
Bab 115. Nyonya Lisa
.
.
.
...ššš...
" Karena ku sanggup walau ku tak mau. Berdiri sendiri tanpamu. Aku mau kau tak usah ragu, tinggalkan aku, kalau memang harus begitu!"
( Diambil dari lirik lagu Agnes Monica ~ Karena Ku Sanggup)
.
.
"Papa gak masuk dulu?" tanya Raka siang itu kepada Indra. Ia sudah mendapat WA dari mamanya bika Jodhi tengah berada di rumah Uti-nya.
"Lain kali aja, papa langsung pulang ya. Jaga diri kamu, sampai ketemu Sabtu lusa!" Indra melempar senyum kepada putranya.
Raka mengiringi kepergian mobil papanya dengan tatapan. Dibelakang ketegarannya ia adalah bocah yang kesepian. Namun ia beruntung, di berikan hati yang lapang untuk terus kuat dan mampu menjalani terpaan badai kehidupan yang menghantam dirinya sedari dini.
Mobil mama Jodhi masih terparkir di bahu jalan gang rumah Utinya. Menandakan bila teman sebangku yang kini menjelma menjadi bocah cerewet itu, masih berada di sana.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke rumah " Assalamualaikum!" ucapnya.
"Walaikumsalam salam!" terdengar dua suara, ia menoleh lalu tersenyum. Rupanya Om Bastian dan Tante Rania tengah ngobrol. Pikirnya. Ia tidak tahu bila ada dua hati yang sama kacaunya, karena perasaan yang sama terhalang oleh ketakutan masing-masing. Tak dapat menyelami lubuk dan isi hati masing-masing.
"Tante udah lama nunggu?" Raka menyalami tangan kedua insan disana dengan takzim.
"Lumayan, tuh si Jodhi masih ngorok. Habis imbuh bening kelor langsung tepar dia!" tukas Rania.
Raka tergelak, memang benar Jodhi sekarang tumbuh menjadi bocah yang periang. Berbeda saat dulu ia baru pindah kemari.
"Mama mana Om?""
"Lagi ke keramatan Kakung Ka. Bentar lagi juga balik!" sahut Bastian.
Raka manggut-manggut, menandakan bila ia paham dengan ucapan Bastian. Ia juga sudah pernah ikut kesana.
"Saya masuk dulu Tan!" pamit bocah itu. Ia ingin mengusili Jodhi.
.
.
__ADS_1
Ponsel Rania berdering." Maaf ada telpon!" ucap Rania kepada Bastian.
Pria di depannya itu mengangguk," Lanjut aja Bu!" serunya.
"Ya Fred?" rupanya Fredy yang menelpon.
Bastian yang awalnya menunduk, kini mendongak kembali menatap Rania yang terlihat memasang mimik serius. Dari sebutan yang terlontar, ia yakin bila wanita ya ia kagumi itu, tengah berbicara dengan pria yang tempo hari pernah mengantarkannya ke rumah sakit.
Kamu dimana? nanti malam jadi ke acaranya si Dimas? aku jemput kamu ya?
Malam nanti ia mendapat undangan pernikahan dari salah satu sahabat mereka. Ia sebenarnya agak lupa dengan undagan itu.
"Astaga aku lupa, ya boleh nanti kamu jemput aku jam berapa?"
"Oh ok, ok see you!"
Bastian seolah terhempas, Rania terlihat begitu akrab dengan Fredy. Ia semakin tidak memiliki nyali disana.
Rania berucap seperti itu karena dia adalah manusia yang memang memiliki sikap ceria dan humble terhadap siapa saja.
"Dari Fredy!, ingat kan yang waktu di Rumah Sakit pas Raka cedera?" ucap Rania tersenyum. Entah mengapa hal tidak penting itu ia ucapkan seolah Bastian perlu tahu itu. Sementara Bastian, hatinya nyeri mendengar hal itu.
...ššš...
Sekar sore itu mengerjapkan matanya, ini adalah suatu keberuntungan baginya karena bisa tidur siang. Ia mengusap layar ponselnya.
Pukul 13.42
Kamu lagi apa?
Kok gak bales
Lagi sibuk banget pasti ya?
Sekar tersenyum sejenak, pria itu kenapa cerewet sekali. Ia memilih untuk tak membalasnya.
Ia menatap kipas angin di kamarnya sudah lelah karena menggeleng kesana kemari, namun tak mengeluarkan kesejukan. Menekan tombol switch off untuk menghentikan penderitaan benda itu.
