The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 238. Risau


__ADS_3

Bab 238. Risau


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Setinggi apa kita mampu mendaki, rasa cinta kasih dan kesungguhan....


( Diambil dari lirik lagu yang di nyanyikan Melly Goeslaw)


.


.


Wisang


Di dalam jagat raya ini hanya ada dua siklus pasti. Yakni, ditinggalkan dan meninggalkan. Bahwa semua yang bernyawa, pastilah akan kembali ke tempatnya. Ke tempat sang pemilik semesta ini.


Terlepas dari siap atau tidak siapnya Wisang yang kehilangan anak mereka, sejumput rasa syukur masih Wisang haturkan kepada yang kuasa. Sebab, nyawa masih di kandung badan istrinya.


Wisang berjalan gontai saat keluar dari ruangan dokter tadi. Kini bagaimana caranya dia menghadapi Sekar nanti.


" Itu sekar Pa!" Ucap nyonya Lisa yang melihat menantunya di geledek oleh beberapa petugas, dengan kondisi mata yang masih terpejam di atas brankar.


Bibir Sekar terlihat begitu pucat dengan selang infus dan beberapa alat kesehatan yang tertancap di tubuhnya.


Ya, Sekar kini telah selesai menjalani operasi dan pembersihan rahim usai mengeluarkan janinnya yang telah meninggal di dalam kandungan agar tidak terjadi infeksi.


" Maaf, istri saya mau dibawa kemana ?" Tanya Wisang karena dia memang belum mengerti apapun.


" Kami akan pindahkan pasien ke ruang perawatan VIP pak!" tutur seorang perawat pria itu.


" Aku turut berdukacita Wis!" Suara berat seseorang mendadak mengangetkan Wisang.


" Richard!" Wisang membalikkan badannya saat mendengar suara orang yang menyebut namanya.


" Aku bertemu Abimanyu tadi di depan, aku turut menyesalkan kejadian ini. Be patient buddy!!. Richard menepuk pundak lebar Wisang yang tertegun.


" Thanks bro!" ucap Wisang dengan wajah sendu sembari tersenyum kecil.


" Bawa istri pak Wisang!" perintah Richard kepada para pegawainya.


" Baik Dok!" ucap pria itu mengangguk patuh.


Kini Wisang mengerti mengapa istrinya di pindah ke ruangan terbaik di rumah sakit itu tanpa ia meminta. Padahal, baru saja ia akan meminta pihak rumah sakit untuk memberikan ruangan terbaik.


Kepanikan membuat ia lupa bila ini adalah rumah sakit milik Richard. Rumah sakit yang sama yang digunakan oleh Shinta dan Danan pasca kecelakaan.


" Aku permisi dulu, nanti aku akan kembali!" Richard menepuk bahu Wisang untuk kedua kalinya.


" Mari Om... Tante!" sapa Richard kepada kedua orang tua Wisang yang berdiri di samping Wisang. Membuat Nyonya Lisa dan Tuan Wikarna saling menatap.


" Siapa?" tanya Tuan Wikarna.


" Yang punya rumah sakit ini!" sahut Wisang menatap nanar Sekar yang kian menjauh dari pandangannya.


Tuan Haidar mengangguk paham.


" Wis, kamu sebaiknya bersihkan diri kamu dulu. Sekar pasti makin sedih kalau lihat penampilan kamu berantakan kayak gini!" ucap Nyonya Lisa dengan wajah muram.


" Benar, kata mama kamu. Pulanglah dulu, kami yang akan menjaga Sekar!"


Wisang agaknya tertegun seraya mempertimbangkan saran dari kedua orangtuanya. Belum lagi ia kini juga memikirkan Ani, pembantunya yang turut menjadi korban.


" Pa, Pabrik yang...!"


" Papa udah tahu, tadi sekretaris Abimanyu menghubungi papa. Kamu tenang aja, nanti pengacara papa yang akan mengurus semuanya. Yang penting trauma healing untuk istri kamu dulu. Lainnya nanti biar papa urus!"


Tuan Wikarna tahu beban berat yang seolah akan meledakkan kepala anaknya itu. Mereka memang menelan kerugian yang tak sedikit. Tapi jauh dari hal itu, keselamatan anak dan menantunya yang paling utama.


.


.


Sementara itu, di ruangan dan dalam atmosfer yang terasa lain. Dua anak manusia tengah larut dalam harmoni yang aneh.


" Argghhhhhh!" Danan meringis, kegiatan yahud mereka terinterupsi oleh senggolan Shinta yang tak sengaja.


Shinta menatap Danan dengan tatapan penuh selidik, benarkah pria itu benar-benar kesakitan?


" Ini serius sakit sayang, kenapa malah menatapku seperti itu!" Danan masih meringis. Agaknya obat bius di lengannya itu sudah mulai hilang.

__ADS_1


"Makanya jangan tukang ngibul, kan jadi gak tau mana yang serius mana yang bohong!" gerutu Shinta.


Sejatinya, dua anak manusia itu memiliki sikap dan sifat yang hampir mirip. Hanya saja, selama ini mereka seringkali bertemu dalam kesempatan yang serius. Belum pernah menampilkan tabiat asli.


