The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 244. Melebur Amarah


__ADS_3

Bab 244. Melebur Amarah


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Meski cinta kerap buta dan rombeng, tapi sebenarnya ia amat berkuasa untuk menguasai hati insan, dan kerap membuatnya tak memiliki kendali atas hidup!"


.


.


Mobil milik Bastian melesat dengan kecepatan maksimal, kali ini ia terpaksa membawa Rania untuk ke hotel. Bukan tanpa alasan, dirumahnya belum memiliki fasilitas bathtub.


Dalam sekejap, pria itu rupanya memikirkan logika lain agar bisa mengurangi efek gila obat itu.


Merendam Rania dalam air dingin.


" Panas!" Rania terus saja meracau. Membuat Bastian benar-benar dibuat harus buru-buru.


Kuda besi milik Bastian kini sudah berbelok ke hotel bintang empat. Ia tahu hotel itu berbintang empat karena deretan bintang yang berada di bawah nama hotel itu.


Bastian terlihat menurunkan bagasi milik Rania terlebih dahulu di lobby hotel itu, sejurus kemudian ia masuk kembali kedalam mobil untuk melepas simpul tali yang terlilit di tubuh Rania, benar-benar mirip seperti menculik orang.


" Eugghhhhh!" Rania terus saja menggeliat.


Bastian juga terlihat melepas jaket yang ia kenakan guna menutupi pakaian Rania yang acak adul. Beres dengan hal itu, kini ia memapah Rania yang semakin keranjingan.


" Bisa kau parkiran mobilku ke basement ?" Bastian berucap kepada petugas yang standby di depan pintu masuk itu.


" Tentu Pak!" jawab petugas hotel itu.


Ia lalu menuju meja resepsionis dengan memapah Rania yang mirip orang mabuk, gontai dan tak terarah. " Bisa berikan aku kamar Deluxe room? Istriku mabuk perjalanan!" Wajah Bastian terlihat datar saat berucap, ia berakting agar tak terlihat amatir kala itu.


" Baik Pak, bisa anda tunjukan ID nya!" resepsionis hotel itu terlihat ramah.


" Sebentar!" Bastian mendudukkan Rania ke sofa yang berada di dekat meja resepsionis itu.


Kini ia bisa menyelesaikan proses check in meski diiringi tatapan curiga oleh resepsionis cantik itu.


Kamar yang di pesan Bastian rupanya sesuai dengan ekspektasi, ia kini membaringkan tubuh Rania ke ranjang. Pikiran Bastian benar-benar di uji saat itu. Bagiamana tidak, Rania terus saja menggeliat dan menggerayangi tubuh Bastian.


Sebagai pria normal, tentu ia langsung bereaksi. Salah satunya adalah, mengerasnya benda penting bagian bawahnya. Oh no!


" Maafkan aku Ran!" ia bergumam seraya mengisi bak mandi besar itu dengan air dingin hingga penuh.


Sembari menunggu air itu penuh, ia kini melepas jaket miliknya lalu mengikat kembali tubuh Rania dengan tali. Ada rasa tak tega memang. Tapi ini jauh lebih baik ketimbang dirinya harus bercumbu dengan Rania sebelum waktunya.


Ia tak ingin menjadi manusia pecundang yang mengambil keuntungan dari penderitaan orang lain.


" Eugghhhhh!" Rania terlihat kacau, dan terus saja menggeliat. Membuat dirinya kini nyaris jatuh saat menggendong tubuh Rania.


" Panas!" bibir Rania terus saja meracau. Obat sialan itu jelas tengah dalam puncak reaksi.


Ia membopong tubuh Rania lalu memasukkannya ke dalam bak mandi besar dengan keadaan Rania yang ia lilit dengan tali.


" Huft!" Bastian terengah-engah karena kegiatannya itu. Ia menatap iba Rania yang kini terus saja menggeliat di bawah air itu.


Ya Bastian sengaja merendam Rania kedalam air dingin, agar efek obat itu berangsur-angsur menghilang.


"Maafkan aku Ran!" di tatapnya Rania yang kini ia rendam bak cucian kotor itu, dengan wajah muram.


...šŸšŸšŸ...


Sementara itu di jam sama, namun di belahan bumi lain,


" Baik-baik kalau begitu lanjutkan saja. Katakan kepada mereka untuk menunggu!"


Wisang mengetuk-ngetukan jarinya ke meja yang ada di ruang tengah rumah papanya, sambil menunggu tuan Wikarna selesai bertelepon dengan orang suruhannya.