Ia menuju kamar mandi luar dan membasuh wajahnya. Waktunya mengangkati jemuran pikirnya.
Basuhan air membuat wajahnya lebih segar, ia merasa lebih bugar usai tidur siang. Baginya bisa tidur siang merupakan berkah tersendiri.
Tok Tok Tok
Sekar dengan handuk yang masih ia gunakan untuk mengelap wajahnya sedikit terkejut. Siapa yang datang bertamu pikirnya. Ia meletakkan handuk kecil miliknya ke tempat jemuran khusus handuk, di samping pintu kamar mandi itu.
Ia menuju luar. Ia mengintip sebentar dari balik jendela ruang tamu mini itu. " Siapa , apa tamu Bu Dhira?" sekilas tampilan seroang wanita itu terlihat Hedon, namun sudah memiliki uban di sana sini.
__ADS_1
Ia memutar anak kunci, kemudian membuka pintu itu. " Selamat siang Bu, Ya anda cari siapa?" Sekar yang memang belum pernah melihat wanita itu tentu saja bertanya.
Wanita di depannya itu memindai tampilan Sekar dengan membuka kacamata hitam, yang bertengger di matanya. " Saya Lisa. Ibunya Wisang!"
Deg
Sekar mematung. Ia siang itu hanya mengenakan kaos longgar biasa dan mengenakan legging hitam polos.
"Ada apa ya Bu, mari silahkan masuk dulu!"
"Gak usah basa basi, saya cuma mau bilang udah berapa duit anak saya habiskan buat kamu?"
"Saya cuma ingatkan sama kamu, jangan berani dekat - dekat dengan anak saya. Kamu ini!, Ingat kalau sampai saya lihat kamu jalan sama anak saya lagi, saya buat toko kamu ini bangkrut!"
"Cantik-cantik tukang porot!" Sekar masih bisa mendengar ucapan terakhir Nyonya Lisa barusan , meski wanita itu sudah beranjak dari hadapannya tanpa permisi.
Hati Sekar sakit di katai tukang porot oleh wanita yang baru saja melabraknya itu. Ia bahkan tidak tahu salahnya apa. Bukankah Wisang yang selama ini mengajaknya.
...Flashback...
Nyonya Lisa dan Tuan Wikarna adalah orang tua dari Wisang. Selama ini mereka tinggal di luar kota. Karena mereka mengelola pekerjaan.
Memiliki anak di usia matang namun belum mau memperkenalkan jodoh untuk di nikahi, tentu membuat mereka cemas akan hal itu.
Belakangan ini mereka pulang namun tak menemui Wisang. Sempat mendengar kasak kusuk jika anaknya itu senang bermain wanita. Anaknya adalah pria sukses, namun mengapa tak di iringi dengan kelakuan baik?
Mereka adalah keluarga baik-baik dan memiliki kecukupan materi. Membuat mereka bisa melakukan apapun, termasuk menyewa seorang agen untuk memata-matai anaknya.
"Aku harus membereskannya!"
Dan kemaren, mereka berhasil menghimpun bukti bila Wisang beberapa hari terakhir, menghabiskan waktu bersama seorang wanita yang tinggal di Ruko.
"Ini buktinya Nyonya, dia wanita muda. Tinggal di sebuah Ruko!"
Agen yang di sewa Nyonya Lisa itu memberikan beberapa foto hasil bidikannya tempo hari. Mulai dari saat mereka di cafe mewah, juga saat sudah larut malam mereka pulang ke Ruko. Dan beberapa waktu yang lalu Wisang sempat wira- wiri ke tempat itu dengan Sekar.
Bahkan, agen itu sudah memata-matai mereka semenjak Dhira masuk ke rumah sakit.
"Wanita muda, ini benar-benar tidak benar!" Nyonya Lisa menyimpulkan tak mungkin ada seorang gadis yang mau dengan putranya yang berusia matang jika tidak karena hartanya. Begitu pikirnya.
Tak mau semua itu berlarut, Nyonya Lisa harus ambil bagian dalam tindakan pencegahan sikap buruk anaknya. Apalagi ia getol ingin menjodohkan Wisang dengan wanita pilihannya. Wanita terhormat berkelas, yang sesuai dengan keadaan keluarga mereka.
Hal itu terjadi, karena mereka merasa Wisang tak becus untuk sekedar mencari calon untuk ibu dari calon cucunya. Usia mereka kian senja, namun anaknya itu belum juga bisa mewujudkan keinginannya untuk segera menimang cucu.
.
.
__ADS_1
.
.