The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 94. Tears for Dhira


__ADS_3

Bab 94. Tears for Dhira


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Sekar yang kedua kalinya harus menutup rolling door Ruko Dhira, kini tengah merasa Dejavu. "Jangan sampai setelah aku menutup pintu ini, pria itu muncul lagi!" gumam Sekar.


Ia teringat akan kejadian tempo hari, dimana Dhira yang sakit saat itu. Dan menjadi pertemuan keduanya, kepada pria yang menciumnya secara tak sengaja.


Pagi itu Sekar dengan tanpa pikir panjang, segera memberitahu Wisang perihal video yang memuat adegan pertengkaran Dhira dan Arya.


Sekar bisa saling memiliki nomer ponsel, karena Wisang memaksanya untuk memberikan nomer ponsel, dengan dalih jika ingin sewaktu- waktu memesan makanan, ia tak perlu repot antri. Begitu ucap Wisang.


Sekar juga sudah mewanti-wanti agar Wisang tak perlu datang ke Ruko, ia dan Shinta adalah team pendukung Abimanyu, sehingga mereka berfikir dengan menginformasikan kepada Wisang, otomatis info itu pasti akan di forward kepada Abimanyu.


"Sekar, kok di tutup?" Shinta yang pagi itu baru datang, agak curiga. Kenapa rolling door itu sudah di tutup sepagi ini.


"Aduh mbak Shin, gawat!!" ucap Sekar setelah menarik kunci ruko, dan mencemplungkannya kedalam tas hitam miliknya.


Shinta mengernyit, " Ada apa sih?"


Akhirnya Sekar menceritakan semua yang ia lihat tadi, ia bahkan menunjukkan video miliknya kepada Shinta.


"Astaghfirullah, terus gimana Dhira?" Shinta kalang kabut, ia tentu saja cemas.


"Di bawa sama mas Bastian sama ibunya mas Arya"


"Terus Raka?" tanya Shinta.


"Raka ada sama mas Bastian!"


"Ibunya Bu Dhira, di bawa ke RS sama Pak Arya mbak. Saya gemetaran dari tadi mbak" Sekar bahkan belum sempat sarapan, membuat rasa gemetarnya dua kali lipat.


Didalam taksi Shinta dan Sekar larut dalam pikirannya masing-masing, Shinta menitikan air matanya. Ia yang berharap di beri momongan selama ini, hanya bisa mengecap kekecewaan karena Tuhan belum mempercayakan semua itu kepadanya. Sementara Dhira, dengan segala kerumitan kisah cintanya harus kehilangan janin yang bisa saja baru terbentuk itu.


"Dhir, semoga kamu kuat!" lirih Shinta. Ia benar-benar luruh dalam kesedihan, Dhira adalah sosok sahabat juga atasan yang baik.


Sekar menatap nanar jendela taksi, yang menampilkan pemandangan jalanan. Ia teringat saat tubuh Dhira berguling kebawah, melewati setiap susunan anak tangga setinggi lima meter itu. " Semoga Bu Dhira gak kenapa-kenapa ya Allah" Sekar menyusut air matanya. Dhira adalah wanita yang baik baginya, ia yang yatim piatu bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan di tempat Dhira.


...šŸšŸšŸ...


Andhira sudah berada di ruang penanganan, sementara Bu Kartika terlihat di masukkan ke ruang tindakan, yang tak jauh dari tempat Dhira.


"Raka, kamu temani uti dulu ya!" pinta Bastian.


Bocah itu mengangguk, lidahnya kelu tak bisa mengutarakan sepatah kata pun. " Nak, ikut Uti ya" Bu Hana meraih lengan kurus Raka. Mereka berdua menuju tempat dimana Bu Kartika terbaring.


Sementara Bastian menunggu diluar, bajunya sudah bersimbah darah. Ia tak memperdulikan hal itu, baginya yang terpenting adalah keselamatan kakaknya.