" Tidak usah relokasi, kita bangun lagi saja di tempat yang sama!"


(.....)


"Baiklah, terimakasih!"


Tuan Wikarna terlihat sudah memungkasi sambungan teleponnya. " Kamu jadi antar Sekar kontrol?" tanya pria beruban itu.


" Gak tau pa, kalau Sekar gak mau keluar biar aku minta si Richard buat kirim orang kesini!" Wisang tertunduk lesu. Kepergian Armaan rupanya menorehkan luka yang dalam bagi Sekar.


.


.


" Kamu kenapa, hm?" Wisang kini duduk di sebelah Sekar yang nanar menghadap ke gundukan yang tak lain adalah pusara anak mereka, yang kini berada di halaman belakang rumah tuan Wikarna.


" Aku kangen sama Armaan mas!" Wajah Sekar sendu.


Wisang merengkuh Sekar kedalam dekapannya. " Kamu musti ikhlas dong, jangan begini terus. Aku yakin, Armaan sudah berada di tempat terbaik!"


Meski sok kuat, tapi sebenarnya Wisang juga rapuh. Ia sadar usianya terlampau matang. Dan kehilangan Armaan, berarti memaksanya harus memulai semuanya dari awal lagi.


" Kapan kita kembali ke rumah?" Sekar menatap wajah suaminya sembari mengendurkan pelukannya.


" Kamu gak kerasan di rumah mama?" ucap Wisang menatap istrinya.

__ADS_1


Sekar menggeleng " Bukan begitu, tapi aku disini makin sungkan mas. Mama gak ngijinin aku buat ngapa- ngapain!" wajah Sekar muram.


Wisang tersenyum " Ini hikmah dari semua yang terjadi, sekarang mama benar-benar gak mau menantunya kenapa- kenapa. Malah aku yang di omeli terus kalau ngijinin kamu buat ini itu!"


Sekar kembali mendekatkan wajahnya ke dada suaminya dengan posisi miring. " Iya juga sih mas, aku gak nyangka loh kalau mama..."


" Penyesalan itu selalu di akhir sayang. Harga yang kita bayar memang mahal, tapi yang kita dapat juga gak kalah berharganya. Yaitu sikap mama!"


Wisang merekatkan pelukannya seraya mencium puncak kepala istrinya. Sejurus kemudian ia menatap wajah istrinya lalu mengecup bibir itu dengan sangat lembut dan dalam.


Sekar menerima ciuman itu dengan hati bahagia, benar kata mama mertuanya. Mereka memang harus memulai dari awal lagi untuk segala sesuatunya.


Ciuman yang berlangsung lama dan penuh cinta. Begitu terasa saling menyayangi dan mengasihi.


Tanpa mereka sadari, kini Nyonya Lisa menatap mereka berdua dengan hati haru. Andai sedari awal ia tahu menantu yang ia katakan miskin dulu itu benar-benar baik, andai ia tahu bila justru wanita sederhana itulah yang mampu mengubah tabiat buruk anaknya, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Namun, manusia kerap buta akan hal itu.


" Berbahagialah nak, mama akan selalu merestui kalian!" dengan wajah yang berlinang air mata, Nyonya Lisa menatap dua manusia yang saling berciuman itu dari jarak jauh.


...šŸšŸšŸ...


Telah lebih dari satu jam setengah Rania berada di kamar mandi, Bastian membuka pintu kamar mandi dengan tergesa-gesa dan melihat Rania terlelap.


" Oh sial!" Bastian sedikit lama, ia barusan sibuk membelikan baju ganti untuk Rania di toko terdekat yang jaraknya malah tidak dekat karena kemacetan. Damned!


Kini dengan buru-buru Bastian segera mengangkat Rania dari dalam bathtub itu. Bibir Rania bahkan sudah membiru.


" Ran..Ran...!" Bastian menepuk pipi ibu Jodhi itu dengan cemas.


" Rania...Ran!" kini Bastian panik. Jelas ini salahnya karena terlalu lama meninggalkan Rania.


Ia memeriksa denyut nadi Rania di pergelangan tangan. Terasa sangat lemah. " Oh sial!" ucapnya kian panik.


Sejenak ia langsung teringat dengan pelajaran pemberian CPR sewaktu mengikuti Pramuka dulu, salah satu bentuk pertolongan pertama pada pingsan adalah pemberian CPR


CPR atau Cardiopulmonary Resuscitation merupakan prosedur pertolongan pertama yang sangat penting, untuk menyelamatkan seseorang yang henti jantung. Prosedurnya terdiri dari kompresi dada, membuka jalur napas, dan memberi napas buatan.