" Shin...!" ucap Danan dengan wajah tersenyum.


" Iya?" jawab Shinta yang sibuk menutul luka Danan yang terbebat kain kasa itu dengan tisu, karena darahnya merembes akibat senggolan tadi.


" Nanti malam nginep di rumahku ya!" ucap Danan.


Plak


" Mas!"


Shinta spontan memukul kembali lengan itu demi mendengar ucapan Danan, membuat pria itu mengerang kesakitan kembali.


" Argghh aduh!!!" Danan meringis.


" Maksudku, kamu tidur rumahku saja sama mama. Kita kejauhan kalau harus pulang kerumah kamu, besok kita juga masih harus kesini kan!" ucap Danan sambil merasakan nyeri.


Seketika wajah Shinta muram, ia merasa bersalah. " Aku kira..!" Shinta memanyunkan bibirnya karena terlalu suudzon.


" Aku gak kira macem macem Shin, sebelum kita nikah. Tenang aja, aku udah terlatih nahan kok!"


" Kamu juga harus tahan ya?" ucap Danan terkekeh geli.


Membuat Shinta membulatkan matanya dengan wajah memerah karena malu.


...ā˜˜ļøā˜˜ļøā˜˜ļø...


Devan, Bastian dan Jason masih berkutat dengan berondongan pertanyaan dari pihak berwajib. Selain itu mereka harus menyaksikan proses evakuasi pencarian berbeda orang yang di duga terjebak di gedung pabrik itu, termasuk Mira dan Wisnu.


Dari kejauhan, saat mereka tengah duduk bersila karena merasa lelah, terlihat sebuah mobil yang masuk ke area pabrik itu. Silau lampu LED itu membuat tiga manusia dengan keadaan kacau itu menoleh.


" Siapa?" tanya Devan kepada Jason.


" Kurang tahu bos, tapi sepertinya itu mobil pernah saya lihat!" sahut Jason dengan tatapan tak lekang.


" Siapa yang berani melintas ke mari malam-malam begini!" ucap Devan kemudian.


Ya benar, jalan menuju pabrik itu terkenal rawan aksi kejahatan.


Brak


Suara pintu mobil yang di tutup agak kasar. Mata mereka membulat demi melihat sosok wanita yang keluar dari dalam mobil mahal itu.


" Benar-benar Bu Rania, tapi malam-malam begini?" Jason membatin dalam hati.


" Astaga, apa kalian baik- baik saja?" wajah Rania penuh kecemasan, wanita itu datang dengan membawa beberapa kantong yang isinya makan dan minuman.


Setengah berlari menuju ketiga pria disana. Rania juga terlihat menyapukan pandangannya ke sekeliling. Ia melihat Pabrik yang sudah hancur, dan banyak sekali petugas yang masih melakukan olah tempat kejadian perkara.


Rania juga melihat garis polisi yang terbentang dengan jarak yang jauh. Beberapa kantong mayat, dan juga mobil ambulans dan petugas forensik yang riwa-riwi disana.


" Kamu kemari sendirian?" tanya Bastian dengan wajah cemas.


Rania mengangguk " Memangnya harus dengan siapa lagi, Van kamu tidak apa-apa?" ucap Rania kepada assiten kakaknya itu.


Bastian tertegun demi mendengar jawaban Rania , yang malah kini asik bertanya kepada Devan.


" Tidak Bu, seperti yang anda lihat!" sahut Devan tersenyum.


" Ini..." Rania menunjuk ke arah Jason. Kepala ia tidak mengenali Jason, karena pria itu tidak bertugas di kantor. Mereka ada tim besutan Devan yang khusus menangani hal krusial macam itu.


" Ini Jason, ketua dari tim cepat tanggap kita!" ucap dana memperkenalkan pria muda bertato itu!"


Rania manggut-manggut, ia pernah mendengar soal tim yang dimiliki Delta Group, namun tak sekalipun berjumpa dengan personel apalagi ketua mereka.


" Oh iya, Hay aku Rania!" ujarnya seraya mengulurkan tangannya.


" Saya Jason Bu, saya sudah mengenal anda, namun jelas anda tidak mengenal saya! Jason terkikik. Rupanya pria itu memiliki selera humor juga.


" Ah benarkah?" Rania tersipu.


Membuat Bastian kesal karena merasa di acuhkan. Apalagi, Bastian mencemaskan Rania yang begitu nekat datang kesana seorang diri saat malam-malam begini.


" Siapa yang tidak kenal adik pak direktur, jangan geer dulu!" ucap Bastian mencibir. Membuat Rania berengut.


" Aku pikir kenal karena aku..."


" Itu apa?" Bastian rupanya cemburu saat Rania lebih meladeni pria lain ketimbang dirinya. Membuatnya segera langsung mengalihkan topik pembicaraan.


" Oh, ini aku bawakan makanan. Cepat makan dulu, aku tahu kalian semua pasti lelah. Untung tadi aku telpon kak Abi dan menanyakan kalian!" ucap Rania sambil terus mengeluarkan beberapa box makanan lezat itu.