__ADS_1


Bastian memijat keningnya yang terasa pusing, sementara Arya turut masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Dhira, yang di temani oleh rekanannya yang notabene seorang dokter kandungan. Ia belum tahu secara detail kronologis jatuhnya Dhira dari tangga rukonya. Yang ia tahu, menurut penuturan Bu Hana, kakaknya itu terlibat pertengkaran dengan Arya setelah pria itu mengetahui, Dhira tengah mengandung benih Abimanyu.


Bastian tak mau menyalahkan siapapun disini, ia juga bukan bocah yang tak mengerti akan hal semacam itu. Ia tahu bila direktur tempat dia bekerja memang menyukai kakaknya, gelagat itu sudah ia baca semenjak ia di panggil dan di tanyai perihal kiriman kue.


Tapi mengapa belakangan ini, ibunya justru memperkenalkan anak dari teman lamanya, yang malah membuat segala sesuatunya menjadi rumit. Bastian pun sama dengan Dhira, tak mau menentang ibunya. Pantang baginya untuk melakukan hal itu.


Ia merasa tak bisa melindungi kakaknya, sekilas ingatannya kembali kepada wajah pucat Dhira yang berada di atas brankar tadi membuat air mata Bastian mengucur. Tubuhnya bergetar, ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


Bastian menangis seorang diri.


Selama ini ia sudah melakukan yang terbaik untuk kakaknya, berusaha memasang badan saat badai kehidupan menghantam kakaknya, sekuat dan semampu Bastian untuk menolong dan membantu Dhira. Tapi kenapa ia bisa kecolongan untuk hal satu ini. Ia menyesalkan dirinya yang tiada berguna.


Sebuah tangan kekar menyentuh pundaknya yang masih bergetar hebat, " Pak Abimanyu!" Bastian segera menyusut air matanya, setelah melihat sosok yang menyentuh tubuhnya. Ia Berusaha untuk bersikap normal.


"Dimana pria itu?" ucap Abimanyu.


"Emmm Mas Arya masih kedalam Pak, dia..."


"Aku ingin berbicara denganmu!"


.


.


Bastian duduk menghadap ke arah tanaman hias yang di rawat asri dirumah sakit itu, Abimanyu duduk di sebelah Bastian. Masih memakai jas lengkap dengan dasi warna merah yang bertengger rapih di bawah jakunnya.


"Aku ingin meminta maaf kepadamu..."


Bastian masih menatap nanar aneka tanaman di depannya, mereka duduk di bangku sepanjang satu meter.


"Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiranmu setelah kejadian ini. Aku dan kakakmu memang telah melangkah jauh. Hal seperti ini awalnya sudah ku antisipasi. Namun, belakangan kepercayaan diriku berkurang seiring keukehnya kakakmu untuk melanjutkan pernikahan!"


Bastian masih terdiam. Apa yang ia duga memang benar.


"Dengan dalih ketaatannya kepada seorang Ibu. Dhira sudah di perbudak rasa bersalah, yang di manfaatkan ibumu untuk melampiaskan kepuasaannya. Karena urusan pribadinya di masa silam"


Bastian menoleh, dari mana pria di sampingnya itu tahu perihal pak Joko. Ia kini paham dengan arah pembicaraan Abimanyu.


"Pak anda tahu...?" Bastian seperti menebak.


" Saya berada disana sewaktu kalian berdebat dengan seorang lelaki tua. Saya tidak tahu siapa dia!" sahut Abimanyu.


Bastian mengangguk, atasannya itu benar-benar gigih demi kakaknya.


"Dia adalah mantan ayah mertua kak Dhira!" Abimanyu sebenarnya terkejut. Tapi ia masih bisa menyembunyikan hal itu di balik wajah datarnya.


"Saya cuma mau bilang sama kamu, saya yang akan menikahi kakakmu setelah ini. Saya tidak yakin apakah kamu masih mendukung dokter itu untuk menikahi kakakmu, setelah melihat hal ini" ucap Abimanyu menatap Bastian. Man to man.