Bastian menutup hidung Rania dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Ranai guna memberikan napas buatan. Ia terlihat panik. Dan salam tiupan ketiga.


" Uhuk..uhuk!" Kini Rania terbatuk, membuat Bastian yang terengah-engah itu nampak lega.


" Syukurlah!"


" Uhuk-uhuk!" lagi, wanita itu terbatuk.


Rania menggelengkan kepalanya yang terasa pusing, ia juga mendadak merasa dingin sekali. Wanita itu sejurus kemudian melihat keadaan tubuhnya yang basah kuyup dan terbebat tali sembari mengingat sesuatu.


Ia juga terkejut demi melihat Bastian yang kini menatapnya dengan wajah pias.


" Kenapa aku..." Rania berucap sambil mengingat sesuatu.


Pletak


" Dasar ceroboh!" Bastian menyentil kening Rania.


" Auwhhh!" Rania mengusap keningnya yang terasa sakit.


" Apa kamu ingin membalasku hah?" Ucap Bastian kini menarik penutup bak besar itu, berniat membuang air bekas rendaman Rania dan menggantinya dengan air hangat.


" Ini gak lucu Ran!" Bastian mendadak memarahi Rania. Mimik muka Bastian serius sekali.


Rania benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi, sejenak ia ingat bila Bastian seperti mengungkungnya, dan...


Tunggu, apa dia salah orang atau ..


" Astaga...!" Kini Rania mendelik demi mengingat semua yang terjadi.


" Fredy....!" Wajahnya pias.


" Beruntung aku tidak membuatnya mati tadi, aku tidak suka cara kamu buat nunjukin kemarahan ke aku Ran. Oke aku salah, tapi gak begini!" Ucap Bastian menahan kekesalan, kepanikan, dan kecemasan yang bertangkup menjadi satu buncahan rasa yang teramat menyesakkan dada.


Keduanya senyap.


" Kamu mandi dulu, setelah ini kita bicara!" Bastian meninggalkan Rania yang masih sibuk dengan pikirannya itu.


Pria itu menutup pintu dengan raut tak terbaca.


.


.


Gemericik air terdengar dari dalam kamar mandi. Ia tahu pasti Rania tengah mandi.


Wanita itu memang benar-benar sulit di kendalikan jika sudah merajuk pikirnya.


Bastian membuka jendela hotel itu, dan mematikan AC. Ia menyulut batang sigaret lalu menghisapnya. Terasa begitu penat.


Sejurus kemudian pintu kamar mandi itu terlihat mengayun, menampilkan Rania yang memakai handuk kimono dengan rambut yang terlihat handuk kecil. Wajahnya menunduk dengan kekesalan yang kentara.


" Bajumu ada di atas nakas, maaf kalau kamu tidak suka modelnya. Yang penting bisa buat ganti dulu!" ucap Bastian tanpa memalingkan wajahnya.


Rania menatap paper bag di nakas samping ranjang, kemudian meraihnya. Ia melihat isi dalam tas itu. Sebuah dress denim selutut lengkap dengan CD dan juga Bra. Seketika Rania meremang demi melihat isi paper bag itu. " Apa dia yang memilih semua ini?"


Rania tak menjawab namun lebih ke langsung menuruti ucapan Bastian untuk mengganti bajunya.


Sebenarnya keduanya masih dalam mode kesal dan sama-sama ingin meminta klarifikasi. Rania kembali ke kamar mandi dan mengganti bajunya di dalam.


" Pas banget, kok dia bisa tahu ya?" Rania bergumam. " Modelnya juga lumayan!" Rania terkikik.

__ADS_1


Pintu kembali terbuka, menampilkan Rania yang telah mengenakan dress denim itu. Terlihat fit di tubuh ramping Rania.


Bastian di buat melongo saat melihat Rania menggoyangkan rambutnya usai menarik handuk di kepalanya. Terlihat seksi dan cantik meski tanpa make up.


Rania terlihat memasang wajah mode diam lagi, ia kini bingung. Sejenak hatinya masih cemburu, namun ia juga merasa bersalah.


Kegeraman hatinya kini timbul kepada Fredy. Ia berjanji akan membuat perhitungan dengan pria itu.


Ia lalu mendudukkan dirinya ke ranjang , sementara Bastian masih sibuk menghisap rokoknya sembari menatap hamparan perkotaan dari lantai 17 kamarnya itu.


Suasana senyap. Mereka berdua larut dalam pikirannya masing-masing.


