meja riasnya. Foto yang selalu membuat dia rindu.


" Maafin aku mas!" Shinta mendekap pigura ukuran 4R berisikan foto almarhum suaminya itu. Ia terisak begitu mengingat ia yang dicium oleh Danan tadi malam.


" Aku gak tau harus gimana mas, kenapa dia datang dengan cara yang seperti ini!"


" Aku sama sekali gak bermaksud mengkhianati kamu mas. Tapi dia...." Shinta dengan suara bergetar, terbata-bata seolah berbicara dengan Rangga.


Ia merasa melihat Rangga berdiri di sebelah gorden putih kamarnya. Suaminya itu terlihat bercahaya dan tersenyum.


" Mas Rangga!" Shinta mengusap air matanya. Ia sejenak terdiam seraya melihat Rangga yang masih tersenyum dan mengangguk ke arahnya.


Ia mendadak tercekat dan mematung. Benarkah itu spirit dari suaminya?


Sosok Rangga dengan cahaya putih itu seperti berjalan mundur ke arah balkon kamar mereka. Masih terlihat tersenyum menatap Shinta dan terus mengangguk tanpa berucap.


" Mas Rangga?"


Dengan kaki dan lutut gemetar ,Shinta mengejar hingga ke ujung jendela. Ia melihat sosok mirip Rangga itu hilang di balik jendela saat ia sudah sampai di balkon kamarnya.


Ia mencari ke sekeliling tempat itu namun kosong. Memastikan kemana hilangnya sosok yang barusan ia tangkap dengan kedua netranya itu dengan jelas. Shinta dengan kuduk yang masih berdiri mencoba mencari sosok itu.


Rindunya seolah terobati. Apa itu tadi adalah kenyataan, atau sebuah ilusi karena dia yang begitu merindukan Rangga. Shinta beringsut di balkon kamarnya. Cakrawala terang itu menjadi saksi Shinta yang duduk bersimpuh dengan berlinang air mata.


" Apa kau Benar datang mengunjungiku mas?" Shinta menangis seorang diri. Hatinya sesak.


Hatinya diliputi rasa yang tak bisa di jelaskan. Antara pria yang sudah meninggalkannya dan pria nekat yang dari awal mengusik dirinya, yang kini menjelma menjadi pria yang sulit di tebak.


Pria yang kini masuk ke dalam hidupnya. Shinta tak tahu harus mencari jawabannya di mana. Isak tangis masih terlihat disana. Ia melihat wajah Rangga yang penuh cahaya dan terlihat bersinar seraya tersenyum.


Shinta yakin, melihat Rangga tersenyum dengan ikhlas menjadi suatu penanda bila suaminya itu telah berangkat dengan cukup membawa bekal.


...šŸšŸšŸ...


Sebulan berlalu, Wisang saat ini tengah bahagia karena Sekar benar- benar hamil. Sahabat Abimanyu itu mengikuti saran Dhira dengan mendatangi klinik dokter Septa dua hari usai mereka menjeguk Sekar.


Saat ini usia kandungan Sekar menginjak 7 Minggu. Meski Nyonya Lisa masih tak mau tahu dengan keadaan menantunya yang sudah mengandung benih Wisang, tapi semua itu tak menyurutkan kebahagiaan Tuan Wikarna.


Ya, Wisang yang di paksa Sekar untuk datang ke rumah orang tuanya itu memberikan kabar jika Sekar tengah mengandung buah cinta mereka.

__ADS_1


Istri Wisang itu terus meminta suaminya untuk tetap mengunjungi orang tuanya meski sendirian. Jangan menyiksa orang tuan dengan kerinduan mas!


Oh andai mama Wisang itu tahu, hati menantunya yang selembut kapas.


" Mama tolong dong Ma, tolong bersikap baik sama Sekar. Dia itu salah apa sih sama mama. Dia sekarang mengandung anak Wisang loh ma!" Wisang benar-benar tak habis pikir dengan sikap mamanya itu.


" Mama sudah bilang dari awal, mama gak suka sama dia. Kamu sekarang pilih dia ya ketimbang mama kamu sendiri!" nyonya Lisa masih dalam pendiriannya. Menatap Wisang dengan tajam dan kesal.


" Astaga mama!" Wisang memijat kepalanya frustasi.


" Jangan minta Wisang buat milih Mama atau istri Wisang Ma. Wisang gak bisa. Kalian sama-sama pentingnya dalam hidup Wisang. Kalau mama memang masih gak mau terima Sekar, Wisang yang balik ke apartemen Ma!"


Pria itu meninggalkan Nyonya Lisa dalam kebisuan. Tuan Wikarna hanya menggelengkan kepalanya saat menatap Nyonya Lisa yang masih marah.


.


.


Dhira bersama Abimanyu kini sudah membuat janji untuk memeriksa kandungannya di bulan ini lebih awal.


Mereka masih menunggu dokter yang sepertinya masih menangani satu pasien di dalam ruangannya.


" Harusnya kita bisa pindah ke dokter lain saja kalau harus menunggu begini!" Abimanyu mendengus. Ia tentu tak biasa menunggu.


" Mas..cuman sebentar loh. Lagian, aku gak enak sama dokter Septa. Kan udah langganan" Dhita mengusap lengan dengan otot timbul milik suaminya itu. Memberikan sentuhan agar suaminya itu lebih sabar.


Tak berselang lama, muncul seorang wanita dengan perut buncit dari dalam ruangan dokter Septa. Dhira menajamkan penglihatannya saat melihat wanita yang baru keluar dari ruangan dokter Septa. Seperti mengenal dan familiar dengan sosok itu.


Wanita itu terlihat tak terurus, pakaiannya juga terlihat tak seperti saat dulu Dhira pernah melihatnya. Wanita itu kurus dan kantong mataya menghitam. Berjalan dengan menggunakan sepatu biasa yang sering Dhira jumpai di pasar.


Lebih kasihannya lagi, wanita yang sudah hamil besar itu memeriksakan kandungannya seorang diri. Membuat yang melihat menatapnya mengiba.


Kemana suaminya?


Dhira bangkit dan menyongsong wanita yang berjalan dengan langkah tak bersemangat itu. Kini Dhira bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu meski tengah menunduk.


Ia benar-benar mengenal sosok itu, bahkan sangat mengenal.


" Sayang kamu mau kemana?" Abimanyu bingung saat melihat istrinya langsung bangkit dan malah berhenti di depan wanita yang berjalan itu.


Dhira tak memperdulikan Abimanyu dengan segala kecemasannya, ia terus berjalan lurus tepat ke arah wanita yang terlihat menundukkan pandangannya sedari keluar dari ruang Dokter Septa tadi.


Wanita itu terlihat putus ada dan tak memiliki semangat hidup. Dan saat ia berhasil berdiri tepat di hadapan wanita itu...


" Renata!"


Wanita yang di sebut namanya itu mendongak dengan mata membulat dan jantung yang seakan meledak saat itu juga.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2