"Apa masih lama kalian harus disini?" ucap Rania sambil menyerahkan satu persatu kotak itu kepada tiga pria yang memiliki ciri khas ketampanan masing-masing.

__ADS_1


" Hampir!" sahut Devan menerima box itu.


" Yang lain kemana?" Tanya Rania.


" Sudah saya perintahkan untuk pulang dulu, lainnya ada yang kerumah sakit karena terluka!" ucap Jason dengan mulut penuh karena makna dalam keadaan cepat. Definisi dari kelaparan.


Jelang pukul sembilan malam mereka baru bisa meninggalkan lokasi itu, karena kesemua mayat yang di duga menjadi korban sudah di ketemukan.


Mereka juga melihat mayat Mira dan Wisnu yang terpanggang dengan kondisi saling memeluk. Terlihat ironis.


Devan besok masih harus riwa-riwi ke kantor polisi guna memberikan ketenangan tambahan. Belum lagi, Devan akan mengurus beberapa hal penting lainnya.


Devan mendadak teringat dengan Alexa, wanita yang tengah mencuri hatinya itu kerap ia tinggal tanpa kabar. Seperti saat ini. Kadang terbesit pemikiran ingin seperti yang lain. Tapi, sebagai assisten handal nan loyal , kadang keadaan yang ada tak menguntungkan dirinya sama sekali, terkhusus soal percintaan.


" Jason bisa saya minta tolong?" ucap Bastian.


" Iya..?" ucap pria itu sigap.


" Bisa kamu bawa pulang mobil Bu Rania?"


.


.


Di dalam mobil, Rania mendadak merasa aneh karena Bastian yang membisu. Kecanggungan mendadak menyeruak.


Rania melirik wajah datar Bastian yang nampak merajuk itu dengan ekor matanya. Terlihat menakutkan.


" Bas, kamu ini kenapa sih. Manyun aja!" Rania tak tahan di diamkan. Wanita itu tak bisa menahan dirinya untuk tak bertanya.


Sunyi, tak ada sahutan apalagi jawaban.


" Bastian!!!" Rania mendadak meninggikan suaranya karena hampir setengah jam Bastian membisu sepe itu.


" Bas kamu ini kena...!"


Ciiiiiit


Mobil Bastian mendadak berdecit karena ia menginjak pedal rem itu, secara mendadak. Membuat tubuh Rania sampai terhuyung.


Bastian menepikan mobilnya ke bahu jalan yang lumayan sepi, mereka berhenti di jalanan yang redup karena lampu yang menyala ada di jarak beberapa meter di belakang mobil mereka.


Sejurus kemudian Bastian langsung mendekati wajah Rania langsung memeluk wanita itu. Membuat Rania benar-benar bingung dengan sikap pria yang menjadi kekasihnya itu.


" Bas, kamu ini gimana sih?" Rania tak mengerti dengan sikap Bastian yang mendadak aneh itu.


" Lain kali jangan seperti ini!" ucap Bastian dengan wajah datar dan terlihat menahan gejolak. Ia memeluk Rania karena tak bisa membayangkan bila sesuatu terjadi kepada Rania, saat melintas jalanan itu.


Rania mematung saat tubuhnya berada dalam rengkuhan tubuh tegap Bastian. Ia terdiam dengan raut tak mengerti, apa kekasihnya itu marah?


Ia juga bisa merasakan aroma kegarangan Bastian, aroma yang juga mengandung sisa Keringat perkelahian.


" Kenapa memangnya?" Rania melonggarkan pelukannya. Ia kini menatap wajah Bastian dengan wajah sok.


Bastian makin mengerutkan keningnya.


" Kamu tahu jalanan disini itu rawan kejahatan, bahaya. Kamu malah sendirian nyetir kesini!" Bastian bersungut-sungut saat mengatakan hal itu.


" Aku juga gak suka kamu genit sama Jason!" Bastian meluapkan isi hatinya. Pria itu memalingkan wajahnya sesaat setelah mengucapkan hal itu.


Bukannya marah, Rania malah tersenyum penuh arti " Oh jadi kamu cemburu..." goda Rania.


" Aku gak cemburu, cuma sebagai wanita kamu jangan terlalu..."


Cup


Rania mengecup bibir Bastian dengan tersenyum. Rania senang, itu artinya Bastian mencintai dirinya.


Cemburu kan tanda cinta, marah artinya tanda sayang. Ahay!


" Aku serius Rania, kamu ini kad..."


Cup


wanita itu masih tersenyum-senyum sendiri saat melayangkan ciuman sekilas itu.


Bastian menatap Rania dengan geregetan, wanita pecicilan yang benar- benar susah di beri tahu.


Sejurus kemudian Bastian menekan tengkuk Rania dan langsung melu*mat bibir manis wanita itu karena gemas Ya, kini mereka berciuman di bawah pendaran cahaya LPJ ( Lampu Penerangan Jalan) dan di temani beberapa kendaraan bertonase besar yang melintas malam itu.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2