" Maaf!" akhirnya Rania yang lebih dulu membuka suara.


Bastian menggerus batang rokok itu degan rahang mengeras. " Jadi apa? mau membalas? atau memang...."


" Harusnya aku yang marah!" Rania menatap Bastian dengan mata yang memanas. Wanita itu hendak menangis. Baru saja meminta maaf tapi kini sudah pasang kuda- kuda pertengkaran.


Bastian menghela nafasnya.


" Kamu sudah dua kali Lo Bas, kamu bilang minta aku nunggu..aku nungu!" Rania nampak mengeluarkan isi hatinya.


" Aku sabar!" kini Rania benar-benar menangis.


" Kamu pikir kamu aja yang bisa dekat dengan wanita lain, aku juga bisa!"


" Dengan menggadaikan keselamatan kamu, iya?" sela Bastian dengan wajah menahan diri. Nampaknya petuah ibunya untuk tak menyela ucapan wanita itu kini terabaikan. Berganti degan rasa khawatir karena kecerobohan Rania.


Ya, itu adalah pertengkaran pertama mereka.


" Kamu tahu apa yang Fredy mau lakukan ke kamu? kalau tadi aku datang terlambat sedikit saja, mungkin kita gak akan pernah ada disini Ran!" ucap Bastian menahan kegeraman demi mengingat Fredy yang sudah mengungkung tubuh Rania.


Rania tak bisa menjawab, dia menangis. Semuanya mendadak menyesakkan dadanya.


Bastian terlihat mengusap wajahnya kasar. Sungguh ia tidak ingin menyakiti Rania, sama sekali tak memiliki niatan.


Kini mereka sama-sama tertegun. Rania menyadari kecerobohannya, sementara Bastian mencoba memahami sisi Rania yang cemburu.


Suasana senyap.


1 detik


2 detik


3 detik


4 detik


5 detik


Sejurus kemudian,


" Maaf!"


" Maaf!"


Mereka kompak dalam berucap. Sama-sama saling menelan ludah kecanggungan.


Detik itu Bastian beranjak dari duduknya, ia kini berdiri menatap ke arah Rania dengan tangan yang ia silangkan ke dada. Terlihat begitu mengintimidasi.


" Setelah ini Fredy pasti gak terima karena aku gebukin, dan aku bakal terima konsekuensinya!" ucap Bastian menatap Rania.


" Enggak, aku yang bakal laporin dia!"


Sejenak hening kembali.


Bastian menghela nafasnya, wanita di depannya itu benar-benar keras di suatu waktu dan bisa menjadi pribadi lain di suatu waktu juga.


Bastian kalah.


Ia mendudukkan dirinya di sebelah Rania. " Bisa berjanji untuk tidak melakukan hal ceroboh lagi? Seorang pria bisa salah mengartikan tindakan kita yang mengundang naf*su. Apalagi Fredy menyukaimu!" Bastian meriah tangan Rania yang terlihat berengut.


Ia hanya mengingatkan Rania untuk betapa pentingnya menjaga diri sendiri.


Rania menundukkan kepalanya " Aku cemburu Bas, aku gak bisa lihat kamu di cium sama wanita lain, aku gak rela!"


" Aku hanya ingin kamu juga merasakan aku yang aku rasa!" ucapnya sembari mengeluarkan isak tangis, Rania berkata degan suara bergetar.


" Dan kamu berhasil, bahkan aku merasakan lebih dari cemburu!" ucap Bastian dengan suara lirih. Membuat Rania menatapnya dengan wajah sendu.


Bastian merengkuh wanita itu kedalam pelukannya, " am sorry for all!"


Bastian mengeratkan pelukannya, Rania yang di perlukan seperti itu tentu saja kian terisak. Wanita itu juga memeluk erat tubuh Bastian.


" Maafkan aku!" ucap Bastian seraya mengusap lembut rambut basah Rania.


Mereka berdua meluapkan emosi yang membuncah dan meleburnya dalam pelukan itu. Sejurus kemudian Bastian melonggarkan pelukannya.


" Don't be cry!" Bastian mengusap air mata di pipi Rania, sejurus kemudian pria itu menangkup wajah Rania dan mencium bibir ranum wanita itu.


Rania seketika mengalungkan tangannya ke leher Bastian. Mereka sebenarnya saling rindu, saling mendamba.


Bastian mencium bibir Rania dengan lembut dan membuat wanita itu makin menyayanginya. Buncahan rasa yang luar biasa, yang hanya bisa dua insan itu rasakan, rasa saling mencintai dan ingin memiliki.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2