Abimanyu menunjukkan sebuah video yang berasal dari rekaman Sekar. Abimanyu meminta Wisang untuk mengirimkan video itu kepada dirinya.


Mata Bastian membulat karena kakaknya jatuh akibat terpelanting saat tangan kekar Arya secara spontan seolah mendorong tubuh Dhira. Mata Bastian kembali memanas, rahangnya terlihat mengeras.


"Sekarang tugasmu adalah membuat ibumu sadar!" ucap Abimanyu.

__ADS_1


.


.


Wisang bersama Rania datang berbarengan dengan Shinta dan Sekar. Setelah sedikit berbasa-basi mereka segera menuju ruangan Dhira berada.


Saat mereka sampai, mereka berempat melihat Abimanyu yang berjalan beriringan bersama Bastian.


"Kak Abi, mbak Dhira gimana?" tanya Rania panik. Sekilas Rania menatap wajah Bastian yang sembab, dengan hidung yang merah. Pria itu bisa menangis juga pikirnya.


"Aku belum bisa menemui sedari tadi!" ucap Abimanyu.


Namun saat mereka sibuk berbicara, Arya muncul dari belakang.


"Pria brengsek!!" secepat kilat Arya menarik Abimanyu yang masih membelakangi dirinya, lalu mendaratkan pukulan ke rahang Abimanyu.


Abimanyu yang tak siap akan serangan itu, tentu saja terhuyung hingga beberapa langkah. Ia menyusut bibirnya. Sudut bibir Abimanyu sobek dan mengeluarkan darah.


Arya dengan nafas tersengal menatap tajam Abimanyu. Hendak menerkam lagi sekuat tenaganya. " Kau memang tidak tahu malu!!" ucap Arya.


Bought


Arya hendak memukul wajah Abimanyu kembali, namun dengan sigap Abimanyu menahan tangan Arya, memutarnya lalu menendang tubuh pria itu.


"Kak Abi!!!" teriak Rania!


"Astaga!" ucap Shinta terkejut.


"Pak Arya!!!" Sekar spontan berteriak.


Arya terpelanting dan beringsut ke lantai. Kini ia bisa merasakan, seberapa besar tenaga dan kekuatan seorang Abimanyu Aryasatya.


"Aku mengalah bukan untuk membiarkanmu membuat Dhira celaka. Bangun kamu brengsek!!!" Abimanyu benar-benar kehilangan kendali akan dirinya. Ia meninju wajah Arya berulang kali.


Mendengar suara ribut, Bu Kartika yang sudah sadar keluar. Ia bersama Bu Hana juga Raka melihat langsung pertengkaran antara dua pria itu. Bu Hana menangis menahan sesak, sementara Bu Kartika juga merasakan hal yang sama, tak mengira bila akan seperti ini jadinya. Raka diam dengan tatapan kosong, haruskah seumur hidupnya ia habiskan untuk melihat perdebatan, pertengkaran juga air mata?


Arya yang sudah sangat merasakan kesakitan hanya bisa menatap Abimanyu tajam, ia mengeraskan rahangnya.


"Sudah cukup!!!" ucap Bastian yang frustasi.


"Mas Arya sudah, ini rumah sakit dan mas Arya seorang dokter!" Bastian melerai pertengkaran mereka, ia menatap Arya yang tengah berusaha untuk berdiri.


"Tahan Bim, jangan sampai si anjing itu mati gara gara elu. Dhira lebih penting dari pada emosi elu!" ucap Wisang menarik Abimanyu, yang masih gencar ingin menghajar Arya.


Mereka berusaha saling melempar tatapan permusuhan. Arya sudah kembali berdiri tegak, dengan wajah babak belur.


Sejurus kemudian Bu Hana ambruk. Ia tak kuasa melihat anaknya yang dihajar oleh seorang Abimanyu, di tambah semrawutnya pikiran wanita tua itu, membuat dirinya tumbang.


"Mama!!!" pekik Arya, yang terkejut melihat Bu Hana tak sadarkan diri.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2